<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aaqq&#124;dot&#124;net &#187; Fiction</title>
	<atom:link href="http://www.aaqq.net/category/fiction/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aaqq.net</link>
	<description>a life in a blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2012 16:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Negeri van Oranje.. siap meluncur!!!</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 13:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?

Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.

Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?

Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://www.negerivanoranje.nl/wp-content/uploads/2009/03/vanoranje-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" />Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?</p>
<p>Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.</p>
<p>Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.</p>
<p>Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?</p>
<p>Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: <em><strong>the courage to love!</strong></em></p>
<p><span id="more-356"></span>***</p>
<p>Novel ini ditulis oleh empat orang yang pernah merasakan susah senangnya hidup dan bersekolah di Belanda. Dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca, kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussels hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala <em>backpacker</em>.</p>
<p>Mereka adalah:</p>
<p>Adept Widiarsa<br />
Nisa Riyadi<br />
Rizki Pandu Permana<br />
Wahyuningrat</p>
<p><strong>Nantikan di toko buku terdekat di INDONESIA..<br />
di akhir bulan Maret 2009!</strong></p>
<p>diskon special untuk early bird sebelum tanggal 24 Maret 2009,<br />
pemesanan dapat menghubungi bentangpustaka [at] yahoo [dot] com</p>
<p>***</p>
<p>“Novel yang menyenangkan…” &#8211;Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi&#8211;</p>
<p>“Keakuratan dan detail cerita di dalamnya membuat saya jadi kangen sama Belanda” &#8211;Raditya Dika, penulis Kambing Jantan—</p>
<p>“Kisahnya sangat nyata, penuh kejutan, dan inspiratif. Patut dibaca pula bagi yang ingin jalan-jalan ala backpacker di Eropa.” &#8211;Trinity, pemilik blog dan penulis buku The Naked Traveler—</p>
<p>“…panduan wajib buat mereka yang bercita-cita tinggi agar mampu menghargai persahabatan dan cinta…” &#8211;Luigi Pralangga, blogger Indonesia di UN Peacekeeping Mission—</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ingga, mimpi dan sosis</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2008/06/27/ingga-mimpi-dan-sosis/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2008/06/27/ingga-mimpi-dan-sosis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 22:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[features]]></category>
		<category><![CDATA[ingga]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sosis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Ingga terbangun, mimpi itu kembali datang selama tiga malam berturut-turut dan membuatnya tak bisa tidur hingga fajar menyingsing. Sudah tiga hari ini ia selalu ke kampus dengan wajah yang pucat. Rambutnya yang keriting pun kadang lupa ia rapihkan. Gadis tomboy itu menjadi terlihat berbeda. Ingga yang sehari-harinya begitu ceria, tiba-tiba menjadi berbalik 180 derajat. Semua teman-teman di kampus termasuk para satpam yang menjaga gerbang menyadari perubahan ini, tapi tidak ada yang berani untuk bertanya. Ingga tidak pernah mau menjawab. Sang macan tiba-tiba seperti sakit gigi.

Galuh, sahabatnya, menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan untuk bertanya meski tak terlalu berharap, karena sudah tiga hari ini tak ada satupun yang berhasil mendapatkan  jawaban. Not even a smile.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.esljunction.com/esl-efl-flashcards/food-meat-flashcards/big/sausage.gif" alt="" width="250" />Ingga terbangun, mimpi itu kembali datang selama tiga malam berturut-turut dan membuatnya tak bisa tidur hingga fajar menyingsing. Sudah tiga hari ini ia selalu ke kampus dengan wajah yang pucat. Rambutnya yang keriting pun kadang lupa ia rapihkan. Gadis tomboy itu menjadi terlihat berbeda. Ingga yang sehari-harinya begitu ceria, tiba-tiba menjadi berbalik 180 derajat. Semua teman-teman di kampus termasuk para satpam yang menjaga gerbang menyadari perubahan ini, tapi tidak ada yang berani untuk bertanya. Ingga tidak pernah mau menjawab. Sang macan tiba-tiba seperti sakit gigi.</p>
<p>Galuh, sahabatnya, menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan untuk bertanya meski tak terlalu berharap, karena sudah tiga hari ini tak ada satupun yang berhasil mendapatkan  jawaban. <em>Not even a smile</em>.</p>
<p>“Lo kenapa sih, Ngga ? Ingga cantiik… kenapa kamu jadi kaya gini ?&#8221;. Ia menggunakan kata cantik, sebuah hal yang Ingga suka jika Galuh menyertakan itu di belakang namanya. Tapi tidak untuk kali ini. Ingga tetap terdiam dan melihatnya dengan tatapan kosong.</p>
<p><span id="more-302"></span>“Ngga, kita kan sahabatan udah 3 tahun. Masa lo gak percaya juga ama gue? Gue gak akan cerita dengan siapapun. Janji. Suwer ewer ewer.&#8221; Galuh memperagakan bentuk V dengan dua jarinya di hadapan Ingga.</p>
<p>“Gua gak apa apa kok, Luh. Beneran,” jawab Ingga perlahan.</p>
<p>“Tapi, lo jadi kelihatan jelek deh kalo udah kaya gini. Rambut lo makin semrawut, muka lo kurang tidur, mata lo merah. Kan gak cantik lagi,” rayu Galuh.</p>
<p>“Hmm&#8230;. nanti aja ya Luh? Gue belon siap buat cerita.&#8221;</p>
<p>Galuh mulai melihat celah untuk bisa menggali lebih dalam. Ia tahu kebiasaan sahabat tersayangnya ini. Ia pasti akan bercerita jika ditanya dengan cara yang benar.</p>
<p>&#8220;Ya udah gak apa apa, tapi mau kan nemenin gue ngopi ? Cafe Tepian punya penawaran kopi gratis. Mereka sedang membuat resep baru. Mau kan?&#8221; Galuh tahu, sebagai penikmat kopi, Ingga dalam kondisi normal pasti akan berteriak iya.</p>
<p>&#8220;Boleh.. tapi jangan tanya apa-apa ya?&#8221; jawab Ingga.</p>
<p>&#8220;Iya, tenang aja. Mending kita bahas soal gebetan gue yang baru. Lo pasti pengen tahu,” Galuh mencoba mengalihkan topik pembicaraan.</p>
<p>****</p>
<p>“Luh, gue pengen cerita, tapi lo jangan ketawa apalagi cerita ke orang lain yah?” perlahan Ingga berkata ketika Galuh sedang bersemangat menceritakan Titi, mahasiswi semester satu yang sedang diincarnya. Galuh tahu, salah satu cara membuat Ingga berbicara adalah dengan seolah-olah mengacuhkan permasalahannya. Terbukti, saat ini ia pun siap bercerita.</p>
<p>“Iya, gue janji,” jawab Galuh perlahan. Ia berusaha keras mengatur nada bicara agar tidak merusak situasi saat itu</p>
<p>“Lo kan cowok, sahabat gue lagi, jadi gue harap lo gak bakal ketawa dengan apa yang gue bicarain,” Ingga bicara dengan sangat perlahan, seperti tidak ingin ada orang lain yang mendengar.</p>
<p>“Iya gue janji. Jadi kenapa lo selama tiga hari ini kelihatan kaya macan kurang darah?”</p>
<p>“Gue… mimpi terus-terusan selama tiga malam kemarin&#8221;, jawab Ingga.</p>
<p>“Mimpi? Mimpi apaan?”</p>
<p>“Gue mimpi…” tiba-tiba Ingga terdiam, seraya menarik nafas panjang.</p>
<p>“Gue mimpi.. dikelilingin sama… cowok-cowok yang gak ada mukanya dan mereka semua telanjang. Mereka ngelilingin gue, dan gue bisa melihat &#8216;itu&#8217; mereka dengan jelas,” Ingga melanjutkan dengan cepat, seperti tak ingin Galuh mendengar.</p>
<p>“Whaaaaaaaaaaaaat?? &#8216;Itu&#8217; tuh apa? Coba lo ulang lagi,” Galuh seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.</p>
<p>“Aaaaaah.. Galuh, gue malu. Tapi bener deh, gue seperti ada di sebuah ruangan dan Mereka itu banyaaak sekali. Kemanapun gue lari, mereka selalu ada dan memperlihatkan &#8216;alat kelaminnya itu&#8217; ke gue,” Ingga menjawab dengan muka panik.</p>
<p>Galuh pun melupakan janjinya. Ia tertawa begitu kencangnya hingga kursinya hampir saja terbalik. Wajah Ingga kembali ditekuk dan ia memukuli Galuh dengan kerasnya. Semua orang di kafe secara spontan pun menoleh pada mereka berdua.</p>
<p>“Tuh kan, lo boong. Katanya gak bakal ketawa.” Ingga seperti hendak menangis.</p>
<p>“Iya, iya.. sorry.. soalnya asli, ini lucu banget. Lalu kenapa lo jadi kaya gini? Pucat, males makan, dan kaya macan ompong,” tanya Galuh yang sudah mulai menguasai diri.</p>
<p>“Gak tau, gue jadi susah tidur aja. Gue takut akan bermimpi seperti itu lagi. Belum lagi, kejadian satu hari yang lalu. Gue tiba-tiba begitu histerisnya pas buka bungkusan dari Bimo, dan membuat ibu gue kaget setengah mati”</p>
<p>“Emang kenapa?” tanya Galuh.</p>
<p>“Lo kenal Bimo kan? Temen gue yang lagi ambil S2 di Belanda? Yang suka ngejahilin gue itu lho? Kemaren dia bawain gue oleh-oleh. Coklatnya sih gak papa dan enak banget, tapi pas gue buka bungkusan satu lagi … ya ampuunnn. Dia ngasi <em>salt and pepper shaker </em>alias tempat garam dan lada yang buat di meja makan tuh …..tapi ..bentuknya ….bentuknya …itu juga!”</p>
<p>“Itu apa?” kata Galuh bingung.</p>
<p>“Ya itu lah, bentuknya sama dengan yang udah gue mimpiin tiga hari belakangan ini. Gue pun langsung histeris di kamar. Nyokap gue ngetok-ngetok pintu gak gue bukain dan sampai sekarang Nyokap gak tau kenapa gue histeris begitu.”</p>
<p>Galuh pun tertawa untuk yang kesekian kalinya. Panjaaaaang sekali.</p>
<p>***</p>
<p>Sejak SD, Ingga adalah pengikut setia Alex, kakak nomor duanya. Kemanapun Alex pergi, ia pasti ada di belakangnya. Ia menjadi lebih mengenal teman-teman main Alex dibandingkan teman-teman perempuannya. Alex jugalah yang menceburkan Ingga pada klub motor itu sejak ia berumur 18 tahun dan menjadikan Ingga sebagai satu-satunya perempuan di kelompok tersebut.</p>
<p>Ibu sudah sering kali menasehati Ingga, untuk bisa menjadi lebih perempuan, berdandan dan berperilaku seperti halnya perempuan lainnya. Paling tidak nama yang diberikan oleh kakeknya, Pringgadani Prameswari yang berarti permaisuri dari Pringgadani bisa tercermin dalam tingkah lakunya. Tapi nyatanya, tumbuh sebagai anak perempuan satu-satunya dengan 4 orang kakak yang semuanya lelaki membuat Ingga tidak akrab dengan semua pernak pernik perempuan.</p>
<p>Sekarang, walaupun usianya sudah hampir 23, Ingga masih sangat lugu. Seorang perempuan tomboy dengan motor gede yang tidak mengetahui banyak tentang seluk beluk laki-laki. Padahal, sebagian besar teman Ingga di klub motor Honda di kota Bogor adalah lelaki. Mereka menjadikan Ingga yang tomboy, lucu dan lugu sebagai adik kesayangan mereka semua.</p>
<p>****</p>
<p>Mimpi itu ternyata benar-benar mengganggu pikirannya. Tadi siang, Galuh mendatanginya di kantin dan membawa satu kotak  makan siang. Spontan Ingga membuka kotak itu dan begitu terkejutnya melihat tumpukan sosis goreng di dalamnya. Ia berteriak histeris dan melemparkan kotak makanan itu pada Galuh.</p>
<p>Galuh hanya bisa tertawa dan sekaligus meratapi makan siangnya yang baru saja mendarat di lantai. Ia tidak bermaksud untuk menggoda Ingga. Karena menurutnya, itu adalah salah satu terapi yang paling manjur.</p>
<p>“Arrghhhh.. Galuh!!! Kurang ajar, loo!! Benci gue!!” teriak Ingga.</p>
<p>“Sorry-sorry, Ngga. Tapi kalo gak begini, lo akan takut terus. Masa ngeliat sosis aja lu bisa paranoid gitu sih?” Galuh mencoba menerangkan pada Ingga.</p>
<p>“Bodo amat. Pokoknya buang jauh-jauh benda itu. Jangan sampe gue liat di depan idung gue!”</p>
<p>“Tapi, kalo lo gini-gini terus, ntar lo malah gak mau punya cowok, kawin atau bahkan punya anak” Galuh mengungkapkan kekhawatirannya.</p>
<p>“Masa bodo!!!” Ingga kembali berteriak pada Galuh kemudian berlari keluar kantin. Galuh hanya bisa terdiam. Ingga memacu si Hitam, motor kesayangannya, menuju pertokoan baru di kota Bogor.</p>
<p>Ia marah karena apa yang dibicarakan Galuh barusan sangat mengena di dirinya. Ada satu hal yang dia tidak ceritakan ke Galuh. Diam-diam sebenarnya Ingga merindukan suatu hubungan romantisme. Sudah beberapa minggu belakangan dia sering melamunkan figur seorang lelaki yang bisa mengisi hari-harinya. Tapi semua keinginan itu buyar begitu mimpi-mimpi aneh itu datang. Ingga sendiri tidak habis berpikir kenapa mimpi seperti itu bisa menghantui dirinya selama tiga hari belakangan ini.</p>
<p>Ingga menyesal dengan kemarahannya yang tidak beralasan ke Galuh. Yang ia butuhkan untuk meredam emosinya adalah satu cangkir kopi panas dengan suasana yang menenangkan. Di sore hari seperti ini Starbucks café biasanya masih sepi. Ia membelokkan motornya menuju samping kanan pertokoan.</p>
<p>Tiba-tiba.. Braaaakk. Ingga pun terjatuh dari motornya. Sebuah mobil menabrak bagian depan motornya. Mobil itu tiba-tiba saja mundur dan membuat Ingga terjatuh di jalan. Semua orang mengerumuninya, termasuk si pengemudi. Beberapa orang berupaya membawanya ke teras pertokoan dan membuka helmnya.</p>
<p>“Mbak, tidak apa-apa?”, tanya si pengemudi. Ia begitu merasa bersalahnya hingga hanya bisa melihat wajah Ingga yang terlihat shock.</p>
<p>“Tidak apa-apa, embah lo!! Sakit nih. Makanya kalo nyetir tuh yang bener!”, tiba-tiba naluri macan Ingga mulai keluar.</p>
<p>“Ke rumah sakit aja ya mbak? Saya anterin,” jawab si pengemudi yang mulai pucat dengan hardikan Ingga.</p>
<p>“Gak perlu, gue mau ngopi. Mana motor gue?”</p>
<p>Ia sudah tidak peduli lagi dengan si pengemudi itu. Ia sebenarnya baik-baik saja, hanya kaget dan itu yang membuatnya terjatuh.  Ingga pun bangkit dan mengambil motornya yang sudah berdiri. Tiba-tiba ia menyadari bahwa semua orang sudah berada di sekelilingnya. Ia berusaha cuek dan membawa motor yang lecet di bagian tangkinya, menuju tempat parkir.</p>
<p>***</p>
<p>Ingga menikmati kopinya dengan tenang.. Tiba-tiba..</p>
<p>“Mbak, saya mau minta maaf.”</p>
<p>Si pengemudi tadi tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Ingga terkesiap, laki-laki yang sedang berdiri serba salah di depannya ternyata ganteng juga. Dengan wajah seperti Ahmad Dinejad versi muda dan mengenakan kaos polo biru, laki-laki itu terlihat sangat maskulin.</p>
<p>“Kok mas malah ke sini? Saya aja udah gak apa-apa kok.” Ingga kembali menjadi macan yang cuek, judes dan galak.</p>
<p>“Iya, tapi tadi satpam-satpam itu meminta saya untuk mendatangi Mbak. Disuruh meminta maaf. Kalo nggak saya bakal dilaporin ke polisi.”</p>
<p>Wajahnya begitu lugu dan ketakutan. Keringat  mengucur di dahinya.</p>
<p>“Yang bener? Emang kalo gue gak nuntut, lo bisa dibawa ke polisi? Jangan ngarang deh lo!” jawab Ingga.</p>
<p>“Hmm.. sebenernya nggak juga sih. Jadi, pas tadi saya ngeliat mbak, saya jadi kasihan dan ngerasa bersalah. Udah gitu, karena mbak cakep saya malah jadi pengen kenalan sama mbak. Jadi, saya datengin ke sini deh,” si pengemudi itu kembali menjawab dengan polosnya.</p>
<p>“O, gitu yah?” tiba-tiba saja Ingga menjadi tersanjung dengan gombalannya.</p>
<p>“Iya, mbak. Jadi saya dimaapin gak?” si pengemudi masih saja bersikukuh untuk meminta maaf.</p>
<p>“Ya udah gue maapin. Ntar lo gantiin aja biaya perbaikan tangki gue yah?” jawab Ingga sembari tersenyum.</p>
<p>Akhirnya mereka berdua pun terlibat dalam pembicaraan yang seru. Amir, si pengemudi itu ternyata baru kembali ke Indonesia enam bulan yang lalu.  Saat ini, ia membantu ayahnya mengelola perusahaan di daerah Cijeruk. Ingga yang semula berwajah seperti macan, pelan-pelan melunak. Tanpa dia sadari, ia merasakan getaran yang aneh setiap bertatapan mata dengan penabraknya ini. Tutur kata yang sopan dan keluguan Amir membuatnya luluh. Ia lupa pada penabrakan tadi, bahkan pada masalah mimpi dan sosisnya.</p>
<p>“Kamu sendiri aja? Emang gak ada yang ngawal?” tanya Amir</p>
<p>“Gak. Gue lebih suka sendiri kalau kemana-mana. Lebih bebas aja,” jawab Ingga. Sebuah jawaban yang memberikan tanda kalau ia masih sendiri.</p>
<p>“Ooo.. jadi kapan-kapan boleh dong saya ngawal kamu?&#8221; tanya Amir.</p>
<p>“Hmm.. tergantung. Lo bisa bawa motor gak?” jawab Ingga.</p>
<p>“Saya punya kok motor yang serupa dengan kamu di rumah. Kapan-kapan kita jalan bareng yah?”</p>
<p>“<em>Well, why not</em>?” jawab Ingga perlahan. Padahal dalam hatinya, sebuah jeritan keras tiba-tiba keluar. <em>YES!!! </em>Ingga pun tidak mengerti mengapa.</p>
<p>Tak terasa, magrib pun tiba. Amir pamit seraya memberikan nomor handphonenya. Ia mengajak Ingga touring motor ke Puncak, hari Sabtu ini. Sebuah tawaran yang tentu saja tidak ditolak Ingga. Namun, ia hanya tersenyum dan berjanji akan memberi kepastian hari Kamis besok.</p>
<p>Pada saat Amir hendak beranjak dari kursinya, tiba-tiba Ingga bertanya, “Eh., ngomong-ngomong, bokap lo bisnis apa di Cijeruk?”</p>
<p>“Kami punya perusahaan keluarga dan saat ini saya dipercaya sama keluarga buat jadi manajernya. Kapan-kapan kamu akan saya ajak keliling pabrik. Kamu suka sosis kan? Perusahaan kami salah satu produsen sosis besar di Indonesia, lho”, jawab Amir dengan mantapnya.</p>
<p>Ingga pun tiba-tiba histeris dan pingsan dengan suksesnya.</p>
<p style="text-align: left;">
<p><em>Berau, September 2007.<br />
Untuk mbak-ku.</em> <em>Gue posting juga akhirnya</em> <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> .<em><br />
Diedit dengan cerdas oleh <a href="http://www.erikahahaha.com" target="_blank">wiwin</a>. Thanks a lot!!<br />
Image: http://www.esljunction.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2008/06/27/ingga-mimpi-dan-sosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>when love meets science</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2007/04/26/when-love-meets-science/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2007/04/26/when-love-meets-science/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 12:40:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[ketika kita menyayangi seseorang, ternyata tidak semua hal berjalan sesuai yang diinginkan dan malah seringkali merusak. jika rasa sayang itu dianalogikan dengan populasi manusia di bumi dan saya adalah buminya, mungkin teori malthus adalah benar adanya. malthus (1798) mengatakan bahwa pertambahan populasi di dunia akan memberikan tekanan yang semakin tinggi pada sumber daya alam dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ketika kita menyayangi seseorang, ternyata tidak semua hal berjalan sesuai yang diinginkan dan malah seringkali merusak. jika rasa sayang itu dianalogikan dengan populasi manusia di bumi dan saya adalah buminya, mungkin teori malthus adalah benar adanya. malthus (1798) mengatakan bahwa pertambahan populasi di dunia akan memberikan tekanan yang semakin tinggi pada sumber daya alam dan juga menyebabkan supply makanan semakin tidak mencukupi sehingga membuat kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. terbukti, ketika rasa sayang itu bertambah, ternyata malah membuat diri ini menjadi semakin sakit.</p>
<p>tapi mungkin itu juga terlalu berlebihan, karena malthus memang tidak memperhitungkan bahwa manusia akan menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan produktivitas dan mengelola sumberdaya alamnya. ini seperti yang boserup (1965) katakan, bahwa jika dalam jumlah populasi yang optimum ataupun proses pertumbuhan populasi yang stabil/<em>sustain </em>maka, pertumbuhan populasi justru malah akan meningkatkan produktifitas, terutama di bidang pertanian. karena manusia akan melakukan intensifikasi pertanian dan memberikan input-input beserta teknologi baru pada aktivitas pertanian. terbukti, hidup saya jauh lebih produktif ketika rasa sayang saya ke kamu ada dalam jumlah yang wajar.</p>
<p><span id="more-150"></span>daily <em>et al</em> (1994) menyebutkan angka 1.5 sampai 2 milyar manusia di bumi sebagai jumlah optimum manusia di bumi. melihat hal tersebut, maka saya seharusnya bisa menyesuaikan jumlah rasa sayang itu ke kamu dengan melihat <em>carrying capacity </em>(1) saya. tapi ternyata saya tidak memperlakukan dan mengelola diri ini dengan baik dalam upaya memperbaiki <em>carrying capacity</em> itu. seperti layaknya manusia lain yang rakus, saya malah menambah rasa sayang itu tanpa melihat kondisi dan realitas.</p>
<p>saya lupa, seperti yang wilkinson (1973) katakan, bahwa setiap manusia dan system teknologi memiliki potensi untuk menambah potensi/keinginannya di luar limit sumber daya alam yang tersedia. pada akhirnya hal tersebut hanya akan mengganggu keseimbangan antara populasi dan sumberdaya alam. apalagi jika itu ditambah dengan faktor-faktor eksternal, maka potensi tersebut akan semakin cepat bertambah. pada saat itu saya hanya melihat keindahan kamu, perlakuan kamu ke saya dan faktor-faktor luar lain, yang pada akhirnya membuat saya semakin menambah populasi rasa sayang itu. padahal, itu ternyata malah membuat saya semakin tersiksa. kapasitas saya ternyata bukan untuk jumlah rasa sayang yang sedemikian banyak. <em>*uhm.. saya seperti bumi yang memproduksi sendiri populasi manusianya. bumi yang anehâ€¦*</em></p>
<p>setelah melalui pertimbangan yang sangat mendalam, maka saya memutuskan untuk berhenti mencintai kamu. hal itu justru karena saya menyayangi kamu sedemikian besarnya. jangan merasa aneh dengan keputusan itu, karena ehrlich dan ehrlich (2002) pernah menuliskan bahwa untuk mencapai <em>sustainable global society</em> maka perlu dilakukan perubahan besar pada jumlah populasi, jumlah konsumsi dan penggunaan teknologi. karena itu saya menerapkannya dengan mengontrol (mengurangi) populasi rasa sayang ke kamu, mengurangi jumlah konsumsi ke tubuh ini *<em>hmm.. gak gitu-gitu banget sih</em>*, dan melakukan aktivitas yang bisa membuat saya melupakan kamu. itu semua karena saya telah melihat <em>carrying capacity</em> saya, dan harus diakui bahwa jumlah populasi rasa sayang yang dimiliki ternyata berada jauuuh melebihi kapasitas yang ada. jadi biarlah rasa sayang itu ada dalam jumlah yang seharusnya atau bahkan semakin hilang. yang pasti, ini semua untuk kebaikan kita bersama. saya tidak mau merusak diri saya sendiri, diri kamu dan kehidupan kamu.</p>
<p>lebih jauh, saya pun takut bahwa kamu hanya akan menjadi sebuah barang ekonomi buat saya, seperti halnya barang-barang ekonomi lainnya. dimana disaat saya mendapatkan kamu dan mempergunakannya, ternyata <em>value </em>kamu semakin berkurang dan pada akhirnya malah mengurangi rasa sayang ke kamu. kurang ajar memang jika memperlakukan manusia seperti itu (dan itu saya akui). tapi saya tidak mau kehilangan rasa sayang saya ke kamu, dan salah satu caranya adalah dengan tidak memiliki kamu. karena dengan begitu saya tidak harus mempergunakan kamu dan <em>value </em>kamu (untuk saya) akan tetap ada.</p>
<p>tidak memiliki kamu dan memilih orang lain, pada akhirnya menjadi <em>opportunity cost </em>(2) yang harus saya ambil. tapi hidup memang untuk memilih bukan? dan keputusan saya tersebut merupakan strategi untuk membuat hidup saya dapat berlanjut hingga ke masa depan. <em>a sustainable life management</em>. sekali lagi..  semua ini saya lakukan karena saya memang sangat menyayangi kamu dan kehidupan saya (juga kamu).</p>
<p>&#8230;dan ternyata itu pun sama sakitnya dengan memilih untuk menyayangi kamu.</p>
<p><strong>references:</strong></p>
<p>boserup e. 1965. <em>the conditions of agricultural growth: the economic of agrarian change under population pressure</em>. new york: aldine publishing company.</p>
<p>daily, g.c, ehrlich, a.h, and ehrlich, p.r. 1994. <em>optimum human population size. </em>population and environment. volume 15 (6). human sciences press, inc.</p>
<p>ehrlich p.r. and ehrlich a.h. 2002. <em>population, development and human natures</em>. Environment and development economics. 7:158-170. cambridge university press.</p>
<p>malthus. 1798. <em>an essay on the principle of population</em> (1st edition) with a summary view (1830), and introduction by professor anthony flew. penguin classics.</p>
<p>wilkinson, r.g. 1973. <em>poverty and progress: an ecological model of economic development</em>.  london : methuen</p>
<p><strong>footnotes:</strong></p>
<p>(1) carrying capacity usually refers to the biological carrying capacity of a population level that can be supported for an organism, given the quantity of food, habitat, water and other life infrastructure present (wikipedia).<br />
(2) in economics, opportunity cost, or economic cost, is the cost of something in terms of an opportunity forgone (and the benefits that could be received from that opportunity), or the most valuable forgone alternative (or highest-valued option forgone), i.e. the second best alternative. for example, if a city decides to build a hospital on vacant land that it owns, the opportunity cost is the cost of some other thing that might have been done with the land and construction funds instead. in building the hospital, the city has forgone the opportunity to build a sporting center on that land, or a parking lot, or the ability to sell the land to reduce the city&#8217;s debt, and so on (wikipedia).</p>
<p>ps: citations and footnotes are not in a proper-scientific-way. not for copied.</p>
<p><em>untuk kamu.. yang pernah mengisi hidup dan mengganggu keseimbangan populasi di tubuh ini.</em> <em>kenapa kamu hadir kembali di saat saya sedang pusing dengan teori-teori keparat inih?? siigh.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2007/04/26/when-love-meets-science/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>terima kasih..</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2006/11/20/terima-kasih/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2006/11/20/terima-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Nov 2006 00:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;terima kasih..&#8221; &#8220;buat apa?&#8221; &#8220;semuanya&#8230; &#8221; &#8220;gak perlu&#8230; &#8220; &#8220;kenapa kamu selalu melarang aku mengatakan itu..&#8221; &#8220;loh.. emang kenyataannya gak perlu bilang seperti itu.. buat apa juga kamu bilang itu..&#8221; &#8220;jadi, aku gak perlu bilang itu&#8230;.walaupun kamu pantas mendapatkannya?&#8221; &#8220;gak usah.. itu bisa dirasakan.. tak perlu diucapkan&#8221; &#8220;&#8230;..&#8221; **** aku pandangi luar jendela kamar ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;terima kasih..&#8221;<br />
<em>&#8220;buat apa?&#8221;</em><br />
&#8220;semuanya&#8230; &#8221;<br />
<em>&#8220;gak perlu&#8230; &#8220;</em><br />
&#8220;kenapa kamu selalu melarang aku mengatakan itu..&#8221;<br />
<em>&#8220;loh.. emang kenyataannya gak perlu bilang seperti itu.. buat apa juga kamu bilang itu..&#8221;</em><br />
&#8220;jadi, aku gak perlu bilang itu&#8230;.walaupun kamu pantas mendapatkannya?&#8221;<br />
<em>&#8220;gak usah.. itu bisa dirasakan.. tak perlu diucapkan&#8221;</em><br />
&#8220;&#8230;..&#8221;</p>
<p>****<br />
aku pandangi luar jendela kamar ini. gelap dan hanya sederetan lampu neon yang berpendar menjadi penghias hitam. hembusan asap sampoerna mild ditemani sekaleng grolsch-bier menjadi kombinasi lengkap saat ini. kamarku sendiri gelap dan hanya sebatang lilin aroma yang kunyalakan. &#8220;pakai lilin buat menghilangkan bau rokok kamu&#8230;&#8221;, begitu menurutnya suatu waktu. aku coba dan berhasil. bau rokok di kamarku secara berangsur menghilang dan tergantikan dengan wangi vanila yang cukup menenangkan. entah sudah berapa ratus lilin yang aku nyalakan hingga malam ini. namun lilin ternyata tidak bisa menghilangkan harum tubuhnya di ruangan ini.<span id="more-102"></span></p>
<p>pertama kali mengenalnya di tahun 2004, di sebuah jamuan makan yang sama sekali tidak menimbulkan rasa simpati. wajahnya yang angkuh dengan  pandangan mata tajam malah membuatku tidak menyimpannya di memori. kapasitas memori otakku memang tidak terbatas namun bisa memilih mana yang harus aku simpan dan mana yang harus aku abaikan. saat itu, ia adalah salah satu yang termasuk kategori terakhir.</p>
<p>entah bagaimana caranya, tapi ia berhasil mengirimkan pesan pendek di telepon genggamku seminggu kemudian. penasaran dengan nomor yang tertera di sana aku coba untuk meneleponnya. ternyata ia dan suaranya yang sangat khas itu. pastinya, itu bukan pembicaraan kami yang terakhir dan kota sunyi ini pun terasa lebih ramai.</p>
<p>semua terjadi begitu saja. kami bicara mengenai konsep hidup dan masa depan, persenjataan angkatan darat di negara ini, canggihnya koleksi komputer apple yang baru, novelnya seno, coelho dan ellis, musiknya morrison, sting, slank hingga dangdutnya rhoma irama, resep masakan di internet, keluarganya yang seperti kapal pecah, keluargaku yang seperti kapal pesiar, tukang nasi goreng di komplekku hingga orang gila di depan sekolahnya dahulu. tidak ada batas, baik waktu maupun materi, yang ada hanya rasa.</p>
<p>aku memang teramat muda baginya. jarak 11 tahun di antara kami membuatku lebih seperti keponakannya-nya. tapi ternyata rasa mengalahkan semua rasionalitas. aku mampu membuat kenangan masa kecilnya bangkit dan ia mampu membuat aku menjadi lebih mengerti makna hidup. entah hidup yang mana. entah bagian cerita mana yang mampu membuatku mengambil kesimpulan seperti itu. yang pasti, sejak itu tiada hari kami lewati dengan kesendirian.</p>
<p>kami adalah ibarat pelengkap bagi yang lain. ia adalah koki yang handal dan aku adalah penikmat makanan yang baik. ia memiliki penyakit narsis akut dan aku adalah orang yang gila dengan fotografi. ia adalah penggila teknologi komputer dan aku adalah penulis lepas majalah teknologi. ia adalah penyuka permainan dengan otak dan aku adalah otak dari semua permainan. ia sangat suka dandan dan aku adalah orang yang perlu didandani. ia adalah seorang <em>good kisser</em> dan aku menyenangi orang yang bisa mencium dengan baik. yang berbeda&#8230; aku suka mengatakan terima kasih&#8230; dan ia merasa bahwa itu tidak perlu.</p>
<p>hingga hari itu&#8230;</p>
<p><em>&#8220;terima kasih..&#8221;</em><br />
&#8220;buat apa?&#8221;<br />
<em>&#8220;semuanya&#8230; &#8220;</em><br />
&#8220;kamu selalu mengatakan itu tidak perlu.. kenapa sekarang malah kamu katakan itu?&#8221;<br />
<em>&#8220;pengen aja&#8230;&#8221;</em><br />
&#8220;kenapa?&#8230;&#8221;<br />
<em>&#8220;&#8230;.gak tau..&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;jadi?&#8221;</em><br />
&#8220;apa?&#8221;<br />
<em>&#8220;terima ucapan terima kasih ku..?&#8221;</em><br />
&#8220;sama-sama.. &#8221;<br />
<em>&#8220;it was great.. terima kasih&#8221;</em><br />
&#8220;tuh kan.. kamu bilang itu lagi&#8221;<br />
<em>&#8220;hehehehe&#8230;&#8221;</em></p>
<p>****<br />
itu menjadi ucapan terima kasih pertamanya.. dan juga terakhir.  ia tidak pernah kembali lagi padaku karena Tuhan lebih sayang padanya. meninggalkanku dengan sebuah ucapan terima kasih yang tak pernah hilang. ucapan yang aku tahu, berasal dari hati, untuk semua yang telah kami jalani hingga saat ini. aku tidak pernah menjadi siapapun baginya. aku hanya berada di lapisan ketiga dan keempat dalam hidupnya. namun ia tidak akan pernah tahu bahwa ucapan terima kasihnya telah membuatku merasa berada di baris paling depan dalam menjalani hidupku.</p>
<p><em><br />
non.. thank you.<br />
i think you know that it&#8217;s not a matter of a thank for you..<br />
itu adalah sebuah semangat untuk menjalani hidup..<br />
penghargaan untuk sebuah bentuk relasi..<br />
dan sebuah ketulusan untuk berani mengungkapkan rasa.</em></p>
<p><em>so.. <strong>say it!!</strong> and you&#8217;ll see the difference in someone&#8217;s life because of that..</em></p>
<p><em>inspired by: them and brownies the movie.<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2006/11/20/terima-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sebuah permintaan..</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2006/06/12/sebuah-permintaan/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2006/06/12/sebuah-permintaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jun 2006 11:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[hai. kamu lagi-lagi duduk sendiri di sudut cafe itu. wajah kamu terlihat sangat pucat sekali. masih terlihat sehat sih. pasti karena latihan beladiri itu kan? hampir setiap hari kamu lakukan itu. tentu membuat tubuh kamu semakin berisi dan terbentuk. tidak tertarik aerobik (pertanyaan basi ya)? seperti halnya para wanita lain seusiamu. tapi, ah.. kamu memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hai. kamu lagi-lagi duduk sendiri di sudut cafe itu. wajah kamu terlihat sangat pucat sekali. masih terlihat sehat sih. pasti karena latihan beladiri itu kan? hampir setiap hari kamu lakukan itu. tentu membuat tubuh kamu semakin berisi dan terbentuk. tidak tertarik aerobik (<em>pertanyaan basi ya</em>)? seperti halnya para wanita lain seusiamu. tapi, ah.. kamu memang selalu berbeda. bahkan kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu selalu ingin tampil berbeda dari orang lain. hebat..</p>
<p>tapi.. yang pasti kamu itu memang baik. itu yang membuat saya betah di sisi kamu (<em>namun itupun karena saya memang tidak bisa meninggalkan kamu hingga saatnya tiba</em>). kamu selalu memikirkan orang lain atau makhluk lain yang tidak pernah kamu kenal sebelumnya. saya jadi ingat ketika kamu memberi makan anjing kecil yang &#8216;menangis&#8217; di pojokan gang rumahmu. atau.. kamu yang membeli sekantung pisang dari seorang bapak penjual yang sangat tua sekali. kamu bahkan menitikkan air mata karenanya. ah.. ternyata kamu melankolis sekali yah. berbeda jauh dengan apa yang kamu perlihatkan pada orang lain. saya beruntung loh bisa melihat sosok lain dari kamu.</p>
<p><span id="more-59"></span>beberapa minggu ini, saya sering memandang kamu dari kejauhan. beberapa kali kadang dekat sekali. namun kamu pasti tidak pernah menyadari kehadiran saya. kamu kadang menangis kecil di depan notebook kecil kamu itu. mata kamu menerawang jauh. memandang kaca jendela di depanmu. namun, kamu selalu hapus dengan tanganmu yang indah itu. kamu kadang berteriak betapa hidup ini tidak adil. kamu kadang ingin tidak dilahirkan saja. tapi kalau kamu tidak dilahirkan, saya tentu tidak akan bertemu dengan wanita super seperti kamu dong. kamu seringkali berteriak di dalam kamar dan dilanjutkan dengan ritual menangis di bawah bantal putih kamu. esoknya, kamu kembali berada di kantor dengan sosok yang lain. sosok yang tegar. sosok yang mandiri. sosok wanita super dambaan saya. kamu memang hebat, bisa menutupi semua itu.</p>
<p>padahal kamu itu beruntung loh.. wajah kamu cantik&#8230; ayah kamu kaya.. gaji kamu? waaah.. jangan tanya. apa yang kamu inginkan hanya tinggal mengejapkan mata. dan semua sudah ada di genggaman.  dan dengan banyaknya materi yang kamu punya itu membuat saya tidak ada gunanya buat kamu. walaupun menurutmu, kamu merasa nyaman di samping saya karena saya pendengar yang baik.</p>
<p>namun, saya juga ingin pergi meninggalkan kamu. masih banyak yang harus saya lakukan di dunia saya. tapi saya tidak bisa pergi dari kamu, sampai saya mengabulkan tiga permintaan kamu. itu syaratnya, karena kamu sudah membebaskan saya setahun yang lalu.</p>
<p>tapi.. permintaan kamu kemarin, membuat saya pusing. waduuh.. saya baru dengar itu. dan kamu bahkan gak pernah mau merubah permintaan itu. sepanjang 1792 tahun saya hidup, baru kali ini saya mendapat permintaan seperti itu. dan saya, jujur saja, tidak tahu bentuknya. kamu tidak mengada-ngada kan? bukan supaya saya tidak pergi dari kamu kan? secara kamu sudah tau syarat yang bisa membuat saya pergi meninggalkan kamu.</p>
<p>tapi, saya percaya sih. permintaan kamu itu pasti dari dalam hati. saya pernah dengar hal itu. tapi sepertinya.. di dunia kamu itu tidak ada yang pernah memiliki itu. jadi.. kamu gak usah berharap punya hal itu. itu hanya dongeng belaka. seperti halnya sepatu kaca cinderela ataupun tongkat raja midas. walaupun saya bisa kasih kamu kedua hal itu. see, dongeng pun masih bisa saya kabulkan. tapi untuk yang ini.. saya nyerah deh.</p>
<p>jadi saya mohon.. kamu jangan seperti ini terus. saya tak tahan melihat kamu seperti ini. dunia kamu seperti hilang. kamu menjadi orang yang berbeda dengan pertama kali saya kenal di tempat sampah. kamu yang dengan cerianya membawa saya ke kamar kamu yang cantik. kamu yang membuat saya bisa melihat dunia kamu. kamu yang menjungkirbalikan definisi saya terhadap seorang wanita. kamu yang hebat.</p>
<p>so.. please.. biarkan saya menjalankan tugas saya sebagaimana mestinya. mintalah tiga hal yang lain. jangan meminta.. <strong>cinta</strong>. saya tidak tahu bagaimana mengabulkannya. saya cuma jin bodoh yang hanya tahu materi dan bukan hal abstrak seperti itu. maafkan saya.</p>
<p><em>dadali 32, menjelang senja</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2006/06/12/sebuah-permintaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

