PRAGUE-CZECH, sebuah kemegahan masa lalu eropa timur (euro trip bagian 1)

charles bridgeBersama sepuluh orang teman (iya.. sepuluh!!!), saya mengunjungi Prague atau Praha di Cekoslowakia (Czech Republik) pada musim dingin di akhir tahun 2003. Dengan budget yang terbatas, kami coba menjadi backpacker travelers di negara yang belum pernah diinjak sebelumnya, bahkan informasipun hanya di dapat dari obrolan teman dan internet (the magic of e-media). Dari kota Arnhem di Belanda, kami mulai perjalanan menggunakan layanan bus Eurolines yang lumayan murah. Perjalanan dimulai jam 10.30 malam dan Arnhem merupakan kota persinggahan terakhir sebelum bus meninggalkan Belanda. Bukan bus yang mewah juga. Ketiadaan nomor kursi dan jarak antar kursi yang lumayan rapat membuat bus Mulyo Indah ke Jogja masih jauh lebih nyaman.

Dari Belanda menuju Ceko, kami melewati Jerman terlebih dahulu. Walaupun agak gelap, saya masih bisa melihat salju yang turun dengan perlahan mengiringi perjalanan kami. Pagi hari, kami masih berada di Jerman, dan salju turun dengan derasnya. Tiba di perbatasan Ceko, semua paspor dan visa kami diperiksa oleh penjaga perbatasan dengan wajah yang sangat ‘dingin’. Mungkin terpengaruh derasnya salju yang turun di malam tadi. Ceko memang terasa lebih dingin dari Belanda, suhu saat itu seoertinya dibawah 0 derajat celcius.

Tiba di Prague, kami tukarkan mata uang euro dengan crown ceko, sekaligus membeli tiket menuju Vienna pada beberapa hari mendatang. Ceko memang memiliki standar hidup yang lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Hal ini membuat beberapa harga barang relatif jauh lebih murah, terutama makanan dan minuman.

Dari terminal bis, dengan berbekal peta yang dimiliki, kami berjalan kaki menuju Apple Hostel yang sebelumnya kami pesan (lagi-lagi) melalui internet. Sebuah youth hostel yang kecil namun bersih. Kamar hostel berbentuk dormitory dimana dalam satu kamar terdiri dari lebih 4 tempat tidur. Sebuah bentuk penginapan yang umum di Eropa. Satu hal yang membuat saya terkejut adalah kamar mandinya yang terbuka. Sifat ketimuran (yang syukurnya masih ada) akhirnya membuat saya memilih mandi pada pagi hari sekali.

wenceslas squareSetelah makan siang di sebuah restoran fast food yang terkenal di seluruh dunia, kami awali penjelajahan di Prague pada bagian New Town. Dengan menggunakan trem dan karcis satu hari, kami menuju Wenceslas Square dan Museum Nasional. Wenceslas square merupakan areal perbelanjaan Prague yang terkenal. Decak kekaguman meluncur dari mulut ini melihat deretan toko-toko dengan arsitektur yang begitu indah, klasik dan berpadu dengan sederetan icon-icon modernisme dan konsumerisme.

Deretan bangunan indah ini diakhiri dengan sebuah Musium Nasional yang juga begitu megah dan memiliki arsitektur bangunan yang sangat menakjubkan. Museum ini berisi koleksi artefaks masa peninggal pra sejarah, batuan-batuan mineral dan petrology, palaeontology, zoology serta anthropology. Museum ini memiliki koleksi batuan yang sangat lengkap dengan bentuk yang menarik dan tidak pernah saya temui sebelumnya. Batuan-batuan dari perut bumi ini memiliki corak, warna dan tekstur yang beragam. Beberapa malah seperti harta karun yang ada dalam dongeng.

astronomical clockMusim dingin membuat siang begitu pendeknya. Kami putuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat hingga malam. Sambil mencari makan malam, kami menuju old town square , sebuah kemegahan lainnya dari Prague. Inilah jantung masa lalu kota ini. Terdiri dari banyak bangunan2 bersejarah yang sangat terkenal seperti The Orloj (Astronomical Clock), Old Town Hall, The Church of Our Lady before Tyn,The Baroque Church of St. Nicholas, The Rococo Kinsky Palace dan The fourteenth-century Stone Bell House. Astronomical clock menjadi tontonan tersendiri pada jam-jam tertentu. Bunyi lonceng dan patung-patung kecil yang keluar darinya membuat saya bersikeras menunggu hingga jarum panjangnya menunjuk ke angka 12.

Saat itu juga bertepatan dengan christmas market yang membuat suasana semakin meriah. Banyak kios-kios yang menjual makanan dan minuman khas Prague, juga ornamen-oranamen natal lainnya. Merasakan minuman anggur prague yang hangat bisa menjadi pilihan pada suasana seperti itu. Suhu udara malam itu mencapai -14 derajat celcius. Tak aneh jika saya merasa berada di dalam freezer kulkas.

Perjalanan hari kedua dimulai dengan mengunjungi charles bridge yang sangat terkenal itu, sebuah jembatan yang menjadi simbol kota Prague. Dengan menara kembar pada kedua ujungnya, jembatan ini menghubungkan dua bagian kota Prague yang dibelah oleh sungai Vltava. Hanya kekaguman yang keluar melihat hasil peradaban manusia saat itu. Di sepanjang jembatan juga banyak terdapat pedagang-pedagang lukisan dan foto yang mencoba menawarkan/menjual keahlian mereka. Namun hati-hati tertipu, beberapa dari mereka ternyata menjual lukisan hasil cetakan yang sepintas mirip dengan lukisan/gambaran tangan.

castle guardSetelah melewati jembatan dengan matahari yang cukup cerah namun dingin yang mengigit tulang, kami memasuki Prague Castle yang ternyata lebih mencengangkan lagi. Sebuah warisan budaya dunia. Terdapat dua penjaga di kanan kiri pintu gerbang, dengan wajah yang sangat dingin dan melihat lurus ke depan. Bahkan pada saat kami berfoto disampingnya, mereka tetap bergeming. Saat itu tanggal 24 Desember, sehari menjelang Natal, sayang sekali banyak museum di dalam Prague Casttle yang ditutup untuk umum. Saya akhirnya lebih banyak menikmati bagian luar dari bangunan-bangunan tersebut. Sebuah wisata fotografi yang sangat memuaskan.

Founded in the ninth century by Premyslid Prince Borivoj, Prague Castle became the seat of Bohemian rulers from the eleventh to the seventeenth century. The Castle has been rebuilt and extended many times (most notably in the reigns of Charles IV and Vladislav Jagiello) and is a vast complex including a cathedral, royal palace, churches, monastery and galleries. Central to the Czech nation, it is the seat of the president, whilst St Vitus Cathedral (in the third courtyard) is the religious heart of the whole country. Work on the cathedral began in 1344, when the Bohemian Bishopric was promoted to Archbishopric, but was not completed until 1929 and its main attraction is the Chapel of the Czech patron saint, Wenceslas.

Prague memang sangat menakjubkan. Dalam perjalanan pergi ataupun pulang menuju hostel pun, saya masih bisa menemukan banyak bangunan peninggalan masa lalu dengan arsitektur khas Eropa di mana-mana. Sebuah lambang kemegahan dari masa lalu yang masih ada yang membuat saya seperti terlempar pada masa lalu Eropa. Di luar kenyataan bahwa kota ini sedikit kotor, terutama di pinggiran kotanya, sangat sayang jika anda tidak menyambanginya. Apalagi jika anda berkesempatan mengunjungi Eropa Timur. Namun sayang, kejadian terorisme dan sejenisnya membuat kita agak kesulitan untuk mendapat visa masuk. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa mengunjungi negara ini. Namun, semua itu.. terbayar kok.

6 thoughts on “PRAGUE-CZECH, sebuah kemegahan masa lalu eropa timur (euro trip bagian 1)

  1. weleh, kapan ya dompet saya berani mendukung saya ke sana…

    kok pake berani? lha untuk ke blog saya saja aaqq butuh keberanian, apalagi saya kalau mau ke praha 🙂

  2. Nah begini dong keren si ‘warung’nya udah diperbaharui… (mau di bikinin dooung! 😀 ) – Wah, Insyallah summer ini saya mau ke eropa, sebab si idung pesek akan ada di Denmark —>Peacekeepers juga pengen pacaran dong! :))

    Alhamdulillah baik… sok atuh kapan ngalamar2 deui? 😀

  3. thank’s sekali infonya..
    tgl 26 oktober 2010 saya mau brgkt kesana,jd tahu tempat” mana aja yg hrs didatengin..
    oh iya harga makanan disana brp ya untuk sekali makan??? mohon dibantu ya infonya 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *