kakek anwar

namanya anwar azis. anak-anaknya memanggil ia dengan sebutan papah. kadang saya ikut pula memanggilnya papah, walau kakek adalah sebutan yang jauh lebih tepat untuknya. dia putih, tinggi dan sangat gagah di masa mudanya. jika pada zaman dulu mobil adalah barang langka, maka dia adalah salah satu pemilik barang langka itu.  jika pemilik kebun cokelat dan tanah yang berhektar-hektar disebut tuan tanah, maka dia adalah salah satu diantaranya. entah sudah berapa banyak wanita yang termehek2 dengan kharisma yang dimilikinya. nenek adalah salah satunya.

tak banyak yang bisa saya ingat dari dirinya karena kami jarang bertemu. apalagi setelah ia bertemu dengan nenek yang lain, semakin jarang ia menemui kami di bogor. masa kecil saya lalui dengan sebuah kenyataan bahwa saya punya satu orang nenek yang luar biasa karena harus membesarkan anak-anaknya sendirian.

namun, beberapa kali saya pun bertemu kakek anwar. ia selalu memegang rambut saya dan kemudian mencium kedua pipi dengan bertubi-tubi. rasa geli dari kumis dan jenggot yang baru saja tumbuh akhirnya menjadi hal yang saya ingat hingga saat ini. kemudian, ia pun pergi ke tempat lain yang saya tidak pernah tahu.

saat terakhir bertemu dirinya adalah 4 tahun yang lalu. saat itu lebaran dan ia sakit keras. berbondong-bondong kami mengunjunginya di ciamis. ia terlihat tampak tua dan lemah. namun sisa-sisa kegagahannya masih ada. tertidur lemas dengan tabung oksigen di sampingnya, membuat siapapun tak kuasa untuk merasa kasihan. tak ada lagi kesalahan masa lalu. kami hanya berdoa yang terbaik untuknya. syukurnya, ia bisa bertahan. kehadiran anak-anak dan cucunya ternyata menjadi pemompa semangatnya kembali.

subuh tadi, dengan ditemani anak dan cucunya, ia menyerah. penyakit yang didera selama bertahun-tahun membuatnya pergi untuk selama-lamanya. tiada kesedihan berlebihan yang saya rasakan, kecuali kepasrahan bahwa ini memang yang terbaik untuknya.

he’s still one of my best grandfathers.

kakek anwar.. selamat tinggal. sampai jumpa di dimensi yang lain. teriring doa untuk kakek.

we love you.

6 thoughts on “kakek anwar

  1. you know, my grandfather was also like that, handsome and womanizer, and he’s my favorite. i hope they’re not the same person, hehee.. (no, they don’t)

    turut berduka cita ya, a.. 🙂

  2. innalillahi wa inna ilaihi rajiun, turut bduka cita ya..semoga almarhum mendapat tempat terbaik disisi Alloh SWT. Amin

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *