BERAU | season 02 episode 03: ketika syarat dan ketentuan berlaku
Dec 2, 2008 Indonesia, Traveling
previously on BERAU episode 2:
penghuni pohon di rumah sebelah rupanya marah, dan masuk ke dalam tubuh si anu. saya tak bisa berbuat apa-apa selain merinding. hari-hari pertama pun diwarnai dengan kesenewenan saya. untunglah tiga diva dan abgan menyelamatkan hari-hari saya di tanah pesisir berau..
season 2 episode 3:
setelah semua pepes ikan patin dan ikan kakap bakar di atas meja ludes, kami bergegas menuju mobil dan meluncur menembus hutan di kecamatan kelay, lokasi kedua penelitian saya. kondisi jalan yang mulus dan beraspal ternyata hanya penghibur di awal perjalanan. sisanya adalah jalanan tanah yang diperkeras, termasuk di antaranya kubangan-kubangan hasil hujan semalam. mobil kami pun harus menebak-nebak, mana kubangan yang masih memiliki tanah untuk berpijak dan mana yang benar-benar tempat mandi kerbau.
jalanan tampak sepi, sesekali kami dilewati oleh beberapa mobil, bus-bus penumpang yang akan ke samarinda, serta truk-truk besar pembawa minyak kelapa sawit. kanan kiri jalan masih tampak hutan yang rindang dan asri, namun tak jarang itu semua hilang dan tergantikan oleh areal bekas ladang-ladang masyarakat. beberapa kali kami melewati jalanan dengan tebing-tebing tanah yang telah dan akan longsor. musim hujan seperti ini memang membuat daerah ini menjadi rawan erosi, yang cukup untuk mengubur beberapa buah truk sekaligus.
*
anyway, perkenalkan dua orang asisten saya di lapangan, hamzah dan viktor. dua orang dengan kepribadian dan generasi yang berbeda pula. hamzah, seorang petugas kesehatan yang berdedikasi tinggi dan menjadi harapan bagi masyarakat di kampungnya bekerja. saya sering menyebutnya sebagai si mantri. anak asli berau ini saya ‘temukan’ ketika berkunjung ke kampung ini tahun yang silam. sifatnya yang sangat helpful plus kesukaan memasaknya ternyata sangat berguna ketika kami kelaparan. ia pun dengan cerdasnya dapat menangkap maksud pertanyaan-pertanyaan di kuisioner saya sehingga membuat penelitian saya berjalan dengan baik.
viktor, seorang anak dayak kenyah yang saya ‘temukan’ ketika melakukan penelitian di kampungnya pada tahun 2007 lalu. petugas penyuluh pertanian yang saya panggil pitoy ini memang masih sangat muda. tak jarang, ia hanya menggaruk-garuk kepalanya ketika saya meminta ia kembali ke responden yang baru saja ia wawancara, karena ada beberapa materi yang lupa ditanyakan. namun kegigihannya membuat saya sangat bersyukur mengajaknya membantu penelitian saya ini. darinya pula saya mendapat banyak informasi berharga untuk project saya yang lain *wink.. wink.. rahasia*
Allah memang baik *axis mah kalah jauuuuh banget deh baiknya*, Ia mengirimkan dua orang ini di lokasi yang menurut saya justru paling sulit. karena mereka, rasa senewen yang saya rasakan di lokasi sebelumnya saya sama sekali tidak ada. cukup satu hari mereka beradaptasi dengan kuisioner, dan selanjutnya saya sudah bisa tenang melanjutkan survey bagian saya sendiri. guys, you both are my savior!
*
setelah tiga setengah jam perjalanan yang membuat badan serasa ingin ke ‘panti pijat sehat bersih’ akhirnya kami tiba di kampung ketiga penelitian saya, kampung sidobangen. kampung ini merupakan areal transmigrasi. sebagian besar rumah masih asli, yaitu sama persis seperti dibangun pada tahun 1994 dahulu, berdinding kayu dan beratapkan seng.
sejak kebangkrutan perusahaan yang dimiliki petinggi salah satu partai baru di indonesia, kehidupan ekonomi masyarakatnya memang semakin menurun. beberapa bahkan menyerah dan kembali pulang ke jawa. sisanya, masih bertahan dengan sedikit harapan dari kebun karet yang disisakan perusahaan buat mereka. hasil dari kebun karet yang dulu mereka tanam untuk perusahaan ternyata jadi penyelamat bagi kehidupan mereka saat ini. beberapa bahkan terang-terangan menyesal karena dulu menanam karet ini secara sembarangan.
“kami kan dulu tidak tahu jika karet ini akan diberikan pada kami, mas! jadi kami hanya menanam sembarangan saja. beberapa petak bahkan tidak kami tanami,” seru mereka sambil tertawa kecut.

beberapa kali berkunjung ke areal transmigrasi di indonesia, membuat saya berpikir, bahwa pemerintah jarang sekali memberikan tempat yang layak bagi masyarakat yang pindah ke sana. beberapa lokasi di sumatera dan kalimantan bahkan seperti tempat jin buang anak, alias jauuuuuuuh dan akses yang sulit. unbelievable!
memang, untuk beberapa tempat, pembukaan transmigrasi bisa membuka akses jalan (walaupun seadanya) dan membuka kontak antara masyarakat lokal dengan dunia luar. tapi untuk urusan hidup layak, saya harus acungkan jempol untuk para transmigran yang bisa bertahan selama puluhan tahun di tempat-tempat seperti itu. living in java is, indeed, not easy, dan kadang memang inilah satu-satunya pilihan mereka.

*
kampung kedua yang saya ‘garap’ adalah long ghie. kampung dayak ini didominasi oleh masyarakat dayak kenyah yang bermigrasi karena permasalahan sosial di daerah sebelumnya. mereka datang secara bertahap sejak tahun 2002. selain itu, terdapat juga masyarakat dayak punan yang tinggal sejak tahun 1970an. dayak punan terkenal karena kebiasaan berburu dan mengumpulkan hasil hutan. namun saat ini, dayak punan pun sudah melakukan praktek pertanian sebagaimana saudaranya, dayak kenyah.
dayak kenyah memang terkenal sebagai petani dibandingkan sebagai pengumpul hasil hutan. kebiasaan ladang berpindah mereka telah berjalan puluhan tahun. tak jarang mereka membuka areal hutan baru karena memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi. alhasil mereka tidak perlu memberikan pupuk ataupun herbisida, dengan hasil yang bisa menjamin ketersediaan pangan mereka selama setahun kedepan. jangan tanyakan soal kepedulian lingkungan, mereka punya pengetahuan lokal mengenai itu. apa yang mereka lakukan hanyalah setitik debu dibandingkan para pengusaha-pengusaha rakus yang membabat hutan ribuan hektar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.
permainan anak dayak punan.. gasing
masyarakat dayak kenyah pun terkenal dengan kebudayaan dan seninya yang cukup tinggi. baju bermanik-manik, serta barang-barang lain seperti gendongan bayi, tas, topi dengan warna yang bernaeka ragam, mudah ditemui di kampung ini. saat ini mereka sedang membuat sebuah balai adat, yang sepertinya akan menjadi balai adat dayak terbesar di kabupaten berau ini.
saya cukup takjub dengan ukuran balai adat ini, termasuk cara mereka mengukir tiang-tiang penopangnya. dari pitoy saya mengetahui bahwa jarang sekali anak muda kenyah yang tahu cara mengukir. namun, dengan bantuan seorang sesepuh adat yang memberikan sketsa ukiran, mereka bahu membahu membuat ukiran-ukiran indah di balai adat ini. seperti layaknya candi-candi di jawa, ukiran-ukiran di tiang ini pun bercerita mengenai kondisi masyarakatnya. bahkan ada ukiran yang menggambarkan anak muda dengan bola volleynya, salah satu olahraga favorit di sini selain bulutangkis, dan beberapa pasangan yang ’sepertinya’ sedang berpelukan.

*
untuk urusan jauh, lokasi kali ini memang cukup juara. walhasil sinyal telepon yang ada hanyalah xl dan itupun dengan beberapa syarat dan ketentuan berlaku. di kampung sidobangen, saya harus berjalan kaki dulu sekitar 30 menit dan menaiki bukit yang cukup bikin ngos-ngosan demi satu dua buah strip jaringan. di bukit sinyal, masyarakat juga membuat sebuah panggung kayu yang cukup tinggi untuk kita naiki. dengan ditemani nyamuk-nyamuk yang ganas, di antara semak-semak, kami pun mencoba berhubungan dengan dunia luar. jangan harap bisa berbicara mesra dengan kekasih. sinyal yang hanya satu strip membuat kita harus menggunakan speaker pada hape kita demi menjaga sinyal tetap stabil. teriakan-teriakan juga perlu dilakukan karena seringkali kita harus bersaing dengan suara angin yang cukup kencang. sigh.
kondisi seperti ini memang menyebalkan, but we have to deal with it. akhirnya, fungsi musik di hape pun berguna. itulah hiburan kami satu-satunya di siang hari, berteriak-teriak layaknya di inul vista dengan iringan musik hape. malam hari, listrik yang hadir selama 5 jam cukup untuk mengisi kembali batere plus menonton beberapa berita di televisi nasional.
di kampung long ghie jauh lebih baik. sinyal, walau hanya dua tiga strip ada di beberapa tempat di kampung. di rumah yang kami tempati pun ada, tapi sekali lagi, syarat dan ketentuan berlaku. jangan berharap kita bisa menemukan sinyal di bawah, karena sinyal hanya mau menyambar hape kita di lantai atas. tak jarang kami harus menjulurkan tangan ke atas atap agar mendapat sinyal. maka, ketika kita mendapat sinyal, jangan pernah rubah posisi duduk. kita hanya akan gigit jari melihat teman-teman kita menelepon dengan syahdunya dan kita kembali sibuk menjulurkan tangan dan badan keluar balkon.
*
kembali ke kelay mengembalikan kecintaan saya pada traveling dan alam. dua minggu sebelumnya, saya merasa lelah dan jenuh dengan perjalanan ini, tapi kelay membuat ini berubah. saya mencintai pekerjaan dan perjalanan ini. mandi di sungai yang mengalir jernih, makan daging kijang hasil jeratan di hutan, menemukan pertemanan baru, terinspirasi pada kegigihan orang-orang di tanah rantau, termasuk membantu ibu-ibu pkk dalam acara pelatihan dan pelantikan kader pkk yang baru *iyaa.. ibu-ibu.. dan iya.. pkk masih ada!!! dan gue jadi tau 10 program pokok pkk* , hanyalah sebagian kecil hal-hal indah yang saya temukan di sini. tak lupa, kebanggaan menjadi orang indonesia karena kebudayaannya yang begitu kaya. speechless deh saya.. *hah? setelah nulis sepanjang ini??*

*
next on BERAU episode 4: lebaran haji di kampung orang.
Tags: feature


December 2nd, 2008 at 4:49 am
eh iya rada kurusan yah….*no wonder kemejanya muat*
duuh susah yah nyari sinyal di negara berkembang ini :p
December 2nd, 2008 at 5:05 am
itu lagi cari sinyal atau foto2 bergaya abegeh sih?
December 2nd, 2008 at 5:10 am
dua-duanya dong, ntie.. huehehehe
December 2nd, 2008 at 8:01 am
Wah perjalanannya menarik banget.. Ceritanya jadi bisa bikin kita seolah ada di sana juga. Tapi photonya kurang banyak deh.
December 8th, 2008 at 12:03 am
euleuh-euleuh…
December 9th, 2008 at 6:37 am
[...] previously on BERAU season 2 episode 3: [...]