berau 3.0 - surga kecil di hulu sungai segah

perjalanan
perjalanan ke hulu sungai segah ternyata memerlukan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa. perjalanan hampir 5 jam, termasuk bercengkerama dengan sekretaris camat dan makan siang di rumah makan kecil di tepian buah, terasa begitu panjangnya. melewati areal perusahaan HPH dan beberapa desa transmigrasi, saya dibawa pada kenangan beberapa tahun silam ketika masih menggunakan baju korps rimbawan ala mahasiswa fahutan ipb. jalan tanah yang diperkeras, hutan di kanan-kiri jalan, serta beberapa kali berpapasan dengan truk-truk pengangkut kayu gelondongan yang besarnya tak terkira, menjadi penghias perjalanan menuju kampung-kampung di hulu sungai segah. saya sebenarnya bisa saja menggunakan perahu ketinting bermotor di tepian buah untuk meluncur ke kampung-kampung tersebut, namun perjalanan yang dapat memakan waktu lebih kurang 5 jam serta ganasnya jeram-jeram yang harus dilalui, membuat saya memutuskan untuk ikut kendaraan 4 roda-berkendara (wheel-drive.. he he), milik salah satu lembaga konservasi internasional di kabupaten berau ini.

tiba di ujung jalan, kami terhenti oleh sungai besar yang menjadi pembatas long laai, kampung tujuan saya. setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya dua orang gadis perempuan menjemput kami di tepian dan membawa kami beserta barang-barang dengan susah payah. kampung dayak yang satu ini memang berbeda dengan kampung terakhir yang saya datangi. jarak yang jauh dari kota membuat kehidupan dan roda ekonomi berjalan cukup lambat. namun seperti kampung yang kemarin, genset kampung yang tersedia membuat mereka memiliki televisi dan antene parabola di setiap rumah. rumah panggung dengan tiang yang cukup tinggi menjadi pemandangan yang umum di sini. untuk memasuki rumah pun, kami harus mendaki tangga-tangga ramping yang dibuat cukup menukik dan, tentunya, sakit jika terjatuh.

kesibukan di kampung
sore di kampung long laai, adalah kesibukan ibu-ibu yang baru saja pulang dari ladang. dengan anjat di punggung *keranjang multi guna, untuk mengangkut segala macam barang, mulai dari bibit, hasil panen, anak macan, kepala orang dan lain-lain.. hehehe.. kidding*, serta parang di tangan dan topi tudung yang menahan mereka dari terik matahari, mereka berjalan menuju rumah masing-masing. dengan bahasa lokal yang tidak saya mengerti mereka berbicara satu sama lain, sesekali tertawa melihat pada kami yang bersantai di depan rumah. beberapa anak lelaki tampak berlarian, beberapa diantaranya membawa sebuah ban dalam yang dipompa menjadi pelampung, tak lama mereka berhamburan meloncat pada sungai yang ada di depan rumah. byuuur… ah.. menyenangkan. beberapa orang tampak membawa ember dan handuk yang dililit di tubuh berjalan menuju sungai. beberapa gadis bahkan dengan cueknya hanya mengenakan be-ha dan kaos dalam tipis mengayunkan langkah mereka pada tempat pemandian umum di pinggir sungai. tak lama, mereka menceburkan dirinya di sungai, bergabung dengan para gadis lainnya yang sedang mencuci pakaian. sore itu pun dihiasi dengan lolongan anjing dan suara keras babi-babi peliharaan mereka. beberapa tampak dengan santainya berjalan di depan rumah.

sedangkan pagi hari adalah sebuah kesibukan rutin yang hampir sama setiap harinya. lalu lalang orang yang hendak ke ladang, dengan berbagai perlengkapannya dan raungan motor ketinting yang mengiringi kepergian mereka. beberapa bahkan membawa perbekalan yang cukup banyak, sepertinya mereka akan menuju hulu sungai untuk mencari emas. hal itu bisa berlangsung berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu. beberapa anak-anak, tampak dengan cerianya melewati rumah yang saya tempati. gerombolan putih merah itu tampak menuju bangunan sd di belakang rumah kami. banyak diantara mereka yang hanya beralaskan sendal, bahkan beberapa tidak mengenakan alas kaki apapun. 62 tahun kemerdekaan kita dan keadaan mereka di sini masih seperti ini. seorang nenek melintas di hadapan kami, tampak tato di kedua lengan dan kakinya. kupingnya tampak lebar dengan digelayuti anting-anting bundar yang terlihat sangaaaat berat. tapi ia terlihat biasa saja. sebuah konsep kecantikan dari masa lalu. saat ini, hampir tidak ada gadis dayak yang mau digantungi anting seperti itu. mereka jauh lebih pe-de dengan konsep kecantikan modern saat ini, termasuk pengecatan rambut berwarna cokelat ataupun merah.

penjelajahan ke hulu
pagi itu, saya pun berencana untuk menjelajahi hulu sungai segah. dengan berbekal beberapa peralatan masak, nasi, bumbu serta beberapa bungkus indomie, kami meluncur menggunakan perahu ketinting milik yok, motorist kami. tampak sebuah jaring teronggok di bagian depan perahu. dalam perjalanan menuju hulu, mata dan kamera saya dipuaskan dengan berbagai pemandangan indah yang terhampar di hadapan. hutan hujan tropis kalimantan ada di kanan kiri kami, selain beberapa burung yang sesekali melintas di hadapan. saya pun melihat beberapa pohon menggeris yang menjadi host bagi para lebah pembuat madu. pohon besar dengan beberapa gantungan sarang lebah di dahannya. kami pun harus melewati jeram/riam yang membuat keberanian ini ciut. batu-batu yang tajam di sepanjang jeram siap merobek perahu ini kapan saja. untung kami dibawa oleh seorang anak muda yang telah mengenal sungai ini sejak ia lahir. fiuuh.

saya pun berhenti di kampung paling ujung di julu sungai segah ini. long oking namanya. sebuah desa yang didominasi oleh para dayak punan. mereka dahulu terkenal sebagai kaum dayak yang nomaden, berpindah-pindah di dalam hutan. mencari hasil hutan menjadi kebiasaan mereka hingga saat ini, mulai dari madu, gaharu, tengkawang, emas dan lain lain. program re-lokasi oleh pemerintah di tahun 1970an membuat mereka di-manusia-kan juga dibuatkan pemukiman-pemukiman. beberapa berjalan sukses, walau banyak juga yang tidak. saat ini, banyak diantara mereka yang telah terbiasa untuk berladang seperti para suku-suku dayak lainnya di kalimantan ini. siang itu, kampung terasa lengang. sebagian besar dari mereka sedang mencari gaharu dan emas di dalam hutan. entah berapa minggu lagi mereka akan kembali ke kampung. hanya beberapa anak kecil berlarian di jalan setapak desa.

siang hari, kami tiba di sebuah pulau pasir di hulu sungai segah. dengan jala yang dibawa, yok mengambil beberapa ikan salap yang sekilas seperti ikan mas. ikan salap bakar pun menjadi menu utama kami siang itu. ditambah dengan sambal segar yang dibuat oleh seorang sahabat, juga indomie kuah, kami menikmati indahnya alam hulu segah. sungai yang begitu jernih dan tenang, membuat kami tak ragu-ragu untuk menceburkan diri kedalamnya. bahkan, saya tidak bisa membedakan botol yang berisi air mineral aqua dan air sungai ini. meminjam istilah annisa, saya seperti menemukan surga kecil di hulu sungai segah ini.

menugal
saya pun berkesempatan mengikuti proses penanaman padi ladang mereka, menugal jika menggunakan istilah mereka. sebuah proses bergotong royong yang membuat pekerjaan cukup besar itu bisa selesai hanya dalam waktu dua jam saja. setelah proses doa, memohon kesuburan dan hasil yang baik, mereka membagi diri menjadi dua kelompok. para lelaki memegang tongkat kayu dan mulai melubangi tanah seukuran 3 cm. para wanita berada di belakangnya dan bertugas mengisikan bibit padi pada lubang-lubang tanah yang sudah ditugal tadi.

perayaan pun dilanjutkan dengan makan bersama. enam ekor babi hutan besar yang ditangkap di hutan menjadi santapan mereka. pesta besar yang mengingatkan saya pada cerita asterix dan obelixdi dusun galia sana. sejak sehari sebelumnya, si pemilik ladang juga membuat lemang yang terbuat dari ketan dan santan yang dibakar di dalam bambu-bambu berukuran sedang. rasanya? jangan ditanya… sungguh nikmat. saya dan beberapa warga muslim, secara terpisah juga ikut kemeriahan tersebut dengan memakan ayam yang memang dipersiapkan khusus untuk kami. sebuah kerukuan umat beragama yang tidak dibuat-buat.

apapun untuk bisa ngetop
ah tapi perjalanan tentu tidak selamanya harus berisikan hal manis bukan? apalagi dengan saya sebagai pelaku utama, tak lengkap rasanya jika tidak ada hal konyol ataupun memalukan di dalamnya. sebuah trip ke ladang mereka, ternyata membuat saya terkenal di kampung itu. setelah mengobrol dengan para ibu-ibu dan gadis-gadis manis pekerja ladang di siang hari yang sangat terik, saya pun dengan pedenya membawa kamera menuju tengah ladang mengabadikan beberapa gambar. meloncati beberapa kayu besar-besar yang belum terbakar, saya pun menuju bagian tengah ladang. tiba-tiba, keseimbangan saya pun hilang, dan saya menjejak pada tanah yang salah. engkel kakipun akhirnya berada pada tempat yang salah. saya keseleo dan itu sangat sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.

rasa sakit ternyata naik ke ubun-ubun. tiba-tiba, pandangan saya memudar, gelap dan seperti menjadi tuli. saya pun berjalan sempoyongan, dan akhirnya terkapar di tengah ladang. saya tidak bisa merasakan apa-apa, namun secara spontan masih bisa menyimpan kamera pada tasnya *teuteuuup.. gak mau rugi*. yang saya tahu, semua orang mengerumuni saya dengan paniknya. saya hanya bisa mendengar mereka berteriak dan menyuruh beberapa memberikan saya minum. beberapa bahkan menyalahkan yok, karena membawa saya ke ladang sini dan berkata bahwa jika terjadi sesuatu dengan saya maka mereka akan masuk penjara.

pikiran saya mulai dipenuhi rasa takut. jangan-jangan ada penunggu ladang yang tidak setuju jika saya memotret ladang ini. atau lebih jauh lagi, ada jin yang tidak senang dengan kehadiran saya. keringat dingin semakin deras mengucur. ditengah-tengah rasa takut itu, seorang ibu yang memeluk dan memberi saya minum berkata:

.. ah.. si om ini sepertinya kelaparan.. makanya dia pingsan… pasti tadi pagi belum makan.

sebuah pikiran logis yang membuat saya malu pada pikiran saya sendiri. saya pun teringat, tadi pagi saya lupa untuk sarapan dan minum kopi hingga dua gelas. sebuah pola hidup yang tidak sehat. ckckckckc.

alhasil, sejak sore itu, jika saya berjalan di kampung, beberapa orang kadang tertawa dengan manisnya. beberapa bahkan sudah berani bertegur sapa, dan bertanya..

om.. kakinya sudah tidak apa-apa?…

dan saya pun hanya bisa membalas senyuman itu dengan manisnya..

o ya.. foto-foto seperti biasa bisa dilihat di halaman ini

4 Responses to “berau 3.0 - surga kecil di hulu sungai segah”

  1. nice story Q, mengingatkan pada penduduk lokal sumatra dengan rumah panggungnya yang tinggal pinggir2 sungai.

    p.s: gua ngakak abis pada bagian ‘apapun untuk bisa ngetop’
    ati2 ya Om, jgn sampai keseleo lagi :))

  2. Jadi gimana kakinya, OM? :D

    Pengalamanku yang belum sembuh dari keseleo di engkel kaki: sembuhnya lama euy. Katanya klo mo cepet sembuh harus meng-isitrahatkan kaki dari urusan jalan-jalan … tapi kan ga mungkin, hehehheeh

    Duh, jadi kepengen ke surga kecil itu … pinjem pintu kemana sajanya doraemon lebih cepet kali yaaa :)

  3. dan aaqq melaporkan langsung dari berau hehehehe

    asas ga mau rugi terbukti efektif salam segala kondisi ya OM? hahahahaha
    asli gw LoL baca “apa pun asal bisa ngetop” ;-)

  4. Ass…
    Salam kenal…
    Kedengerannya asik tuh…, gimana caranya bisa sampai ke sana? oh ya apa makanan mereka aman buat kita2 yang muslim? makasih atas jawabannya…

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>