<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aaqq&#124;dot&#124;net &#187; Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.aaqq.net/category/living-in-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aaqq.net</link>
	<description>a life in a blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2012 16:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>indo trip: short time great value</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/12/11/indotrip/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/12/11/indotrip/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 21:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[setiap orang suka kejutan, apalagi kejutan yang manis, seperti saya. walaupun, seringkali jika berharap mendapat kejutan, saya malah tidak mendapatkannya. bulan puasa lalu, saya (lagi-lagi) mendapatkan kejutan manis. bagaimana tidak, si bapak boss yang baik hati itu tiba-tiba menawarkan sebuah tiket amsterdam-jakarta pulang pergi dengan imbalan saya harus jalan-jalan.. eh, bekerja.. bersama dia di danau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="the green belt by aaqq, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/rpermana/4175514132/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2625/4175514132_8bd280b4ac_b.jpg" alt="the green belt" width="520" /></a><br />
setiap orang suka kejutan, apalagi kejutan yang manis, seperti saya. walaupun, seringkali jika berharap mendapat kejutan, saya malah tidak mendapatkannya. bulan puasa lalu, saya (lagi-lagi) mendapatkan kejutan manis. bagaimana tidak, si bapak boss yang baik hati itu tiba-tiba menawarkan sebuah tiket amsterdam-jakarta pulang pergi dengan imbalan saya harus jalan-jalan.. eh, bekerja.. bersama dia di danau singkarak dan jambi selama dua minggu. siapa yang tidak mau?</p>
<p>ternyata itu belum cukup. saya malah <em>ngelunjak</em> dengan meminta keberangkatan yang seyogyanya dilakukan bulan oktober itu, dimajukan sekitar satu bulan.  alhasil, lagi-lagi dengan kebaikan hatinya si bapak boss memberikan izin sehingga saya bisa berlebaran bersama keluarga. dan tiga hari sebelum hari raya saya pun meninggalkan belanda.</p>
<p><span id="more-826"></span>lalu, siapa yang bilang dua bulan itu waktu yang lama untuk bepergian? <em>damn, it&#8217;s short, in particular if you have so many plans in your head, pals!</em> dua bulan dua minggu saya lalui pada perjalanan kali ini, <em>and that was really an exhausted, mentally and physically, two months trip with so many things attached</em>. <em>an unexpected trip with many things that important for my life in the next coming months (or even, years).</em></p>
<p><em>and when i sat down in the sq flight that took me back to amsterdam, i felt so relieved. i closed my eyes and smiled when i thought about what had happened during the last 2.5 months back.</em></p>
<p>ya, tak hanya saya, tapi juga semua keluarga dan juga si mbil begitu terkejutnya ketika saya pulang ke indonesia. <em>they didn&#8217;t expect that i will come back that soon. </em>maka, lebaran kali ini menjadi lebih meriah tidak hanya karena semua berkumpul di rumah, namun juga karena ada saya *<em>jiyaaah</em>*. semua keluarga besar pun berkumpul. tak lupa para keponakan-keponakan baru dari sepupu-sepupu yang telah beranak pinak. pertanyaan ke saya masih sama: kapan? tapi tidak sesering tahun lalu. mungkin mereka juga sudah menyerah dengan jawaban amburadul saya. atau mungkin karena saya punya si mbil? atau karena mereka lupa gara-gara ketupat dan paru goreng buatan si mamah yang memang bisa menghipnotis orang? entahlah.</p>
<p><a title="derawan island by aaqq, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/rpermana/4173001448/"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2619/4173001448_e166d42e29_b.jpg" alt="derawan island" hspace="5" width="200" align="left" /></a> tapi, trip kali memang bukan liburan, meskipun housemates saya bersikeras kalau tempat riset saya adalah tempat berlibur. ya mereka memang tidak salah. tapi, siapa yang bisa menahan diri untuk pergi ke berau yang seperti layaknya surga di kalimantan timur itu? maka, tak lama setelah lebaran, saya pun menghilang dan menyepi di berau untuk 2 minggu. tidak hanya untuk melengkapi data-data yang kurang, namun juga untuk melepas kerinduan pada tanah berau dan orang-orang baik di sana.</p>
<p>masih belum cukup, saya dan si boss baik hati pun bekerja (<em>yes, we worked there!</em>) menyelesaikan dua project yang baru dimulai, yaitu rubber jungle project in jambi and carbon project in danau singkarak. walau pekerjaannya cukup menguras otak dan emosi, namun saya terhibur oleh alamnya yang memang menakjubkan. selain itu, saya pun dimanjakan oleh makanan-makanan khas jambi dan padang yang rasanya memang tidak diragukan lagi. juara! sebut saja rendang, dendeng batokok, gulai kambing pedas, sate padang, martabak mesir dan berpuluh-puluh sajian kuliner lainnya. masih belum cukup, saya pun mendapat durian runtuh dalam arti yang sebenarnya. <em>it&#8217;s a durian season!!!</em> yeaaah! maka, tiada hari tanpa durian saya lalui di sana. dimulai dengan hanya tiga buah hingga akhirnya membeli 25 buah durian dalam sekali waktu. gila? emang.</p>
<p><img class="alignright" src="http://www.negerivanoranje.nl/wp-content/uploads/2009/12/11266_190313551932_589671932_3485411_613071_n.jpg" alt="" hspace="5" width="200" align="right" /> saya juga akhirnya merasakan yang namanya, talkshow. hooray! bersama adept dan wahyu, kami pun ber-lenong ria di senayan bercerita panjang lebar soal pembuatan novel negeri van oranje, plus suka duka selama masa penulisan. agak grogi juga di awal. apalagi ditonton semua teman-teman yang begitu antusias mendengarkan cerita dari novel ciamik itu. <em>but, i like it tough</em>. banci tampil dan ngomong ternyata ada di dalam darah saya. haha. sayang, talkshow kedua yang dilaksanakan di kota kelahiran saya, ternyata akan dilakukan setelah saya terbang ke belanda. ugh, sungguh tega memang mbak bentang ini.</p>
<p>satu lagi kejutan saya terima, ketika salah satu sahabat kami di metro tv mengatakan bahwa novel kami akan tampil di acara kick andy. kami hanya bisa berteriak: kick andy? wooow? loncat. pingsan. dan lagi-lagi sebagai banci tampil saya berharap bisa masuk tipi nasional. tapi memang segala sesuatu yang diharapkan berlebihan itu tidak selalu mulus jalannya. kick andy ternyata syuting di saat saya sedang berada di tengah rimba jambi sumatera sana. saya pun pingsan lagi. untuk menghibur diri, saya selalu  bilang bahwa nvo sampai di kick andy saja sudah menjadi  kehormatan tertinggi bagi kami, para penulis newbie. tapi tak lupa, dilanjut dengan berdoa kencang2: semoga bung andy berkenan mengundang kami di lain kesempatan. amiiiiiiin.</p>
<p>pulang, tak bilang2 pun akan tercium baunya. maka kepulangan saya kemarin juga menjadi ajang reuni. mulai dari teman sd hingga teman-teman kuliah di belanda. saya bahkan ikut pesta blogger 2009 yang memang cihuy itu. namun, tidak semua teman sempat saya ditemui. saya merasa malas untuk bepergian ke sana kemari. bukan berarti saya tidak <em>rindu</em> mereka semua, namun sepertinya rasa capek dari perjalanan ke luar kota berpengaruh pada mood dan stamina. saya pun menjadi lebih senang berada di rumah. tanda-tanda penuaan? ya iya lah mang.</p>
<p>tapi rasa capek tidak untuk si mbil. kepulangan saya saat itu saya pakai untuk mengenalnya lebih jauh, termasuk keluarganya. tidak hanya bandung, salatiga pun saya sambangi demi mengenal si papah dan si mamah. ia pun saya bawa ke keluarga inti di bogor. sebuah proses yang menantang dan menyenangkan buat kami berdua. maka, ketika pesawat terbang tiba di amsterdam pada sebuah subuh yang dingin, saya tersenyum kembali pada sebuah janji yang kami buat. janji yang membuat saya kembali memiliki tujuan untuk hidup saya kelak.</p>
<p>janji apa? ah rahasia. doakan saja kami bisa melaluinya ya.</p>
<p>add. :</p>
<p>o iya, saya juga memundurkan tanggal kepulangan karena harus hadir di pernikahan dua orang sahabat. alaya dan fanny *gile ya al.. ampe segitunya gue, haha*. selamat ya guys. mo liat kawinannya kaya apa? cek aja di blog <a href="http://www.aalayaa.com" target="_blank">alaya</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/12/11/indotrip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 7: an epilogue (plus special feature: extended scenes)</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 09:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.

tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4416.jpg" alt="" width="200" /><strong>previously on BERAU season 2 <a href="http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/">episode 6</a>:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>trip terakhir di berau selesai sudah. paling jauh, paling sulit aksesnya, dan paling indah pemandangannya. beragam pengalaman saya alami, mulai dari ketinggalan kotak makanan, disangka intel, berperahu melawan ganasnya jeram sungai segah, hingga mandi lumpur. </em><em>fiuh, what a trip!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 7</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span id="more-353"></span><em>life goes o</em>n dan perubahan yang saya harapkan ternyata tidak semudah yang diharapkan. ini adalah masalah ekspektasi yang berlebihan dari hal kecil yang saya lakukan. saya pun belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif ‘orang kota’ yang <em>mengaku-ngaku</em> berpendidikan. dan tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif orang (lugu) yang baru hidup 30an tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ingin rasanya saya berteriak melihat potensi mereka terhambat hanya karena hal-hal yang berada di luar jangkauan (saya dan mereka). saya hanya bisa menangis dalam hati. dengan berbesar hati, harus diakui bahwa saya tidak (selalu) bisa bertanggung jawab terhadap jalan hidup seseorang. pada akhirnya, kita (termasuk mereka) lah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">akhirnya, alih-alih menjadi sam yang loncat sana-sini setelah menyelesaikan misi, seorang teman dekat *<em>tsaah</em>* malah melihat bahwa justru orang-orang di berau lah yang secara bahu membahu membuat saya menyelesaikan misi ini. hmm.. <em>another perspective of seeing a statement</em>. saya setuju itu, terdengar lebih <em>humble</em> dan tidak membuat saya jumawa karena berasa menjadi sam becket.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">jadi dibandingkan dengan saya yang menyelesaikan dan mempermudah hidup beberapa orang di berau, justru menjadi lebih <em>significant </em>adalah apa yang mereka berikan pada hidup (dan perspektif terhadap hidup) saya. mereka lah yang membuat saya mengerti makna dari sebuah hal bernama <em>dealing with</em> <em>reality</em>. inilah misi saya yang sesungguhnya&#8230; <em>and i&#8217;feel blessed to have this experience</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>anyway</em>, ada banyak cerita yang tidak saya masukan dalam beberapa episode sebelumnya. keterbatasan pikiran dan <em>space</em> di blog, membuat saya banyak mengabaikan itu semua. tapi, sebenarnya banyak hal yang menarik. beberapanya memang lucu, namun beberapa juga kadang membuat saya bagaikan disayat-sayat oleh silet dan jeruk nipis oleh para gerwani, sakit dan perih.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di berau tidak ada tukang parkir loh. retribusi parkir yang disatukan dengan pajak tahunan kendaraan ternyata membuat pak ogah dan tukang parkir liar hilang. parkir jadi lebih semrawut? ah tidak juga. selain itu, malah tidak repot untuk selalu cari duit kecil pada saat parkir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tengah hari di setiap jumat adalah jam bebas helm bagi pengendara motor. dengan hanya menggunakan baju koko, peci dan sarung maka dapat dipastikan tidak akan ada polisi yang bakal menilang anda. jumatan ternyata menjadi pengecualian penggunaan helm di berau. *<em>helm kan buat keselamatan ya? kok pake pengecualian gitu?*</em> tapi jangan harap lolos dari polisi jika di luar jam-jam itu, helm adalah barang wajib dibawa!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masih ingat <a href="http://www.aaqq.net/2008/12/16/the-jumpers/" target="_blank"><em>the jumpers</em></a>? salah satunya mampu membuat saya terhenyak. suatu hari ia mendatangi saya dan bertanya bagaimana gimana caranya ikut termehek-mehek trans tv. saya hanya bisa tergelak, dan menceramahinya panjang lebar soal acara tipi yang (maaf) menurut saya tidak real. namun, kemudian ia mampu membuat tawa saya berhenti. ternyata ia hendak mencari ayahnya yang tidak pernah ia lihat sejak kecil. ibunya meninggal sejak ia lahir dan sang ayah meninggalkannya pada sang kakek, satu minggu setelah ia lahir. saya bagaikan terkena godam di kepala.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tiba-tiba saya menjadi mengerti kenapa ia menjadi sangat <em>rebel</em>, putus sekolah dan begitu mudahnya tersulut amarah. ia bahkan sudah tiga kali pindah sekolah karena kabur. beruntung ia masih memiliki banyak saudara yang bisa menampungnya. namun, kehidupannya selama 14 tahun ini lebih banyak dilewati secara berpindah-pindah dari sang kakek, sang tante, dan rumah-rumah lainnya. saat ini ia tinggal dan bekerja pada sang saudara sebagai kuli cuci dan pembantu umum. ya, di usianya yang memang sangat muda.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">cerita soal belanda dan dunia di luar berau, juga beberapa motivasi yang saya berikan,<span> </span>membuat kami dekat dan (mudah-mudahan) membuka matanya. ia tak bisa menutupi kesedihan wajahnya ketika saya pergi. ia hanya bisa berkata: <em>saya berjanji akan lanjut sekolah mas</em>. walaupun ia harus berhadapan dengan ketidakpercayaan orang-orang terdekatnya akan niat tulusnya untuk sekolah. hampir semua orang yang saya tanyakan mengenai keinginan sekolahnya memberikan respon yang sama: <em>susah, palingan ia akan kabur lagi mas!</em> dezigh.. saya kembali terpukul oleh godam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di hutan segah nun jauh, suatu siang yang panas, tiba-tiba saya mendengar suara riuh dari seseorang yang menjajakan es krim di kampung. es krim? di hutan? wooot? tapi itu yang terjadi. jauh dari kota, menikmati es krim puter terasa sangat nikmat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">rasa ingin tahu, membuat saya mengobrol dengannya. ternyata, di antara ratusan orang dayak, terseliplah beberapa orang jawa di kampung ini. ia adalah salah satu dari pendatang yang dengan nekadnya hidup di tengah hutan segah ini. hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu guru di sd kampung itu. eugh… es krim saya tiba-tiba terasa pahit.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal">hal yang tak pernah saya lewatkan jika pergi ke sebuah tempat adalah melakukan wisata kuliner. tiga<span> </span>bulan di berau membuat saya mengetahui tempat makanan yang cukup <em>recommended</em> untuk didatangi. beberapa di antaranya adalah:</p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>ikan patin pepes dan bakar di rumah      makan puji</strong>. terletak di luar kota      tanjung redep (daerah rinding), rumah makan ini menyediakan pepes ikan      patin yang rasanya juara. dengan bumbu yang manis pedas, membuat pepes      patin sangat nikmat dimakan pada saat siang hari. beberapa kali saya      kehabisan pepes patin itu karena banyaknya peminat. namun, jangan      khawatir, ikan patin bakarnya pun tak kalah enak. dengan harga yang tidak      relatif mahal, membuat saya merekomendasikan rumah makan ini jika anda      berkunjung ke berau.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>tim ikan kakap</strong> <strong>di warung tenda indah sari</strong>. saya      bukan penyuka ikan yang direbus ataupun dibuat sop, namun menu ini menjadi      pengecualian. baru pada kunjungan ketiga saya berani memesan menu tim ikan      kakap ini. hasilnya? saya ketagihan. tim ikan kakap kuah ini begitu terasa      nikmat, dengan paduan rasa gurih, pedas, asam dan sedikit manis. ikan      kakap yang dagingnya tebal dipadu dengan bumbu-bumbu bawang putih, bawang      merah, cabe, sereh, belimbing wuluh menjadikan rasa tim kuah ini juara.      tak hanya kakap, mereka juga menyediakan jenis makhluk laut lainnya, mulai      dari kerapu, putih, cumi dan udang.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>nasi goreng special di depot sari. </strong>terletak      di jalan mulawarman, rumah makan ini memiliki menu nasi goreng yang menurut      saya paling juara di berau ini. tidak seperti nasi goreng lain yang      menggunakan saus tomat botol hingga warnanya berubah menjadi merah, rumah      makan ini memberikan bentuk dan rasa nasi goreng yang cukup pas di lidah.      ditambah gorengan ati ampela plus sayur mayur yang dicampurkan, membuat      nasi goreng ini menjadi langganan saya sejak pertama kali tiba di berau.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>ikan goreng di rumah makan pantai losari      2</strong>. Memang, ikan goreng di berau cukup banyak dijual. Namun, rumah      makan yang cukup nyaman serta rasa sambel yang (lagi-lagi) juara, membuat      ikan goreng dan rumah makan ini cukup pantas didatangi.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>kedai kopi singkuang. </strong>walaupun      jaraknya lumayan jauh dan rasa makanan yang masih dalam taraf biasa, namun      atmosfer kafe yang dibuat seperti layaknya kafe2 di bandung membuat saya kerap mendatangi      tempat ini. selain itu. inilah satau-satunya kafe yang menyedakan akses      wifi gratis. hehehe.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">orang-orang di berau terdiri dari banyak suku, mulai dari berau, banjar, bugis, dayak, jawa dan lain sebagainya. namun entah kenapa, orang-orang yang saya kenal selalu memiliki kekerabatan satu sama lain. di manapun, sering sekali saya mendapati kalimat: <em>oh.. si anu kan masih sepupu jauh dari adiknya mertua saya</em>! <em>oh.. si inu kan masih sepupu dua kali dengan saya! o..si ini kan masih paman dengan ayah saya, makanya pak bupati yang masih adik iparnya paman saya itu adalah saudara saya! caleg anu itu kan masih kakaknya sepupu jauh saya yang di samarinda!</em> sigh.. saya biasanya hanya<span> </span>mengangguk dan tidak bisa menjabarkan pohon keluarga mereka dengan jelas. yang pasti <em>torang samua basudara</em> toh? <em>good.. </em>jadi <em>beta sonder pusing lagi</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ah.. BERAU season 2 ini pun kudu berakhir. saat ini saya sudah di bogor dan sibuk menyelesaikan data-data akhir penelitian saya tahap ini. masih ada satu bulan sebelum saya berangkat kembali ke belanda. berau pun punya satu tempat di hati ini. itulah rumah ketiga saya setelah bogor dan belanda. panjang rasanya jika saya harus menuliskan orang-orang yang telah membuat perjalanan saya di berau menjadi lebih mudah dan berharga. si mantri dan si pitoy adalah salah dua di antaranya (<em>you&#8217;re the best, bros!!</em>). tak lupa, bapak dan ibu haji tempat saya tinggal di tanjung redep, the jumper, orang-orang hebat di kampung yang saya datangi, mas iswan dan mbak asih sang kakak terbaik saya di berau, serta sahabat-sahabat baru lainnya. terima kasih! <em>i will come back, for sure</em>!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 6: jatuh itu takdir</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 08:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan  keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.

setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.


benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4247_resize.jpg" alt="" width="350" /><strong>previously on BERAU season 2 </strong><a href="http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/" target="_blank"><strong>episode 5</strong>:</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>meneliti aspek sosial dan ekonomi masyarakat memang banyak suka dukanya. semua hal itu tetaplah berkesan dan membuat saya bisa belajar memaknai hidup ini</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 6</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan <span> </span>keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.<span id="more-350"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4215_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4212_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">keesokan paginya, setelah kembali pamitan kanan kiri, kami langsung meluncur kembali ke segah. berharap tidak ada kendaraan yang nekat ataupun melintang di tengah jalan. disertai hujan serta kekhawatiran akan kondisi jalan, kami memantapkan hati. doa-doa tak putus keluar dari mulut ini. akhirnya, setelah lima jam menembus jalan tanah becek lumpur kami pun tiba di kampung.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">menggunakan perahu milik salah satu warga, kami menyeberang dengan membawa semua perlengkapan ‘perang’. rasa syukur berkali-kali saya ucapkan ketika kami tiba di rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 10 hari ke depan ini. namun itu ternyata tak lama…</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“mas, kayanya ada yang kurang,” sahut si mantri ketika ia mengecek semua barang bawaan kami di dapur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“<em>o, GOD, please.. not again</em>,” sahut saya dalam hati.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya pun hanya bisa terduduk lemas ketika mengetahui bahwa satu kardus persediaan bahan makanan kami beserta 5 kg beras dan telur, tertinggal di tanjung redep.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah bertahan selama dua hari dengan mie instan mahal dan beras yang dibeli dari tetangga, akhirnya kotak makanan kami tiba dengan selamat. beruntung, di kampung ini terdapat sebuah mobil angkutan regular yang datang dengan tidak regular akibat banjir dan jalan yang longsor.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tak sulit sebenarnya mendapati warung di kampung long laai ini. namun, jarak yang jauh dari pasar membuat harga-harga melambung dengan sangat tinggi. penurunan harga bbm oleh pemerintahan sby bahkan tidak terlalu berpengaruh di sini. untuk 1 liter bensin tetap saja kita harus merogoh kocek sebesar 12 ribu rupiah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di satu sisi, ketergantungan mereka terhadap bbm cukup tinggi. perahu bermotor adalah satu-satunya alat transportasi mereka untuk bisa mendapatkan makan, berladang ataupun mencari emas. setidaknya 2 liter bensin campur dibutuhkan oleh satu buah perahu dalam seharinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sungai memang menjadi inti kehidupan mereka yang utama. tak hanya sebagai jalur transportasi namun juga menjadi sumber air untuk minum, mandi, buang air dan mencuci. kamar mandi dan jamban jarang dimiliki oleh masyarakat. air sungai masih cukup melimpah dan (kadang) bersih untuk keperluan itu. saya pun begitu menikmati ritual mandi di sungai setiap harinya dengan hanya bercelana dalam saja. puas rasanya membasuh badan dengan cara menceburkan diri selama berpuluh-puluh menit di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/bathingspace_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>tempat mandi terluas. tinggal jebur!!</em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ini ketiga kalinya saya mengunjungi kampung long laai. salah satu kampung dayak gaai di hulu sungai segah ini relatif lebih maju dibandingkan kampung-kampung lain di sekitarnya. empat buah mobil mitsubishi strada bahkan dimiliki oleh masyarakat sebagai alat tranportasi mereka ke kota. walaupun begitu kita masih akan banyak menemukan unsur-unsur tadisional di sana. rumah-rumah kayu dan panggung berumur ratusan tahun bahkan masih tersimpan baik di antara puluhan rumah kayu yang baru adalah salah satu di antaranya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/view08_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakatnya pun masih memenuhi kebutuhan makanan pokoknya sendiri. ikan dan babi hutan menjadi makanan sehari-hari yang masih mudah mereka dapatkan di hutan dan sungai. namun untuk beras, beberapa tahun terakhir ini mereka lebih banyak memilih untuk mendulang emas di hulu dan meninggalkan tradisi berladang. beras lebih mudah dan murah dibeli dibandingkan harus membuat ladang sendiri, menurut mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kegiatan penelitian saya berjalan dengan baik di kampung ini. walaupun di hari-hari awal mereka ternyata menyimpan curiga pada kegiatan survey yang saya lakukan. pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendapatan bahkan membuat beberapa dari mereka berpikir bahwa saya adalah intel ataupun mata-mata pemerintah. yang lebih parah lagi, bahkan mereka berpikir bahwa ini adalah upaya amerika serikat untuk melihat potensi sumber daya alam daerah mereka melalui penelitian. duh.. saya tak bisa berkata apa-apa. kok jauh amat? kok amerika?? di satu sisi saya begitu kagum dengan kemungkinan-kemungkinan yang mereka ciptakan, namun juga khawatir jika penelitian ini akan terhambat oleh opini-opini yang tidak berdasar seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">untunglah, semua bisa teratasi. di beberapa rumah, memang masih ada kecurigaan. namun kami bisa (sepertinya) bisa meyakinkan mereka jika ini memang untuk tujuan penelitian dan menyelesaikan disertasi saya. fiuh. apalagi setelah kami ikut bergotong royong membersihkan kampung yang akan didatangi bupati beberapa hari ke depan. kami pun semakin dikenal.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">berbekal parang pinjaman, saya bergabung dengan masyarakat menebas rumput-rumput di sepanjang jalan dan lapangan. begitu bersemangatnya, mereka bahkan memperhatikan saya. bangga rasanya. salah seorang di antara mereka, tiba-tiba bertanya, “di jawa suka kerja bakti gini juga mas?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“wah, kalau di tempat saya sudah lama tidak ada,” jawab saya perlahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“pantas, dari cara motongnya kelihatan,” sahutnya dengan tanpa perasaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“……%$#%^*(_*^$#”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4251_resize.jpg" alt="" width="300" />kampung kedua yang saya sambangi adalah long ayap. kampung yang relatif lebih kecil dari kampung sebelumnya dan didominasi oleh masyarakat dayak punan. kehidupan sehari-harinya pun tak jauh berbeda dengan kampung long laai. hanya saja, akses yang lebih sulit membuat mereka masih jauh lebih tergantung pada alam. hampir semua rumah tangga di sini membuat ladang padi di tahun ini. sumber makanan pokok yang terlalu mahal jika mereka membelinya di kota.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakatnya jauh lebih ramah dan menerima kami dengan tangan terbuka. tanda tanya pasti ada, apalagi jenis-jenis pertanyaannya yang saya ajukan memang menyentuh batas <em>privacy</em> mereka. namun untunglah, tidak ada tuduhan intel pada saya di kampung ini. mereka begitu terbuka menjawab pertanyaan, setelah saya menjelaskan tujuan penelitian ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kami tinggal di rumah kepala kampung. sebuah rumah panggung dengan tangga yang cukup tinggi membuat saya khawatir akan jatuh suatu ketika. <em>track record</em> saya untuk jatuh, terutama di kampung dayak, membuat saya amat sangat berhati-hati. bahkan ketika saya hampir terjatuh sehabis mandi di sungai, masih bisa saya atasi, walaupun sebuah celana dalam akhirnya hanyut tak berbekas. *<em>semoga ia beristirahat dengan tenang ataupun ditemukan orang yang pantas</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4269_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kampung ini menjadi tempat yang berkesan bagi saya. keramahannya, kegotongroyongannya, keluguannya, serta keasrian tempatnya bersatu menjadi hal yang sangat indah dan langka. beberapa hari kami di sana, dan selama itu pula mereka bekerja gotong royong. sebuah waktu yang pas. entah untuk membersihkan kampung, membangun gereja, mencari bahan untuk rumah. ibu-ibunya pun dengan giatnya memasak secara bersama-sama untuk para bapak yang sedang bekerja. saya ternyata sudah lama sekali tidak pernah melihat hal seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4316_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>bersama bapak dan ibu kepala adat</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4324_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>penghias kepala si ibu. terdiri dari koin bertuliskan tahun 1942 dan 1945. nederland indie.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4386_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>tawa riang seperti ini yang membuat perjalanan tidak pernah membosankan</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4368_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>anak-anak dayak punan yang sangat aktraktif dan energik.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4426_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>memasak bersama, menunggu bapak-bapak selesai kerja bakti.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4402_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>kepala kampung dan keluarganya, tempat saya tinggal.</em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>do you think that having a three hours boat trip along the segah river (with extreme rapids!) across the tropical jungle is a good way to celebrate your birthday? think again, folks!! *but i must say.. yes!!!*</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">hujan yang turun terus menerus membuat saya khawatir. tak hanya air sungai yang meluap namun juga tentu jalan tanah menuju kampung pasti akan menjadi lebih berlumpur dan sulit untuk dilewati. penantian saya di tanggal 15 kemarin ternyata sia-sia. mobil jemputan kami tak bisa datang. banjir bahkan sudah membuat mereka tertahan sebelum mereka memasuki areal hutan. kami terancam tidak bisa pulang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kondisi semakin tidak pasti, persediaan makanan sudah tipis (a.k.a habis), dan kami pun sudah mati gaya. akhirnya, saya putuskan untuk menggunakan perahu menuju kota kecamatan terdekat, tepian buah. dengan menggunakan perahu si lung, salah satu warga kampung, kami memantapkan hati untuk pulang dengan perahu. data hasil survey saya bungkus rapat-rapat dengan plastik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. kamera dan alat-alat elektronik lain saya pegang erat-erat. baju pelampung terpasang di badan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">arus sungai yang cukup deras membuat hati saya kebat-kebit. bisa berenang dan menggunakan pelampung bukan jaminan selamat jika saya hanyut. ketika mandi kemarin, saya ternyata tak mampu melawan derasnya air sungai di pinggir. bagaimana jika di tengah? apalagi ketika perahu melewati jeram-jeram yang ganas dengan bebatuan di kanan-kirinya, doa-doa langsung meluncur dari mulut kami. wajah hitam saya mungkin sudah menjadi putih. <em>c’mon, this is my birthday and i don’t want to have a bad experience in this special day</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>but it was a worth trip</em>, <em>i can say</em>. benar-benar sebuah kado indah di hari ulang tahun. pemandangan indah terhampar di kanan kiri saya. hutan kalimantan yang hijau dan gagah begitu membuat saya terpana. di beberapa bagian bahkan kedua pohon di kanan kiri sungai bertemu, dengan akar-akar yang menjulur, serta kelembaban khas hutan tropis membuat saya mengucap syukur masih bisa melihat keindahan alam indonesia. <em>swear.. it’s gorgeous</em>. semoga tidak rusak oleh kerakusan orang-orang berwatak kapitalis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4437_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4446_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/view04.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dalam perjalanan saya juga bertemu keluarga yang pernah saya survey. sang bapak, menebarkan jala dibantu anak-anaknya yang masih kecil. anak terbesar mengendalikan perahu, sedangkan sang ibu di tengah perahu menjaga hasil ikan. bisa saya pastikan, itulah makanan mewah mereka di hari itu: ikan sungai. <em>damn.. i was touched</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah tiga jam, kami pun tiba di tepian buah dengan sambutan air hujan dan banjir yang melanda kota kecil itu. saya sangat girang karena tidak ada kejadian aneh-aneh dalam trip saya kali ini. keluar dari perahu saya berteriak dalam hati: <em>akhirnya. saya memang bisa melewati trip ini tanpa perlu jatuh ataupun pingsan!!</em> keluar dari sungai dengan tas kamera di gendongan, saya pun mantap melangkah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">Tuhan rupanya memang tidak suka orang yang takabur, hanya beberapa saat setelah itu, kaki saya salah berpijak dan meluncur masuk ke dalam sungai. saya pun hanya bisa berendam pasrah hampir seperut. si mantri dan pitoy hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil menyelamatkan tas kamera yang basah. <em>memang kau ini turunan jatuh</em>, kata si pitoy. arrrrgghh… <em>why???</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sudah selesai? tentu saja belum. <em>not that easy, folks!!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tidak ada mobil yang bisa membawa kami ke kota tanjung redep, membuat saya memutuskan untuk menginap semalam di tepian buah. setelah bernegosiasi dengan seorang calo, ia menjanjikan untuk menyewakan kami sebuah mobil mitsubishi strada. saya pun berharap bisa tidur dengan tenang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">janji-janji tinggal janji. esok harinya ternyata si calo kupret itu tidak mendapatkan mobil yang dijanjikan. alih-alih mencarikan mobil sejenis, ia malah menawarkan mobil kijangnya yang bobrok untuk mengantar kami pulang. ia meyakinkan kami, bahwa jalanan sudah bagus dan mobilnya dapat menembus jalanan lumpur itu. keinginan untuk pulang cepat dan capek berdebat membuat saya mengiyakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4535_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kesialan memang belum berakhir. satu jam berlalu, dan kami pun berada di tengah-tengah hutan, di antara jalan berlumpur dan menahan gondok melihat mobil kijang dan calo kupret itu berjuang keluar dari lumpur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dan saya pun lagi-lagi hanya bisa berteriak.. aaaaaaaarrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhh… <em>what a trip</em>!!!!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4537_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>thanks for the birthday wishes guys</em>. senang rasanya membaca semua itu di saat saya baru keluar dari kejenuhan di hutan dan mati gaya yang tak kunjung sembuh. <em>it means a lot to me</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 5 : belajar dari mana saja</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 12:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[siang hari yang terik.

“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.

pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.

“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.

“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.

“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_3072a.jpg" alt="" width="350" /><strong>previously on BERAU season 2 <a href="http://www.aaqq.net/2008/12/09/berau-season-2-episode-4-mission-failed-banjir-banjirr-banjirrr/" target="_blank">episode 4</a>:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>banjir yang melanda kampung tumbit dayak dan tumbit melayu membuat saya tidak bisa melanjutkan penelitian. akhirnya saya pulang kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir mereda. sebelum pulang, saya masih sempat melakukan hal yang saya hanya bisa lihat di televisi: bermain dengan banjir. menyenangkan ternyata.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 5</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">siang hari yang terik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span id="more-343"></span>“wah pak, masa saya jawab sendiri?”. tiba-tiba saya membelokkan kaki arah jalan saya menuju rumahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“waduh mas.. sudah lah.. ke pak udin saja. yang saya ndak usah ditanya-tanya lagi.” ia langsung menolak kedatangan saya ke rumahnya. tapi dari wajahnya saya melihat senyuman. saya justru malah tertantang untuk bisa mengobrol dengannya. tanpa diminta, saya masuk ke teras rumahnya dan duduk di samping kursi kayu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“gak ke ladang pak?” tanya saya basa basi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“ndak.. lagi istrahat dulu hari ini” ia menjawab seadanya dan langsung disambut oleh hening.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tak lama,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“emang sampeyan nanya-nanya untuk apaan sih?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“wah bapak.. kan saya udah jelaskan kemarin. kalau ini buat saya bikin tugas akhir. semacam skripsi gitu pak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“terus.. kenapa saya? kan masih ada yang lain?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“yaa.. yang lain juga saya tanya pak. gak cuman bapak aja. jadi gimana pak? boleh yah saya lanjutkan pertanyaan kemarin?”tanya saya penuh harap.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“berapa halaman lagi?” tanyanya. sebuah isyarat kalau dia menjawab ya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“tiga pak.. boleh?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ia pun menganggukkan kepalanya. saya pun mengurungkan niat ke rumah pak udin dan buru-buru mengeluarkan kertas. pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan lancar. tak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasannya. ia rupanya memang suka mengobrol.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya kembali ke kampung ini setelah satu minggu saya tinggalkan akibat banjir. tidak etis rasanya bertanya-tanya dan keluar masuk rumah orang di saat-saat banjir seperti kemarin. karena itu saya memutuskan kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir usai. bersama viktor saya pun menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tersisa kemarin. masih kurang 25 orang lagi yang harus kami wawancarai.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kampung ini dahulunya dihuni oleh masyarakat asli berau dan juga dayak. program transmigrasi di tahun 1995 membuat kampung ini menjadi semakin ramai oleh para pendatang. bahkan, jumlah pendatangnya sekarang jauh lebih banyak dari penduduk aslinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakat yang beragam suku bangsa dan karakter ternyata memberikan banyak kesan juga dalam proses wawancara kami kemarin. pak oji hanyalah satu di antara beberapa orang yang saya wawancara. banyak suka dukanya yang pasti. mulai dari yang menjawab dengan ramah hingga malas-malasan. mulai dari yang menerima saya di teras depan rumahnya hingga dibawa masuk ke dalam rumahnya. mulai dari yang tidak menyuguhkan apa-apa, hingga menyediakan penganan dan minuman. mulai dari yang menjawab dengan biasa-biasa saja, hingga yang meledak-ledak membicarakan sukarno suharto dan sby. ckckckc. mental memang harus siap untuk menghadapi berbagai karakter orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">beberapa orang bahkan menaruh curiga di awal-awal diskusi. tak jarang informasi dari mereka pun hanya sedikit yang keluar. namun, beberapa saat kemudian biasanya mereka justru malah seperti aliran banjir di kampung ini. tak bisa berhenti. beberapa pertanyaan malah dijawab melebar ke mana-mana hingga saya harus bersusah payah mengingatkan pertanyaan aslinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">namun, yang ramah pun tak kalah bermasalahnya. di salah satu pemukiman warga yang berasal dari timur indonesia, mereka begitu akrabnya satu sama lain. ketika saya datang ke sebuah rumah, tak lama rumah itu penuh dengan para tetangga. ramai memang jadinya. beberapa kali suara tawa bahkan menggema di rumah itu. namun ternyata mereka justru jauh lebih ramai dan aktif dari si responden saya. alhasil, beberapa pertanyaan saya secara spontan dilahap habis oleh mereka. dan saya pun mati-matian membujuk si bapak untuk menjawab sesuai dengan hal yang dia tahu dan bukan berdasarkan jawaban para tetangganya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya pun seringkali disangka ’sinterklas’. setelah sekian lama kita berdiskusi dan mengisi jawaban, sering sekali mereka bertanya dengan penuh harap di akhir wawancara, “jadi bantuannya kapan datang pak? saya kebetulan butuh pupuk dan racun rumput. sudah tiga bulan tanaman cokelat saya tidak dipupuk loh pak.”gubrak. saya pun kembali menjelaskan tujuan penelitian saya dengan penuh kehati-hatian agar tidak memberikan harapan palsu pada sang penanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">beberapa orang juga malah curhat mengenai masalah keluarganya. seorang ibu yang berasal dari cianjur malah menangis di depan saya ketika saya bertanya mengenai sumber perekonomian keluarganya. suaminya yang sudah tua ternyata masih harus bekerja membuka ladang dan kebun. demi menghidupi anak perempuan dan tiga cucunya yang sekarang pindah ke rumah mereka, karena suaminya pergi dengan wanita lain. seorang bapak juga dengan wajah memerah menahan tangis bercerita mengenai mata pencahariannya yang sudah semakin berkurang karena penyakit tbc yang dideritanya. saya tidak bisa berkata apa apa, selain tersenyum dan berkata.. <em>sing </em>sabar ya pak.. bu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di luar kerepotan yang timbul dan disertai capek (fisik dan emosi), melakukan pekerjaan ini membuat saya sering bersyukur. saya banyak mendapat pencerahan hati dari kisah hidup dan perilaku orang-orang yang saya temui dalam perjalanan. pembelajaran memang tak semata-mata berasal dari pendidikan formal. di dunia nyata lah, dengan membuka mata dan pikiran kita lebar-lebar, kita bisa mendapat ilmu yang berharga untuk hidup kita kelak. tak cuma dari orang yang pandai, tua ataupun kaya. semua orang tanpa terkecuali memberikan banyak ilmu berharga untuk saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">malam kemarin, ketika saya duduk di pinggir sungai kelay, seorang anak berumur 14 tahun mendatangi dan mengajak saya mengobrol.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“om, setelah ini om mau jadi apa?” tanyanya setelah saya menjelaskan tujuan saya ke berau ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“saya pengen jadi orang kaya dan hidup bahagia. itu aja.” jawab saya sok berfilosofi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kenapa pengen jadi kaya om?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">&#8220;iya supaya saya bisa berjalan-jalan kemana-kemana, bisa membeli apa-apa, dan gak kekurangan lagi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kalau emang mau jadi kaya kenapa gak jadi camat aja om?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“…….”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya terdiam.. tak tahu harus tertawa atau apapun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“emang, kamu kalo udah besar mau jadi apa?” tanya balik saya kepadanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“saya pengen jadi orang bisa aja om. gak usah kaya tapi gak miskin juga. sederhana aja”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kok gitu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“iya.. kalau orang kaya kan banyak utang. saya gak mau pusing mikirin utang. lebih baik nanti saya hidup biasa aja, yang penting bisa makan”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“hmm.. emang mau kerja di mana?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“apa aja lah om.. asal bisa dapet uang yang tetap. tapi saya gak mau kerja gali parit. saya gak tahan mencium bau sampah. tapi kalo kerja tukang masih mau kok”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“…….”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dan saya pun kembali tertohok yang kesekian kalinya..</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">mendapat pencerahan memang bisa dari mana saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>selamat liburan semua!!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="vertical-align: top;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4134a.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4149a.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="vertical-align: top;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4162a.jpg" alt="" width="400" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>the jumpers</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2008/12/16/the-jumpers/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2008/12/16/the-jumpers/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 04:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[selama tinggal di kota tanjung redep, saya tinggal di sebuah rumah milik bapak dan ibu haji, begitu saya mereka biasa dipanggil. mereka memiliki usaha restoran dan catering yang cukup terkenal di sini. tak jarang, sayapun merasakan masakan hasil karya pak haji yang begitu terampilnya meracik semua bumbu masakan. kemarin contohnya, saya merasakan kedahsyatan sambel setan yang digabung dengan gorengan udang lobster dan kakap merah. rasanya? jangan ditanya lagi.

rumah yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu ini berada di sisi sungai kelay. sore hari menjadikan tempat ini cukup nyaman untuk digunakan sebagai tempat bersantai, sembari menikmati kopi dan gorengan ataupun hanya melihat aktivitas lalu lintas perahu dan anak-anak yang berenang kian kemari.

tinggal di pinggir sungai, walaupun di kota, membuat anak-anak di tanjung redep akrab dengan air sungai. karena itu jangan tanya kehebatan mereka dalam hal berenang. mereka menjadi perenang-perenang unggul, sederas apapun air sungai kelay dan segah yang membelah kota ini. namun, tak hanya berenang, mereka pun sangat ahli dalam hal loncat-meloncat indah.

omeng dan teman-temannya adalah salah satu dari mereka yang memiliki keahlian itu. merekapun tak canggung ketika saya meminta mereka memperlihatkan kemampuan mereka. mereka begitu excited-nya, bahkan berpose tanpa harus saya arahkan. mereka juga tak lelah turun naik ke perahu serta kembali meloncat ke dalam air.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="vertical-align: top;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng02_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p>selama tinggal di kota tanjung redep, saya tinggal di sebuah rumah milik bapak dan ibu haji, begitu saya mereka biasa dipanggil. mereka memiliki usaha restoran dan catering yang cukup terkenal di sini. tak jarang, sayapun merasakan masakan hasil karya pak haji yang begitu terampilnya meracik semua bumbu masakan. kemarin contohnya, saya merasakan kedahsyatan sambel setan yang digabung dengan gorengan udang lobster dan kakap merah. rasanya? jangan ditanya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;">rumah yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu ini berada di sisi sungai kelay. sore hari menjadikan tempat ini cukup nyaman untuk digunakan sebagai tempat bersantai, sembari menikmati kopi dan gorengan ataupun hanya melihat aktivitas lalu lintas perahu dan anak-anak yang berenang kian kemari.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><span id="more-340"></span>tinggal di pinggir sungai, walaupun di kota, membuat anak-anak di tanjung redep akrab dengan air sungai. karena itu jangan tanya kehebatan mereka dalam hal berenang. mereka menjadi perenang-perenang unggul, sederas apapun air sungai kelay dan segah yang membelah kota ini. namun, tak hanya berenang, mereka pun sangat ahli dalam hal loncat-meloncat indah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;">omeng dan teman-temannya adalah salah satu dari mereka yang memiliki keahlian itu. merekapun tak canggung ketika saya meminta mereka memperlihatkan kemampuan mereka. mereka begitu <em>excited</em>-nya, bahkan berpose tanpa harus saya arahkan. mereka juga tak lelah turun naik ke perahu serta kembali meloncat ke dalam air. here are some of them. enjoy!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng13_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng14_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng15_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng16_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng17_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/omeng04_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/kukus05_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/kukus03_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/jumpers01_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/jumpers02_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/jumpers03_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/jumpers04_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/kukus02_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2008/12/16/the-jumpers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

