<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aaqq&#124;dot&#124;net &#187; Family</title>
	<atom:link href="http://www.aaqq.net/category/my-family/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aaqq.net</link>
	<description>a life in a blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2012 16:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>tentang si papah dan si mamah</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2010/07/19/tentang-si-papah-dan-si-mamah/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2010/07/19/tentang-si-papah-dan-si-mamah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 22:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=1098</guid>
		<description><![CDATA[saya pernah menulis tentang adik-adik saya di blog ini, dan kali ini tentang si papah dan si mamah. agak melow dan panjang. tapi biar aja lah.. blog saya ini kok. haha. anyway, don&#8217;t get me wrong, mereka masih ada dan menikmati hari tuanya yang (semoga saja) bahagia. saya hanya menuliskan ini sebagai ungkapan rasa kangen saya pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya pernah menulis tentang adik-adik saya di blog ini, dan kali ini tentang si papah dan si mamah. agak melow dan panjang. tapi biar aja lah.. blog saya ini kok. haha. <em>anyway</em>, <em>don&#8217;t get me wrong</em>, mereka masih ada dan menikmati hari tuanya yang (semoga saja) bahagia. saya hanya menuliskan ini sebagai ungkapan rasa kangen saya pada mereka dan juga rasa terima kasih saya karena semua yang telah kita lalui membuat saya seperti ini, baik dan buruk. ini rasa syukur saya karena saya masih memiliki orang tua yang lengkap hingga saat ini. semoga mereka tetap sehat walafiat. semoga masih bisa melihat anak cucunya tumbuh dan berhasil menjadi orang yang membanggakan. semoga mereka memaafkan saya jika ternyata tidak bisa menjadi apa yang mereka bayangkan dahulu. dan semoga mereka merestui semua keputusan yang sudah dan akan saya buat untuk hidup.</p>
<p><span id="more-1098"></span>***</p>
<p>hubungan saya dengan si papah, begitu cara saya memanggil beliau, sungguh turun naik. sewaktu kecil, saya tidak merasa dekat dengannya. tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi saya jarang sekali bercerita apapun kepada beliau. juga sebaliknya, dia jarang sekali bercerita tentang pekerjaannya, tentang kesehariannya, bahkan tentang masa lalunya. ia termasuk orang yang jarang memarahi saya. namun, jangan harap kita bisa kabur jika ia marah. saya pernah dijungkirbalikan (dalam arti yang sebenarnya) di atas tempat tidur ketika ia saya melakukan kesalahan. saya menangis sejadinya.</p>
<p>saya juga merasa kalau ia tidak mudah percaya pada saya. ia pernah membuat saya tidak jadi ikut lomba adzan (yes, you read it.. a.d.z.a.n) karena menurutnya suara saya tidak bagus (a<em>t the end, i should admit, he&#8217;s right</em>). padahal saya sudah latihan selama 2 hari di rumah. ia juga tidak mempercayai saya untuk memegang mobil ketika umur saya 14 tahun. ketika saya diam-diam belajar mobil pada tetangga di komplek, itu tidak menggoyahkan keputusannya untuk melarang saya memegang mobil. belum cukup umur, katanya. ketika saya sudah cukup umur untuk memiliki sim, ia tetap meminta saya untuk kursus mobil terlebih dahulu sebelum ia cukup tega melepaskan mobilnya pada saya. ketidakpercayaan itu berlanjut hingga saya dewasa. pernah kesabaran ini habis karena ia mengkritisi cara saya menyetir mobil. tanpa berbicara, saya matikan mesin dan meninggalkannya di dalam mobil.</p>
<p>sebuah permasalahan membawanya pada titik bawah. usahanya &#8216;bermasalah&#8217; dan ia menjadi lebih sering sakit. permasalahannya pun lalu menjadi permasalahan keluarga kami. itulah titik perubahan hubungan saya dengannya. tapi masalah itu membuat saya malah menjadi lebih sering berkomunikasi dengan si papah dibandingkan dahulu. saya juga menuntutnya bercerita tentang semua pekerjaan, permasalahan dan orang-orang yang berhubungan dengannya. saya secara perlahan mulai mengetahui sepak terjangnya di dunia bisnis *<em>andai dia bisa menceritakannya sejak awal</em>*. secara perlahan pola hubungan kami berubah. kami tetap seperti bapak dan anak laki-lakinya, namun kami berbicara sebagai dua orang dewasa. saya merasakan perbedaan itu.</p>
<p>semua yang dialami olehnya dalam beberapa tahun terakhir, mempengaruhi saya dan keluarga secara keseluruhan. belum semua selesai memang. namun, sekarang saya harus mengucapkan terima kasih padanya. tanpa itu semua, mungkin saya tidak akan akan seperti ini. beberapa tahun terakhir menjadi tahun yang berat buat kami semua,  tapi justru itu membentuk saya seperti sekarang ini. saya juga tidak bisa membayangkan jika saya tidak mengalami itu, entah seperti apa hubungan saya dengannya saat ini?</p>
<p>saya mungkin akan jadi gila jika menghadapi masalah seperti si papah. tapi dia ternyata tetap tegar dan waras untuk menghadapi itu semua. beberapa perdebatan di rumah sering terjadi karena masalah-masalah itu, entah dengan si mamah, ataupun adik-adik saya. tapi semua itu tetap menjadikannya seorang bapak yang baik untuk saya.  ketika saya kecil, saya tidak mengidolakannya sebagai seorang bapak. namun saat ini saya menyadari dia adalah bapak yang terbaik. tidak mudah menjadi seorang  seorang kepala keluarga dan penopang ekonomi keluarga. tidak hanya untuk keluarganya, namun juga untuk semua saudara-saudaranya. ia juga memperlihatkan saya (hingga saat ini) untuk berderma pada saudara-saudara, teman, bahkan orang lain. tidak semua orang bisa menjadi konsisten seperti itu. ia adalah orang dengan hati yang amat besar.</p>
<p>dengan semua hal yang pernah terjadi dengannya, saya bangga memiliki bapak seperti si papah.</p>
<p>***</p>
<p>si mamah yang saya tahu ketika saya kecil adalah seorang ibu yang tegas dan galak. iya.. sangat galak. tidak hanya kami anak-anaknya, tapi semua sepupu-sepupu saya pun takut padanya. sebagai anak pertama dari banyak adik, ia juga harus membantu nenek saya mengasuh mereka ketika mereka masih kecil. itu menjadikannya sebagai orang yang keras bagi adik-adiknya dan juga anak-anaknya. ia mendidik saya dengan keras, termasuk untuk urusan belajar. tak heran jika nilai pelajaran saya cukup baik, karena ia sama sekali tidak mengizinkan saya bermain ataupun membaca buku non pelajaran jika bukan hari libur. ia berperan sangat dominan di rumah, untuk semua urusan mulai dari urusan dapur, sekolah, hingga pemilihan isi rumah.</p>
<p>perlahan sifat galaknya semakin berkurang ketika saya menginjak bangku kuliah. entah karena saya yang semakin menjadi anak baik, atau memang si mamah merasa kalau saya memang harus diperlakukan sebagai orang dewasa. saat ini, saya malah merasa menjadi anak manja buat si mamah. ia memperlakukan saya berbeda dengan adik-adik saya. mereka bahkan bilang kalau saya itu anak kesayangan si mamah. <em>haha. </em>tentu saja saya tidak pernah protes untuk hal itu. kopi tubruk buatannya sangat enak.  itu adalah salah satu dari banyak hal yang sering buat ketika saya pulang ke rumah. kami pun berbagi hal buruk bersama, yaitu rokok. sulit untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. hingga saat ini, kami masih bersama-sama menikmati rokok dan kopi seraya mengobrol di ruang tamu.</p>
<p>doa si mamah adalah doa yang paling manjur. hingga saat ini, setiap hendak melakukan presentasi, ujian, interview atau apapun yang cukup penting, saya selalu memintakan doa darinya. alhamdulilah, selama ini semua doa si mamah mampu membantu saya melewati hal-hal tersebut. ketika saya memutuskan untuk melamar posisi phd di belanda ini, si mamah tidak sepenuhnya setuju. tapi saya nekat dan tetap mengirimkan aplikasi itu. cukup lama saya menunggu, hasilnya tidak juga datang. hari itu, saya minta doa restunya. saya minta keikhlasannya untuk bisa memilih jalan &#8216;sekolah lagi&#8217; dan bukan bekerja seperti keinginannya. ia luluh dan mengangguk. seminggu setelah kejadian itu, saya kedatangan email berisi surat penerimaan dari universitas utrecht. doa si mamah, sekali lagi menunjukan keampuhannya. <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>permasalahan si papah, harus diakui berpengaruh banyak pada si mamah. syukur, itu malah membuat ia semakin dekat dengan saya dan adik-adik dengan segala macam bentuknya. tak jarang ia bisa menangis ketika bercerita (dan beberapa kali agak lebay memang), hal yang mungkin tidak pernah saya lihat dahulu. tapi sekali lagi, saya bersyukur kami semua bisa mengalami ini. kedekatan saya dengan si mamah pun sekarang ada di tahap yang berbeda.</p>
<p>saat ini, walaupun saya jauh, hubungan kami tetap dekat. tak jarang ia mengirimkan sms, hanya untuk bilang kangen dan minta saya menelepon. walaupun kadang saya juga suka tidak bisa langsung menelepon atau membalas sms-nya, tapi pasti selalu saya sempatkan. seperti minggu lalu, ia sms dan meminta saya menelepon dengan tulisan yang membuat saya khawatir. ternyata ia meminta saya membelikannya tas (yang katanya sejenis) prada sebagai oleh-oleh kalau saya pulang ke indonesia. kan di sana sedang musim diskon, kilahnya. saya hampir pingsan.</p>
<p>well.. apapun.. itu lah si mamah. saya beruntung dan bangga memiliki ibu seperti si mamah.</p>
<p>***</p>
<p><em>i love you, guys&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2010/07/19/tentang-si-papah-dan-si-mamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kakek anwar</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/08/20/kakek-anwar/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/08/20/kakek-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 00:17:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[namanya anwar azis. anak-anaknya memanggil ia dengan sebutan papah. kadang saya ikut pula memanggilnya papah, walau kakek adalah sebutan yang jauh lebih tepat untuknya. dia putih, tinggi dan sangat gagah di masa mudanya. jika pada zaman dulu mobil adalah barang langka, maka dia adalah salah satu pemilik barang langka itu.  jika pemilik kebun cokelat dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>namanya anwar azis. anak-anaknya memanggil ia dengan sebutan papah. kadang saya ikut pula memanggilnya papah, walau kakek adalah sebutan yang jauh lebih tepat untuknya. dia putih, tinggi dan sangat gagah di masa mudanya. jika pada zaman dulu mobil adalah barang langka, maka dia adalah salah satu pemilik barang langka itu.  jika pemilik kebun cokelat dan tanah yang berhektar-hektar disebut tuan tanah, maka dia adalah salah satu diantaranya. entah sudah berapa banyak wanita yang <em>termehek2</em> dengan kharisma yang dimilikinya. nenek adalah salah satunya.</p>
<p>tak banyak yang bisa saya ingat dari dirinya karena kami jarang bertemu. apalagi setelah ia bertemu dengan nenek yang lain, semakin jarang ia menemui kami di bogor. masa kecil saya lalui dengan sebuah kenyataan bahwa saya punya satu orang nenek yang luar biasa karena harus membesarkan anak-anaknya sendirian.</p>
<p>namun, beberapa kali saya pun bertemu kakek anwar. ia selalu memegang rambut saya dan kemudian mencium kedua pipi dengan bertubi-tubi. rasa geli dari kumis dan jenggot yang baru saja tumbuh akhirnya menjadi hal yang saya ingat hingga saat ini. kemudian, ia pun pergi ke tempat lain yang saya tidak pernah tahu.</p>
<p><span id="more-774"></span>saat terakhir bertemu dirinya adalah 4 tahun yang lalu. saat itu lebaran dan ia sakit keras. berbondong-bondong kami mengunjunginya di ciamis. ia terlihat tampak tua dan lemah. namun sisa-sisa kegagahannya masih ada. tertidur lemas dengan tabung oksigen di sampingnya, membuat siapapun tak kuasa untuk merasa kasihan. tak ada lagi kesalahan masa lalu. kami hanya berdoa yang terbaik untuknya. syukurnya, ia bisa bertahan. kehadiran anak-anak dan cucunya ternyata menjadi pemompa semangatnya kembali.</p>
<p>subuh tadi, dengan ditemani anak dan cucunya, ia menyerah. penyakit yang didera selama bertahun-tahun membuatnya pergi untuk selama-lamanya. tiada kesedihan berlebihan yang saya rasakan, kecuali kepasrahan bahwa ini memang yang terbaik untuknya.</p>
<p>he&#8217;s still one of my best grandfathers.</p>
<p>kakek anwar.. selamat tinggal. sampai jumpa di dimensi yang lain. teriring doa untuk kakek.</p>
<p>we love you.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/08/20/kakek-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>for my sisters..</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2006/12/04/for-my-sisters/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2006/12/04/for-my-sisters/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Dec 2006 23:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; you know i&#8217;ve seen a lot of what the world can do and it&#8217;s breakin&#8217; my heart in two because I never wanna see you a sad girl don&#8217;t be a bad girl but if you wanna leave, take good care hope you make a lot of nice friends out there but just remember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8230;<em> you know i&#8217;ve seen a lot of what the world can do<br />
and it&#8217;s breakin&#8217; my heart in two<br />
because I never wanna see you a sad girl<br />
don&#8217;t be a bad girl<br />
but if you wanna leave, take good care<br />
hope you make a lot of nice friends out there<br />
but just remember there&#8217;s a lot of bad and beware&#8230;</em></p>
<p><em>wild world &#8211; cat steven</em></p>
<p>terlahir sebagai anak tertua dan satu-satunya anak lelaki dalam keluarga memiliki <em>keunikan </em>tersendiri, di samping tanggung jawab yang lebih berat tentunya. menjalani kehidupan bersama mereka selama puluhan tahun, membuat saya melihat sebuah perkembangan yang menakjubkan dari dua orang manusia.. dua orang adik saya.. dan dua orang wanita yang cantik dan baik hati *<em>haiyaah.. kalo mereka baca pasti ge er abis</em>*. dimulai dari anak-anak kecil yang dahulunya adalah teman berantem, adik kecil yang ingusan, cengeng, manja dan pernah membuat saya tidak mau bertemu selama beberapa hari, hingga menjadi seorang wanita dewasa yang tidak lagi tergantung pada orang tua. saat ini, mereka semua sudah &#8216;un-officially&#8217; tidak tinggal rumah dan hanya bapak dan ibu saja menikmati masa tuanya berdua di rumah.<span id="more-107"></span></p>
<p>***</p>
<p>adik saya yang pertama bernama rizke *<em>ya.. kami bertiga memang memiliki nama yang dimulai dari huruf R.. entah mengapa.. dan saya selalu lupa untuk bertanya ini pada bapak atau ibu</em>*. perbedaan umur kami hanya 2 tahun dan itu menjadikannya teman paling cocok untuk bertengkar di masa kecil. seringnya kami bertengkar membuat saya dan dia tidak cukup akrab untuk bercerita hal-hal pribadi. hal itu berlangsung hingga saya kuliah. ketika di rumah kadang saya hanya bicara seperlunya. ia pun lebih dekat kepada adik saya yang nomor dua. terutama karena mereka sama-sama wanita sehingga lebih enak untuk bercerita mengenai masalah pribadi di antara mereka saja. kami bersekolah yang sama hingga perguruan tinggi dan memiliki kesukaan yang sama terhadap gambar dan seni grafis lainnya. ia juga pintar, selalu juara kelas dan pandai berolahraga, bahkan menjadi tim basket di sma nya.</p>
<p>tiba-tiba suatu saat, saya menyadari bahwa ia sudah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang cantik. ia memang memiliki kulit yang jauh lebih putih dibandingkan saya. kadang teman-teman saya pun tidak percaya jika ia adalah adik kandung saya. namun mereka tidak bisa  memungkiri bahwa kami bertiga memiliki bentuk mata yang sama. hahaha. hingga pada suatu ketika, ia mengatakan bahwa ia akan menikah dan meminta izin saya untuk mendahului. saya cuma terdiam dan mengangguk. pernikahannya pun bukan hal mudah untuk disetujui oleh orang tua saya. tapi saya melihat kesungguhan pada dirinya dan mendukung 100% pada pilihannya. bahkan saya pun membantunya untuk meminta izin pada ibu dan bapak saya. ibu saya pun luluh dan memberi restu untuk menjalani kehidupannya yang baru. saya sendiri tidak bisa hadir di pernikahannya karena saat yang bersamaan saya harus pergi bersekolah di belanda. namun, sebelum saya pergi, mereka melangsungkan upacara &#8216;<em>seserahan</em>&#8216;sekaligus memberikan simbol pelangkah yang tidak pernah saya minta. saya cuma bisa terdiam dan menangis terharu selama upacara berlangsung.</p>
<p>tiga tahun berlalu, dan ia sudah memberikan seorang cucu pada bapak dan ibu saya. seorang anak perempuan cantik seperti dirinya. lucu dan aneh ketika ia pertama kali menyapa saya dengan sebutan uwak. saat itu pula saya merasa memiliki seorang keluarga baru yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata.  kadang, disaat saya berjalan di sebuah tempat, saya selalu mencari barang yang akan bisa saya berikan padanya.</p>
<p>adik saya pun sekarang menjadi seorang ibu yang baik. walaupun kadang ia sering kali berbeda pendapat dengan ibu saya dalam cara mengasuh anaknya. tapi saya melihatnya sebagai sebuah perubahan cara pandang dalam mengasuh anak. adik saya belajar banyak dalam proses ia menjadi seorang dewasa dan menyesuaikan dengan cara ibu saya mengasuhnya dahulu. saya pun menghormati keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga dahulu pada saat ini. saya tahu, ia cukup pandai dalam merencanakan hidupnya. ia pun menjadi teman yang baik dalam berdiskusi dan menyelesaikan masalah yang ada dalam keluarga kami. kadang saya takjub dengan perubahan yang ada pada dia. cara berpikir kami ternyata sudah semakin berubah dan kami berada dalam phase yang baru dalam hubungan kakak beradik.</p>
<p>adik saya yang kedua berbeda delapan tahun. pada saat saya sd, saya ingat sekali ketika ayah mengajak saya ke rumah bersalin untuk menjemput ibu dan mereka membawa pulang seorang bayi yang mungil. lucu juga dipikir-pikir, memiliki adik yang jaraknya cukup jauh pada saat itu. tidak seperti saya yang dipanggil kiki ataupun rizke yang dipanggil keke, ia diberi nama riza dengan panggilan icha.  jarak yang cukup jauh kadang membuat ia menjadi sedikit manja. tak jarang kami pun bertengkar untuk beberapa hal konyol. ia tumbuh menjadi anak yang aktif, super lucu, dan banyak memiliki kawan. sejak sd ia selalu membawa kawan-kawannya ke rumah dan itu berlangsung hingga saat ini.</p>
<p>saat lulus sma, ia memilih untuk mengambil jurusan <em>broadcasting</em> yang tidak cukup umum di keluarga kami. tapi saya tahu bahwa itu merupakan pilihannya dan ia sangat menginginkan itu. jujur saja, saya dahulu memimpikan bisa mengambil jurusan itu. kembali saya pun harus membantu meyakinkan kedua orang tua saya bahwa pilihannya itu baik. terbukti, ia sangat menikmati kuliahnya. saat ini, saya pun masih memiliki hutang untuk bisa menyekolahkannya ke tingkat ekstensi. sejak tahun lalu saya selalu menunda-nunda keinginannya dengan alasan finansial. tapi ia cukup tahu diri dan akhirnya berjuang keras untuk bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. saat ini, ia bekerja pada salah satu TV swasta di indonesia yang merupakan cita-citanya. tak jarang ia bercerita dengan semangat beberapa kejadian pada saat ia bertemu dengan selebiriti indonesia di sana. namun, keinginan untuk bersekolah tak juga surut dan saya pun berjanji akan terus mendukung keinginannya itu.</p>
<p>ia pun mulai tumbuh menjadi wanita yang dewasa, walaupun untuk beberapa hal kadang masih terlihat sifat kanak-kanaknya. tapi saya percaya ia mulai menata diri menjadi seorang wanita dewasa. beberapa kali kami terlibat pembicaraan menyangkut masa depannya, mulai dari pekerjaan, rencananya bersekolah lagi hingga rencananya untuk menikah. saya pun tak akan pernah menghalangi keinginannya untuk menikah walaupun harus mendahului saya. kapanpun itu. ia cudah cukup dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya. di saat akhir pekan, ia pun sudah menjadi teman diskusi yang baik untuk ibu saya, terutama untuk beberapa masalah di rumah, karena saya ada di belanda dan keke sudah memiliki rumah sendiri di bagian lain kota bogor. ah.. ia memang sudah dewasa.</p>
<p>***</p>
<p>saya tidak pernah mengatakan secara verbal bagaimana saya menyayangi mereka.  tapi saya yakin, bahwa mereka bisa merasakan itu. saya pun bangga pada keduanya, karena kondisi keluarga kami ternyata tidak menjadikan mereka anak-anak yang cengeng apalagi lemah. untuk beberapa hal bahkan kekuatan mereka jauh melebihi saya. saat ini saya merasa tenang untuk bisa menjalani hidup saya sendiri. karena saya tahu bahwa mereka sudah bisa berpijak dengan kaki mereka sendiri.</p>
<p>suatu saat kami bertiga akan pulang ke &#8216;rumah&#8217; dengan membawa semua &#8216;perbekalan&#8217; yang telah dikumpulkan dan dimiliki dalam perjalanan ini. kami juga akan tunjukkan pada dunia bagaimana hebatnya kedua orang tua kami, seorang bapak dan seorang ibu, yang telah memberi dan mengajari kami banyak hal untuk bisa bertahan dalam hidup ini. untuk bisa menjadi orang-orang yang hebat dan orang-orang yang berhasil. hanya untuk mereka, <em>the greatest parents in the universe.</em></p>
<p>i love you, all..</p>
<p>&#8230;<br />
<em>oh, baby, baby, it&#8217;s a wild world<br />
it&#8217;s hard to get by just upon a smile<br />
oh, baby, baby, it&#8217;s a wild world<br />
and I&#8217;ll always remember you like a child, girl</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2006/12/04/for-my-sisters/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>welcome</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2004/09/07/welcome/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2004/09/07/welcome/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2004 10:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[putri.. kenapa kamu betah sekali di dalam? membuat susah ibumu yang menahan sejak jam 3 pagi hingga jam 11 malam keesokan harinya.. bahkan harus menangis di kala suntikan cairan induksi harus dimasukkan kedalam tubuhnya.. hingga 10 jam. hingga membuat bapakmu sakit demam dan panas tinggi dua hari sebelum kamu tiba. mungkin stress dia dengan semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>putri..<br />
kenapa kamu betah sekali di dalam? membuat susah ibumu yang menahan sejak jam 3 pagi hingga jam 11 malam keesokan harinya.. bahkan harus menangis di kala suntikan cairan induksi harus dimasukkan kedalam tubuhnya.. hingga 10 jam. hingga membuat bapakmu sakit demam dan panas tinggi dua hari sebelum kamu tiba. mungkin stress dia dengan semua ini. toh kamu yang pertama baginya. kakek dan nenekmu pun tiada bisa menyembunyikan kecemasannya. apalagi kakek dan nenek dari ibumu. buat mereka kamulah cucu pertamanya.</p>
<p>putri..<br />
kamu membuat saya berpikir yang tidak-tidak. kamu membuat saya terharu. kamu membuat saya semakin menyayangi adik2 perempuan saya. kamu juga membuat saya merasa bahwa ibu berkorban sangat besar sekali bagi saya. melawan semua rasa sakit.. meregang nyawa.. bahkan sembilan bulan sebelumnyapun ia dengan rela membawamu kemana-mana.</p>
<p>putri..<br />
selamat datang di dunia ini. selamat membuat penuh dunia ini. buktikan pada mereka bahwa kedatanganmu bukan untuk membuat dunia ini semakin berat, tapi justru kamu dibutuhkan bagi keberlangsungan dunia ini. jadi anak yang baik dan berguna. cukup itu. dunia masih butuh orang2 baik yang berguna. kepintaran sekarang tidak pernah bisa didefinisikan dengan benar. apalagi jika berhubungan dengan masalah uang. jadi.. bercita2lah menjadi orang baik.. karena itu yang sulit dicari sekarang.</p>
<p>putri..<br />
jaga kedua orangtuamu. sayangi kakek dan nenekmu, juga om dan tantemu. dan saya tentunya. selamat menjadi bagian dari keluarga besar ini. keluarga besar bumi.</p>
<p><em>for my niece.. another miracle..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2004/09/07/welcome/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

