mei ternyata bulan yang indah buat gue.. at least awal-awal bulannya, huehehehe. selain gaji masuk, cuaca makin membaik dan gue sepedahan mulu *dan jadi sehat toh?*, kemaren gue dapet ipod-touch, dan…….. untuk pertama kalinya pula.. artikel gue masuk di majalah!!! majalah eve-indonesia pula!!! *guling-guling.. sambil nangis darah saking gak percaya*
artikel yang gue buat bercerita tentang traveling di berau.. one of my favorite places in indonesia. tempat gue penelitian.. tempat gue jalan-jalan-jalan.. tempat di mana gue menemukan banyak orang-orang baik dan hebat. i can’t wait to go there again, end of this year. mau ikut? hayu hayu hayu…
thanks buat guni yang maksa-maksa gue buat nulis *tapi worth banget kok*.. redaktur eve indonesia.. ija buat foto underwaternya.. wiwin buat editannya (juga imey dan guna yang baca duluan).. dan tentunya orang-orang di berau yang bikin ini semua jadi lebih mudah untuk ditulis. so? buruan beli majalahnya yah.. mulai terbit besok tuh!

Read More
|
May 6, 2008 - 10:33 am
|
aaqq

salah satu titik balik dalam kehidupan gue adalah ketika gue bergabung dengan icraf (international centre for research in agroforestry dan bukan pabrik KEJU!!) di tahun 2000, yang sekarang bernama world agroforestry centre. dari pedalaman dan hutan di riau sana, gue balik ke bogor dan mengerjakan salah satu project mereka di palembang *thanks to pak suyanto dan yengki for the opportunity*. saat itu gue menjadi asisten peneliti di lapangan untuk project kebakaran hutan di indonesia.
banyak yang gue dapet, mulai dari naik pesawat terbang pertama kalinya dalam hidup, jalan-jalan ke banyak tempat di indonesia, gaji yang cukup lumayan, dan yang paling berkesan adalah bertemu banyak orang baru. mereka adalah orang-orang yang selalu menyambut ramah ketika kami datang ke tempat mereka. beberapa bahkan menjadi sahabat (bahkan saudara) baru gue hingga saat ini.
Read More
|
March 25, 2008 - 10:39 pm
|
aaqq

singapore ternyata bisa juga sunyi. malam hari bermandikan cahaya lampu, singapore memperlihatkan kesunyiannya. namun, kesunyian ternyata tidak menyembunyikan keangkuhannya. ia tetaplah garang, selayaknya merlion yang kokoh berdiri tegak, seraya mengaum untuk menjadi yang terbaik di asia, bahkan dunia. ah, kapan tetangganya akan seperti dia?
enjoy singapore dulu saja lah!!
|
December 14, 2007 - 9:19 pm
|
aaqq
senang rasanya dikunjungi sahabat-sahabat di tempat di mana kita bekerja.. dan mereka menjadikan perjalanan, pekerjaan, dan liburan ini menjadi seperti surga. derawan, maratua, sangalaki dan kakaban pun menjadi surga bagi kami semua, lima anak muda yang haus petualangan. huekekekek.. thanks to ija, atta, alaya dan degi untuk menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.
foto-foto selama perjalanan, hanya bisa dilihat di sini.. ok? ENJOY..
|
November 1, 2007 - 4:56 am
|
aaqq
ramadhan di tanah berau..
adalah berpuasa dengan hawa yang sangat panas, di mana matahari bersinar dengan kencangnya, tepat di atas ubun-ubun pada saat siang menjelang. lokasinya yang berada tak jauh dari garis ekuator, begitu menguji keimanan untuk terus berpuasa. panas.. panas.. panas..
ramadhan di tanah berau..
adalah bersahur bersama ‘keluarga baru’ di kost-an tanjung redep, yang dengan setia me-miss call-kan saya pada jam 3 subuh, kadangkala dengan gedoran di pintu akibat malas bangun. juga pengalaman sahur dengan sahabat-sahabat baru, yang dengan baiknya memasak serta membangunkan saya ketika berada di kampung. thanks, tri!!
ramadhan di tanah berau..
adalah rasa bangga melihat sang bapak pemilik rumah memasak untuk sahur di hadapan istri, ketiga anak lelakinya, keponakannya, serta satu orang asing dari tanah jawa. ikan kakap asam manis, tempe kecap, ataupun capcay menjadi menu sahur yang sangat sayang untuk dilewatkan. sebuah kebiasaan yang membuat saya berjanji untuk belajar memasak lebih baik lagi, juga keinginan untuk memiliki anak (heh, naon hubungan nana?).
Read More
|
October 12, 2007 - 3:37 am
|
aaqq
perjalanan saya kali ini menuju sisi sebelah timur kabupaten berau. ke arah laut tepatnya. ada dua desa yang menjadi tujuan utama saya, yaitu tanjung batu di pesisir dan derawan di tengah gugusan pulau-pulau cantik itu.
empat jam
niat baik memang tak selamanya akan berjalan dengan baik pula. dengan semangat enam sembilan dan keinginan untuk bisa buru-buru melakukan penelitian di desa, saya bangun pagi-pagi sekali dan membawa barang ke sebuah pengkolan di tepian sungai segah. beberapa mobil kijang angkutan ke desa tanjung batu sudah berjejer di sana. jam 9 pagi saya pun bersiap di mobil. belum ada siapa-siapa. ah.. menunggu muatan mungkin. sejam..dua jam.. saya mulai curiga. si supir juga mulai terlihat gelisah. beberapa kali mengatakan ke saya untuk menunggu sebentar lagi. alhasil.. setelah tiga jam menunggu, kesabaran saya memuncak dan siap meluapkan kemarahan. namun, si supir dengan santainya mengatakan, “nanti jam 1 kita berangkat ya mas”. whaaaaaaaaaaat??
akhirnya.. dengan nafas yang tersisa saya sabarkan hati ini, menunggu beberapa penumpang yang ternyata sudah ada sejak tadi pagi. mereka dengan santainya sedang berbelanja di pasar, mengambil gaji bulanan mereka sebagai guru, dan beberapa bahkan sedang makan di warung terdekat. yang lain, bahkan di jemput di rumahnya. sialaaaaaan!!!
Read More
|
September 11, 2007 - 6:25 pm
|
aaqq
perjalanan
perjalanan ke hulu sungai segah ternyata memerlukan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa. perjalanan hampir 5 jam, termasuk bercengkerama dengan sekretaris camat dan makan siang di rumah makan kecil di tepian buah, terasa begitu panjangnya. melewati areal perusahaan HPH dan beberapa desa transmigrasi, saya dibawa pada kenangan beberapa tahun silam ketika masih menggunakan baju korps rimbawan ala mahasiswa fahutan ipb. jalan tanah yang diperkeras, hutan di kanan-kiri jalan, serta beberapa kali berpapasan dengan truk-truk pengangkut kayu gelondongan yang besarnya tak terkira, menjadi penghias perjalanan menuju kampung-kampung di hulu sungai segah. saya sebenarnya bisa saja menggunakan perahu ketinting bermotor di tepian buah untuk meluncur ke kampung-kampung tersebut, namun perjalanan yang dapat memakan waktu lebih kurang 5 jam serta ganasnya jeram-jeram yang harus dilalui, membuat saya memutuskan untuk ikut kendaraan 4 roda-berkendara (wheel-drive.. he he), milik salah satu lembaga konservasi internasional di kabupaten berau ini.
tiba di ujung jalan, kami terhenti oleh sungai besar yang menjadi pembatas long laai, kampung tujuan saya. setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya dua orang gadis perempuan menjemput kami di tepian dan membawa kami beserta barang-barang dengan susah payah. kampung dayak yang satu ini memang berbeda dengan kampung terakhir yang saya datangi. jarak yang jauh dari kota membuat kehidupan dan roda ekonomi berjalan cukup lambat. namun seperti kampung yang kemarin, genset kampung yang tersedia membuat mereka memiliki televisi dan antene parabola di setiap rumah. rumah panggung dengan tiang yang cukup tinggi menjadi pemandangan yang umum di sini. untuk memasuki rumah pun, kami harus mendaki tangga-tangga ramping yang dibuat cukup menukik dan, tentunya, sakit jika terjatuh.
Read More
|
August 29, 2007 - 11:27 am
|
aaqq