.. saya pikir.. sebagai bangsa timur.. kita harus bisa menjaga kesantunan kita. kita terkenal sebagai bangsa yang santun dan jangan samakan dengan mereka yang ada di barat sana..
saya tergelitik membaca pernyataan salah satu kawan di atas mengenai konsep timur-barat dan hubungannya dengan urusan santun dan tidak santunnya bangsa. kalau adik-adik saya bilang mungkin.. hari geneee masih ngaku bangsa yang santun?? so yesterday sekalee..!! betul, buat saya pernyataan itu mungkin sudah tidak relevan lagi. miris memang, tapi buat saya tempelan bangsa timur yang santun itu membuat saya jengah.
entah sudah berapa banyak deretan kasus pembunuhan dan kerusuhan di negara kita. mulai dari ujung barat, tengah hingga ke timur. lihat betapa murahnya nyawa saudara-saudara kita melayang dengan sia-sia. betapa garangnya orang-orang kita *a.k.a bangsa timur* yang dengan lantang dan bangganya mengangkat kepala hasil penggalan saudara-saudara sebangsanya. lihat betapa murahnya harga sebuah bangunan dan kendaraan yang dengan entengnya dihabiskan dengan percikan panas bara api. lihat betapa murah harga keperawanan seorang wanita yang hancur masa depannya akibat kebejatan moral beberapa orang idiot dan tak berotak. lihat betapa tidak berharganya harga sebuah nyawa dengan dalih pendidikan mental bagi beberapa calon penerus bangsa. lihat betapa murahnya harga sebuah agama yang membuat semua orang merasa berhak menghabisi orang-orang yang tidak se-agama. lihat betapa murahnya harga sebuah muka dan badan, sehingga dengan entengnya uang seratus ribu bisa membuat seseorang dipukuli sampai memar. dan lihat murah-murah lainnya yang membuat saya mengernyitkan dahi atas sebuah pernyataan.. bangsa yang santun.
jangan juga melihat masalah kedisiplinan ataupun kebaikan sebagai indikator kesantunan kita. untuk hal kecil saja, lihat betapa murahnya harga sebuah kebersihan dan kesehatan di negara kita. jangan berbicara mengenai tumpukan sampah di bantar gebang, lumpur di lapindo, hutan yang semakin gundul, laut yang tercemar oleh tumpahan minyak ataupun sungai yang tercemar limbah beracun. lihat dulu keseharian kita, sudah mudahkah kita untuk berjalan menuju tempat sampah terdekat demi membuang plastik sisa makanan? maukah kita mengotori sebagian kantung atau tas kita untuk menampung sampah kecil yang kita hasilkan, karena tempat sampah ternyata tidak disediakan oleh sebuah pengelola mal ataupun pemerintah kota?
juga jangan bayangkan soal duit korupsi bermilyar-milyar ataupun merasa aneh melihat seorang pegawai negeri yang rumahnya begitu mentereng di sebuah perumahan elit di jakarta. bayangkan saja keinginan untuk bisa sabar mengantri ataupun menyeberang pada tempat yang seharusnya. atau bahkan bayangkan untuk bisa membantu pegawai mc-donalds dengan menyimpan sisa makanan langsung pada tempatnya. atau bayangkan keinginan untuk mengembalikan uang yang bukan hak kita sekecil apapun pada yang berhak.
bayangkan juga apakah kita mau memberikan support pada rekan yang berbeda dari kita, entah karena kecacatan pada fisik dan mentalnya, atau bahkan berbeda secara orientasi seksual. jika memungkinkan, pikirkan juga ‘kedinginan’ hati kita untuk bisa menerima kritikan pedas dan pendapat orang lain yang tidak biasa. ataupun pikirkan juga keberanian untuk berbeda pendapat dengan orang lain tanpa harus merasa takut dianggap berbeda. termasuk tidak berprasangka apapun terhadap orang dari penampilan luarnya, entah dia bertampang buruk, bertampang seperti orang jahat ataupun karena berbeda ras, agama ataupun suku bangsa.
bagaimana? melihat hal diatas, untuk beberapa hal, saya justru bisa mengatakan bahwa bangsa barat (ugh.. i hate this kind of comparison) justru bisa jauh lebih santun dibanding bangsa timur. jadi, jika kita masih berpikir (atau malah ragu) untuk melakukan hal-hal sederhana di atas tadi, mungkin memang sudah waktunya kita menanggalkan idiom bangsa timur yang santun. jujur.. saya malu.
images source: tempo interaktif


santun yang diajarin itu untuk perilaku, bukan pentaan hati
kaleeeeeeeee itu juga.. *saya juga letih melihat ini semua*
santun …. istilah yang relatif banget. Qq juga ga suka dengan perbandingan timur-barat ini, karena sebenernya mungkin ga ada yang lebih baik satu sama lainnya.
Bagiku, santun dan ga santun itu muncul karena kondisi dan ukuran nilai yang dipake, jadinya sangat relatif sekali, berbeda di satu tempat dan tempat laen. Disini, di kota yang masi terasa asing bagiku, ukuran santun itu ternyata berbeda dibandingkan dengan kota yang Qq tinggali selama beberapa tahun terakhir. Begitu juga dengan kota asalku, santun bisa didefiniskan berbeda lagi. Ukuran yang berbeda ini membantu Qq memahami perilaku santun yang terbentuk oleh lingkungan setempat, walo teteup everyday is full of surprises
yoih yoih.. masa2 santun itu sudah lewat.. apalagi kalo ngeliat FPI beraksi di Indo..
comment teuteup sama dengan yg di mp. long live hidup bersopan santun! kalaupun itu mulei luntur, emang kita harus ikutan luntur? ai don ting so? kalo kesantunan udah a part of our life ngapain ikut2an yang bukan diri kita siy? walopun in reality, merubah ke suatu kejelekan lebih mudah drpd merubah ke suatu kebaikan.
klamaan tinggal di luar negri jadi malu jadi bangsa sendiri.
enya deuh meneeer!
apa karena terlalu banyak orang bodoh yang gampang dikibuli, diprovokasi dan disuap uang ?