lantai tiga.. lantai satu.. lantai lima belas.. lantai tiga belas
ting.. lantai tiga.
butuh beberapa waktu untuk bisa memahami sebuah kejutan di lantai tiga. unexpected situation. memperjelas apa yang selama ini menghantuinya. mimpi pun memberikan maknanya. mimpi yang tidak semua orang pernah mengalaminya. sebuah kegamangan juga telah muncul akibat kesengajaan memasukan angka dua pada sebuah deret binari yang biasanya terdiri dari 1 dan 0 saja. ya dan tidak. hitam dan putih. lolongan srigala hanya bisa memecahkan keheningan malam, tapi tidak untuk menghapus angka dua dari deretan tersebut. dia ambil keputusan diam untuk memperlambat laju deret binari tersebut. tapi deretan itu terus berlari seperti biasa. entah kapan ke-diam-an itu akan berakhir.
ting.. lantai satu…
pun akhirnya menyerah untuk bisa memahami semua fenomena yang terjadi. kejutan itu hanya membuat kutukan terucap untuk semua yang terjadi. proses pematangan biologis pun terjadi secara cepat. diawali dengan diam (akibat terlalu bodoh), bertahan (untuk sebuah ego), luruh (oleh kejujuran hati), dan akhirnya meledak (tanpa pernah bisa dikendalikan). kata hati pun ternyata memenangkan semua. deret binari yang terkontaminasi angka 2 itupun semakin berputar cepat untuk sebuah keputusan. tapi itu malah membuat diam. membekukan otaknya seperti halnya keju belanda.
ting.. lantai satu..
jendela maya itu akhirnya terbuka. bijaksana. hanya itu kunci bagi jendela tersebut. jendela itu membuat persimpangan yang dinantikan pun terlihat jelas. persimpangan dengan beribu lorong dimana sebuah pilihan harus dibuat diantaranya. lorong yang terlihat lebih terang dari lainnya. don’t look back.. itu rule of thumb-nya. perjuangan baru akan dimulai. hanya dua opsi yang bisa dilakukan di sana. melanjutkan kontaminasi deret binari itu atau membawa anti-virus yang dapat menghilangkan kontaminasi dan membuat deret itu semakin terlihat sempurna. jendela itu ternyata menjadi obat bagi kejutan kemarin.
ting.. lantai lima belas…
kediaman masih berlanjut. mimpi dan kegamangan itu masih ada. tidak ada yang bisa dilakukan padanya. selain menunggu dan memberikannya waktu. take your time… hanya asa yang akan menunggunya. kapanpun. (tapi bukankah hidup harus berlanjut?).
ting.. lantai lima belas.
kenakalan di pagi hari.. membuat mimpinya sedikit terhapus. tapi tidak dengan kegamangannya. angka dua itu masih belum terhapus dari deret itu. yang pasti, lorong sudah ditemukan. perlu sedikit tambahan lampu untuk membuatnya nyaman dan jelas untuk dilewati. lorong itu cukup besar untuknya. penawaran untuk ikut di lorong itu disanggupinya dengan anggukan halus. tapi, kembali, tidak seorangpun dapat mempengaruhi ke-diam-annya. diam untuk sebuah keputusan. diam untuk sebuah deret binari.
ambil waktumu.. aku tunggu kamu di lantai tiga belas.
Mar 28th, 2006 at 3:36 pm
ada apa dengan lift nya?
di ombang-ambing kan dari lantai 13 yah?
apa kabar??
Mar 30th, 2006 at 10:18 pm
kenapa kamu selalu menunggu di tempat yang tinggi, Rizki? membuatku takut untuk menemuimu (padahal aku ingin), kenapa kita tidak bertemu saja di suatu tempat nyaman dimana untuk mencapainya kita tidak perlu selalu merasa takut (untuk jatuh dan terperangkap di dlmnya)dan kehabisan nafas?
Mar 30th, 2006 at 11:42 pm
Good site… Nice design
Mar 31st, 2006 at 3:34 am
lantai tiga belas? ati-ati lho, kabarnya, di lantai 10 ada cewek cantik banget (6B), yang suka nebeng ampe’ lantai 13. terus nanti sekitar lantai 11 ampe 12 gitu, lift itu bakalan bauuuuuuuuuuuuuuu banget. bau busuk gitu.
begitu nengok ke cewek cantik 6B itu, secara kalian cuman berdua di lift, cewek itu akan tersenyum terkekeh-kekeh sambil bilang…
“…
…
maaf yah, tadi saya kentut…”
yah gimana yah? secantik-cantiknya cewek, kalo’ kentut ya teteup aja bau
hidup binyo!!!