Norwegian Wood
Membaca Norwegian Wood membuat saya tersentak pada sebuah personal legend. Sebuah personal legend yang ingin dijalani oleh seorang ’saya’, yaitu lari dari semua hal yang ada di sekeliling. Sebuah keinginan yang ternyata dimiliki dan telah dijalani oleh beberapa orang sahabat saya. Watanabe, si pelaku utama, pergi dari Kobe menuju Tokyo hanya karena ingin memulai sebuah hidup yang baru dimana tiada seseorang yang mengenalnya.
perempuan pacarku itu memintaku jangan pergi ke Tokyo, namun bagaimanapun aku ingin meninggalkan Kobe. Dan aku ingin memiliki kehidupan baru di tempat yang tak seorangpun kukenal (hal 44)
Judul Norwegian Wood diambil oleh Haruki Murakami dari sebuah tembang miliki The Beatles yang sangat disukai oleh Naoko, seorang gadis yang sangat dikagumi oleh Watanabe. Kecintaan Naoko pada lagu ini, sangat mendalam, bahkan menyamai cintanya pada Kazuki, mendiang kekasihnya yang juga sahabat terbaik Watanabe.
Secara umum, ceritanya termasuk biasa. Mengambil setting Jepang tahun 1960an, buku ini menceritakan sebuah kebebasan hidup (juga cinta dan seks) yang dimiliki oleh seorang Watanabe. Rasa sayangnya kepada Naoko membuatnya mengabaikan sisi kehidupan lainnya. Termasuk keberadaan dan rasa cinta seorang gadis badung, Midori, teman pada kelas ‘Sejarah Drama II’ yang unik, bertindak semau gue dan memiliki keluarga yang bermasalah.
Namun Naoko pun tak kalah anehnya. Ia tiba-tiba menghilang di pagi hari buta, setelah berhubungan seks dengan Watanabe pada malam harinya dengan tangisan yang sangat menyayat hati. Ternyata pada akhirnya diketahui bahwa itu untuk pertama kali dalam hidupnya. Kenyataan yang harus dihadapi Watanabe, bahwa Naoko ternyata mengalami gangguan kejiwaan dan harus menjalani terapi di sebuah lokasi yang sangat jauh sekali dari keramaian, ternyata tidak mengurangi rasa cintanya pada gadis itu. Pada akhirnya, hanya kematian Naoko yang membuatnya kembali tersadarkan pada realitas kehidupan.
Beberapa karakter lain juga dimunculkan dan menambah ‘bumbu’ novel ini. Ada Si Kopasgat, teman sekamar Watanabe yang sangat memperhatikan kebersihan namun tiba-tiba ia menghilang di tengah-tengah cerita. Selain itu hadir pula Nagasawa-san, si anak orang kaya yang mau hidup di asrama dan memiliki kebiasaan berhubungan seks dengan wanita manapun walaupun telah memiliki pacar yang sangat mencintainya. Watanabe merupakan satu-satunya sahabat terbaik Nagasawa-san dan karenanya Watanabe dapat dengan mudah mendapatkan izin keluar malam dan pastinya menemaninya bergaul dengan para gadis tersebut. Karakter unik lainnya adalah Reiko-san, ibu satu anak yang juga rekan sekamar Naoko di tempat ‘terapi’. Ia diusir dari keluarganya karena dituduh menyetubuhi seorang anak perempuan yang juga anak bimbingnya di kursus piano.
Haruki mampu membuat saya berpikir dan berimajinasi mengenai Tokyo. Ia memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai kota Tokyo di tahun 1960an, dengan warung kopi, bar, shake, sushi dan stasiun kereta api. Sejelas ia menggambarkan hubungan seks antara Watanabe, Naoko dan juga Reiko-san yang ternyata membuat sayapun berkhayal hal-hal ‘nakal’. Upss. Selain itu, ia pun menggambarkan sosok Watanabe dengan sangat baik sebagai anak muda jepang yang modern, terlihat cuek namun sedikit sensitif dan memiliki kesukaan pada musik serta novel-novel seperti Catcher in the Rye (JD Salinger), Magic Mountain (Thomas Mann), dan Lord Jim (Joseph Conrad) yang memperlihatkan pengetahuan Haruki terhadap hal tersebut.
Namun setting awal di bandara Hamburg-Jerman membuat saya membolak-balik buku ini, untuk mencari hubungannya dengan keseluruhan cerita. Kecuali secuil informasi yang mengatakan bahwa Nagasawa-san menjalani karirnya sebagai seorang diplomat di Jerman.
Yang pasti, buku yang terbit pada 1987 sebagai Noruwei no Mori, dan diterjemahkan ke bahasa Inggris pada 1989 ini membuat saya berpikir kembali personal legend yang pernah saya buat dahulu. Salah satu sahabat yang telah merintis personal legend-nya sangat menyukai buku ini dan saya pun telah membuktikan bahwa buku ini memang cukup ‘recommended‘ untuk dibaca dan atau diberikan kepada sahabat-sahabat terbaik anda.
Thanks to shinta for giving me this novel
Jan 28th, 2006 at 6:39 am
lari dari… apa?kenapa mesti lari
Jan 28th, 2006 at 8:32 am
kok sampulnya beda yah? saya juga punya norwegian wood tapi sampulnya merah putih gitu.
ya, ceritanya bagus, biasa tapi bagus.
saya suka bagian dimana disebutkan: saya ingin berada di suatu tempat dimana tak seorang pun mengenal saya
Jan 29th, 2006 at 4:26 am
haduh; saya belum kasih kamyu apa-apa yah

nanti-nanti setelah pulang dari Sumba kali ya
hihihihihi
Jan 29th, 2006 at 6:06 pm
“If you believe everything you read, better not read. And if you don’t read,
aimtalk is one of the great aim progs for you” (Japanese proverb). “You know what I mean…” (Kill Bill 1)
Jan 30th, 2006 at 4:58 am
Aa, webiste-nya bagus cuma kenapa gak warna pink aja sih? anyway, thx 4 ur hospitality! Run away as far as you can bro!
Jan 31st, 2006 at 4:07 pm
hue heu kabar baeekk
Feb 6th, 2006 at 1:24 am
membacanya serasa membawa gua ke akhir tahun 1998 dimana gua banyak menghabiskan waktu gua membaca roman sejenis, laksana suasana padang rumput yang membawa Toru Watanabe kepada kenangan akan gadis kecilnya Naoko *halah*
anyway, pertanyaan mengenai hubungan setting awal di bandara Hamburg-Jerman dengan keseluruhan cerita juga menjadi pertanyaan gue apalagi ending cerita yang di buat ngambang…:)
Feb 7th, 2006 at 12:08 am
tadinya udah pengen komen serius tentang postingan ini… tp begitu baca komen dari ikapika, langsung buyar semua wakakakakak… pinkkkkyyy giiirl!! ika, gileee deh…
Mar 9th, 2007 at 7:17 pm
ga tau kenapa tiba-tiba pengen komen d postingan ini.
13 bulan yang lalu, kayanya kok seperti seminggu yah.. waktu cepet bgt berlalu n im still here dreaming..
but now put my efforts to reach it
glad u like it *ya iya lah.. secara request hihihihi*
Aug 4th, 2008 at 8:17 am
yup2 sama sy jg punnya tapi covernya beda merah putih gitu, tapi sama oke ko…
ceritanya sih biasa, tapi justru karena biasa jadi keliatan oke…itu dy personal legend…tiap orang pasti punya keunikan, sebiasa apapun hidupnya, itu tetep jalan hidup seseorang…