ketika lima bulan berlalu

akhirnya.. perjalanan lima bulan kemarin pun berakhir. lima bulan di indonesia benar-benar menjadi satu chapter dalam hidup (as i predicted before) yang tidak bisa di-ignored begitu saja. perkenalan dengan banyak orang baru di jakarta, bogor, bali, berau dan bahkan di internet (hai-hai *dadah-dadah*.. kalian memang menyenangkan, helpful, baik hati, gila, heboh, lucu… pokoknya top!!), bertemu dengan sahabat-sahabat lama (you guys showed me what’s the meaning of true friendship….), bertemu keluarga tercinta yang ternyata tetap berada di atas segala hal di dunia ini (love you guys..), merasakan kupu-kupu di perut selama beberapa kali (walaupun akhirnya ia terbang entah kemana), merasakan banyak kepahitan hidup (reality bites.. meneer!!), muncul di koran nasional (lihat di sini kalau tidak percaya.. hahahaha), jungkir balik keluar masuk desa di berau sana, kerja sekaligus liburan di tempat terindah di indonesia, snorkeling bersama empat sahabat hebat, menjadi guide untuk sahabat-sahabat pirang yang belum pernah tahu indonesia, pindahan rumah, presentasi hasil riset berau untuk pertama kalinya (di bali pula!!), kehilangan layar pada notebook tercinta, hunting foto dan berdebat bersama 3 sahabat hingga jam 2 pagi di sarinah untuk sebuah hal yang bernama benang merah, adalah sebagian hal yang saya dapat selama lima bulan kemarin. dahsyat bukan?

pada saat kepulangan, kecemasan akan banjir di sepanjang perjalanan, ternyata malah membuat saya terlalu cepat datang ke bandara soekarno hatta. saya pun harus menunggu 4 jam sebelum pesawat siap berangkat. ah tapi itu jauh lebih baik dibandingkan terburu-buru bukan? lalu, rasa girang akibat kesuksesan tidak membayar sejuta rupiah untuk secarik kertas bernama fiskal, pun hanya berlangsung sesaat. saya kembali melakukan kebodohan administrasi yang kesekian kalinya *hiks.. kebodohan genetis kah?*. paspor saya ternyata hanya berumur tiga bulan lagi, dan syarat untuk terbang ke luar negeri adalah enam bulan. huaaa..

dag dig dug perasaan ini melewati jalur pemeriksaan imigrasi. tak salah lagi.. paspor saya dinyatakan expired oleh mas-mas penjaga loket imigrasi. lemas, letih, lesu, lunglay, dan lalay langsung menimpa saya. tiba-tiba, dalam kecemasan itu.. saya berinisiatif mengeluarkan kartu ajaib dari pemda (pemerintah belanda) yaitu… residence permit!!! dengan pede saya bilang.. mas, saya residen belanda.. ini kartu saya. perlahan ia pun mulai melunak.. seraya berkata: mas, kalau sudah tiba.. langsung perpanjang paspornya di KBRI ya. fiuuuh.. yippy!! akhirnya saya melenggang menuju gerbang keberangkatan dengan perasaan lega. semoga ini menjadi kebodohan terakhir saya, atau at least, tidak sebanyak tahun yang lalu. huehehe.

perjalanan ke belanda pun begitu cepatnya. setelah transit di singapore, 12 jam perjalanan menuju amsterdam dilalui dengan tidak terasa. bertemu orang indonesia dalam perjalanan memang menyenangkan. saya pun tak ragu untuk tersenyum dengan siapapun yang bermuka indonesia. saya bahkan disangka pelaut oleh beberapa pelaut indonesia yang hendak kembali bekerja di rotterdam. saya hanya bisa tersenyum kecut mendengar pertanyaan mereka. wajah saya memang lebih cocok untuk menjadi pelaut yah? saya pun berkenalan dengan seorang bapak yang anaknya ternyata seorang pemain sinetron terkenal di indonesia. namun sayang, saya ternyata tidak mengenal anaknya *langsung membuka google*. eh tapi ternyata menjadi pemaen sinetron itu enak yah? hahaha..

di pesawat saya pun merasakan sebuah hal bernama karma. sejak dulu, entah sudah beberapa orang yang protes dengan suara tidur saya, dan saya hanya tertawa. karma memang berjalan tanpa melihat tempat dan waktu. saya ternyata mendapat tempat duduk di kursi tengah di antara bapak-bapak yang sesekali mengorok kencang pada kuping kanan dan kiri. huaaaa… mantap sekali bukan? hal itu membuat saya memikirkan komplain sahabat-sahabat saya dahulu. ini kah karma? saya pun hanya bisa mengurut dada, sembari mengutuki diri yang lupa membawa obat tidur paling cespleng sedunia… antimo.

dan sekarang.. saya sudah berada di sebuah kamar yang hangat, tak jauh dari pusat kota utrecht, tinggal bersama 5 orang belanda lainnya dalam satu lantai, berbagi dapur dan toilet, serta mulai berbelanja, memasak dan mencuci sendiri lagi. ah, semoga menjadi rumah yang menyenangkan. saya pun sudah mulai beraktifitas di kampus yang semakin nyaman. beberapa kolega lama dan baru menyambut dengan antusias, membuat saya feel at home. saya pun bahkan sudah mulai merasakan kupu-kupu di perut. ah tapi kibaskan saja dulu yah? belum waktunya untuk bermain dengan kupu-kupu bukan? masih banyak pekerjaan dan tanggung jawab yang menanti di minggu-minggu mendatang.. and i’m excited with those!! udara belanda pun sudah sangat dingin. kemarin bahkan mencapai 3 derajat celcius, brrrr..

semoga chapter mendatang bisa menjadi bagian yang menarik dalam hidup seorang aaqq. doakan saya ya. amin.

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>