Archive for the ‘Indonesia’ Category

Post

menjadi minoritas di negeri sendiri

In Indonesia,Traveling on July 17, 2005 by aaqq™

Menjadi minoritas kadangkala membuat saya menjadi sangat “emosional”. Mendengar suara adzan di suatu malam, di tengah Pulau Sumba dimana sebagian besar penduduknya adalah non muslim tiba-tiba membuat hati saya tertunduk. Rasa haru menyeruak. Suara yang tidak pernah saya pedulikan ketika saya berada di Bogor karena begitu seringnya. Melakukan sholat Jumat, di kota yang mesjidnya ada dalam hitungan jari, pun menimbulkan rasa haru. Begitu menyenangkan melihat sesama pemeluk muslim di sebuah mesjid di kota ini.
Lucu memang, kenapa saya menjadi emosional seperti ini, bahkan menjadi lebih khusyuk untuk sholat di tempat ini. Ha ha ha.. saya memang bukan muslim yang baik.. walaupun saya tidak juga mau menjadi orang jahat. Tapi rasa itu memang hadir.

Dahulu, ketika berada di Belanda selama kurang lebih 1.5 tahun, sebagai seorang muslim, saya tahu bahwa saya adalah minoritas di sana. Hanya satu kali saya menemukan mesjid, dan itupun di Delft. Perasaan yang sama menyeruak ketika saya memasukinya. Ah, saya memang terlalu melankolis untuk hal-hal seperti ini.

Satu hal yang saya pelajari, dihargai sebagai seorang minoritas adalah sebuah apresiasi yang sangat tinggi. Kadang penghargaan teman-teman non muslim terhadap pelaksanaan ibadah saya sangatlah tinggi, kadang malah jauh lebih tinggi dibandingkan sesama muslim (he he he..). Di beberapa desa di Sumba ini bahkan, mereka meminta kita untuk memotong sendiri ayam untuk makan, karena mereka tahu bahwa muslim punya aturan tersendiri terhadap penyembelihan ayam. Sungguh suatu penghargaan yang tidak dibuat-buat.

Jadi, sampai saat inipun saya menjadi orang yang tidak mengerti mengapa beberapa dari kita masih bersikap rasialis terhadap minoritas, baik agama maupun suku. Jujur, menjadi seorang minoritas sudah merupakan hal yang tidak mengenakan, dimanapun juga, apalagi di negeri sendiri. Tidak perlulah menambah panjang permasalahan kehidupan seseorang karena permasalahan kecil itu. Saling menghargai sesama tanpa melihat latar belakang agama dan suku, seringkali membuat hidup ini jauh lebih mudah, indah dan pasti… berharga untuk dijalani.

Post

Katarina Koni Kii. Membuat sarjana kehutanan menjadi tidak ada apa apanya

In Indonesia,Reflection on July 16, 2005 by aaqq™

Pernah mendengar Katarina Koni Kii? Coba buka beberapa media di awal Juni 2005, dan cari informasi mengenai Anugerah Kalpataru 2005, dan anda akan menemukan namanya disana. Sosok ibu tua ini memang terlihat sama dengan ibu-ibu lainnya, terlihat kurus dengan garis-garis di wajahnya, belum lagi rambut putihnya yang membuat sosoknya semakin terlihat tua. Penampilannya memang sederhana, juga sirih pinang yang tidak pernah lepas dari mulutnya, sebuah ciri khas masyarakat Sumba.

Namun, apa yang dilakukannya selama ini membuat saya seorang lulusan kehutanan menjadi minder. Bagaimana tidak, ibu tua dengan umur sekitar 60an ini dengan gigihnya menanami 4 hektar lahan peninggalan suaminya dengan berbagai jenis pohon-pohon. Suaminya memang sudah meninggal sejak tahun 1987 dan meninggalkan lahan tersebut beserta 5 orang anak yang masih kecil-kecil. Obrolan ringan dengan tetangganyalah yang membuat dia tergerak untuk menanam pohon-pohon tersebut. Harga kayu akan semakin mahal.. begitu menurut sang tetangga dan itu membuatnya tergerak untuk menanam pohon-pohon tersebut. Tujuan awalnya hanya satu… untuk masa depan anak cucunya nanti. Supaya mereka bisa mengambil hasilnya dan tidak mengalami kehidupan seperti yang dia jalani saat ini.

Sungguh.. sebuah pernyataan membuat saya cuma bisa diam ketika membacanya. Saat ini di lahannya yang kering, seperti halnya lahan-lahan di Pulau Sumba ini, terdapat lebih dari 400 pohon yang sebagian besar adalah jenis Cendana yang sudah mulai langka di Sumba ini, juga tanaman-tanaman lain seperti Mahoni, Kemiri dan tanaman lokal lainnya. Untuk kehidupannya sehari-hari, ia hanya mengandalkan hasil ubi-ubian dan jagung yang ia tanam di sekitar pohon-pohon tersebut.

Kalpataru memang bukan yang ia cari, tapi melalui penghargaan itu Katarina menghentak saya dan juga mungkin ribuan sarjana kehutanan di negeri ini. Bukan omong besar yang dibutuhkan untuk membuat lingkungan hidup ini lestari, tapi cukup dengan kerja keras dan sebuah mimpi untuk sebuah kehidupan yang lebih layak bagi orang-orang yang kita cintai.

Post

kembali ke kotak

In Indonesia,Reflection on April 19, 2005 by aaqq™

kembali ke kotak.. namun kotak ini tidak berubah. masih seperti dulu. posisi barang-barang di dalamnya bahkan tidak berubah sedikitpun. hanya warna kotak yang semakin kusam karena tidak pernah di cat dan beberapa barang yang bergeser ke tempat yang seharusnya.

kembali ke kotak.. berarti kembali pada permasalahan klasik. culture shock katanya. panas? low speed internet? ketidakdisiplinan pengendara kendaraan? jalanan macet dan becek? sikap buruk pegawai birokrat? uang sogokan dimana2? gaji rendah? harga melambung tinggi? kemakmuran yang tidak merata? ah sangat klasik.

kembali ke kotak.. kadangkala memang harus dihadapi. tidak ada pilihan untuk tetap di kotak yang telah sangat nyaman kita tempati selama beberapa tahun kemarin. kembali ke kotak yang lama? atau kita memilih mencari kotak yang baru? hidup toh adalah pilihan… 200 juta penghuni kotak ini juga bisa hidup dengan senyum di wajah, walau kadangkala wajah itu berubah menjadi kemarahan yang tidak terkendali hanya karena uang sepuluh ribu rupiah.. ketakutan (kadangkala kesombongan) pada hal-hal mistis dan setan.. meringis pada saat melihat bencana di mana-mana… kembali tersenyum oleh jualan mimpi-mimpi sinetron di televisi.. melongo melihat gosip artis yang tidak pernah ada habisnya.. ataupun senyum harapan untuk bisa masuk dalam reality shows yang bertebaran dengan hadiah puluhan juta rupiah.

kembali ke kotak.. berusaha membangun mimpi yang baru. memulai segalanya dari awal dengan tingkat pengharapan yang jauh lebih tinggi. wajarkah? atau gengsi yang akan bicara? atau sebuah dorongan yang bernama.. saya butuh hidup. harapan tidak hanya dari diri sendiri.. juga dari orang lain. harapan memang senantiasa lebih tinggi daripada kenyataan. tapi manusia hidup dari harapan kan? sang ayah.. menjadi lebih bersemangat karena melihat sebuah harapan untuk membuat keluarga menjadi lebih baik. senyum di wajah pun terasa sangat tulus.. pencerminan sebuah semangat meraih asa yang ada.

kembali ke kotak.. mengingat kembali tujuan awal pada saat mencari kotak yang baru. membangun indonesia kan? menjadikan indonesia lebih baik dari sebelumnya. aih.. mulia sekali. tapi itu benar kan? baca semua motivation statement kita pada saat kita melamar segepok uang beasiswa.. pastilah.. akan ditemukan kata-kata.. kembali ke indonesia dan membangunnya sejajar dengan negara-negara maju sana. mudah2an bukan bullshit belaka. tapi.. membangun indonesia.. haruskah dari indonesia? ah.. sebuah pencarian alasan untuk hidup di kotak yang jauh lebih baik.

kembali ke kotak.. merasakan berkurangnya daya juang yang sebelumnya terpupuk dengan sangat baik. mungkin akibat terlalu lama dibuai kemudahan. tapi.. siapa bilang disini lebih sulit? beberapa hal sangat mudah kok.. bahkan dibuat menjadi mudah. bahkan di tengah malam buta pun.. kita masih bisa mendapatkan sesosok pedagang nasi goreng untuk mengobati rasa lapar yang mendera. bahkan kalau kita punya uang sedikit lebih banyak dari yang lain.. hidup kita akan lebih mudah.. dan bahkan tidak perlu antri. see? siapa bilang kotak ini menyulitkan? *hiks*

kembali ke kotak.. dan menemukan sebuah hal yang bernama cinta. ah.. ternyata seperti ini rasanya. indah.. dan menyesal.. kenapa baru kutemukan sekarang.

so guys.. hayo pulang.. dan bangun indonesia..

Post

moment of silence

In Indonesia,Reflection on January 5, 2005 by aaqq™

i am sitting down in my chair.. a few minutes after “3 minutes moment of silence” in the whole netherlands.. the silence for atjeh.. srilangka.. india.. thailand.. and all the victims of quake and tsunami.. in azie.. and still don’t know how to express this feeling..

moment of silence.. started at 12.00 for three minutes..

Post

aceh, sebuah kenangan indah

In Indonesia,Reflection on December 30, 2004 by aaqq™

aceh, juli-september 1998
perjalanan kami dimulai di meulaboh.. sebuah kota yang kecil di bagian barat provinsi NAD yang menyambut kami dengan penuh persahabatan. mbak eva, dengan kehangatan khas orang aceh, membawa kami ke rumahnya dan mengenalkan kami, yoyoq, cucu dan hani, kepada semua keluarganya. orang dari jawa telah datang, mereka bilang pada kami.

becak khas meulaboh, pisang goreng pinggir jalan, patung topi teuku umar, pantai barat aceh yang membentang sepanjang meulaboh dan banda aceh *dan itu.. sangaaat indah*, pantai di banda aceh dengan pasir yang masih putih serta ikan bakar yang lezat, hutan perawan yang masih melimpah, sungai yang jernih dengan ikan yang besar2 *saya bahkan mandi di sana*, cantiknya gadis2 keturunan portugis di sebuah lembah, kopi aceh yang sangat lezat, serta bersembahyang di mesjid raya banda aceh menjadi kenangan indah kami, mahasiswa kehutanan IPB yang dengan nekadnya mengajukan permohonan praktek lapang di provinsi ujung barat indonesia itu.

aceh, sebuah provinsi indah dengan sumberdaya alam yang masih belum terjamah secara menyeluruh. banyak potensi alam yang bisa dikembangkan baik dari sisi pariwisata maupun hasil alamnya. konflik berkepanjangan dan terakhir gempa berkekuatan besar diiringi gelombang tsunami yang dahsyat, telah memporakporandakan serambi mekah ini. tiada lagi yang tersisa. hanya rasa duka yang mendalam. semoga masih ada semangat untuk kita semua mengembalikan aceh seperti sedia kala.

untuk bang zul, bang adi, fauzan, koko, lina, rini, mbak eva, pak oka, pak sudi serta semua kawan-kawan terbaik di aceh. semoga kalian dan keluarga baik-baik saja. rasa duka cita terdalam saya sampaikan untuk kalian semua juga semua masyarakat aceh. saya hanya bisa menangis melihat apa yang terjadi sembari mengingat semua kenangan indah yang pernah saya dapat di sana. semoga kita bisa bertemu kembali.. kapanpun dan dimanapun

Post

sampai bertemu

In Indonesia on September 18, 2004 by aaqq™

sudah satu bulan lebih saya di bogor. selama satu bulan itu pula merasakan banyak hal. di mulai dengan aktivitas makan yang relatif dapat dikatakan sebagai ‘kalap’ hingga diare berkepanjangan. proses penyusunan thesis yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan, bahkan untuk urusan administrasi pun membutuhkan keringat dan ‘penahanan emosi’ yang agak sedikit berlebih. pencarian data yang tidak sistematis. kemalasan yang bersumber dari banyak hal, mulai dari rasa sakit di tubuh, batuk berkepanjangan, kerinduan yang tak tertahankan, keingintahuan pada hal-hal baru, dan masih banyak lagi. kelahiran sang keponakan baru juga menjadikan kepulangan saya saat ini sangatlah berharga dan memberikan nilai plus yang sangat banyak. sebuah kelahiran yang ternyata membawa banyak sekali perubahan positif di keluarga kami. sebuah perubahan yang hanya bisa kami rasakan sendiri.

pertemuan dengan teman2 dari dunia maya ‘the blogger family’ juga menyemarakkan kepulangan saya. dan itu ternyata sangatlah menyenangkan. memang, terutama buat saya, bergabung dengan sebuah komunitas baru dan mendapatkan pertemanan yang baru, merupakan suatu hal yang dapat dikatakan ‘gambling’. kita gak akan pernah tau seperti apa komunitas dan individu di dalamnya. tetapi berani mencoba seringkali merupakan awal dari sebuah hasil yang positif. bertemu dengan atta, tiwi, maknyak, tyaz, gage, dharma, balq, yovita, renha, abhi, mba rieke, andips, linda, baruno, retno, ummi & najla, yana, ozzan, teguh, syl, dorita, dan yeyen membuktikan itu. saya memiliki ‘feeling’ bahwa akan banyak hal positif yang akan saya dapatkan kelak. salah satunya adalah menemukan ‘teman bercerita’ tentang segala hal. thanks, ta’. mendapatkan buah tangan dari sebuah negara yang bernama canada. makasih maknyak.. . juga mendapatkan ilmu baru mengenai design dan website, juga cd software gratisan dari gage. see?!.. semua merupakan sisi positif yang tidak terbayangkan sebelumnya.

minggu lalu pun saya kembali berkumpul dengan teman2 smu. sebuah komunitas yang sebenarnya sudah bukan merupakan komunitas teman2 smu. tapi sudah seperti sebuah komunitas dengan hubungan persaudaraan. menyenangkan melihat kita berubah seiring dengan perkembangan umur dan kondisi sosial masing2. tapi satu hal yang tidak berubah, bahwa persahabatan dan persaudaraan ini masih seperti dulu.

minggu ini pun saya menyelesaikan satu tahap dalam proses thesis ini. belum sepenuhnya selesai. tapi jika tidak membuat sebuah keputusan untuk dianggap selesai, maka saya akan membuat tahap selanjutnya menjadi semakin ‘molor’. dan sekarang saya bersiap untuk memasuki tahap selanjutnya. tahap pencarian data lapangan. mulai hari selasa besok hingga satu bulan ke depan saya akan berada di lampung barat. di sebuah kecamatan di kaki bukit. bukit yang sudah hampir gundul akibat perambahan manusia. bukit yang menjadikan hutan rimba menjadi perkebunan kopi. bukit yang menyisakan banyak kenangan karena di sanalah saya membuat banyak jejak dan mengambil asa untuk fase kehidupan saya yang lain. bukit yang membuat saya belajar untuk menghargai kehidupan. bukit yang diharapkan akan menjadi saksi bagaimana saya berjuang untuk memperoleh sebuah hal. untuk memperoleh tambahan tiga huruf kalo menurut salah satu sahabat saya, yang saat ini sedang berjuang juga mendapatkan hal tersebut di salah satu negara berkembang. doakan saya. satu bulan ke depan mungkin saya akan kesulitan untuk berhubungan dengan dunia maya. saya sendiri bukan orang yang tahan untuk tidak ber-internet selama beberapa hari. tapi akan saya coba. semoga perjalanan kali ini bisa membuat saya memperoleh pelajaran baru dalam kotak kehidupan saya. semoga perjalanan ini juga menjadi salah satu ‘liburan’ terbaik saya. ya.. saya akan menganggap ini sebagai liburan. liburan dengan beribu muatan.

Post

kotak, otak dan isinya

In Indonesia,Reflection on September 5, 2004 by aaqq™

kotak kotak hijau dan biru itu berputar-putar di kota hujan ini. seakan merekalah penguasa kota. tiada yang pernah bisa menebak kapan sang kotak akan berhenti, menyalip, tiba2 ke kiri, ke kanan atau berpacu kencang menuruti hawa nafsu sang otak yang berada di bagian kanan sang kepala si kotak. isi kotak hanya bisa mengurut dada seraya berdoa untuk secepatnya tiba di tujuan. gerutuan, omelan dan makian isi kotak tidak mempengaruhi sang otak.

sang otak sepertinya sudah bebal, terlalu banyak dikotori oleh debu jalanan kota hujan ini ataupun oleh kerasnya kehidupan. sang otak harus tetap maju dipersaingan hidup yang semakin ganas. otak-otak lainnya akan siap mengumpulkan isi kotak yang bertebaran di seluruh sudut kota ini. lambat berarti cuma membuat si kotak seperti setrikaan yang maju mundur dan berputar. wajarlah jika sang otak seperti tidak punya otak. yang ada di otak mereka cuma uang.. uang dan uang.. pernahkan mereka menyadari bahwa isi kotak juga perlu dihargai? membawa si kotak lebih manusiawi toh tidak akan mengurangi jumlah setoran. rezeki ada di tangan Tuhan katanya. mereka tau itu, tapi kenapa harus membuat si kotak menjadi tidak terkendali seperti tidak berotak? jika isi kotak dapat memilih kotak dengan otak yang lebih beradab tentu menyenangkan. sang otak dengan kotak yang sembrono tentu tak bakal laku. tapi itu memang hanya mimpi. kadang isi kotak pun tidak pernah mau tau. yang penting saya tiba sampai tujuan. kalau tibanya di kuburan gimana?

bagaimana dengan isi kotak? punya otakkah mereka? sepertinya tidak. karena, jika isi kotak punya otak, maka sang otak dan kotaknya tentu akan sedikit lebih manusiawi. toh sang otak dan si kotak membutuhkan si isi kotak. kadang isi kotak pun suka keluar sembarangan ataupun masuk sembarangan. jika isi kotak bisa sedikit lebih teratur untuk keluar masuknya mereka dari dan ke dalam kotak, tentu sang otak akan mengikuti. toh pelanggan adalah raja. iya kan? kecuali pedagang yang tidak mengerti. dan sang otak sekarang sebagian besar bukan pedagang, sehingga seringkali mereka memperlakukan isi kotak sebagai onggokan barang yang tidak berharga. padahal, sebenarnya sang otak juga sangat membutuhkan isi kotak. idealnya, semua memang saling membutuhkan dengan kadar yang sama. tapi sekarang, kadar kebutuhan sang otak sedikit lebih rendah dan itu membuat mereka jumawa. aih..

dan saya adalah salah satu dari isi kotak itu.. andai saya bisa memilih kotak yang berotak manusiawi.. tentu saya akan masuk ke kotak itu. tapi.. saat ini, saya lebih seperti mengikuti undian sabun mandi. saya tidak pernah tahu, kotak dan otak seperti apa yang bakal saya dapati. it’s a surprise!

Post

mereka masih ada (banyak)

In Indonesia,Reflection on August 27, 2004 by aaqq™

bogor, jam 8 malam.. dari pojok sebuah angkutan kota 03
..kaki kaki kecil itu dengan lincahnya berlari diantara roda kendaraan bermotor. telapaknya mungkin sudah tidak mungkin lagi hancur oleh kerasnya aspal jalanan kelas I. tangan2 mungil itu mulai memainkan ukulele kumal ataupun peralatan bunyi2an sederhana lainnya, walaupun beberapa mulai menggunakan tape karaoke murahan yang mengalunkan lagu2 khas pengamen, mulai dari lagu2 yang sedang dan sudah terkenal. …mungkinkah.. bila kubertanya.. pada bintang-bintang.. dan bila.. ku mulai merasa..

nak, pulanglah. apa yang kau cari disini? sebegitu tegakan ayah dan ibumu membiarkanmu berkeliaran ditemaram lampu lalu lintas ini? bersekolahkan engkau? tidakkah kalian punya pe er untuk dikerjakan malam ini?

sebuah ungkapan yang sangat klasik. sebuah gelengan kepala yang sangat terlambat. sebuah kepedulian yang usang. kenapa baru sekarang q? kenapa baru kau lihat? karena kontrasnya hal2 yang kau lihat sebelum ini? ah.. sangat melankolis sekali. bahkan terlalu mengada-ngada (benarkah?). mereka hadir sejak lama. anak2 zaman yang tidak merasakan sebuah masa kanak2 yang indah. disaat anak2 seusianya sedang asik main playstation 2 hingga melupakan sekolah, berinternet ria di rumah maupun warnet yang membuat mereka mengenal objek2 fantasi sex lebih dini, menyantap fast food yang bertebaran hingga obesitas melanda mereka, ataupun menonton home theater di rumah mereka dengan suara yang menggelegar dan membangunkan tetangga sebelah yang sedang sakit diabetes melitus akut.

ah memang sebuah gejala sosial yang klasik.. tapi harus diselesaikan secepatnya. ini bukan salah siapa-siapa. mulailah dengan hal yang kecil. apakah merasa iba pada mereka merupakan awal yang baik? dan apakah tidak memberi mereka uang atas hasil jerih payah mereka berteriak-teriak merupakan sebuah pelajaran bagi mereka *supaya mereka kapok ngamen?* atau malah membuat kita kehilangan rasa ‘berbagi’ pada mereka?

yang pasti.. mereka masih ada hingga saat ini dan semakin bertambah.. hingga kapan?