Archive for the ‘Annual article’ Category

Post

sebuah rintisan untuk jalan yang lebih besar (2009)

In Annual article on December 30, 2009 by aaqq™

akhirnya salju mulai mencair setelah selama beberapa hari belanda dan sebagian besar eropa menjadi putih. dari jendela kamar saya melihat pemandangan di luar yang berubah menjadi  cokelat, hitam dan berair. jelek dan tidak menyisakan sama sekali keindahan yang hadir beberapa hari lalu. sekilas sebuah pertanyaan melintas, “apa yang sedang saya lakukan di sini?”.

ya.. apa yang membawa saya kembali ke kota ini? ruangan ini tiba-tiba menjadi dingin. saya merindukan sebuah kehangatan.

secara perlahan, saya membawa pikiran pada sebuah pemandangan pantai putih di pulau derawan sana. satu tahun yang lalu, saya berada di pulau derawan, sendiri, dan berusaha mencari sebuah ketenangan di antara sibuknya kegiatan penelitian saya di berau. saya berharap banyak pada berbagai rencana yang akan saya jalankan di tahun 2009. tidak banyak resolusi yang dibuat pada saat itu, namun beberapa hal besar yang terjadi di tahun 2009, sepertinya akan menjadi rintisan untuk hal-hal lain yang (jauuuh) lebih besar di tahun-tahun mendatang. saya percaya itu.

Read More »

Post

be creative and you’ll become more productive (2008)

In Annual article on December 28, 2008 by aaqq™ Tagged:

setelah berada di sebuah toyota avanza keluaran 2008 selama 2 jam, dengan posisi badan yang sedikit membungkuk, dan barang bawaan yang menindih paha, saya pun tiba di dermaga penyeberangan tanjung batu. moyo, sang motoris speed boat menyambut saya dengan sebuah keheranan di wajahnya, seraya bertanya, “hanya sendiri saja, pak?”. saya hanya mengangguk dan tersenyum. tadinya saya hendak mengatakan, memang kenapa kalau sendiri?, tapi mengurungkannya dan langsung berjalan menuju speedboat biru putih yang menanti di air.

tanpa banyak basa-basi, kami meluncur perlahan menuju pulau derawan. terpaan angin yang berhembus, bau air laut biru yang khas, serta kacamata hitam yang menempel di wajah, membuat saya seperti james bond yang bertualang di perairan berau, minus senjata dan wanita-wanita cantik tentunya.

Read More »

Post

perjalanan untuk sebuah perubahan (2007)

In Annual article on December 30, 2007 by aaqq™

tinggal satu hari lagi menuju 2008 dan gue masih berkutat di depan komputer untuk bisa menuntaskan artikel tahunan ini. artikel tahunan ini emang janji gue pada diri sendiri untuk bisa secara konsisten menulis. sebuah refleksi buat diri sendiri di setiap pergantian tahun (dan syukur-syukur kalian semua masih mau pada baca.. :D ).

apa makna 2007 buat gue? salah satunya adalah kebodohan, karena tahun 2007 kemarin, gue masih melakukan kesalahan seperti 10 tahun yang lalu. bodoh? iya banget. tahun 2007 juga berarti komunitas baru. gue mendapatkan banyak komunitas pertemanan yang baru, mulai dari kehidupan gue di belanda hingga di bogor, jakarta dan berau. selain itu, pada tahun 2007 gue melakukan banyak perjalanan yang cukup menyenangkan, mulai dari belanda-berlin-jakarta-bogor-kalimantan-bali. perjalanan yang ternyata menjadi bekal buat soul nutrition gue. dahsyaaat.

Read More »

Post

sebuah kedinamisan hidup (2006)

In Annual article on January 4, 2007 by aaqq™

…2006 harus menjadi tahun pencapaian semua hal yang saya inginkan, untuk menjadi tonggak perjalanan hidup saya yang baru. tahun dimana saya bisa memilih arah hidup ke depan di antara banyak jalan pada persimpangan hidup. tiga puluh tahun berjalan, membawa saya pada persimpangan ini. pengalaman, cinta, pengkhianatan, persahabatan dan pengetahuan selama ini, harus dapat membantu saya untuk bisa memilih jalan hidup masa depan. tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk hidup. belum banyak yang bisa dihasilkan oleh saya. buku ini akan menjadi saksi atas pilihan yang saya tentukan. sebuah pilihan yang menentukan nasib seorang manusia.. sebuah keluarga.. dan bahkan sebuah bangsa.
now is the time to put all the puzzles into a frame…

dahsyat yah? sebuah bangsa? hahahaha. ah u know me lah.. suka exaggerate. paragraph di atas ditulis pada halaman depan jurnal harian unicef 2006 milik saya pada awal januari 2006. saat itu, dengan berbagai peristiwa yang lewat di tahun 2005 dan umur hidup saya yang telah mencapai tiga puluh, membuat saya memutuskan sebuah resolusi tahun baru seperti itu. saya ibaratkan tahun 2006 sebagai tahun yang dinamis. semua hal datang silih berganti.. up and down.. bahkan dengan cara yang cepat. seringkali, disaat saya sedang berada di titik terbawah, hanya dalam hitungan hari.. saya terdorong menuju titik atas. begitu juga sebaliknya. melelahkan namun menyenangkan.

awal tahun diawali dengan perjalanan seorang sahabat menuju kehidupan barunya. ia berpindah ke sebuah tempat yang asing namun menjanjikan bagi kehidupannya. kepergiannya justru membuat saya melakukan refleksi pada diri ini. hasilnya? saya ternyata telah menjadi seorang statis dan tidak memiliki keberanian untuk bermimpi seperti halnya dahulu kala. semua impian dan cita-cita yang dulu begitu menggebu ternyata telah padam. saya terlalu lelah dengan semua hal yang terjadi sebelum ini.

alhasil, kepergiannya melecut saya untuk berani bermimpi. jujur.. saat itu saya tidak tahu apa yang saya inginkan buat masa depan saya *sebenarnya.. saat ini pun masih belum jelas*. sekolah lagi? menikah? mencari pekerjaan baru yang lebih gede gajinya? pekerjaan baru di tempat yang sama sekali baru? menjadi volunteer untuk sebuah misi kemanusiaan pbb? atau tetap menjadi seorang staf ngo di bogor? semua pemikiran itu akhirnya membuat saya ‘menggampar’diri ini dan mengajaknya untuk menentukan dan membuat keputusan di tahun 2006. keputusan yang akan menjadikan titik tolak hidup saya kelak. beranikah saya? harus BERANI!!

semua pertanyaan itu saya jawab dengan mengirimkan lamaran aplikasi kemana-mana. sekolah a, sekolah b, kantor c, kantor d dan masih banyak lagi. sayangnya.. bukan lamaran menikah pada seseorang yang saya cintai… sigh. mengapa? padahal saat itu saya sedang mencintai seseorang dengan tulus. menikah ternyata bukan jawaban yang tepat untuk kondisi saya, dan juga dia saat itu. terbukti, di pertengahan maret ia pun semakin menjauh dari saya. saya cuma bisa diam dan merasa hancur.

namun, roda berputar dengan kencang. di saat saya merasa berada di titik terbawah tiba-tiba sepucuk surat elektronik tertanggal 22 maret membawa saya ke titik atas. saya diterima di utrecht university untuk program phd selama kurang lebih 4 tahun!! huaaaaaa. saya cuma bisa mengucap rasa syukur padaNya *juga terima kasih pada beberapa orang tertentu yang membuat ini menjadi nyata.. nuhun neng.. mas.. dan meneer*. tiba-tiba dunia menjadi lebih cerah dan ringan. saya merasa jalan di persimpangan ini menjadi semakin jelas. saya merasa pilihan harus dibuat.

alhasil, 5 bulan berikutnya adalah sebuah kesibukan untuk mempersiapkan semua hal. menyelesaikan tugas-tugas dan hutang-hutang di kantor, membuat aplikasi visa dan dokumen-dukumen universitas, menabung, persiapan keberangkatan dan juga mempersiapkan semua keluarga yang ada di bogor. o ya… percayalah pada kekuatan doa seorang ibu. ibu saya awalnya agak berat untuk menyetujui pilihan saya melamar sekolah ke belanda ini. ia merasa bahwa saya harusnya berkerja dahulu di indonesia.. dan melakukan ‘hal-hal’ yang seharusnya dilakukan oleh orang seusia saya. suatu malam, saya meminta keikhlasannya untuk menyetujui pilihan saya dan ia mengiyakan. seminggu kemudian.. surat elektronik itu pun tiba. percaya? saya sangat percaya itu.

jujur, agak berat meninggalkan keluarga saya di bogor saat itu. kondisi keluarga yang sedang banyak masalah membuat saya merasa bahwa saya harus berada di dekat mereka. sehingga kapanpun mereka membutuhkan, saya akan selalu dekat. seringkali saya cuma bisa berteriak dalam hati (bahkan memaki) atas ‘ketidakadilan’ yang Ia berikan pada kami. tapi semua hal yang terjadi pada keluarga kami ternyata menimbulkan banyak hikmah yang tidak pernah terduga sebelumnya. tekanan bertubi-tubi justru membuat kami lebih dekat, terbuka satu sama lain dan menjadikan kami, anak-anaknya, lebih dewasa dalam menghadapi sesuatu. saya hanya bisa mensyukurinya. perubahan besar pada keluarga saya itu juga yang membuat saya memberanikan diri untuk meninggalkan mereka. saat ini, ayah dan ibu saya hanya berdua saja di rumah, sedangkan adik-adik saya sudah memiliki kehidupannya masing-masing di tempat baru mereka.

saya pun meninggalkan pekerjaan saya di sebuah ngo di bogor. bukan tempat kerja yang nyaman memang. tapi toh tidak ada tempat kerja yang enak juga bukan? 1.5 tahun berada di sana membuat saya mengenal banyak orang baru, jaringan kerja baru dan juga kehidupan yang baru. banyak hal yang saya temui di sana antara lain sahabat-sahabat baru, terutama hasil perjalanan ke beberapa tempat indah di indonesia, seperti sumba, sangihe-talaud, dan manado. jaringan baru ini juga membawa saya menjelajah philippine di bulan maret dan kalimantan di bulan juli. benar-benar tahun yang penuh dengan perjalanan.

namun, sahabat baru pun tidak hanya saya temui melalui hasil perjalanan. beberapa malah saya temui dari blog. dua orang sahabat di dunia maya telah bertemu di suatu kesempatan. perjalanan ke bandung membuat kami semakin dekat hingga saat ini. walau kadang saya suka menghilang di rimba belantara ym, tidak seperti keduanya yang masih intens berkomunikasi. beberapa sahabat lama di sma pun menjadi semakin dekat. saya kadang begitu bersyukurnya melihat kami berlima yang masih bisa dekat sejak sma dan seringkali membuat beberapa teman berdecak kagum. denok menjadi salah satu sahabat yang tahu semua kebusukan-kebusukan saya saat ini. hahaha *say hi.. to denok*. sahabat-sahabat lama pun ternyata masih menjadi bagian cerita di tahun 2006. baik sahabat sejak kuliah, kerja, belanda bahkan dunia maya. yang membahagiakan.. saya bisa menghubungkan beberapa diantara mereka dan menjadikan mereka sebagai sahabat juga. atta bilang.. kalau saya seperti nokia.. karena bisa connecting people. ah.. jadi malu. huakakaka *give a hug to atta..*. gosipnya.. beberapa malah..ssshht.. hehehe.. *liat atta dan cyntha.. dan say haaaaiii*. saat ini pun saya menemukan sahabat-sahabat baru yang membuat hidup saya di belanda semakin berwarna, seperti tujuh mahasiswa alstublieft, si botak, nike yurdi family, sahabat-sahabat di wageningen, si item, si akang, si bule, si arab dan masih banyak lagi. i feel blessed.

namun 2006 bukan tahun yang baik untuk hal-hal bernama cinta. perpisahan yang terjadi membuat saya sering berkata bahwa saya tidak tahu (dan tidak mau percaya) dengan definisi cinta. bukan hanya karena apa yang telah seseorang lakukan pada saya namun juga pada apa yang telah saya lakukan padanya dan orang lain. ketidakjelasan saya bahkan telah membuat orang lain terluka di sana *maafkan saya*. alhasil, saat ini saya seperti terlempar pada 10 tahun yang lalu. dimana saya menerjunkan diri pada sebuah pusaran tak berujung dan menunggu sebuah tekanan untuk melemparkan saya. sama seperti halnya dahulu. atau mungkin saya menunggu seseorang menarik lengan ini? entahlah. sepertinya.. saya begitu menikmati hidup di dalam pusaran ini, walau kadang batang-batang kayu dan sapi-sapi *kok sapi ?* yang tersedot di dalamnya menabrak saya dan membuat sakit. namun pusaran ini memang begitu melenakan.

satu tahun hampir berlalu.. dan saya hanya bisa mensyukurinya. kehidupan di belanda ternyata tidak sama dengan satu setengah tahun yang lalu. banyak hal yang berubah.. dari saya.. dan sudut pandang terhadap sesuatu.. komunitasnya dan dari belandanya juga. saya tidak tahu apakah resolusi awal tahun saya tercapai atau bahkan telah gagal. namun sepertinya saya tengah menuju ke sana. keputusan telah saya buat dan itu harus saya jalankan sebagaimana janji yang dahulu telah terucap. bahkan, saya merasa bahwa resolusi itu telah berkembang dengan munculnya cabang-cabang kecil di jalan yang telah saya pilih.

kita memang tidak akan pernah tahu, apakah jalan yang kita pilih adalah jalan yang terbaik untuk hidup kita. namun, memilih lebih baik daripada hanya berdiam di persimpangan bukan? saya pun akan memasuki angka pertama dalam deret tiga puluh kehidupan (amiin). mudah-mudahan bukan menjadi masa yang menakutkan bagi seseorang seperti saya. saya cukup optimis kok menghadapinya *asal tidak ditanya.. kapan menikah q? hmm.. arrghh !!@.#$@ hehehe… *.

resolusi tahun depan? hmmm.. belum terpikir secara matang. yang pasti.. selamat tahun baru!!! dulu untuk kalian semua. semoga tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun kemarin. ok ?

the future depends on what we do in the present- mahatma gandhi

utrecht, 26 december 2006

Post

refleksi tigapuluh (2005)

In Annual article on January 4, 2006 by aaqq™

saya tidak tahu mengapa angka tiga puluh begitu membuat saya sentimentil. sebuah angka yang membuat saya berpikir panjang mengenai masa lalu dan masa depan. tiga puluh masa telah tertinggal di belakang dan melihatnya membuat saya terdiam. apa yang telah saya lakukan selama ini? memang tidak mungkin (dan saya juga sepertinya tidak mau) untuk kembali dan merubah jejak yang telah ditorehkan. semua kebaikan dan keburukan harus saya telan dan tidak ada waktu untuk memuntahkannya kembali. waktu terus berdetak and the show must go on.

tiga puluh tahun, bukan waktu yang sebentar untuk menjalani hidup. pencapaian apa yang telah saya buat? sampai detik ini pun, saldo saya di tabungan hanya ada untuk sisa-sisa hidup hingga pembayaran gaji bulan mendatang. hutang hasil gesekan (entah untuk apa) yang harus dibayar berada di depan mata. bekerjapun masih menggunakan angkutan umum. materi? jangan pikir saya memiliki kebebasan finansial untuk membeli apapun yang saya inginkan. masih jauh dari itu. handphone pun masih tipe lama yang saya gunakan empat tahun yang lalu. pda-phone ini sepertinya akan masih menjadi impian.yang penting masih berfungsi, begitu biasanya saya menghibur diri ini. selain itu, pada angka tiga puluh ini saya pun masih belum berkeluarga (untuk hal ini saya tidak pasti.. apakah harus bersedih atau justru bersyukur). kuping ini malah sudah mulai terbiasa pada pertanyaan, sindiran, lelucon dan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan pernikahan. tiga puluh tahun dan saya belum bisa memiliki apa apa. menyedihkan? sepertinya iya, namun apakah memang tidak ada yang bisa dibanggakan?

sepanjang hidupnya, ayah saya tidak pernah menjadi seorang pegawai tetap. ibu hanya seorang ibu rumah tangga biasa. tidak ada mobil, rumah, tanah atau bahkan harta lainnya seperti halnya orang lain dapatkan dari kedua orang tua mereka. tapi saya tidak pernah menyesali hal tersebut, karena mereka telah memberikan satu hal berharga pada saya yang akan terus dipegang hingga kehidupan saya berakhir. sebuah hal yang tidak semua orang miliki yaitu… pendidikan. klise? hmm.. tidak juga.

banting tulang mereka selama ini membuat saya bisa menyelesaikan pendidikan s1. sebuah jenjang pendidikan yang cukup tinggi di kalangan keluarga ayah ataupun ibu saya. sebuah kebanggaan tiada tara buat mereka (i hope…). bagi saya, ini sebuah modal yang cukup berharga untuk melanjutkan kehidupan. bahkan, pada angka tiga puluh ini saya secara nekad menyelesaikan s2 saya di belanda dan syukurnya.. gratis. bagi saya, kembali ini menjadi sebuah harta berharga yang mereka berikan (walaupun tidak secara langsung) untuk bisa bertahan hidup.

memiliki orang yang-orang yang mengasihi saya menjadikan hidup ini lebih lengkap. selain keluarga, saya pun dikelilingi orang-orang khusus yang mampu membuat detik kehidupan ini menjadi berharga untuk dijalani. orang-orang yang mampu merubah hal-hal kecil menjadi sebuah pondasi kehidupan yang kuat. orang-orang yang membuat saya berani untuk bermimpi lebih besar lagi. beruntung saya bisa bertemu mereka dan menjadikannya sebagai bagian hidup yang tidak akan pernah hilang kapanpun.

harta saya lainnya adalah persahabatan. bagi saya, memiliki sahabat merupakan sebuah kesempurnaan hidup. persahabatan merupakan sebuah hubungan didasari pada kepercayaan dan ketulusan antar manusia. mereka telah melihat baik dan buruknya saya, menerima saya seperti adanya, sebaliknya saya pun menghargai mereka sebagai manusia seutuhnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya serta menjadikan mereka asset dalam kehidupan saya. menjaga hubungan baik bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan, namun jika kita bisa menciptakan hal tersebut tentunya merupakan sebuah pencapaian hidup yang indah.

tiga puluh tahun dan saya menjelaskan sebuah sisi kebahagiaan yang sangat abstrak. satu hal yang pasti, indikator pencapaian kesuksesan setiap orang tentu berbeda. begitu juga dengan saya. tiga puluh tahun saya lalui dan saya membangun hal-hal yang abstrak tersebut. saya sendiri tidak pernah bisa menduga bahwa saya akan membekali diri ini dengan hal-hal tersebut selama tiga puluh tahun perjalanan.

tiga puluh tahun dan saya berada pada persimpangan yang kesekian kalinya. ini saatnya membuka semua perbekalan dan menjadikan sebuah penuntun untuk bisa memilih jalan. jalan yang menentukan alur kehidupan saya di masa mendatang. saya menjadikan 30 sebagai momen untuk menggunakan semua perbekalan yang saya simpan selama ini. bukan untuk dihabiskan, toh semua hal tersebut tidak akan pernah habis, namun lebih kepada pengoptimalan kesemua hal tersebut.

persimpanganpun tidak akan pernah usai, saya akan menemuinya di masa mendatang. namun, saya berharap persimpangan berikutnya akan hadir dalam kurun waktu yang lebih lama. saya hanya ingin berjalan secara perlahan namun pasti untuk mengoptimalkan perbekalan ini sambil mengumpulkan perbekalan yang baru. perbekalan untuk persimpangan lain.

selamat memasuki masa yang baru. angkat kepala dan rendahkan hati. tiga puluh bukan angka yang menakutkan dan akan dihadapi bersama semua “harta” yang saya miliki. guys.. thanks for being my treasures!

bogor, january 2006

Post

percaya kekuatan doa dan usaha (2003)

In Annual article on January 2, 2004 by aaqq™

tahun baru..resolusi baru? apa yang ingin kamu raih q di tahun ini? banyak. tahun baru memang waktu yang tepat untuk merenung*istilah yang selalu ditertawakan oleh ija* . setahun yang lalu saya ada di kamar saya di gunung batu, bogor. sendiri dan tidak ikut kemeriahan kawan2 yang merayakannya di semua tempat di indonesia. hanya berdoa dan merenung plus merefleksi apa yang sudah saya lakukan tahun kemarin dan apa yang ingin saya capai di tahun 2003.

saya punya wish lists pada saat itu dan saya janji untuk melaksanakan. sebagian besar tercapai, salah satunya adalah untuk sekolah di luar negeri dan mendapatkan beasiswa. malam itu kepastian saya untuk mendapat sekolah ataupun beasiswa masihlah gelap. hasil toefl yang tidak begitu menggembirakan sempat membuat saya down ditambah beberapa persoalan pribadi yang membuat saya hampir patah arang untuk mencoba. malam itu saya tekadkan hati kalau saya ingin pasti bisa. saya yakinkan diri saya untuk mencoba dan bangkit dari kegagalan itu. dan sekarang.. saya di sini, di university of wageningen, the netherlands dan mendapat beasiswa dari netherland fellowship programme. moral story: kalau kita yakin dan kita punya keinginan yang kuat pada sesuatu hal, dengan usaha yang sungguh-sungguh dan cukup berdoa, insya allah akan terwujud. percayalah. hue..he..he.

tahun lalu merupakan tahun yang baik buat saya dan keluarga. ayah saya memiliki peruntungan yang jauh lebih baik dari tahun2 sebelumnya, kami bisa membetulkan ‘gubuk’ kami, adik saya menikah, dan saya pergi ke belanda. apa yang akan terjadi di tahun ini? saya tidak tau. saya cuma berharap bahwa tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya. saya bisa menjalani kuliah dengan baik, mendapat pengalaman dan pengetahuan yang bermanfaat. itu saja dulu. semoga keluarga saya juga. adik saya sudah hamil, semoga ia sekeluarga dilindungi olehNya. semoga ayah dan keluarga saya bisa menjalani kehidupannya lebih baik dari tahun sebelumnya. simple tapi butuh banyak kerja keras dan doa. amin. miss u all : dad, mom, khe, cha.

setahun yang lalu, saya juga sempat membuat seseorang menjadi marah melihat prilaku saya yang tidak bisa dipahaminya. maafkan saya. saya cuma butuh waktu untuk memahami diri saya sendiri sebelum kamu paham seperti apa saya ini. miss u too.

selamat tahun baru. selamat menjalani sebuah harapan baru. selamat mencapai kesuksesan baru. success is a journey not a destination.

wageningen, 6 january 2004