Category Archives: Broader mind


don’t be trapped by dogma

“… your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. and most important, have the courage to follow your heart and intuition. they somehow already know what you truly want to become. everything else is secondary…”

an inspiring quote from a commencement speech delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005 at stanford university. a complete video can be seen here.

waktu..

Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN,
tanyakan pada murid yang gagal kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN,
tanyakan pada ibu yang melahirkan prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU,
tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM,
tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT,
tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK,
tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILI DETIK,
tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

unknown source

icraf dan titik balik gue

salah satu titik balik dalam kehidupan gue adalah ketika gue bergabung dengan icraf (international centre for research in agroforestry dan bukan pabrik KEJU!!) di tahun 2000, yang sekarang bernama world agroforestry centre. dari pedalaman dan hutan di riau sana, gue balik ke bogor dan mengerjakan salah satu project mereka di palembang *thanks to pak suyanto dan yengki for the opportunity*. saat itu gue menjadi asisten peneliti di lapangan untuk project kebakaran hutan di indonesia.

banyak yang gue dapet, mulai dari naik pesawat terbang pertama kalinya dalam hidup, jalan-jalan ke banyak tempat di indonesia, gaji yang cukup lumayan, dan yang paling berkesan adalah bertemu banyak orang baru. mereka adalah orang-orang yang selalu menyambut ramah ketika kami datang ke tempat mereka. beberapa bahkan menjadi sahabat (bahkan saudara) baru gue hingga saat ini.

Read More

go frugal!

frugal? frugal dalam bahasanya wikipedia adalah : a traditional value, life style, or belief system, in which individuals practice both restraint in the acquiring of and resourceful use of economic goods and services in order to achieve lasting and more fulfilling goals. In a money-based economy, frugality emphasizes economical use of money in meeting long term personal, familial, and communal desires.

si ollie sudah menulisnya sejak beberapa bulan yang lalu dan gue baru melihat beberapa minggu yang lalu. beberapa dari kita bahkan (mungkin) sebenarnya sudah menerapkannya bertahun-tahun yang lalu. intinya, kalo gue liat sebenarnya bukan (saja) bagaimana kita bisa mengatur keuangan, tapi sebenarnya lebih kepada bagaimana menjadikan hidup kita jauh lebih bahagia, lebih simpel, lebih sehat dan lebih menyenangkan untuk dijalankan. frugality juga terdapat di berbagai aspek hidup kita mulai dari pekerjaan, kehidupan rumah, kehidupan sosial, keuangan, tujuan hidup pribadi, bahkan kepada hubungan percintaan *hayaaah..*.

di beberapa tempat di indonesia, ini adalah gaya hidup yang sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu. tapi seiring dengan perkembangan zaman, terutama di beberapa kota besar nilai-nilai itu semakin hilang. berawal dari pola kehidupan yang semakin kapitalis dengan tekanan pekerjaan yang semakin tinggi. belum lagi tekanan sosial mengenai gaya hidup modern, sehingga kita seringkali menjadikan menjadikan semua hal berbau materi di atas segalanya. menjalani hidup lebih bijaksana sebenarnya bisa membuat tekanan hidup akan semakin berkurang. salah satunya? dengan gaya hidup frugal ini.

Read More

emang enak jadi peneliti?

spoiler: panjang abis.. beneran deh… mending nonton, bikin pe er atau hang-out di cafe sonoh..

bekerja sebagai peneliti sebenarnya gak pernah kepikiran di dalam otak gue pada saat lulus sma. dengan kapasitas otak yang segitu-gitu aja, ditambah penampilan yang jauh dari sosok seorang peneliti *maksudnya???*, maka gue gak pernah mem-plotkan diri gue untuk menjadi peneliti. apapun, dan bukan peneliti. pemain film ataupun pegawai negeri malah pernah masuk ke dalam list mau-jadi-apa-nanti, ketika gue berpikir serius soal masa depan.

but, it was in 2000 ketika gue pertama kalinya menerima pekerjaan sebagai asisten peneliti di sebuah lembaga penelitian yang keren abis, baik dari segi kualitas maupun fasilitas (olahraga dan internet). *kayanya boss lo dulu udah desprate banget nyari asisten, hehehe*. sejak awal pun mungkin gak banyak yang percaya kalau gue kerja di tempat yang butuh banyak ngejalanin otak. *otak lo di setting otomatis aja susah q.. apalagi dipaksa manual*. sekarang, di mana gue kudu menyandang status sebagai seorang pelajar strata tiga, lebih banyak lagi yang gak percaya (dan makin gak rela.. hahaha). sebuah posisi yang dulu gak pernah berani gue impikan.

tapi hidup memang tidak pernah bisa ditebak. seperti yang selalu gue bilang, one dream leads to another, ternyata memang benar adanya. setelah jungkir-balik turun-naik kanan-kiri depan-belakang, ternyata gue malah sibuk di dunia ini. hingga akhirnya sekarang gue terbiasa untuk menjawab, gue peneliti, ketika seseorang bertanya mengenai pekerjaan gue. ya iya lah.. masa gue mo menjawab: gue model dari the janice dickinson modelling agency? gak banget deh..

Read More

when love meets science

ketika kita menyayangi seseorang, ternyata tidak semua hal berjalan sesuai yang diinginkan dan malah seringkali merusak. jika rasa sayang itu dianalogikan dengan populasi manusia di bumi dan saya adalah buminya, mungkin teori malthus adalah benar adanya. malthus (1798) mengatakan bahwa pertambahan populasi di dunia akan memberikan tekanan yang semakin tinggi pada sumber daya alam dan juga menyebabkan supply makanan semakin tidak mencukupi sehingga membuat kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. terbukti, ketika rasa sayang itu bertambah, ternyata malah membuat diri ini menjadi semakin sakit.

tapi mungkin itu juga terlalu berlebihan, karena malthus memang tidak memperhitungkan bahwa manusia akan menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas dan mengelola sumberdaya alamnya. ini seperti yang boserup (1965) katakan, bahwa jika dalam jumlah populasi yang optimum ataupun proses pertumbuhan populasi yang stabil/sustain maka, pertumbuhan populasi justru malah akan meningkatkan produktifitas, terutama di bidang pertanian. karena manusia akan melakukan intensifikasi pertanian dan memberikan input-input beserta teknologi baru pada aktivitas pertanian. terbukti, hidup saya jauh lebih produktif ketika rasa sayang saya ke kamu ada dalam jumlah yang wajar.

Read More

saya, dia dan samuel morse

09.10 am.. stasiun ede-wageningen

kereta double decker kuning-biru itu seperti biasa tiba tepat pada waktunya. saya, seperti biasa pula, dengan terengah-engah berlari kencang menaiki tangga menuju peron tiga. tiket diskon kelas dua seharga 7.3 euro sudah ditangan, juga sebuah kartu diskon 40% yang dipinjam dari seorang kawan.

dari kejauhan tampak beberapa calon penumpang berkumpul di depan pintu kereta yang masih tertutup rapat. setengah berlari saya menuju gerbong paling belakang, gerbong yang relatif jarang diperiksa oleh kondektur. setidaknya bisa mengurangi rasa was-was karena saya menggunakan kartu diskon pinjaman.

pintu kereta pun terbuka secara perlahan dan dengan sabar kami semua menunggu hingga penumpang terakhir keluar. tiba-tiba, seorang bapak tua mendahului saya dari belakang. alih-alih marah ataupun terkejut, saya hanya menghela nafas, toh dia memang lebih pantas duduk di bandingkan saya. apalagi pada jam-jam seperti ini kereta memang selalu penuh, karena bagi pengguna kartu diskon mereka baru dapat menggunakannya di atas jam 9 pagi. saya mundur setapak dan mempersilahkan beberapa ibu-ibu untuk menaiki kereta terlebih dahulu.

saya menjadi penumpang terakhir yang memasuki gerbong itu dan menuju lantai dua. saya senantiasa memilih lantai dua jika menggunakan kereta ini karena bisa memandang jauh keluar sana dengan lebih leluasa.

Read More