BERAU | season 2 episode 6: jatuh itu takdir

previously on BERAU season 2 episode 5:

meneliti aspek sosial dan ekonomi masyarakat memang banyak suka dukanya. semua hal itu tetaplah berkesan dan membuat saya bisa belajar memaknai hidup ini.

BERAU season 2 episode 6

inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.

setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.

benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.

keesokan paginya, setelah kembali pamitan kanan kiri, kami langsung meluncur kembali ke segah. berharap tidak ada kendaraan yang nekat ataupun melintang di tengah jalan. disertai hujan serta kekhawatiran akan kondisi jalan, kami memantapkan hati. doa-doa tak putus keluar dari mulut ini. akhirnya, setelah lima jam menembus jalan tanah becek lumpur kami pun tiba di kampung.

menggunakan perahu milik salah satu warga, kami menyeberang dengan membawa semua perlengkapan ‘perang’. rasa syukur berkali-kali saya ucapkan ketika kami tiba di rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 10 hari ke depan ini. namun itu ternyata tak lama…

“mas, kayanya ada yang kurang,” sahut si mantri ketika ia mengecek semua barang bawaan kami di dapur.

o, GOD, please.. not again,” sahut saya dalam hati.

saya pun hanya bisa terduduk lemas ketika mengetahui bahwa satu kardus persediaan bahan makanan kami beserta 5 kg beras dan telur, tertinggal di tanjung redep.

arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggh.

***

setelah bertahan selama dua hari dengan mie instan mahal dan beras yang dibeli dari tetangga, akhirnya kotak makanan kami tiba dengan selamat. beruntung, di kampung ini terdapat sebuah mobil angkutan regular yang datang dengan tidak regular akibat banjir dan jalan yang longsor.

tak sulit sebenarnya mendapati warung di kampung long laai ini. namun, jarak yang jauh dari pasar membuat harga-harga melambung dengan sangat tinggi. penurunan harga bbm oleh pemerintahan sby bahkan tidak terlalu berpengaruh di sini. untuk 1 liter bensin tetap saja kita harus merogoh kocek sebesar 12 ribu rupiah.

di satu sisi, ketergantungan mereka terhadap bbm cukup tinggi. perahu bermotor adalah satu-satunya alat transportasi mereka untuk bisa mendapatkan makan, berladang ataupun mencari emas. setidaknya 2 liter bensin campur dibutuhkan oleh satu buah perahu dalam seharinya.

sungai memang menjadi inti kehidupan mereka yang utama. tak hanya sebagai jalur transportasi namun juga menjadi sumber air untuk minum, mandi, buang air dan mencuci. kamar mandi dan jamban jarang dimiliki oleh masyarakat. air sungai masih cukup melimpah dan (kadang) bersih untuk keperluan itu. saya pun begitu menikmati ritual mandi di sungai setiap harinya dengan hanya bercelana dalam saja. puas rasanya membasuh badan dengan cara menceburkan diri selama berpuluh-puluh menit di sana.


tempat mandi terluas. tinggal jebur!!

ini ketiga kalinya saya mengunjungi kampung long laai. salah satu kampung dayak gaai di hulu sungai segah ini relatif lebih maju dibandingkan kampung-kampung lain di sekitarnya. empat buah mobil mitsubishi strada bahkan dimiliki oleh masyarakat sebagai alat tranportasi mereka ke kota. walaupun begitu kita masih akan banyak menemukan unsur-unsur tadisional di sana. rumah-rumah kayu dan panggung berumur ratusan tahun bahkan masih tersimpan baik di antara puluhan rumah kayu yang baru adalah salah satu di antaranya.

masyarakatnya pun masih memenuhi kebutuhan makanan pokoknya sendiri. ikan dan babi hutan menjadi makanan sehari-hari yang masih mudah mereka dapatkan di hutan dan sungai. namun untuk beras, beberapa tahun terakhir ini mereka lebih banyak memilih untuk mendulang emas di hulu dan meninggalkan tradisi berladang. beras lebih mudah dan murah dibeli dibandingkan harus membuat ladang sendiri, menurut mereka.

kegiatan penelitian saya berjalan dengan baik di kampung ini. walaupun di hari-hari awal mereka ternyata menyimpan curiga pada kegiatan survey yang saya lakukan. pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendapatan bahkan membuat beberapa dari mereka berpikir bahwa saya adalah intel ataupun mata-mata pemerintah. yang lebih parah lagi, bahkan mereka berpikir bahwa ini adalah upaya amerika serikat untuk melihat potensi sumber daya alam daerah mereka melalui penelitian. duh.. saya tak bisa berkata apa-apa. kok jauh amat? kok amerika?? di satu sisi saya begitu kagum dengan kemungkinan-kemungkinan yang mereka ciptakan, namun juga khawatir jika penelitian ini akan terhambat oleh opini-opini yang tidak berdasar seperti itu.

untunglah, semua bisa teratasi. di beberapa rumah, memang masih ada kecurigaan. namun kami bisa (sepertinya) bisa meyakinkan mereka jika ini memang untuk tujuan penelitian dan menyelesaikan disertasi saya. fiuh. apalagi setelah kami ikut bergotong royong membersihkan kampung yang akan didatangi bupati beberapa hari ke depan. kami pun semakin dikenal.

berbekal parang pinjaman, saya bergabung dengan masyarakat menebas rumput-rumput di sepanjang jalan dan lapangan. begitu bersemangatnya, mereka bahkan memperhatikan saya. bangga rasanya. salah seorang di antara mereka, tiba-tiba bertanya, “di jawa suka kerja bakti gini juga mas?”

“wah, kalau di tempat saya sudah lama tidak ada,” jawab saya perlahan.

“pantas, dari cara motongnya kelihatan,” sahutnya dengan tanpa perasaan.

“……%$#%^*(_*^$#”

***

kampung kedua yang saya sambangi adalah long ayap. kampung yang relatif lebih kecil dari kampung sebelumnya dan didominasi oleh masyarakat dayak punan. kehidupan sehari-harinya pun tak jauh berbeda dengan kampung long laai. hanya saja, akses yang lebih sulit membuat mereka masih jauh lebih tergantung pada alam. hampir semua rumah tangga di sini membuat ladang padi di tahun ini. sumber makanan pokok yang terlalu mahal jika mereka membelinya di kota.

masyarakatnya jauh lebih ramah dan menerima kami dengan tangan terbuka. tanda tanya pasti ada, apalagi jenis-jenis pertanyaannya yang saya ajukan memang menyentuh batas privacy mereka. namun untunglah, tidak ada tuduhan intel pada saya di kampung ini. mereka begitu terbuka menjawab pertanyaan, setelah saya menjelaskan tujuan penelitian ini.

kami tinggal di rumah kepala kampung. sebuah rumah panggung dengan tangga yang cukup tinggi membuat saya khawatir akan jatuh suatu ketika. track record saya untuk jatuh, terutama di kampung dayak, membuat saya amat sangat berhati-hati. bahkan ketika saya hampir terjatuh sehabis mandi di sungai, masih bisa saya atasi, walaupun sebuah celana dalam akhirnya hanyut tak berbekas. *semoga ia beristirahat dengan tenang ataupun ditemukan orang yang pantas*

kampung ini menjadi tempat yang berkesan bagi saya. keramahannya, kegotongroyongannya, keluguannya, serta keasrian tempatnya bersatu menjadi hal yang sangat indah dan langka. beberapa hari kami di sana, dan selama itu pula mereka bekerja gotong royong. sebuah waktu yang pas. entah untuk membersihkan kampung, membangun gereja, mencari bahan untuk rumah. ibu-ibunya pun dengan giatnya memasak secara bersama-sama untuk para bapak yang sedang bekerja. saya ternyata sudah lama sekali tidak pernah melihat hal seperti ini.


bersama bapak dan ibu kepala adat


penghias kepala si ibu. terdiri dari koin bertuliskan tahun 1942 dan 1945. nederland indie.


tawa riang seperti ini yang membuat perjalanan tidak pernah membosankan.


anak-anak dayak punan yang sangat aktraktif dan energik.


memasak bersama, menunggu bapak-bapak selesai kerja bakti.


kepala kampung dan keluarganya, tempat saya tinggal.

*

do you think that having a three hours boat trip along the segah river (with extreme rapids!) across the tropical jungle is a good way to celebrate your birthday? think again, folks!! *but i must say.. yes!!!*

hujan yang turun terus menerus membuat saya khawatir. tak hanya air sungai yang meluap namun juga tentu jalan tanah menuju kampung pasti akan menjadi lebih berlumpur dan sulit untuk dilewati. penantian saya di tanggal 15 kemarin ternyata sia-sia. mobil jemputan kami tak bisa datang. banjir bahkan sudah membuat mereka tertahan sebelum mereka memasuki areal hutan. kami terancam tidak bisa pulang.

kondisi semakin tidak pasti, persediaan makanan sudah tipis (a.k.a habis), dan kami pun sudah mati gaya. akhirnya, saya putuskan untuk menggunakan perahu menuju kota kecamatan terdekat, tepian buah. dengan menggunakan perahu si lung, salah satu warga kampung, kami memantapkan hati untuk pulang dengan perahu. data hasil survey saya bungkus rapat-rapat dengan plastik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. kamera dan alat-alat elektronik lain saya pegang erat-erat. baju pelampung terpasang di badan.

arus sungai yang cukup deras membuat hati saya kebat-kebit. bisa berenang dan menggunakan pelampung bukan jaminan selamat jika saya hanyut. ketika mandi kemarin, saya ternyata tak mampu melawan derasnya air sungai di pinggir. bagaimana jika di tengah? apalagi ketika perahu melewati jeram-jeram yang ganas dengan bebatuan di kanan-kirinya, doa-doa langsung meluncur dari mulut kami. wajah hitam saya mungkin sudah menjadi putih. c’mon, this is my birthday and i don’t want to have a bad experience in this special day.

but it was a worth trip, i can say. benar-benar sebuah kado indah di hari ulang tahun. pemandangan indah terhampar di kanan kiri saya. hutan kalimantan yang hijau dan gagah begitu membuat saya terpana. di beberapa bagian bahkan kedua pohon di kanan kiri sungai bertemu, dengan akar-akar yang menjulur, serta kelembaban khas hutan tropis membuat saya mengucap syukur masih bisa melihat keindahan alam indonesia. swear.. it’s gorgeous. semoga tidak rusak oleh kerakusan orang-orang berwatak kapitalis.

dalam perjalanan saya juga bertemu keluarga yang pernah saya survey. sang bapak, menebarkan jala dibantu anak-anaknya yang masih kecil. anak terbesar mengendalikan perahu, sedangkan sang ibu di tengah perahu menjaga hasil ikan. bisa saya pastikan, itulah makanan mewah mereka di hari itu: ikan sungai. damn.. i was touched.

setelah tiga jam, kami pun tiba di tepian buah dengan sambutan air hujan dan banjir yang melanda kota kecil itu. saya sangat girang karena tidak ada kejadian aneh-aneh dalam trip saya kali ini. keluar dari perahu saya berteriak dalam hati: akhirnya. saya memang bisa melewati trip ini tanpa perlu jatuh ataupun pingsan!! keluar dari sungai dengan tas kamera di gendongan, saya pun mantap melangkah.

Tuhan rupanya memang tidak suka orang yang takabur, hanya beberapa saat setelah itu, kaki saya salah berpijak dan meluncur masuk ke dalam sungai. saya pun hanya bisa berendam pasrah hampir seperut. si mantri dan pitoy hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil menyelamatkan tas kamera yang basah. memang kau ini turunan jatuh, kata si pitoy. arrrrgghh… why???

*

sudah selesai? tentu saja belum. not that easy, folks!!

tidak ada mobil yang bisa membawa kami ke kota tanjung redep, membuat saya memutuskan untuk menginap semalam di tepian buah. setelah bernegosiasi dengan seorang calo, ia menjanjikan untuk menyewakan kami sebuah mobil mitsubishi strada. saya pun berharap bisa tidur dengan tenang.

janji-janji tinggal janji. esok harinya ternyata si calo kupret itu tidak mendapatkan mobil yang dijanjikan. alih-alih mencarikan mobil sejenis, ia malah menawarkan mobil kijangnya yang bobrok untuk mengantar kami pulang. ia meyakinkan kami, bahwa jalanan sudah bagus dan mobilnya dapat menembus jalanan lumpur itu. keinginan untuk pulang cepat dan capek berdebat membuat saya mengiyakannya.

kesialan memang belum berakhir. satu jam berlalu, dan kami pun berada di tengah-tengah hutan, di antara jalan berlumpur dan menahan gondok melihat mobil kijang dan calo kupret itu berjuang keluar dari lumpur.

dan saya pun lagi-lagi hanya bisa berteriak.. aaaaaaaarrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhh… what a trip!!!!

*

thanks for the birthday wishes guys. senang rasanya membaca semua itu di saat saya baru keluar dari kejenuhan di hutan dan mati gaya yang tak kunjung sembuh. it means a lot to me!

16 thoughts on “BERAU | season 2 episode 6: jatuh itu takdir

  1. bang rizki, w punya banyak pertanyaan tntang potograpi boleh g nanya2 ? kaynya jago bgt…
    w jg pke flickr… gmn cra settingan masukin postingan dari flickr ke blog ? abis gitu2 doang ga bisa diganti.

  2. btw, gak usah diet deh…ternyata lo gantengan kalo gembil gitu *selesai menjelajah foto2 jadul elu di facebook*
    jatoh2 melulu itu memang resiko orang gembil ko *hahaha keukeuh*

  3. @guni: camera will make you fat
    @bahar: kalo gw bisa jawab mah ok aja. Email aja ke r dot permana at yahoo dot com
    @ani: thanks. Yg penting skrg keren. Haha.
    @idun: ih, sembarangan. Makin subur tuh ikan. *makan daki*

  4. Ah, aduh, maaf, ga ngecek fb :D. Selamat ulang tahun ya A, what a wondrous journey for your birthday. Itu menjadi hari ulang tahun yang tak terlupakan donk hehehehe

  5. kok ga sampe long pay mas? pantai sungai nya bagus bagt lo…. besok saia maw bikin poto pre wed disitu. heheuhue. trus resepsinya diatas batu2 disepanjang perjalanan dari malinau ke long ayan. huahahaha…

    btw salam kenal ya, terimakasih karna mencintai Berau.

  6. ia mas saya orang sebuku, sudah 4 taun saya belum pulang kampung, rencananya lewat darat dari berau ke malinau, yang saya mau tanyakan kira kira bagus gk y jalannya???

  7. Artikel nya bagus amat mas,saya kagum dengan artikel ini,saya juga pencinta alam’ setelah ngeliat foto – foto mas saya jdi inget seringnya dulu suka jelajah hampir ke semua kampung pedalaman di kabupaten berau.

    Salam kenal mas by :ewin & thx juga sudah mencintai Berau
    “Wss……;D

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *