when love meets science

ketika kita menyayangi seseorang, ternyata tidak semua hal berjalan sesuai yang diinginkan dan malah seringkali merusak. jika rasa sayang itu dianalogikan dengan populasi manusia di bumi dan saya adalah buminya, mungkin teori malthus adalah benar adanya. malthus (1798) mengatakan bahwa pertambahan populasi di dunia akan memberikan tekanan yang semakin tinggi pada sumber daya alam dan juga menyebabkan supply makanan semakin tidak mencukupi sehingga membuat kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. terbukti, ketika rasa sayang itu bertambah, ternyata malah membuat diri ini menjadi semakin sakit.

tapi mungkin itu juga terlalu berlebihan, karena malthus memang tidak memperhitungkan bahwa manusia akan menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas dan mengelola sumberdaya alamnya. ini seperti yang boserup (1965) katakan, bahwa jika dalam jumlah populasi yang optimum ataupun proses pertumbuhan populasi yang stabil/sustain maka, pertumbuhan populasi justru malah akan meningkatkan produktifitas, terutama di bidang pertanian. karena manusia akan melakukan intensifikasi pertanian dan memberikan input-input beserta teknologi baru pada aktivitas pertanian. terbukti, hidup saya jauh lebih produktif ketika rasa sayang saya ke kamu ada dalam jumlah yang wajar.

daily et al (1994) menyebutkan angka 1.5 sampai 2 milyar manusia di bumi sebagai jumlah optimum manusia di bumi. melihat hal tersebut, maka saya seharusnya bisa menyesuaikan jumlah rasa sayang itu ke kamu dengan melihat carrying capacity (1) saya. tapi ternyata saya tidak memperlakukan dan mengelola diri ini dengan baik dalam upaya memperbaiki carrying capacity itu. seperti layaknya manusia lain yang rakus, saya malah menambah rasa sayang itu tanpa melihat kondisi dan realitas.

saya lupa, seperti yang wilkinson (1973) katakan, bahwa setiap manusia dan system teknologi memiliki potensi untuk menambah potensi/keinginannya di luar limit sumber daya alam yang tersedia. pada akhirnya hal tersebut hanya akan mengganggu keseimbangan antara populasi dan sumberdaya alam. apalagi jika itu ditambah dengan faktor-faktor eksternal, maka potensi tersebut akan semakin cepat bertambah. pada saat itu saya hanya melihat keindahan kamu, perlakuan kamu ke saya dan faktor-faktor luar lain, yang pada akhirnya membuat saya semakin menambah populasi rasa sayang itu. padahal, itu ternyata malah membuat saya semakin tersiksa. kapasitas saya ternyata bukan untuk jumlah rasa sayang yang sedemikian banyak. *uhm.. saya seperti bumi yang memproduksi sendiri populasi manusianya. bumi yang aneh…*

setelah melalui pertimbangan yang sangat mendalam, maka saya memutuskan untuk berhenti mencintai kamu. hal itu justru karena saya menyayangi kamu sedemikian besarnya. jangan merasa aneh dengan keputusan itu, karena ehrlich dan ehrlich (2002) pernah menuliskan bahwa untuk mencapai sustainable global society maka perlu dilakukan perubahan besar pada jumlah populasi, jumlah konsumsi dan penggunaan teknologi. karena itu saya menerapkannya dengan mengontrol (mengurangi) populasi rasa sayang ke kamu, mengurangi jumlah konsumsi ke tubuh ini *hmm.. gak gitu-gitu banget sih*, dan melakukan aktivitas yang bisa membuat saya melupakan kamu. itu semua karena saya telah melihat carrying capacity saya, dan harus diakui bahwa jumlah populasi rasa sayang yang dimiliki ternyata berada jauuuh melebihi kapasitas yang ada. jadi biarlah rasa sayang itu ada dalam jumlah yang seharusnya atau bahkan semakin hilang. yang pasti, ini semua untuk kebaikan kita bersama. saya tidak mau merusak diri saya sendiri, diri kamu dan kehidupan kamu.

lebih jauh, saya pun takut bahwa kamu hanya akan menjadi sebuah barang ekonomi buat saya, seperti halnya barang-barang ekonomi lainnya. dimana disaat saya mendapatkan kamu dan mempergunakannya, ternyata value kamu semakin berkurang dan pada akhirnya malah mengurangi rasa sayang ke kamu. kurang ajar memang jika memperlakukan manusia seperti itu (dan itu saya akui). tapi saya tidak mau kehilangan rasa sayang saya ke kamu, dan salah satu caranya adalah dengan tidak memiliki kamu. karena dengan begitu saya tidak harus mempergunakan kamu dan value kamu (untuk saya) akan tetap ada.

tidak memiliki kamu dan memilih orang lain, pada akhirnya menjadi opportunity cost (2) yang harus saya ambil. tapi hidup memang untuk memilih bukan? dan keputusan saya tersebut merupakan strategi untuk membuat hidup saya dapat berlanjut hingga ke masa depan. a sustainable life management. sekali lagi.. semua ini saya lakukan karena saya memang sangat menyayangi kamu dan kehidupan saya (juga kamu).

…dan ternyata itu pun sama sakitnya dengan memilih untuk menyayangi kamu.

references:

boserup e. 1965. the conditions of agricultural growth: the economic of agrarian change under population pressure. new york: aldine publishing company.

daily, g.c, ehrlich, a.h, and ehrlich, p.r. 1994. optimum human population size. population and environment. volume 15 (6). human sciences press, inc.

ehrlich p.r. and ehrlich a.h. 2002. population, development and human natures. Environment and development economics. 7:158-170. cambridge university press.

malthus. 1798. an essay on the principle of population (1st edition) with a summary view (1830), and introduction by professor anthony flew. penguin classics.

wilkinson, r.g. 1973. poverty and progress: an ecological model of economic development. london : methuen

footnotes:

(1) carrying capacity usually refers to the biological carrying capacity of a population level that can be supported for an organism, given the quantity of food, habitat, water and other life infrastructure present (wikipedia).
(2) in economics, opportunity cost, or economic cost, is the cost of something in terms of an opportunity forgone (and the benefits that could be received from that opportunity), or the most valuable forgone alternative (or highest-valued option forgone), i.e. the second best alternative. for example, if a city decides to build a hospital on vacant land that it owns, the opportunity cost is the cost of some other thing that might have been done with the land and construction funds instead. in building the hospital, the city has forgone the opportunity to build a sporting center on that land, or a parking lot, or the ability to sell the land to reduce the city’s debt, and so on (wikipedia).

ps: citations and footnotes are not in a proper-scientific-way. not for copied.

untuk kamu.. yang pernah mengisi hidup dan mengganggu keseimbangan populasi di tubuh ini. kenapa kamu hadir kembali di saat saya sedang pusing dengan teori-teori keparat inih?? siigh.

13 Responses to “when love meets science”

  1. rievees Says:

    Duh, kayanya lagi ‘berat’ nech…
    Saha sech Q?
    Bukan gw kan yang lu maxud? ;p


  2. .:nien:. Says:

    berasa baca text book kuliah. My God! berasa tertampar di beberapa bagian. Apa typical orang yg hari, tgl, bulan tahun kelahiran sama, cara berpikirnya gak jauh beda ya?
    saya suka berasa2 yg kayak kau tulis, cuman gak direlate kan to any theory.


  3. kampret nyasar Says:

    When all else, which to include those mathematics and economics formula seemed to be running against the wall.., perhaps fastening your prayer would be a solution that the One ABOVE there can make magic that defeats all scientific equations mankind can create..

    Should it be her or someone new.. let them come to you in running.. so keep walking, as it cost you more to just sit and wander-around :D .


  4. -arin- Says:

    kakakakak.. aduuuh maaap yah ketawa.. tapi emang rada lucu siiih.. abis sayang ma orang aja reppooot baner sihhhh.. cuit cuitt cetak cetak.. siapa sih yang dimaksud *gosip mode on* tapi ya ampyuuung a qq mah heubadh lah.. dalam keadaaan tertekan pun masih bisaaa aja nyambung2in antara cinta ma teori berat begituuuh..


  5. riza Says:

    makanya ambil analoginya jangan populasi dong. coba lu analogiin rasa sayang itu = duit. makin banyak kan makin tajir jadinya *matre mode is on*


  6. nals Says:

    Analogi yang sangat bagus. Pada saat kita menyayangi sesuatu, baik itu manusia maupun harta, suatu saat kita akan merasakan kekecewaan ketika sasuatu yang kita sayangi itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan, karena tidak ada sesuatupun di dunia ini yang bersifat abadi. Apalagi rasa sayang yang kita berikan itu terlalu berlebihan. At least lu punya keputusan yang merupakan strategi buat hidup. Point yang terakhir itu yang akan gue dukung terus.
    PS. ym gue error deui euy, ngobrolnya by email aja yach


  7. anonim Says:

    udah lewat dari jaman suharto sih Q…
    coba kalo masih masa suharto pasti populasi-populasi itu di suruh ikut KB, jadi nggak akan membludak kan populasi-nya…*garink pisan*


  8. cyn Says:

    otak vs perasaan?
    hebad euy… implisit tapi terbaca huhuhuhuhu…


  9. qq Says:

    Hebat! Kombinasi antara perasaan dan pikiran … rasa sayang dan teori-teori berat … huh … ga banyak orang yang bisa melakukannya. Lagi-lagi tulisan di sini bikin Qq terpana … Two thumbs up for you.

    Selamat ya, akhirnya bisa memutuskan mau hidup yang seperti apa … I’m still searching :P


  10. asri Says:

    luv is like a math ya..


  11. moorcyhans Says:

    Gosh..saya jadi bener-bener suka (tulisan) kamu. Boleh saya re-posting di multiply saya? Saya tunggu ijinnya…karena saya sakau sama tulisan kamu yang ini.


  12. wi3nd Says:

    deuch aaqq..seba9ai @peneLiti teRnYata daLam ReleaTionsHipna pun beRbau teoRi..waaa….heBatt..!!heybaat euY..!!!

    kLu ayku see..lieR akH..so jusT let it fLow ja..gyahaaaaa…….


  13. bea Says:

    qq…..
    ini semua jawaban kenapa harga commodity melunjak akhir2x ini!!! dan ini jg jawaban kenapa harga minyak bisa melambung menembus 145USD per barrel!! jadi gimana donk q??
    ga semua maunsia menyadari carying capacitynya!!!


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>