tentang si papah dan si mamah

saya pernah menulis tentang adik-adik saya di blog ini, dan kali ini tentang si papah dan si mamah. agak melow dan panjang. tapi biar aja lah.. blog saya ini kok. haha. anywaydon’t get me wrong, mereka masih ada dan menikmati hari tuanya yang (semoga saja) bahagia. saya hanya menuliskan ini sebagai ungkapan rasa kangen saya pada mereka dan juga rasa terima kasih saya karena semua yang telah kita lalui membuat saya seperti ini, baik dan buruk. ini rasa syukur saya karena saya masih memiliki orang tua yang lengkap hingga saat ini. semoga mereka tetap sehat walafiat. semoga masih bisa melihat anak cucunya tumbuh dan berhasil menjadi orang yang membanggakan. semoga mereka memaafkan saya jika ternyata tidak bisa menjadi apa yang mereka bayangkan dahulu. dan semoga mereka merestui semua keputusan yang sudah dan akan saya buat untuk hidup.

***

hubungan saya dengan si papah, begitu cara saya memanggil beliau, sungguh turun naik. sewaktu kecil, saya tidak merasa dekat dengannya. tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi saya jarang sekali bercerita apapun kepada beliau. juga sebaliknya, dia jarang sekali bercerita tentang pekerjaannya, tentang kesehariannya, bahkan tentang masa lalunya. ia termasuk orang yang jarang memarahi saya. namun, jangan harap kita bisa kabur jika ia marah. saya pernah dijungkirbalikan (dalam arti yang sebenarnya) di atas tempat tidur ketika ia saya melakukan kesalahan. saya menangis sejadinya.

saya juga merasa kalau ia tidak mudah percaya pada saya. ia pernah membuat saya tidak jadi ikut lomba adzan (yes, you read it.. a.d.z.a.n) karena menurutnya suara saya tidak bagus (at the end, i should admit, he’s right). padahal saya sudah latihan selama 2 hari di rumah. ia juga tidak mempercayai saya untuk memegang mobil ketika umur saya 14 tahun. ketika saya diam-diam belajar mobil pada tetangga di komplek, itu tidak menggoyahkan keputusannya untuk melarang saya memegang mobil. belum cukup umur, katanya. ketika saya sudah cukup umur untuk memiliki sim, ia tetap meminta saya untuk kursus mobil terlebih dahulu sebelum ia cukup tega melepaskan mobilnya pada saya. ketidakpercayaan itu berlanjut hingga saya dewasa. pernah kesabaran ini habis karena ia mengkritisi cara saya menyetir mobil. tanpa berbicara, saya matikan mesin dan meninggalkannya di dalam mobil.

sebuah permasalahan membawanya pada titik bawah. usahanya ‘bermasalah’ dan ia menjadi lebih sering sakit. permasalahannya pun lalu menjadi permasalahan keluarga kami. itulah titik perubahan hubungan saya dengannya. tapi masalah itu membuat saya malah menjadi lebih sering berkomunikasi dengan si papah dibandingkan dahulu. saya juga menuntutnya bercerita tentang semua pekerjaan, permasalahan dan orang-orang yang berhubungan dengannya. saya secara perlahan mulai mengetahui sepak terjangnya di dunia bisnis *andai dia bisa menceritakannya sejak awal*. secara perlahan pola hubungan kami berubah. kami tetap seperti bapak dan anak laki-lakinya, namun kami berbicara sebagai dua orang dewasa. saya merasakan perbedaan itu.

semua yang dialami olehnya dalam beberapa tahun terakhir, mempengaruhi saya dan keluarga secara keseluruhan. belum semua selesai memang. namun, sekarang saya harus mengucapkan terima kasih padanya. tanpa itu semua, mungkin saya tidak akan akan seperti ini. beberapa tahun terakhir menjadi tahun yang berat buat kami semua,  tapi justru itu membentuk saya seperti sekarang ini. saya juga tidak bisa membayangkan jika saya tidak mengalami itu, entah seperti apa hubungan saya dengannya saat ini?

saya mungkin akan jadi gila jika menghadapi masalah seperti si papah. tapi dia ternyata tetap tegar dan waras untuk menghadapi itu semua. beberapa perdebatan di rumah sering terjadi karena masalah-masalah itu, entah dengan si mamah, ataupun adik-adik saya. tapi semua itu tetap menjadikannya seorang bapak yang baik untuk saya.  ketika saya kecil, saya tidak mengidolakannya sebagai seorang bapak. namun saat ini saya menyadari dia adalah bapak yang terbaik. tidak mudah menjadi seorang  seorang kepala keluarga dan penopang ekonomi keluarga. tidak hanya untuk keluarganya, namun juga untuk semua saudara-saudaranya. ia juga memperlihatkan saya (hingga saat ini) untuk berderma pada saudara-saudara, teman, bahkan orang lain. tidak semua orang bisa menjadi konsisten seperti itu. ia adalah orang dengan hati yang amat besar.

dengan semua hal yang pernah terjadi dengannya, saya bangga memiliki bapak seperti si papah.

***

si mamah yang saya tahu ketika saya kecil adalah seorang ibu yang tegas dan galak. iya.. sangat galak. tidak hanya kami anak-anaknya, tapi semua sepupu-sepupu saya pun takut padanya. sebagai anak pertama dari banyak adik, ia juga harus membantu nenek saya mengasuh mereka ketika mereka masih kecil. itu menjadikannya sebagai orang yang keras bagi adik-adiknya dan juga anak-anaknya. ia mendidik saya dengan keras, termasuk untuk urusan belajar. tak heran jika nilai pelajaran saya cukup baik, karena ia sama sekali tidak mengizinkan saya bermain ataupun membaca buku non pelajaran jika bukan hari libur. ia berperan sangat dominan di rumah, untuk semua urusan mulai dari urusan dapur, sekolah, hingga pemilihan isi rumah.

perlahan sifat galaknya semakin berkurang ketika saya menginjak bangku kuliah. entah karena saya yang semakin menjadi anak baik, atau memang si mamah merasa kalau saya memang harus diperlakukan sebagai orang dewasa. saat ini, saya malah merasa menjadi anak manja buat si mamah. ia memperlakukan saya berbeda dengan adik-adik saya. mereka bahkan bilang kalau saya itu anak kesayangan si mamah. haha. tentu saja saya tidak pernah protes untuk hal itu. kopi tubruk buatannya sangat enak.  itu adalah salah satu dari banyak hal yang sering buat ketika saya pulang ke rumah. kami pun berbagi hal buruk bersama, yaitu rokok. sulit untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. hingga saat ini, kami masih bersama-sama menikmati rokok dan kopi seraya mengobrol di ruang tamu.

doa si mamah adalah doa yang paling manjur. hingga saat ini, setiap hendak melakukan presentasi, ujian, interview atau apapun yang cukup penting, saya selalu memintakan doa darinya. alhamdulilah, selama ini semua doa si mamah mampu membantu saya melewati hal-hal tersebut. ketika saya memutuskan untuk melamar posisi phd di belanda ini, si mamah tidak sepenuhnya setuju. tapi saya nekat dan tetap mengirimkan aplikasi itu. cukup lama saya menunggu, hasilnya tidak juga datang. hari itu, saya minta doa restunya. saya minta keikhlasannya untuk bisa memilih jalan ‘sekolah lagi’ dan bukan bekerja seperti keinginannya. ia luluh dan mengangguk. seminggu setelah kejadian itu, saya kedatangan email berisi surat penerimaan dari universitas utrecht. doa si mamah, sekali lagi menunjukan keampuhannya. 🙂

permasalahan si papah, harus diakui berpengaruh banyak pada si mamah. syukur, itu malah membuat ia semakin dekat dengan saya dan adik-adik dengan segala macam bentuknya. tak jarang ia bisa menangis ketika bercerita (dan beberapa kali agak lebay memang), hal yang mungkin tidak pernah saya lihat dahulu. tapi sekali lagi, saya bersyukur kami semua bisa mengalami ini. kedekatan saya dengan si mamah pun sekarang ada di tahap yang berbeda.

saat ini, walaupun saya jauh, hubungan kami tetap dekat. tak jarang ia mengirimkan sms, hanya untuk bilang kangen dan minta saya menelepon. walaupun kadang saya juga suka tidak bisa langsung menelepon atau membalas sms-nya, tapi pasti selalu saya sempatkan. seperti minggu lalu, ia sms dan meminta saya menelepon dengan tulisan yang membuat saya khawatir. ternyata ia meminta saya membelikannya tas (yang katanya sejenis) prada sebagai oleh-oleh kalau saya pulang ke indonesia. kan di sana sedang musim diskon, kilahnya. saya hampir pingsan.

well.. apapun.. itu lah si mamah. saya beruntung dan bangga memiliki ibu seperti si mamah.

***

i love you, guys…

12 thoughts on “tentang si papah dan si mamah

  1. *menelan ludah terharu di taksi*

    kalo tulisan tentang aku jadinya kapan yah? *siapin bayaran ;)*

  2. hmmm….apa yaa…seneng aja bacanya….
    sering2 pulang deh….biar bisa nyenengin bokap nyokap 🙂

  3. ah, akhirnya menulis panjang lagi beliau 😀
    salam hormat buat mereka berdua, q.
    dimana-mana jadi ibu itu memang harus siap berperan antagonis yaa sepertinya ?! galak 😀

  4. Terima kasih telah berbagi a, tulisan ini semakin membuat saya kangen pada orang tua. Buat saya, berada jauh dari orangtua malah jadi kangen tapi tinggal bersama orangtua juga bikin saya ingin hidup mandiri 🙂

  5. Sebuah cerita yang menyentuh. Akhir2 ini saya secara pribadi juga begitu menghargai setiap upaya yang kedua orang tua saya lakukan. Saya sadar tanpa upaya mereka yang begitu hebat, luar biasa, dan tanpa kenal kata menyerah, saya tidak akan pernah bisa menerima pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi (suatu jenjang pendidikan yang bahkan mereka sendiri tidak pernah mencapainya). Saya bangga atas setiap upaya tidak kenal menyerah yang kedua orang tua saya lakukan. Salut buat tulisan Anda dan semoga Anda (dan juga saya) dapat terus menjadi anak yang membanggakan orang tua 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *