berau 2.0

SPOILER: sumpah ini PANJANG banget.. kalo males baca mending tinggalin ajah.. hueheheh

…dahulu kala, para lelaki dayak gaai yang berniat menikah, harus melakukan tradisi mengayau terlebih dahulu. pengayauan adalah sebuah tradisi memenggal kepala orang lain, biasanya dari suku dayak yang lain, yang menandakan lelaki yang bersangkutan telah siap untuk menikah. bagi wanitanya, ia harus bersedia untuk ditato pada bagian tangan dan kakinya, yang menandakan ia sudah siap untuk dinikahkan…

sepenggal cerita seorang ketua adat suku dayak gaai (dibaca: ga-ay, jangan dibaca gay apalagi dianggap gey.. jauh banget) mengiringi kedatangan saya pada dua desa di bagian tengah kabupaten berau ini. memasuki desa yang hanya berjarak dua jam perjalanan saja dari ibukota kabupaten, mata ini sudah disuguhi debu jalanan yang bisa membuat putih wajah akibat deru motor dan mobil yang sesekali lewat. musim kering yang masih berlanjut, membuat jalanan tanah yang hanya diberi pasir dan batu ini semakin terlihat kering.

bertempat tinggal pada sebuah keluarga kecil yang baik hati, membuat saya merasa nyaman di sana. dengan dua anak yang masih kecil-kecil pasangan muda ini cukup beruntung mendapatkan rumah dari perusahaan tempat mereka bekerja karena memiliki kapasitas listrik 24 jam. tidak seperti rekan-rekan suaminya yang bertempat di desa lain, yang hanya berlistrik selama setengah hari. belum lagi keberadaan sinyal telepon selular di desa itu, walaupun hanya berada di beberapa sudut rumah saja. di rumah lain, bahkan saya melihat sebuah telepon selular digantung di depan rumah hanya untuk mendapatkan sinyal yang stabil. namun, sang suami yang menjadi community development di desa itu tetaplah merasa bahwa keinginan dan aspirasi masyarakat lokal maupun pendatang terhadap perusahaan tambang dimana dia bernaung seringkali membuatnya tertekan. sebuah resiko pekerjaan yang memang harus ditanggungnya.

kedua desa ini memiliki masyarakat asli yang telah hidup disana puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. atas permintaan mereka juga, sejak tahun pertengahan 1990an telah didatangkan ratusan jiwa dari pulau jawa dan sulawesi untuk meramaikan kedua desa mereka. bertameng sebuah program lawas yang banyak di kritik, yaitu transmigrasi, para transmigran itu pun mengadu nasib dan merubah ktp mereka di tanah kalimantan ini.

bukan hal mudah memang hidup di tanah orang. gesekan budaya dan kebiasaan seringkali menjadikan sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja. syukurlah, hingga saat ini keadaan mereka tetap tenang dan damai, walaupun ketidakadilan dalam sistem pemerintahan desa kerap mewarnai kehidupan mereka. namun, kedatangan masyarakat transmigran ini pun ternyata berpengaruh pada pola pertanian masyarakat dayak dan melayu. lambat laun, pola perladangan berpindah mereka pun berubah menjadi lebih permanen seperti layaknya orang-orang dari pulau jawa itu.

namun jangan bayangkan kehidupan orang dayak gaai ini seperti penduduk suku asing di jaman dahulu. telepon selular dan televisi sudah bukan barang mewah lagi disana. parabola bahkan menjadi peralatan wajib di setiap rumah di sana. anak-anak disana bahkan dengan hapalnya beberapa karakter dalam film kartun sponge bob dan dora. bahkan seorang bapak tua dapat dengan hebatnya menyebutkan nama-nama finalis kdi 4 di tpi. ckckck.

kemajuan zaman memang telah masuk ke sana. tak heran, konflik dengan perusahaan sekitar pun banyak didasari pada keinginan untuk meraih uang sebanyak-banyaknya. mumpung ada sumber uang. bahkan, mereka pun menginginkan supaya perusahaan dapat membangunkan mereka sebuah kebun karet, mulai dari penebasan lahan hingga siap panen. sedangkan mereka hanya menyediakan lahan warisan nenek moyang mereka. setelah siap panen, barulah mereka siap menerimanya. ckckckc, sebuah permintaan yang menggelikan. mudah-mudahan itu tidak menjadi wacana orang sekampung.

saya pun berkesempatan mengunjungi sebuah dusun di luar batas desa, dusun nyapah namanya. dengan menggunakan ketinting (perahu bermotor kecil), saya arungi sungai kelay menuju arah barat. sebuah pemandangan menakjubkan pun terhampar di sekeliling. baru saja kami melaju seratus meter, sebuah hutan buatan manusia terhampar di kanan kiri kami. tiba-tiba sepasang burung bangau tongtong hitam melintas perlahan di samping ketinting. tak lama setelah itu, seekor burung enggang yang dengan gagahnya melintas di atas perahu menuju puncak pohon tertinggi di sana. untung kami tak bertemu buaya, yang kabarnya juga ada di sungai itu, hanya terlihat dua ekor biawak yang sedang mengintai mangsanya di sisi kiri sungai. saya pun melihat seekor burung raja udang melintas di depan ketinting kami. dengan warna biru kuning dan merah yang menyala, ia terlihat begitu anggun.

tak lama kami dimanjakan dengan hutan-hutan belantara ala kalimantan. sekelompok areal hutan yang tersisa, yang menjadi saksi betapa sejak tahun 1970an, teman-temannya telah menjadi korban kerakusan para pengusaha hph dan penguasa-penguasa bodoh di sini. beberapa bagian tampak dikonversi menjadi lahan ladang dan perkebunan masyarakat. mungkin sisa perladangan berpindah di masa lalu.

.. kalau aku punya surat hph, akan kurobek-robek dan aku bakar supaya gak ada izin membabat dan hutanku tetap lebat (slank - kalau aku jadi presiden)..

tiba-tiba mata saya terpaku pada sebuah barisan bukit kapur yang sangat menawan. hutan di atasnya masih tak terjamah, karena tingkat kesulitan yang tinggi dalam memanennya. syukurlah. bukit kapur ini seperti keluar dengan gagahnya di samping sungai kelay ini. tampak irisan batu kapur terlihat begitu jelasnya. membentuk beberapa tebing-tebing yang mengagumkan. sebuah gundukan yang menjadi saksi kegiatan vulkanik ratusan juta tahun yang lalu, hasil gejala alam yang sangat dahsyat. bahkan kabarnya, di semenanjung sangkulirang, sebelah tenggara kabupaten berau, terdapat sebuah formasi batuan kapur yang terluas di asia tenggara setelah papua. mengagumkan.

bukit kapur ini terbukti telah menjadi sumber pendapatan beberapa jutawan dadakan di kabupaten ini. dengan usaha mereka yang pantang menyerah untuk mendapatkan sarang burung walet di dalamnya, satu kilogram sarang burung walet super kabarnya dihargai dengan uang sebesar 15 juta rupiah!! wow. butuh nyali dan modal untuk bisa seperti itu. bahkan tak jarang nyawa pun jadi taruhannya. dengan hanya seutas tali mereka bisa berbulan-bulan berada di dalam gua, baik vertikal maupun horisontal, hanya untuk beberapa kilogram sarang.

yah.. dua minggu awal di kabupaten berau.. saya sudah disuguhi banyak pemandangan yang indah. segala macam lelah karena kegiatan penelitian di masyarakat pun tidak menjadi terasa berat. saya pun tiba-tiba jadi memiliki seorang calon istri nun jauh di belanda sana. yah, ini akibat pertanyaan seragam warga desa setelah asik mengobrol dengan saya di ladang mereka: mas, sudah punya istri? anak saya baru saja lulus sma loh.. bla bla bla.. dan setelah beberapa kali pertanyaan seragam tersebut, saya pun bisa dengan lantang mengatakan: belum menikah kok pak.. bu.. namun calon istri saya sudah ada.. dan menunggu di belanda sana… aih..….

o ya.. foto-foto bisa di lihat di sini yah..

10 Responses to “berau 2.0”

  1. Diditu panas teu Q? Gw baru balik dari Palangkaraya… Edun, panas euy! Emang meni gersang ya tanah gambut teh…
    Baru ngeliat sedikit ex-Mega Rice project aja gw dah jadi pengen ngutuk sang bpk pembangunan… Dimana otaknya, bisa2nya bikin proyek yg gila kaya gitu…
    Aniwei, jgn lupa blg kalo ‘calon’ lu itu bule bo.. hihi *teuteup..*

  2. hallo Q…
    emang enak bisa ngeliat hutan kalimantan..he..he
    gue inget waktu naik ketinting di daerah Malinau, sampai di desa yg gue kira cukup jauh dari kota Malinau…
    eh disana ibu2nya lagi pada nonton telenovela..(gubrak)…
    btw, met senang-senang di Berau…gue cuman kebagian delta mahakam yang sudah habis berubah menjadi tambak..hik..hik..hik

  3. dan SPOILER elu memang terbukti q kekekekekekeke
    *jadi pengen ke sana juga euy*

  4. @rieves: ho oh.. panas pisaaaaan. bule? gak ah.. teu ngeunah.. ekekekek
    @syarif: hahahaha.. see you in kalimantan bro.. kapan?
    @cyn: dan lo pasti keukeuh mbaca.. ekekeke..

  5. Blum terlalu panjang ah..hehehhe. Hmmm…. jadi menyesali karena ga kebagian jatah jalan-jalan ke berau niy :(

    Btw, foto-fotonya keren abis loh. Thx for sharing

  6. berhub gua lg males baca, gua tunggu crt-nya aj pas lu pulang ya…:-D

  7. [OOT]: Bentar yah, Q.. saya print- baca dirumah trus komentar yang benerannya menyusul - badan ini udah bongkrek kerja seharian (ada kenal tukang pijet yang bagus? - tukang pijet yah bukan tukang pijit!) hehehehe!

  8. udah lama gak nengokin aaqq dotnet nih. eh templatenya gak item lagi…udah ceria euy. hehehe

    nice sharing q…jadi kebayang kalo artis2 indo yg sering kawin-cerai. Udah brapa kepala orang yang dipenggal yah? hihihihi

    eh iya…konon kabarnya ilmu hitam disana kuat loh. Kalo ada yg nanya “udah nikah belum?” mending jawab tegas “sebentar lagi pak. calon udah menunggu”. daripada dipelet…malah gak balik ke bogor nanti

  9. salam kenal : “from(http://wawan12.wordpress.com/)
    bloger berau

  10. salam kenal ya mas…
    tertarik banget untuk kenalan karena tau kamu tau berau..hehe..
    wah rasanya jadi pingin balik lagi ke tanah berau itu..
    sore-sore nongkrong di dermaga sebelah berau coal setelah seharian
    jalan-jalan ke dayak bena baru…atau merasakan capeknya dan panasnya setelah berkunjung ke dayak punan…
    kapan ke sana lagi mas??
    semoga dapat oleh-oleh cerita..
    apakah sudah ada rumah sebagus istana yang dimiliki mantan bupati itu??
    apakah sudah ada supermarket yang lebih besar dari top jaya?

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>