Shouts!! (part 1)
Sep 29, 2006 Reflection
satu:
saya adalah batu untuk meloncat dan seringkali dipergunakan oleh orang-orang yang ingin memulai sebuah hal yang baru (baca: bentuk hidup yang belum pernah dicoba sebelumnya). dan saya adalah batu yang (dengan sukarela) membuka diri dengan segala macam hal baru.
hal baru itu menyenangkan, hal baru itu dinamis, hal baru itu membuat banyak kejutan dalam hidup.
pada saatnya, sebagaimana fungsi yang telah digariskan, maka merekapun meloncat. entah.. mencari batu lain.. kembali ke titik awal.. atau menjadikan itu sebagai bentuk hidup baru mereka. dan saya? saya marah.. saya diam.. dan pada akhirnya.. saya merasa kaya. kaya akan pengalaman atas hal baru tersebut. dan beberapa diantaranya.. menjadi hidup baru saya.
saat ini.. saya tetap (secara sukarela) kembali menjadi batu dan membuka hal baru itu. dan dalam beberapa hal.. ternyata saya juga mencari batu untuk meloncat.
****
dua:
setelah beberapa hari.. saya ternyata belum bisa rapi dalam pengaturan waktu. banyak hal terbuang percuma untuk hal-hal yang seharusnya bisa dihindari ataupun dilakukan pada saat yang tepat. alhasil? waktu tidur tidak pernah cukup.. dan pekerjaan? dilakukan dengan kondisi tubuh yang gak fit dan tidak maksimal. aarrgghhh..
****
tiga:
berani bilang tidak.. jika memang tidak tahu. berani bilang tidak.. jika memang tidak boleh. dan harus berani bilang tidak.. jika memang tidak mau.
lalu, kenapa saya tidak berani?
****
empat:
saya ingin bisa memilih.. namun ternyata hidup bukan pilihan ganda.. hidup adalah tentang benar atau salah..
****
lima:
kadang saya berpikir.. mengapa saya? mengapa tidak seperti dia?
mengapa saya menjalani ini.. sedangkan dia menjalani hal yang lain..
why.. why.. and why?
tapi.. memang semua ada di ’sini’.. di sebuh sudut yang bernama ‘nurani’..
yang menjadi dasar dan penjelasan.. mengapa saya menjalani ini..
dan saya menerimanya..
karena saya.. mencintai mereka..
****
enam:
saya.. kosong.. (body and mind)
heidelberglaan 2, di suatu siang yang dingin
war photographer
Sep 25, 2006 Reflection
menonton film dokumenter war photographer (jelas) membuat saya terhenyak. banyak karya-karya si pelaku utama (james nachtwey) yang membuat saya terguncang. film ini memuat perjalanan fotografi james mulai dari kosovo, palestina, afrika, bahkan indonesia. tangannya sangat magis, sentuhan jarinya pada camera-analog canon-nya mampu memotret ratusan gambar yang sangat berbicara. tanpa harus berada di lokasi kejadian, kita bisa merasakan kepedihan dan kegetiran korban-korban perang dan juga kemiskinan.
bukan hanya gambarnya, tapi kegigihannya dan totalitasnya untuk berada dalam sebuah tempat yang nota bene tidak aman, sangatlah inspirasional. sebagaimana yang ia katakan, pada suatu pagi ia terbangun dan memutuskan untuk menjadi seorang fotografer perang, dan lebih lanjut ia juga menggeluti issue dunia ketiga lainnya seperti kemiskinan dan perubahan politik.

