refleksi tigapuluh (2005)

saya tidak tahu mengapa angka tiga puluh begitu membuat saya sentimentil. sebuah angka yang membuat saya berpikir panjang mengenai masa lalu dan masa depan. tiga puluh masa telah tertinggal di belakang dan melihatnya membuat saya terdiam. apa yang telah saya lakukan selama ini? memang tidak mungkin (dan saya juga sepertinya tidak mau) untuk kembali dan merubah jejak yang telah ditorehkan. semua kebaikan dan keburukan harus saya telan dan tidak ada waktu untuk memuntahkannya kembali. waktu terus berdetak and the show must go on.

tiga puluh tahun, bukan waktu yang sebentar untuk menjalani hidup. pencapaian apa yang telah saya buat? sampai detik ini pun, saldo saya di tabungan hanya ada untuk sisa-sisa hidup hingga pembayaran gaji bulan mendatang. hutang hasil gesekan (entah untuk apa) yang harus dibayar berada di depan mata. bekerjapun masih menggunakan angkutan umum. materi? jangan pikir saya memiliki kebebasan finansial untuk membeli apapun yang saya inginkan. masih jauh dari itu. handphone pun masih tipe lama yang saya gunakan empat tahun yang lalu. pda-phone ini sepertinya akan masih menjadi impian.yang penting masih berfungsi, begitu biasanya saya menghibur diri ini. selain itu, pada angka tiga puluh ini saya pun masih belum berkeluarga (untuk hal ini saya tidak pasti.. apakah harus bersedih atau justru bersyukur). kuping ini malah sudah mulai terbiasa pada pertanyaan, sindiran, lelucon dan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan pernikahan. tiga puluh tahun dan saya belum bisa memiliki apa apa. menyedihkan? sepertinya iya, namun apakah memang tidak ada yang bisa dibanggakan?

sepanjang hidupnya, ayah saya tidak pernah menjadi seorang pegawai tetap. ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. tidak ada mobil, rumah, tanah atau bahkan harta lainnya seperti halnya orang lain dapatkan dari kedua orang tua mereka. tapi saya tidak pernah menyesali hal tersebut, karena mereka telah memberikan satu hal berharga pada saya yang akan terus dipegang hingga kehidupan saya berakhir. sebuah hal yang tidak semua orang miliki yaitu… pendidikan. klise? hmm.. tidak juga.

banting tulang mereka selama ini membuat saya bisa menyelesaikan pendidikan s1. sebuah jenjang pendidikan yang cukup tinggi di kalangan keluarga ayah ataupun ibu saya. sebuah kebanggaan tiada tara buat mereka (i hope…). bagi saya, ini sebuah modal yang cukup berharga untuk melanjutkan kehidupan. bahkan, pada angka tiga puluh ini saya secara nekad menyelesaikan s2 saya di belanda dan syukurnya.. gratis. bagi saya, kembali ini menjadi sebuah harta berharga yang mereka berikan (walaupun tidak secara langsung) untuk bisa bertahan hidup.

memiliki orang yang-orang yang mengasihi saya menjadikan hidup ini lebih lengkap. selain keluarga, saya pun dikelilingi orang-orang khusus yang mampu membuat detik kehidupan ini menjadi berharga untuk dijalani. orang-orang yang mampu merubah hal-hal kecil menjadi sebuah pondasi kehidupan yang kuat. orang-orang yang membuat saya berani untuk bermimpi lebih besar lagi. beruntung saya bisa bertemu mereka dan menjadikannya sebagai bagian hidup yang tidak akan pernah hilang kapanpun.

harta saya lainnya adalah persahabatan. bagi saya, memiliki sahabat merupakan sebuah kesempurnaan hidup. persahabatan merupakan sebuah hubungan didasari pada kepercayaan dan ketulusan antar manusia. mereka telah melihat baik dan buruknya saya, menerima saya seperti adanya, sebaliknya saya pun menghargai mereka sebagai manusia seutuhnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya serta menjadikan mereka asset dalam kehidupan saya. menjaga hubungan baik bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan, namun jika kita bisa menciptakan hal tersebut tentunya merupakan sebuah pencapaian hidup yang indah.

tiga puluh tahun dan saya menjelaskan sebuah sisi kebahagiaan yang sangat abstrak. satu hal yang pasti, indikator pencapaian kesuksesan setiap orang tentu berbeda. begitu juga dengan saya. tiga puluh tahun saya lalui dan saya membangun hal-hal yang abstrak tersebut. saya sendiri tidak pernah bisa menduga bahwa saya akan membekali diri ini dengan hal-hal tersebut selama tiga puluh tahun perjalanan.

tiga puluh tahun dan saya berada pada persimpangan yang kesekian kalinya. ini saatnya membuka semua perbekalan dan menjadikan sebuah penuntun untuk bisa memilih jalan. jalan yang menentukan alur kehidupan saya di masa mendatang. saya menjadikan 30 sebagai momen untuk menggunakan semua perbekalan yang saya simpan selama ini. bukan untuk dihabiskan, toh semua hal tersebut tidak akan pernah habis, namun lebih kepada pengoptimalan kesemua hal tersebut.

persimpanganpun tidak akan pernah usai, saya akan menemuinya di masa mendatang. namun, saya berharap persimpangan berikutnya akan hadir dalam kurun waktu yang lebih lama. saya hanya ingin berjalan secara perlahan namun pasti untuk mengoptimalkan perbekalan ini sambil mengumpulkan perbekalan yang baru. perbekalan untuk persimpangan lain.

selamat memasuki masa yang baru. angkat kepala dan rendahkan hati. tiga puluh bukan angka yang menakutkan dan akan dihadapi bersama semua “harta” yang saya miliki. guys.. thanks for being my treasures!

bogor, january 2006

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *