menjejakan kaki saya di kabupaten berau untuk pertama kalinya, menjadi kali pertama juga saya melakukan perjalanan di pulau kalimantan *dengan mengabaikan transit satu jam di balikpapan ketika hendak ke manado beberapa bulan yang lalu*. walaupun harus bangun sangat pagi sekali, demi mengejar pesawat pukul 6 pagi dari bandara soekarno hatta, saya cukup excited dengan first journey di tanah dayak ini.
tiba di balikpapan saya masih harus melanjutkan perjalanan dengan sebuah pesawat kecil menuju tanjung redep. membuat hati ciut juga melihat kecilnya pesawat, tanpa nomor kursi, jarak kursi yang sempit dan baling-baling di samping kiri-kanan pesawat, yang membuat mp3 dengan volume maksimal pun tidak ada gunanya. sejenak sebelum pesawat lepas landas, saya komat-kamitkan semua doa yang pernah dihafal, walau sempat menyesal juga tidak menuliskan sesuatu pesan-kesan sebelum berangkat.
jarak terbang yang tidak terlalu tinggi ternyata membuat saya bisa jelas melihat pemandangan di bawah sana. baru beberapa menit meninggalkan balikpapan, mata ini melihat banyak hal yang memiriskan hati. hutan yang hampir gundul, beberapa logging track hph, pembangunan kebun kelapa sawit yang baru, juga bekas-bekas pembakaran lahan yang entah hendak digunakan sebagai apa. satu jam berlalu, menjelang kota tanjung redep, tiba-tiba mata saya menangkap kumpulan tajuk pepohonan hijau yang menyerupai brokoli. ah indahnya. kondisi topografi yang curam membuat areal tersebut tidak ditebang. dan ‘katanya’ menjadi areal perlindungan. kelokan sungai pun tampak jelas di sana. sungai kelai menurut orang yang duduk di sebelah saya. tapi warnanya.. hmm.. sangat cokelat sekali. hujan tadi malam menyebabkan sungai ini menjadi lautan cokelat akibat erosi di bagian hulu.

saya hanya memiliki waktu lima hari saja. setelah terpotong dengan beberapa urusan yang katanya ‘bisnis’, teman perjalanan meminta kita menuju salah satu perkampungan dayak di hulu sungai kelai. ditemani seorang wanita manis, aktivis salah satu organisasi non pemerintah di berau, kami bertiga meluncur menuju salah satu perkampungan dayak di bagian selatan kabupaten berau.
bukan semuanya perkampungan asli memang. suku dayak kenyah di sana tinggal di sisi sungai kelai dan bermigrasi sekitar akhir tahun 2000. suku yang asli adalah suku dayak punan. sayang kami tidak bisa menemui mereka semua. banyak rumah yang kosong, karena saat itu adalah musim berladang. ketika berladang mereka bisa menempuh jarak puluhan kilometer dengan menggunakan perahu kecil, disebut ketinting, dan tinggal selama beberapa hari di ladang. mereka akan pulang di hari sabtu, beribadah di hari minggu dan kembali ke ladang di hari seninnya.

setelah berdiskusi dengan beberapa orang yang ada di kampung, kami putuskan untuk sedikit ber-adventurir menggunakan perahu ketinting mereka. dengan harga yang tidak terlalu mahal, kami minta mereka membawa kami ke salah satu kebun terdekat mereka. dengan dua ketinting bermotor, kami tembus sungai kelai yang saat itu tenang. suasana yang damai, dengan suara serangga dan gemericik air sungai, perahu berjalan lambat di antara pepohonan hutan di kanan kiri sungai, membuat saya membayangkan diri ini sebagai indiana jones. sungguh.. sebuah kesan perjalanan yang tidak bisa direkam oleh alat perekam canggih manapun.
berau pun terkenal dengan petualangan baharinya. pulau derawan, pulau sangalaki dan pulau maratua hanyalah beberapa diantaranya. terumbu karang yang indah, populasi ikan, penyu hijau, mantaray (ikan pari) dan makhluk laut yang berlimpah menjadi satu tujuan wisata tersendiri. kami pun tidak mau ketinggalan. perjalanan dua jam dari kota tanjung redep, ditempuh melalui jalan sungai. speed boat yang kami sewa melaju dengan cepatnya membelah sungai segah menuju pulau derawan.
pulau derawan hanyalah pulau kecil saja. pantainya yang berpasir putih dengan air laut yang biru menjadikan saya terkagum-kagum ketika pertama kali perahu cepat ditambatkan di dermaga. terdapat satu perkampungan dengan beberapa losmen/penginapan. selain itu terdapat juga satu buah resor yang cukup besar dan indah. kami langsung menuju resor, untuk menyewa beberap peralatan snorkeling. tidak terlalu mahal juga.

memasukan kepala saya di air laut, membuat saya terpukau dengan pemandangan di bawah sana. ribuan ikan jack fish juga snipper fish bergerak perlahan di hadapan. di bawah sana, saya ditunjukan clown fish, si nemo yang kebetulan berwarna merah marun. juga beberapa bintang laut dan beribu-ribu jenis ikan laut lain yang tidak saya tahu namanya. tiba-tiba.. lengan guide menujuk ke depan.. dan seekor penyu hijau melintas dengan gagahnya di hadapan kami. saya hanya bisa terdiam seraya mengutuk diri yang tidak memiliki kamera bawah air *saya sudah mengutuk diri sejak awal sebenarnya*. penyu itu.. tidak takut sama sekali akan keberadaan kami. ia bahkan dengan pe-denya memutarkan dirinya di hadapan kami. gossh.. now..i believe.. that all the species in finding nemo-the movie are real. ha ha ha. sebuah keindahan yang menakjubkan.
sungguh.. menjadi indiana jones dan nemo dalam waktu 5 hari saja.. membuat saya mengagumi tanah berau ini. from river basin to coral reefs… kalau teman perjalanan saya bilang. someday.. *i wish*. .. saya akan kembali lagi ke sini. semoga semua keindahan ini akan tetap seperti ini. semoga keserakahan ekonomi tidak membuat semua keindahan ini punah. amin.
keindahan lain pulau derawan dapat dilihat melalui situsi ini, sedangkan images sebagian besar berasal dari p.burgers


wah, kampung dayak euy….. saya sirikkk…. masa mendahului saya? padahal itu tanah leluhurku:)
hah..pengeeen..gila itu gambar harlequin crab sama sea horse-nya imut abis. lucuuu….ga ada dori ya?
Huaaaa! Jadi iri neh … Pulau Derawan emang indah, pernah liat foto-foto milik temenku yg pernah kesana. Dan sampai sekarang Qq ga abis pikir kenapa dulu dia mati-matian menolak ditugaskan survei kesana, sementara Qq mah memohon-mohon dikirim ke daerah seperti itu. I wish I still have that opportunity in the future.
pengen ke derawan jugaaaaaaa……….
mmmm…. aku waktu hari sabtu mo’ kasih komen tau nggak sih??? tapi site-nya aa ini susah banget dibukanya???? huuuhuuuu…
kura-kura hijauku nanti sebesar yang aa li’at gak yah? huhuhuhu… aquariumnya harus ganti dong
waktu itu, kura-kuranya bilang gini nggak? “Hey dude, whacha gonna do, dude??? ar ya gonna stay here, dude?? da ya like it here, dude??”
ugh… jadi pengen…
selalu saja foto2 keindahan alam itu di kaburkan dengan manusia yang berdiri tegak, dan di pajang bersama dengan foto2 alam itu. wakakaka. narcism never dies, good words buat membela diri, another words for foto gw doonggggggggggg……..
mer: lo orang kalimantan? hua..ternyata..
flaw: kayanya ada.. cuma gue gak tau.. jenisnya yang manah.. ekekek
qq: hayo.. hayo.. asli keren banged
alaya: ke ujung kulon aja dulu yukk
ime: gak sih.. dia kalem banged. kayanya dah dewasa deh.. ekekekek
realmuhy: look who’s talkiiiiiiiiing.. the king of narcism.. ekekeke
SETUBUH!!! Derawan emang cihuy banget dah…
aku ke sana May kemaren… n terpaksa merubah skedul trip Agustus…karena kemaren gak puas…2 hari 1 malam ke derawan, maratua, kakaban dan sangalaki…sangat tidak cukup!!
Jadi… Agustus besok…aku mau ke sana lagi…sekalian melihat tukik2 (anak penyu) dilepas ke laut… eh, gini2 aku ibu angkat penyu loh…
Indonesia kita yang kaya…sayang…bagian2 yg terindahnya hanya dinikmati oleh bule…(orang kita sendiri seringkali tidak menghargai..lebih milih ke bangkok n s’pore…hiks…)
om ini aku lagi …
hehe minta foto2 waktu di berau dong
aku pengen foto yang gede n ndiri2…
di flickr (atau apalah) om aja….
makasih om
seandainya engkau tidak pergi kepulau derawan selama hidup mu kamu sangat rugi dari info yang ada pulau derawan meru[pakan kepulauan terindah di dunia no 2 setelah pulau solomon setelah itu bunaken di sumatera utara