menjelajah baliem dan mandailing bersama terminal kopi

menjelajah baliem dan mandailing bersama terminal kopi

sebagai penggemar kopi, saya sering kali mendapat kiriman kopi dari sahabat-sahabat yang tahu betapa candunya saya kepada si biji kopi ini.

namun, kiriman dari terminal kopi membuat saya terpikir untuk menuliskan semua kopi yang pernah saya terima di halaman ini. kita mulai dengan mereka.

saya selalu terkesima oleh sebuah ide kegiatan yang melibatkan masyarakat, petani atau orang-orang biasa, termasuk petani kopi. apalagi jika itu dilakukan oleh anak-anak muda dengan idealisme tinggi. saya selalu bermimpi untuk bisa membuat bisnis yang bisa membantu para petani kopi indonesia memasarkan produknya dengan harga yang wajar. sudah banyak yang nekat dan berhasil melakukan ini, dan terminal kopi salah satunya. saya baru sampe level bermimpi.

saya sebenarnya bukan penikmat kopi yang ribet memikirkan karakter dari kopi. karena buat saya, kopi yang enak itu dipengaruhi cara roasting, tingkat kehalusan menggiling, suhu air, dan penyajiannya. kecuali bikin sendiri, maka jangan harap bisa mendapatkan kopi enak sesuai selera. namun, asal kopi masih mempengaruhi kesukaan saya terhadap sebuah jenis kopi.

saya beruntung bisa mencicipi kopi papua baliem dan mandailing (yang mereka roast sendiri); dua-duanya arabica, favorit saya. packaging terlihat sangat profesional dan label yang menarik. saya langsung jatuh cinta ketika melihat bungkusnya. saya sengaja meminta dalam bentuk biji, agar saya bisa menggiling sesuai dengan keinginan.

kopi papua baliem banyak ditanam di daerah pegunungan tinggi. beberapa literatur mengatakan jika para petani baliem mengolah tanamannya secara organik alias tanpa pupuk kimiawi. secara umum, kopi papua baliem memiliki aroma seperti karamel dan fruity dengan tingkat keasaman yang tidak terlalu tinggi (medium) dan ‘body’ yang medium.

saya dan si ibuk mencoba kopi ini dengan sistem kopi tubruk. roasting terminal kopi sepertinya di level medium dan agak dark. komentar pertama kami adalah: enak dan strong banget! rasa kopi yang kuat, beraroma karamel dan ‘fruity’. aftertaste-nya pun enak. kami langsung jatuh cinta pada kopi ini. kami pasti akan pesan lebih banyak lagi.

kopi kedua yang dicoba adalah mandailing, sumatra. di berbagai kesempatan, kopi mandailing biasanya menjadi pilihan aman saya. saya memang tidak begitu menyukai kopi dengan keasaman yang tinggi. walaupun sebenarnya, kopi yang berkarakter asam bisa disiasati dengan roasting yang cukup dark.

saya menggunakan french press dengan gilingan yang agak kasar. kopi yang berasal dari mandailing dikenal dengan body yang ‘high’, tingkat keasaman rendah dan aroma ‘tobacco’. saya sendiri tidak bisa mengenali aroma tobacco di kopi mandailing ini. namun satu hal, kremanya yang dihasilkan kental dan terlihat sangat cantik. hmmm.. sedap.

namun jika harus memilih dari keduanya, saya akan memilih papua baliem. sayang, persediaannya sudah habis. saya harus pesan ulang lagi sepertinya.

***

tertarik untuk mencoba kopi hasil roasting mereka? kontak terminal kopi di www.terminalkopi.com atau fb: https://www.facebook.com/trmnl.kopi. bahkan jika anda sedang berkeliaran di bandung, tak ada salahnya buat mampir ke warung kopi mereka di dago elos 17.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *