Saya injakan kaki di Pulau Sumba di awal Juni 2005. Semenjak di pesawat, saya sudah cukup terhentak dengan pemandangan yang terhampar di bawah sana, bukit-bukit tandus dengan tutupan padang rumput yang hampir mendominasi. Saya merasa berada berada di tempat yang misterius.

Rasa misterius itu semakin kuat ketika saya mendarat di Waingapu, ibukota kabupaten Sumba Timur. Panas dan kering.. hanya itu kesan pertama yang saya dapatkan. Melewati ratusan padang-padang rumput tandus dengan beberapa kuda Sumba di dalamnya, batu-batu kubur yang cukup besar dengan ukiran-ukiran khas Sumba yang diperkirakan berumur ratusan (bahkan ribuan) tahun dan mereka simpan di halaman depan rumah, juga menembus hutan alam (tidak banyak.. hanya 7 % dari total luasan Pulau Sumba) di Taman Nasional Manupeu Tanadaru menjadikan rasa misterius itu semakin hadir ketika saya meninggalkan Waingapu, menuju Waikabubak di Sumba Barat.

Sambutan hangat teman-teman di Birdlife Indonesia sedikit mengurangi rasa itu. Mereka membuat saya merasa tidak jauh dari rumah. O ya, ada satu kebiasaan unik masyarakat sana.. pada saat mereka mengucapkan selamat diantara mereka.. biasanya mereka saling menyentuhkan hidung. Wah.. kalo pesek.. bahaya juga.

Hal pertama yang harus saya sesuaikan adalah makanan dan jam malam yang terlalu cepat. Waikabubak memang ibukota Kabupaten, namun sebuah kota yang lumayan kecil. Sulit menemukan makanan yang ”cocok” dengan lidah saya (lidah yang biasa menikmati makanan yang sangat enak di Bogor.. dan beragam). Selain itu, jangan berharap bisa menemukan makanan jika sudah di atas jam 8.30 malam… kota ini menjadi seperti kota mati.

Sumba terkenal dengan bagaimana kuatnya mereka memegang teguh beberapa adat istiadat hingga saat ini. Walaupun beberapa diantaranya seringkali “terlihat menyulitkan” kehidupan perekonomian mereka. Sebagai contoh, tradisi belis dalam perkawinan. Belis adalah syarat bagi para lelaki ketika mereka melamar wanita Sumba dalam sebuah prosesi pernikahan. Mereka menggunakan ternak seperti kerbau atau kuda sebagai belis. Status seseorang dalam masyarakat menentukan jumlah ternak yang harus mereka serahkan. Seorang umbu (sapaan bagi seorang lelaki dari strata sosial yang tinggi) tidak mustahil harus menyerahkan lebih dari 100 ternak kepada calon wanitanya yang umumnya berasal dari strata sosial yang sama dengannya. Silahkan kalikan dengan minimal 3 juta rupiah, berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk sebuah pernikahan. Bantuan keluarga besarnya seringkali sangat mereka harapkan guna memenuhi permintaan sang mempelai wanita, demi sebuah harga diri. Bahkan dalam tradisi kematian pun, mereka harus memotong berpuluh-puluh babi dan kerbau (terutama jika mereka dari kalangan strata atas) untuk memberi makan para tetamu yang hadir melayat. Sungguh sebuah ”perayaan” kematian yang cukup mahal.

Namun, saat ini strata sosial atas belum tentu mencerminkan kondisi perekonomian yang juga berada di atas. Dan seringkali, for the sake of adat mereka akan berkorban untuk itu, dengan apapun.

Sirih pinang juga menjadi tradisi mereka yang masih kuat dijalankan. Sirih, pinang beserta kapur merupakan santapan awal dimanapun kami singgah. Dahulu, mereka akan tersinggung jika tamu mereka tidak mau melakukan tradisi memakan sirih pinang ketika mereka berkunjung. Saya mencoba beberapa kali dan membuat mulut saya merah seperti berdarah akibat proses kimiawi antara sirih dan kapur, dan itu lumayan membuat saya………kapok. Memakannya ternyata menimbulkan rasa pusing di kepala juga rasa kesat di mulut. Wendy, partner saya hanya mencoba sekali dan meminum banyak-banyak air mineral setelahnya.

Kunjungan ke masyarakat di berbagai desa menjadi tujuan utama perjalanan saya kali ini. Bersama seorang mahasiswi Oxford University, kami menjalani kehidupan yang sangat berbeda dibandingkan dengan keseharian kami di tempat asal. Sebagian besar desa yang kami singgahi masih memiliki rumah khas Sumba dengan atap yang cukup tinggi dan alang-alang kering sebagai penutupnya. Rumah tersebut berupa rumah panggung dengan kandang ternak di bagian bawahnya. Secara teori, karena kami hanya dipisahkan oleh lantai kayu yang seringkali terbuka di beberapa bagiannya, kami tidur bersama dengan para ternak tersebut, baik ayam, kambing, babi, sapi, kerbau dan kuda. Menyenangkan memang, walaupun kadang saya terganggu dengan suara-suara lenguhan mereka di tengah malam, mungkin karena mereka juga terganggu dengan suara mengorok saya. Ha ha ha.

Juga kamar mandi yang seringkali tidak ada sehingga kami harus berjalan kaki menuju mata air, sungai, ataupun sumur umum untuk mandi. Sehingga, dari 4 hari kunjungan di sebuah desa hanya satu dua kali kami mandi. Untunglah beberapa orang yang kami tempati memiliki WC, walaupun darurat, sehingga jatah pagi masih bisa dijalani dengan baik.

Sumba pun masih sangat jauh dari polusi. Ketika berada di desa, setiap malam saya selalu keluar rumah dan menengadah ke atas langit. Ketiadaan listrik dan bebasnya polusi udara membuat langit di malam hari terasa sangat jelas sekali. Bintang-bintang yang membentuk bermacam-macam rasi terlihat jelas sekali. Saya bahkan bisa menggambarkan sapi (kok sapi??) diantaranya. Di Sumba pulalah, untuk pertama kalinya saya melihat meteor melesat di angkasa. Dengan ukuran yang agak lebih besar dari bintang-bintang dan warna merah menyala, saya hanya bisa melihatnya walaupun hanya dalam hitungan detik. Bintang jatuhpun beberapa kali saya lihat. Bahkan saya sampai bosan untuk membuat keinginan. Jarangnya hujan turun di Sumba membuat saya bisa melihat bintang di setiap malam. Benar-benar romantis.. wish u were there..

Di Sumba, bahkan di kota, saya masih melihat banyak lelaki Sumba dengan kain tradisionalnya menyelipkan golok di samping pinggangnya. Bukan pemandangan yang biasa memang jika dibandingkan dengan beberapa tempat di Indonesia. Di desa, mereka memang banyak menggunakannya untuk mencari kayu bakar, namun di kota??

Selain itu, merekapun bukan pengendara motor yang baik. Lampu sen dan lambaian tangan seringkali tidak berguna jika kita akan berbelok. Satu kali ditabrak motor dari arah belakang akibat pengendara motor yang ugal-ugalan rasanya sudah cukup membuat trauma. Apalagi ditambah dengan terjatuh dari motor akibat seorang teman tidak cukup tidur dan tidak bisa mengontrol motor ketika dia hilang kesadaran. Di jalan yang lurus.. dan untungnya sepi.. saya terbaring dengan luka di beberapa bagian tubuh. Untunglah.. sang kamera (dan nyawa tentunya) masih bisa diselamatkan.

Berada di Sumba, memang membuat saya sedikit ”culture shock” dan itu bukan main-main. Saya tidak mempersiapkan apapun sebelum kepergian saya kesini. Ternyata, partner saya pun sudah memperkirakannya sebelum dia datang ke Indonesia. Sebagaimana sang supervisornya katakan, bahwa partnernya yang berasal dari Indonesia akan mengalami culture shock yang agak berlebih dibandingkan dirinya. Dan itu benar. Ha ha ha.. culture shock di negeri sendiri.. sungguh lucu.

Tapi dibalik semua itu, Sumba menyimpan banyak orang-orang yang ramah dan baik hati. Logat bicara yang keras ternyata tidak mencerminkan kekerasan hati mereka. Dibalik sosoknya yang legam dan keras, terdapat sebuah kebaikan yang sulit didapat di manapun juga. Sebuah kepolosan khas masyarakat Sumba, yang hanya bisa kita rasakan ketika kita berada di Pulau Sumba.

Minggu depan, saya akan kembali menjelajahi pulau ini. Pengalaman apa yang akan saya temui? Hmm.. cukup penasaran juga.


20 Comments

  1. Posted January 20, 2006 at 12:15 pm | Permalink

    selamat..

  2. Posted January 21, 2006 at 4:11 am | Permalink

    mmm… ime’ suka langitnya :) birunya bagus :)

    btw, design site-nya, nggo banget ;))

  3. Posted January 22, 2006 at 6:24 pm | Permalink

    alow aaqq! wah.. tahun baru beneran baru neh tampilan websitenya :D. Mmm, simple and clean ;) Goed zo…

  4. Posted January 23, 2006 at 3:55 am | Permalink

    back to blogging q

  5. Anny
    Posted April 12, 2006 at 12:25 pm | Permalink

    Wah…seru juga ya, penasaran euy. Tunggu aja ntar bulan September gue jga bakal ke sana.

  6. Posted November 25, 2006 at 11:52 am | Permalink

    Perjalanan jurnalistikku selama 2 tahun di sumba barat telah memberikan kenangan yang tak terlupakan di negeri padang rumput nan luas. Selamat berbenah diri hari ini dan hari esok adalah sebuah pengharapan.

  7. Posted July 27, 2007 at 3:05 am | Permalink

    travel blog yang paling sering di pakai https://www.travels4.com

  8. Posted August 26, 2007 at 12:14 pm | Permalink

    emang asik lagi keliling di pulau sumba.. soalnya aku tinggal di pulau sumba yaitu tepatnya di waikabubak. teman2 yang mau datang ke pulauku silahkan aja.. nanti aku yang akan antar keliling..

  9. Posted August 26, 2007 at 12:29 pm | Permalink

    di bulan nopember nanti ada acara ritual Wulla Podu yaitu bulan keramat untuk masyarakat sumba. untuk mencari tahu tentang hasil panen

  10. Posted September 12, 2007 at 9:07 am | Permalink

    senang sekali aku membaca cerita kamu, aku jadi kepingin juga menginjakan kaki di pulau itu. kalo boleh tanya, kenapa kamu bisa mengatakan bahwa hati mereka lembut tak sekeras suara mereka psati kamu menemukan hal-hal yang melatarbelakai\ngi semua itu. kirim ke emailku ya.thanks

  11. rambu bita
    Posted September 18, 2007 at 3:46 am | Permalink

    weheheheh sanagnya bisa bc blog k..hmmhh saiya jg tggl n bsr di sumba(waikabubak) tapi skr kul di ikj..wahh jd pengen plg kampung,jd rindu sama bintang..

  12. rambu bhyta
    Posted September 29, 2007 at 2:04 pm | Permalink

    huaah jadi rindu mo plg kampun…kbetulan saya org sumba…

  13. Rambu Karenina
    Posted April 26, 2008 at 12:11 pm | Permalink

    Menarik… membaca blog kamu membuat perasaan ingin kembali ke kampung halaman..

  14. serly
    Posted June 19, 2008 at 8:19 am | Permalink

    wow…lumayan keren blognya…

  15. serly
    Posted June 19, 2008 at 8:22 am | Permalink

    oh ya senang berpetualang y????udah kemana aja???
    soalnya hobby aku traveling gitu

  16. ris
    Posted July 3, 2008 at 6:08 pm | Permalink

    wuihh.. pengin banget ke sana. Biar tahu indonesia itu gimana. malu donk masak ga tahu negeri sendiri

  17. Posted September 10, 2008 at 11:10 am | Permalink

    Ya, senang membaca blog anda, Sumba menyimpan banyak misteri bagi mereka yang tertantang dan bernyali besar. Padang savana yang luas seakan mewartakan kelapangan hati masyarakat disana untuk berbagi pengalaman. Tapi mungkin masih ada satu yang belum sempat dinikmati, jangan lupa kalau kesana nikmatilah sayur hijau daun singkong tumbuk. sangat enak dan menggairahkan

  18. Posted September 11, 2008 at 10:52 am | Permalink

    thanks all.. sumba emang great..
    suatu saat.. gue bakal kembali lagi ke sana.

  19. rio umbu
    Posted September 26, 2008 at 11:47 am | Permalink

    kapan dong ke kampung gw, tulis yang baik2 dan banyak2 ya tentang sumba.msih banyak yang menarik di Sumba, Ada Pasola, ada Megalithik,ada pantai yng masih perawan, waaw banayk dee, tlp gw ya klo ke sumba , 081353420973

  20. j. martono
    Posted November 16, 2010 at 7:41 am | Permalink

    yup/ Sumba sepertinya berbeda dg wilayah Indonesia yg lain, ada sesuatu yg unusual, penuh pesona sekaligus tantangan/ kapan2 sy pengen datang ke Sumba ah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>