menunggu

lelaki itu tidak pernah menghubunginya lagi. tiga hari terasa setahun. yahoo messenger.. email.. sms.. atau bahkan telepon pun tak pernah hadir darinya.

seperti beberapa hari sebelumnya, ia selalu masuk kamar lebih awal. kedua anaknyapun mengikuti jam tidur tersebut. di kamarlah ia bisa membebaskan imajinasinya. berpikir tentang sang lelaki dan semua harapan yang telah dijanjikan padanya.

dicobanya untuk senantiasa berpikir positif. ia paham kesibukan sang lelaki, seorang mahasiswa tahap akhir yang bergulat dengan thesis dan supervisor yang tak pernah mau kompromi. kesemuanya selalu membuat sang lelaki tertekan. namun, ketika malam tiba semua pikiran negatif itu tiba.

apakah ia bersama wanita lain? apakah ia menemukan pelabuhan hatinya yang jauh lebih baik darinya? apakah ia sedang berada di sebuah dunia gemerlap? apakah ia sudah tak mencintai dirinya lagi?

deru mobil membuatnya terbangun dari semua bayangan dan pertanyaan-pertanyaan itu. namun, secepat pula ia tutup kedua kelopak matanya. lebih baik ia hindari semua pembicaraan dengan sang suami. pembicaraan yang senantiasa berakhir dengan tangisan kesakitan dari mulutnya.

mesin mobil itu ternyata tidak berhenti, begitu juga pintu pagar masih tetap berada di tempatnya semula. bukan.. bukan sang suami yang berada di sana. tubuh indah itu beranjak menuju jendela dan memerintahkan kedua bulatan coklatnya melihat di balik tirai hijau tua. sepasang mata itu terpaku pada sebuah sosok di dalam mobil.

sang lelaki telah tiba…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *