
In Reflection on January 26, 2010 by aaqq™
salah satu hal ‘tidak-baik-untuk-diikuti’ yang sering dilakukan selama saya tinggal di belanda adalah ‘tidak bangun pagi’. jam 8-9 adalah bangun pagi saya. ditambah lagi dengan ritual pagi saya yang amat sangat susah untuk dihilangkan, mulai dari membuka internet, buang air, mandi, ngopi (plus sarapan roti) dan sesekali merokok. dengan segala hal itu, tak heran jika jam kerja saya baru dimulai setidaknya jam 10 pagi. jika saya bangun lebih siang, dan saya tidak menghilangkan ritual pagi itu, maka jam datang saya ke kampus menjadi lebih siang.
saya memang mengompensasikannya dengan pulang telat, namun itu tidak membuat semua pekerjaan menjadi lebih sempurna. baru saja datang, dalam dua jam tiba-tiba sudah ada rekan kerja di pintu yang mengajak makan siang. pada akhirnya datang siang malah membuat saya tidak bisa efektif bekerja. saya memang tidak punya kewajiban untuk datang 9-5 seperti halnya pekerja kantoran. target menulis disertasi membuat saya bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. namun, saya sendiri membatasi untuk mengerjakan disertasi hanya di kampus dan bukan di rumah. menyenangkan? untuk beberapa hal, iya.
Read More »

In Reflection on January 15, 2010 by aaqq™

tambah lagi umur saya! alhamdulilaaah! masih bisa menikmati hidup dari BELIAU yang amat sangat terlalu baik pada saya selama 34 tahun hidup. tiga empat??? ya ampun.. tua amat?
tiga empat itu kaya nama sekolahan di jakarta selatan. kaya nomor bus jurusan tangerang. kaya nomor punggungnya hakeem olajuwon. kaya judul lagunya dave matthews band. dan kalau di UUD 1945, pasal 34 itu berisi: fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (plus ayat-ayat lanjutan lainnya).
waktu kecil, saya merasa bahwa orang berumur 34 itu.. tua. maka ketika saat ini saya mencapai angka itu, saya malah bertanya-tanya, apakah diri ini seperti bayangan masa kecil saya dulu? ternyata tidak sepenuhnya benar. karena itu, buat kalian-kalian yang masih kecil, abg, ataupun masih berpikiran bahwa orang 34 itu tua, silahkan diubah paradigma yang salah itu. kecuali, fakta bahwa orang umur 34 sudah tidak mampu lagi menulis sms gaya alay dengan cepat. yang pasti, umur 34 banyak yang sudah jadi ‘orang’, mulai dari ketua rt, dekan, politisi, doktor, hingga profesor. dan biasanya.. mereka selalu diembel-embeli dengan kata muda. jadi umur 34 itu memang masih muda, bukan?
Read More »

In Holland, Reflection on January 11, 2010 by aaqq™

saya bukan penyuka museum. selama saya tinggal di indonesia kunjungan ke museum bisa dihitung dengan jari. saat itu, untuk saya museum bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi. saya tidak bisa menyalahkan pengelolaan museum yang mungkin tidak membuat orang awam seperti saya tidak tertarik untuk mengunjunginya. saya (dan banyak teman-teman) memang tidak menyukai kunjungan ke museum (1).
pandangan itu agak berubah ketika saya di belanda. walau masih jarang, tapi saya mulai memasuki beberapa museum yang ternyata memang sangat menarik untuk dijelajahi. mulai dari rijk museum, van gogh museum, hingga ke museum maluku pernah saya masuki. akhir tahun kemarin, bersama si jerman dan teman-temannya kami mengunjungi hermitage amsterdam yang terhitung masih ‘baru’. cukup kaget juga ketika menyadari bahwa kami menghabiskan 4 jam di dalam sana.
Read More »

In Holland, Reflection on December 16, 2009 by aaqq™
malam datang lebih cepat di musim dingin ini. jam 4.30 sore dan langit pun berubah warna. itu membuat energi bekerja secara psikologis menurun. rasa lapar menyergap lebih cepat, padahal 4 jam lalu baru saja menyelesaikan makan siang. lampu-lampu mulai dinyalakan, orang-orang mulai hilir mudik di bawah jendela, menyeret tas-tas bekerja mereka sambil tak lupa mengenakan sarung tangannya. saya tak sendiri rupanya. banyak yang merasa ingin cepat pulang akibat perubahan waktu ini.
baru dua minggu saya kembali ke kota ini. kota yang senantiasa mendapat tempat khusus di sudut hati. tidak hanya karena ambience-nya yang memang menyenangkan, namun juga kondisi fisiknya yang sangat mempesona. google saja image kota utrecht dan kalian pasti akan menyetujui pernyataan saya tadi. walaupun, harus saya akui ada keangkuhan dan rasa dingin di sana. tidak banyak yang berubah dari kota ini setelah dua bulan setengah saya tinggalkan. lalu lalang orang yang saling tidak peduli di stasiun central, ocehan bahasa yang (masih) belum bisa saya tangkap dengan lancar, pembangunan di kanan-kiri jalan yang terus berlangsung ditambah dengan musim dingin yang menggigit hingga ke tulang, menghiasi kota ini.
Read More »

In Holland, Reflection on September 20, 2009 by aaqq™
berpuasa di negara orang, apalagi yang mayoritas bukan non muslim, membawa pengalaman tersendiri. tidak mudah memang dalam pelaksanaannya, walaupun tidak sesulit yang dibayangkan.
untuk kesekian kalinya, saya pun melaksanakan puasa di belanda. tahun ini ramadhan jatuh pada musim panas. salah satu konsekuensinya adalah waktu berpuasa yang bisa mencapai 17 jam. kaget? saya juga. bahkan di awal puasa, saya sempat tidak yakin bisa melaksanakan puasa. ditambah lagi suhu yang jelas-jelas panas. tapi sekali lagi, itu ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.
teman-teman serumah, si jerman baik hati, begitu penasarannya dengan yang namanya puasa. seminggu pertama, mereka bahkan menemani saya bersahur dengan makanan berat yang jauh dari kebiasaan sehari-hari. alhasil, itu hanya bisa dilakukan 2 hari saja. sisanya, mereka hanya menemani saya bersahur. beberapa kali buka puasa, mereka pun menunggu hingga waktu berbuka, yaitu jam 8.30 malam. terharu rasanya.
beberapa hal konyol pun masih tetap saya lakukan, salah satunya adalah rekor 5 kali bablas sahur. maka, tigapuluh lessons pun berhasil saya kumpulkan dalam bulan ramadhan kali ini. jangan dianggap serius, apalagi jadi panduan puasa, karena memang bukan itu tujuannya. namun, mudah-mudahan bisa membuka sedikit kehidupan puasa saya (pribadi) di belanda, yang (jujur aja) jauh dari sempurna urusan agama
Read More »

In Holland, Reflection on June 19, 2009 by aaqq™
buat saya, presentasi yang hebat tergantung dari kombinasi beberapa hal, yaitu slide yang informatif, kemampuan bicara yang ringkas, informatif dan tidak kaku. ditambah dengan persiapan materi yang matang, dan kalau memungkinkan melihat siapa audience yang akan hadir.
menjadi presenter yang baik tidak mudah. saya sudah membuktikannya. tak heran, ketika saya mendapat kesempatan untuk ikut kelas presentasi di kampus, tanpa panjang lebar, saya mengambilnya. ternyata, banyak hal dalam presentasi yang tidak saya lakukan selama ini. belum lagi mengatasi rasa gugup dan kesulitan bernafas ketika ada di hadapan ratusan orang. karena itu, buat saya, presentasi bukan hal mudah.
Read More »

In Reflection on May 4, 2009 by aaqq™
menulis postingan di antara riweuh-nya deadline serta janji pekerjaan yang tidak beres-beres memang bukan hal menyenangkan. namun harus diakui, saya tidak bisa menahan diri untuk menulis ini. *harus.. musti.. kudu… must*
satu bulan berlalu setelah novel pertama kami, Negeri van Oranje, terbit. berbagai macam respon yang timbul, mulai dari yang positif, negatif, histeris, senang, bangga, terinspirasi, berguna, bikin pengen ke belanda, kasihan, hingga cuek bebek, membuat kami merasa senang. kerja keras selama berbulan-bulan kemarin seperti tidak terasa. bahkan ibu saya, tak hanya rebutan membaca dengan adik namun dengan lempeng-nya berkomentar: “a.. hidup kamu di belanda ternyata susah yah? huahahaha…” *gak kok mah.. tenang aja*
Read More »

In Reflection on April 9, 2009 by aaqq™
hidup tidak pernah bisa ditebak, tapi bisa direncanakan (walaupun implementasi rencana juga kadang tidak selamanya sesuai dengan keinginan). membuat novel adalah salah satu dari 43 hal yang ingin saya lakukan dalam hidup. saya tulis itu 5 tahun yang lalu. and now.. i did it!! namun, ketika novel itu jadi dan terbit, saya malah tidak percaya jika salah satu wishlist dalam hidup telah tercoret (dan juga salah satu resolusi 2009). *lah.. gimana sih??*
ya.. akhirnya 1 april 2009, bayi itu lahir juga. negeri van oranje, nama yang akhirnya menjadi lekat dengan saya, wahyu, adept dan anis. sebuah masterpiece yang bermula dari ngopi-ngopi, kongkow-kongkow, haha hihi, plus keinginan untuk berbagi pengalaman berharga dalam hidup kami, hingga akhirnya menjadi sebuah 2 lembar plot cerita dan 477 halaman novel.
menulis berempat juga bukan hal mudah, i must say. empat otak jadi satu dan membuatnya jadi sebuah novel adalah sebuah perjuangan yang menyenangkan. jarak yang berjauhan, kesibukan yang berbeda, cara menulis yang tidak sama, hingga mood yang tidak dalam satu channel, mengiringi pembuatan novel ini. kapok buat menulis novel? sama sekali tidak! nantikan saja..
Read More »