saya, dia dan samuel morse
09.10 am. Stasiun Ede-Wageningen, Belanda
Saya hempaskan sepeda cokelat ini pada lahan parkir sepeda di depan Stasiun Ede-Wageningen. Tampak ratusan sepeda dengan berbagai model berjejer di lahan seluas 50 m2 ini. Sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat di negara ini untuk bersepeda ke stasiun terdekat dan menyimpannya sebelum melanjutkan ke kota lain tujuan mereka. Sebuah kebiasaan yang menyehatkan dan menghemat banyak uang. Selain itu, mereka pun ikut mengurangi jumlah polusi udara akibat kendaraan bermotor. Sungguh pola kehidupan yang menyenangkan. Tak lama, setelah mengunci sepeda butut itu, saya pun berlari menuju stasiun.
Kereta double decker kuning-biru itu seperti biasa tiba tepat pada waktunya. Saya, seperti biasa pula, dengan terengah-engah berlari kencang menaiki tangga menuju peron tiga. Tiket diskon kelas dua seharga 7.3 euro sudah di tangan, juga sebuah kartu diskon yang dipinjam dari seorang kawan.
Dari kejauhan tampak beberapa calon penumpang berkumpul di depan pintu kereta yang masih tertutup rapat. Setengah berlari, saya menuju gerbong paling belakang, gerbong yang relatif jarang diperiksa oleh kondektur. Setidaknya bisa mengurangi rasa was-was karena saya menggunakan kartu diskon pinjaman.
Pintu kereta terbuka secara perlahan dan dengan sabar kami semua menunggu hingga penumpang terakhir keluar. Tiba-tiba, seorang bapak tua mendahului saya dari belakang. Alih-alih marah ataupun terkejut, saya hanya menghela nafas, toh dia memang lebih pantas duduk dibandingkan saya. Apalagi pada jam-jam seperti ini kereta memang selalu penuh, karena bagi pengguna kartu diskon mereka baru dapat menggunakannya di atas jam 9 pagi. Saya mundur setapak dan mempersilahkan beberapa ibu-ibu untuk menaiki kereta terlebih dahulu.
Saya menjadi penumpang terakhir yang memasuki gerbong itu dan bergegas menuju lantai dua. Saya senantiasa memilih lantai dua jika menggunakan kereta ini karena bisa memandang jauh pemandangan di luar sana dengan lebih leluasa. Ruangan ini pun relatif memiliki jenis kursi berhadapan yang lebih banyak. Selain membuat ruangan lebih luas, saya pun bisa dengan leluasa melihat orang yang berada di hadapan. Banyak hal unik yang dapat saya amati selama bepergian dengan kereta ini. Entah anak muda dengan dandanan yang ajaib, ataupun kakek-kakek atau nenek-nenek yang begitu mesranya berpelukan. Sangat inspiratif.
Setelah menjejakan kaki ke tangga menuju pintu kaca pembatas, saya melewati ruangan kelas 1 yang belum terisi banyak dan menggoda untuk ditempati. Namun, tiket kelas 2 yang saya miliki memaksa saya berjalan lebih jauh menuju pintu kaca berikutnya. Saya tidak mau bermain konyol dengan menempati kursi yang tidak sesuai dengan kelas tiket ini. Denda yang besar siap menanti jika kita ketahuan melakukan pelanggaran semacam itu. Perlahan pintu kaca kelas 2 pun terdorong dan beberapa mata serentak tertuju ke wajah ini.
Beberapa kursi di kelas 2 ternyata masih belum terisi. Tampak dari kejauhan sepasang mata menatap tajam pada saya. Sepasang mata yang indah milik seorang gadis berwajah hispanik dengan rambut cokelat kehitaman yang jatuh sempurna di bahunya. Pandangan matanya seakan berkata, “kemari, kursi ini sudah saya siapkan untuk kamu“.
Saya mendekati gadis itu dan melewati beberapa kursi kosong lainnya. Ia pun lalu mengambil tas tangan yang berada di kursi sebelah kanan dan menaruh di pangkuannya. Sambil tersenyum simpul, saya mengucapkan terima kasih dan menghempaskan tubuh pada kursi merah muda itu. Ia hanya mengangguk dan tersenyum dengan manisnya.
Saya menoleh ke kiri, sedikit saja. Saya biarkan ujung mata ini menjelajahi tubuhnya. Ia begitu proporsional, tidak gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Dengan balutan coat cokelat, syal warna khaki, dan rok yang menutupi tiga perempat pahanya, ia terlihat begitu hangat. Suhu udara luar yang mencapai 10 derajat celcius pun tidak membuatnya terlihat kedinginan. Make-up tipisnya begitu pas menyapu muka putih itu. Ditambah bulu-bulu halus di atas bibirnya, membuat sosok itu benar-benar menjadi ciptaanNya yang sempurna. Matanya menatap tajam ke luar jendela, begitu menikmati pemandangan di negara kincir angin ini. Saya pun hanya bisa menahan air liur. Kepala saya bergeming dan siap untuk berimajinasi.
Wangi aroma kopi dalam sekejap menusuk hidung saya. Ternyata sebuah keharuman yang berasal dari segelas Douwe-Egberts Coffee di lengan kirinya. Perlahan ia angkat gelas itu menuju bibir indahnya. Tampak Ia begitu menikmati semua aliran kopi yang masuk melalui bibir tipisnya. Begitu nikmat dan tidak menetes sedikitpun. Sekilas, wajahnya terlihat bersemangat, tak ubahnya anggota pasukan militer yang akan bertempur.
Tiba-tiba, kepalanya menoleh ke arah saya. Secara spontan saya pun merubah pandangan ke arah kaca dan berpura-pura melihat ke luar sana, dimana puluhan sapi sedang merumput dengan rakusnya. Malu juga kepergok dengan wajah seperti macan Taman Safari yang tidak diberi makan satu bulan. Benar-benar lapar dan terlihat kampungan. Muka saya pasti sudah merah, seperti kepiting rebus.
Tanpa diduga ia menurunkan kaki kanan yang tadi ia tumpukkan pada paha kirinya. Kedua paha kami pun bertemu dan bersentuhan. Waktu pun serasa terhenti. Saya merasakan aliran darah menjadi lebih kencang, lidah menjadi kelu dan leher sulit digerakan. Saya tiba-tiba membeku. Hanya aroma kopi lah yang membuat saya tetap tersadar akan keberadaannya. Sebagaimana saya juga sadar akan posisi duduk yang aneh ini. Saya hanya berharap agar tidak membuat gerakan yang bisa menghancurkan semua kenikmatan ini, seraya berharap agar ia tidak akan merubah posisi duduknya.
Seluruh kaki kami benar-benar bertemu. Betisnya yang terbungkus stocking warna cokelat itu pun bahkan berada persis di samping betis saya. Novel State of Fear yang saya pegang pun akhirnya hanya menjadi lembaran putih belaka. Saya merasa berada pada imajinasi tertinggi. Badan ini melayang, dunia menjadi sunyi dan yang terdengar hanyalah desahan nafas kami berdua. Alunan musik Lionel Richie mengalun perlahan. Stuck on you…
Tiba-tiba, saya merasakan sebuah gerakan mekanis seperti layaknya kode morse. Kode titik dan garis yang dahulu saya pelajari ketika menjadi pramuka terasa sangat jelas di sekujur kaki kiri ini. Aneh sekali, saya dahulu adalah bulan-bulanan kakak pembina akibat terlalu bodoh untuk bisa memahami kode ini. Namun sekarang, gerakan otot kaki kanannya memberikan sebuah pesan morse yang tiba-tiba bisa saya mengerti.
Novelnya bagus? Begitu pesannya. Ragu-ragu saya menjawab pertanyaan itu dengan menggunakan otot kaki ini. So far… Yes.
Selanjutnya adalah pertukaran informasi antara kami berdua. Namamu siapa? Hendak kemana? Darimana kamu? Kuliah? Bekerja? Sejak kapan berada di Belanda ini? Ia pun tertawa ketika saya mengeja nama.
“I-p-u-l? It sounds funny.”
“Come on, what so funny about it?” Aneh juga ada orang mengatakan nama saya lucu.
“Ipul, like I pull? Kamu tarik sesuatu?” Waduh, ternyata ia bisa juga main plesetan.
“Hahaha… nope… it’s my nick name. My real name is Robby Syaifulah Wiranatakusuma. It was given by my grandfather.”
“Woow… panjang sekali namanya, seperti kereta ini… hahaha… just kidding” katanya.
Ah ternyata dia punya sense of humor juga. Otak saya pun dipenuhi dengan informasi mengenainya. Ia bernama Laila, berasal dari Spanyol, ayahnya berasal dari Catalunya dan ibunya merupakan keturunan Tunisia. Saat ini ia sedang berkuliah design interior di Hogeschool Utrecht. Ini adalah tahun ketiganya.
Saya semakin berani untuk berinteraksi dengannya. Ia ternyata penyuka kopi, sama seperti saya. Douwe Egbert itu adalah salah satu kopi favoritnya. Bahkan pada saat saya menyebutkan Kopi Lampung ia pun mengenalinya. Pengetahuannya tentang kopi ternyata sangat luas. Ia bahkan bercerita mengenai sejarah kopi yang berasal dari Ethopia dan migrasinya ke Arab, cara meminum kopi orang Arab dan Turki yang unik, masuknya kopi ke peradaban Barat, hingga konflik dan perang yang disebabkan oleh kopi. Ia juga bisa menyebutkan beberapa jenis kopi yang ada dan tidak ada di Belanda ini. Menakjubkan.
Saya pun memberanikan diri untuk mengajaknya minum kopi bareng. Saya tidak tahu apakah dia memiliki waktu untuk itu, namun saya berpikir bahwa ini adalah satu-satunya waktu yang saya punya. Belum tentu saya akan bertemu kembali dengan bidadari ini.
“Masih sanggup, untuk minum segelas kopi lagi di Cafe Centraal Stasiun Utrecht nanti?” tanya saya.
“Hmm… tapi kopi ini saja belum habis?” seraya memperlihatkan gelas stereofoam yang dipegangnya.
“I know… toh tidak ada salahnya kan? Kamu bisa memesan hot chocolatte atau cappucino nanti. Bagaimana?” saya membujuknya dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. Ah tapi masa bodoh lah.
“Hmm… bagaimana ya?” ia tampak berpikir.
Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba, “dames en heren… volgende station is Utrecht Centraal…”
Arrrghhh. Suara serak kondektur itu menghempaskan saya pada dunia nyata. Saya seperti tertampar oleh sepatu berujung besi milik pegawai tambang emas di Pongkor. Keras dan membuat sakit kepala. Gerbong ini pun kembali terdengar ramai. Empat orang pelajar di sebelah saya sedang mengobrol dan tertawa dengan kencangnya. Seorang bapak yang berada di depan saya pun mengangguk-angguk mendengarkan iPod-nya. Alunan lagu Bad Day terdengar begitu jelas dari kedua kupingnya, ia rupanya penyuka Daniel Powter. Laila merapihkan jaketnya, membuang gelas kopi pada tempat sampah di bawah meja dan membereskan tas hitamnya.
Saya mengangkat tubuh ini, memasukan novel dan bergegas menuju pintu keluar. Sambil tertawa kecut saya membayangkan kebodohan yang tadi dilakukan. Kebodohan untuk tidak merubah posisi kaki, kebodohan membuat imajinasi yang jelas-jelas tidak nyata dan kebodohan untuk tidak berani membuka mulut ini. Ah… benar-benar bodoh.
09.50 am. Stasiun Utrecht Central, Belanda
Saya berlari menuju pemberhentian bus di antara banyaknya lalu lalang orang di sekeliling. Saya harus tiba di kampus jam 10 pagi ini. Tidak banyak pekerjaan memang, karena kemarin saya baru saja memberikan draf terbaru kepada supervisor. Hari ini akan menjadi hari yang cukup tenang sebelum coretan terbaru tiba.
Tiba-tiba, sebuah tepukan di bahu membuat saya menoleh ke belakang.
“Hi Ipul… I think… another cup of coffee will be fine for me”
Tampak di sana, Laila berdiri dengan indahnya. Lengan kanannya memilin rambut seperti meminta jawaban yang positif. Saya terpana dan hanya bisa mengangguk…
Dari kejauhan.. saya melihat Samuel Morse tersenyum bangga.
Utrecht, Maret 2007
Mar 14th, 2007 at 8:06 pm
terusannye gimane jek… lo diajak ke kamar nggak? heheheh
Mar 15th, 2007 at 3:50 am
jiyeeeh, ditunggu cerita part-2 nya
Mar 15th, 2007 at 4:46 am
om qq, jangan bilang kalo laila itu mirip parah…
Mar 15th, 2007 at 4:53 am
Ndy… farah ndy… farahhhhh….
Mar 15th, 2007 at 5:38 am
iyah… parah…
Mar 15th, 2007 at 6:32 am
aduh mak.. pasti another imaginary girl :p. Eh, laila dan Robby? hihihihi.. gimana tuh kabarnya?
Saya lihat anda suka sekali dengan kata “sempurna”. “jatuh sempurna”. “minum kopi sempurna”… what about that?
Mar 15th, 2007 at 9:58 am
@marwoto: tenang.. nantikan di layar komputer anda..
@alaya: ada kok..
@ndy: parah? hmm.. i am not ucup
@fitri: iya ini akan jadi laila dan robby.. nantikan versi finalnya.. sempurna? hmm.. saya tidak sempurna, karena itu suka menggunakan kata itu. toh tiada yang sempurna juga kan? huehe..
Mar 15th, 2007 at 10:35 am
haaayyyyyaaahhh….lanjoootttt…epsisode berikutnya…..
endingnya digantung ginih kayak sinetrn ajah nie om Qi….
bikin penasaran oi!!
Mar 15th, 2007 at 3:37 pm
lama2 bisa2 jadi novel romantis niy
Mar 16th, 2007 at 1:21 am
ya ampyuuun a qq heubadh bgt.. bisa2nya mores2an di bis.. pake otot kaki lagiiiiii… yakin deh samuel morse pasti bangga abiiiiiisssss.. begitu juga kakak pembinanya..
Mar 16th, 2007 at 11:17 am
doooh panjang
entar balik lagi deh
hahahhaa
Mar 17th, 2007 at 3:48 am
hi aa, pa kbr? aduh makin ’sempurna’ aja nih websitenya. Long time no see and chat
ik lg di brisbane nih..puanassss…..
Mar 17th, 2007 at 4:22 am
he eh… bukan ucup…
onta…;))
Mar 17th, 2007 at 8:35 am
@nila: sabar-sabar.. pasti ada kok
@nien: hmm.. we”ll see.. hi hi
@sianakmanja: di kereta rin.. bukan di bis.. huehehe..
@atta: huuu.. dasar pemalas..
@joice: deuuuh.. aussie yeuuuh..
@ndy: bakal diganti kok di extended version nyah.. ;))
Mar 17th, 2007 at 7:45 pm
uhuyyy.. kisah cinta berawal dari gerbong kereta.
Mengenai sentuhan paha… saya jadi inget cerita esek-esek model kereta Jabotabek. Hahaha.
Mar 20th, 2007 at 7:19 am
hah? woooyyy… ngampuuussss woooyyy… kok malah ngopi?
Mar 20th, 2007 at 9:45 am
Rasanya saya pantas untuk menantikan
†Saya, Dia dan Samuel Morse : a novel by Q â€
ya…ya…â€Q†rasanya sebuah nama yang cukup menjual
Mar 22nd, 2007 at 1:45 pm
mana lanjutannya? hehehehe
Mar 22nd, 2007 at 9:33 pm
interesting story. some comments (asking for clarifications):
— do you?
- i don’t believe you still remember morse code
- ok, let’s believe that you did morse… I think it’d take you more than Wageningen-Utrecht to finish the whole conversation…
- she said “.. have another cup of coffee?” — but you didn’t have coffee together per se in this story, so I assumed the question she asked had to be “shall we have coffee together?”. but if her question were correct, then you implied that you actually did meet each other before for coffee — clarify please?
- oh, i think i am being a crazy detail-freak person. ignore me. i did enjoy the story…. and want to know the follow up stories :)))
Mar 22nd, 2007 at 10:49 pm
@arif: wah udah bukan paha lagi kalo di sana mah haha
@ime: yah.. namanya juga usaha..
@sa: huehehe.. masih jauh
@cyn: sabar.. sabar..
@mer: hmm.. no wonder that you become an assistant-professor..in the US pula.. these crazy-detail-freak things explain that.. haha.. ok, i will try to answer those:
1. hmm.. if you are in the same situation.. i believe that you will remember it.. trust me.. just follow your mind and imagination.
2. again.. trust me.. it’s possible.
3. well.. i am sorry.. this is not the extended version. so you missed some details. actualy, we shared the coffee during the morse time. so the question was right, wasn’t it?
4. i hope those explained, teh.. just wait for the next chapter.. ya?
Mar 23rd, 2007 at 7:27 pm
jadi inget masa kecil
test test http://bimoaseptyop.blogspot.com
Apr 2nd, 2007 at 11:11 am
wah seru juga qi…minum kopinya. gua tunggu lanjutannya, sekalian wedding invitationnya kikikikik..
Apr 18th, 2007 at 7:04 pm
trus tanya nomer telepon-nya ngga?
Mar 1st, 2008 at 10:11 am
Aku hanya dapat berkata “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”
Mar 13th, 2008 at 4:21 am
gyahahahaa….jadi in9eT..???
aaqq man9 pinTer dacH menuan9kan kaTa”menJadi kalimaT yang semPuRna untuK membeNtuk sebuaH paragraf menJadi suatU ceriTa..^0^
yupz..setuJ tucH dibiKin noveL Ja..
pasti laKu dacH dipasaRan kan seKaran9 ge musim tuch..heheheh..