BERAU | season 2 episode 5 : belajar dari mana saja

previously on BERAU season 2 episode 4:

banjir yang melanda kampung tumbit dayak dan tumbit melayu membuat saya tidak bisa melanjutkan penelitian. akhirnya saya pulang kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir mereda. sebelum pulang, saya masih sempat melakukan hal yang saya hanya bisa lihat di televisi: bermain dengan banjir. menyenangkan ternyata.

BERAU season 2 episode 5

siang hari yang terik.

“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.

pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.

“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.

“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.

“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.

“wah pak, masa saya jawab sendiri?”. tiba-tiba saya membelokkan kaki arah jalan saya menuju rumahnya.

“waduh mas.. sudah lah.. ke pak udin saja. yang saya ndak usah ditanya-tanya lagi.” ia langsung menolak kedatangan saya ke rumahnya. tapi dari wajahnya saya melihat senyuman. saya justru malah tertantang untuk bisa mengobrol dengannya. tanpa diminta, saya masuk ke teras rumahnya dan duduk di samping kursi kayu.

“gak ke ladang pak?” tanya saya basa basi.

“ndak.. lagi istrahat dulu hari ini” ia menjawab seadanya dan langsung disambut oleh hening.

tak lama,

“emang sampeyan nanya-nanya untuk apaan sih?”

“wah bapak.. kan saya udah jelaskan kemarin. kalau ini buat saya bikin tugas akhir. semacam skripsi gitu pak.”

“terus.. kenapa saya? kan masih ada yang lain?”

“yaa.. yang lain juga saya tanya pak. gak cuman bapak aja. jadi gimana pak? boleh yah saya lanjutkan pertanyaan kemarin?”tanya saya penuh harap.

“berapa halaman lagi?” tanyanya. sebuah isyarat kalau dia menjawab ya.

“tiga pak.. boleh?”

ia pun menganggukkan kepalanya. saya pun mengurungkan niat ke rumah pak udin dan buru-buru mengeluarkan kertas. pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan lancar. tak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasannya. ia rupanya memang suka mengobrol.

*

saya kembali ke kampung ini setelah satu minggu saya tinggalkan akibat banjir. tidak etis rasanya bertanya-tanya dan keluar masuk rumah orang di saat-saat banjir seperti kemarin. karena itu saya memutuskan kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir usai. bersama viktor saya pun menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tersisa kemarin. masih kurang 25 orang lagi yang harus kami wawancarai.

kampung ini dahulunya dihuni oleh masyarakat asli berau dan juga dayak. program transmigrasi di tahun 1995 membuat kampung ini menjadi semakin ramai oleh para pendatang. bahkan, jumlah pendatangnya sekarang jauh lebih banyak dari penduduk aslinya.

masyarakat yang beragam suku bangsa dan karakter ternyata memberikan banyak kesan juga dalam proses wawancara kami kemarin. pak oji hanyalah satu di antara beberapa orang yang saya wawancara. banyak suka dukanya yang pasti. mulai dari yang menjawab dengan ramah hingga malas-malasan. mulai dari yang menerima saya di teras depan rumahnya hingga dibawa masuk ke dalam rumahnya. mulai dari yang tidak menyuguhkan apa-apa, hingga menyediakan penganan dan minuman. mulai dari yang menjawab dengan biasa-biasa saja, hingga yang meledak-ledak membicarakan sukarno suharto dan sby. ckckckc. mental memang harus siap untuk menghadapi berbagai karakter orang.

beberapa orang bahkan menaruh curiga di awal-awal diskusi. tak jarang informasi dari mereka pun hanya sedikit yang keluar. namun, beberapa saat kemudian biasanya mereka justru malah seperti aliran banjir di kampung ini. tak bisa berhenti. beberapa pertanyaan malah dijawab melebar ke mana-mana hingga saya harus bersusah payah mengingatkan pertanyaan aslinya.

namun, yang ramah pun tak kalah bermasalahnya. di salah satu pemukiman warga yang berasal dari timur indonesia, mereka begitu akrabnya satu sama lain. ketika saya datang ke sebuah rumah, tak lama rumah itu penuh dengan para tetangga. ramai memang jadinya. beberapa kali suara tawa bahkan menggema di rumah itu. namun ternyata mereka justru jauh lebih ramai dan aktif dari si responden saya. alhasil, beberapa pertanyaan saya secara spontan dilahap habis oleh mereka. dan saya pun mati-matian membujuk si bapak untuk menjawab sesuai dengan hal yang dia tahu dan bukan berdasarkan jawaban para tetangganya.

saya pun seringkali disangka ’sinterklas’. setelah sekian lama kita berdiskusi dan mengisi jawaban, sering sekali mereka bertanya dengan penuh harap di akhir wawancara, “jadi bantuannya kapan datang pak? saya kebetulan butuh pupuk dan racun rumput. sudah tiga bulan tanaman cokelat saya tidak dipupuk loh pak.”gubrak. saya pun kembali menjelaskan tujuan penelitian saya dengan penuh kehati-hatian agar tidak memberikan harapan palsu pada sang penanya.

beberapa orang juga malah curhat mengenai masalah keluarganya. seorang ibu yang berasal dari cianjur malah menangis di depan saya ketika saya bertanya mengenai sumber perekonomian keluarganya. suaminya yang sudah tua ternyata masih harus bekerja membuka ladang dan kebun. demi menghidupi anak perempuan dan tiga cucunya yang sekarang pindah ke rumah mereka, karena suaminya pergi dengan wanita lain. seorang bapak juga dengan wajah memerah menahan tangis bercerita mengenai mata pencahariannya yang sudah semakin berkurang karena penyakit tbc yang dideritanya. saya tidak bisa berkata apa apa, selain tersenyum dan berkata.. sing sabar ya pak.. bu.

*

di luar kerepotan yang timbul dan disertai capek (fisik dan emosi), melakukan pekerjaan ini membuat saya sering bersyukur. saya banyak mendapat pencerahan hati dari kisah hidup dan perilaku orang-orang yang saya temui dalam perjalanan. pembelajaran memang tak semata-mata berasal dari pendidikan formal. di dunia nyata lah, dengan membuka mata dan pikiran kita lebar-lebar, kita bisa mendapat ilmu yang berharga untuk hidup kita kelak. tak cuma dari orang yang pandai, tua ataupun kaya. semua orang tanpa terkecuali memberikan banyak ilmu berharga untuk saya.

*

malam kemarin, ketika saya duduk di pinggir sungai kelay, seorang anak berumur 14 tahun mendatangi dan mengajak saya mengobrol.

“om, setelah ini om mau jadi apa?” tanyanya setelah saya menjelaskan tujuan saya ke berau ini.

“saya pengen jadi orang kaya dan hidup bahagia. itu aja.” jawab saya sok berfilosofi.

“kenapa pengen jadi kaya om?”

“iya supaya saya bisa berjalan-jalan kemana-kemana, bisa membeli apa-apa, dan gak kekurangan lagi.”

“kalau emang mau jadi kaya kenapa gak jadi camat aja om?”

“…….”

saya terdiam.. tak tahu harus tertawa atau apapun.

“emang, kamu kalo udah besar mau jadi apa?” tanya balik saya kepadanya.

“saya pengen jadi orang bisa aja om. gak usah kaya tapi gak miskin juga. sederhana aja”

“kok gitu?”

“iya.. kalau orang kaya kan banyak utang. saya gak mau pusing mikirin utang. lebih baik nanti saya hidup biasa aja, yang penting bisa makan”

“hmm.. emang mau kerja di mana?”

“apa aja lah om.. asal bisa dapet uang yang tetap. tapi saya gak mau kerja gali parit. saya gak tahan mencium bau sampah. tapi kalo kerja tukang masih mau kok”

“…….”

dan saya pun kembali tertohok yang kesekian kalinya..

mendapat pencerahan memang bisa dari mana saja.

*

selamat liburan semua!!

6 thoughts on “BERAU | season 2 episode 5 : belajar dari mana saja

  1. emang bakat kalo suruh ngorek rahasia..hehe…
    mas,saya saranin jadi petugas sensus ajah daripada
    jadi camat…huehehe…met liburannnn…

  2. Janganlah jadi camat dulu… jadi lurah aja biar bisa lebih deket sama warga.. atau jadilah pemimpin yang bijak dengan bisa berempati terhadap warganya dan bisa ngatur amanat.. moga2 dengan survey ini bisa membekaskan nurani agar tidak laurt dalam rayu-madu saat jadi camat nanti 😀

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *