<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aaqq&#124;dot&#124;net &#187; Reflection</title>
	<atom:link href="http://www.aaqq.net/category/reflection/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aaqq.net</link>
	<description>a life in a blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2012 16:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>melepas rasa kehilangan</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2011/07/17/melepas-rasa-kehilangan/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2011/07/17/melepas-rasa-kehilangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 11:59:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=1257</guid>
		<description><![CDATA[akhirnya saya kehilangan kaca mata hitam kesayangan. mengapa akhirnya? karena setelah beberapa kali si hitam hampir hilang, sekarang saatnya ia benar-benar pergi dari genggaman saya. saya memang tidak membelinya. seorang teman memberikannya kepada saya setahun yang lalu. tapi keterikatan saya dengan si hitam ini sudah sangat erat. entah, sudah berapa tempat yang ia datangi. dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://ak.buy.com/PI/0/500/217595325.jpg" alt="" width="250" height="250" /> akhirnya saya kehilangan kaca mata hitam kesayangan. mengapa akhirnya? karena setelah beberapa kali si hitam hampir hilang, sekarang saatnya ia benar-benar pergi dari genggaman saya.</p>
<p>saya memang tidak membelinya. seorang teman memberikannya kepada saya setahun yang lalu. tapi keterikatan saya dengan si hitam ini sudah sangat erat. entah, sudah berapa tempat yang ia datangi. dan entah sudah berapa orang yang tertipu karena menganggap saya begitu gantengnya dengan kacamata itu.</p>
<p>awal bulan ini, ketika selesai pindahan, saya dengan panik mencari si hitam. ia ternyata terselip di dalam tas daypack orange. minggu lalu, saya meninggalkannya di sebuah restoran di palembang. dua hari setelah itu, saya berusaha kembali ke restoran untuk mengambilnya. pelayan yang baik hati menyimpankannya untuk saya. kemarin, saya menjatuhkannya di sebuah kendaraan umum dan tidak ada kesempatan untuk mengidentifikasi kendaraan mana yang saya tumpangi. ia pun benar-benar pergi.</p>
<p>bukan hanya kacamata, beberapa hari sebelumnya, saya pun kehilangan dua kesempatan di masa depan. kecewa? sudah pasti. bayangkan, hidup saya bergantung di situ, semua rencana-rencana lanjutan ada di situ, termasuk bayangan akan berada di mana saya saat itu. semua harapan yang ditumpuk sebelum itu pun tiba-tiba&#8230; whuuuz.. hilang.</p>
<p><span id="more-1257"></span>kehilangan kacamata kemarin seharusnya membuat saya semakin bete. sudah tidak mendapat kesempatan masa depan, kehilangan barang kesayangan pula. tapi tidak seperti sebelum-sebelumnya yang begitu ngotot untuk mencari dan mengambil balik, kali ini saya lebih pasrah. kali ini saya merasa bahwa ia memang sudah waktunya ia pergi. saya percaya sudah saatnya ia melayani orang lain, yang mudah-mudahan dapat merawatnya dengan baik. semoga yang menemukan juga dapat menjadi lebih ganteng, karena si hitam dipercaya memiliki level kegantengan +2. bayangkan, jika level ganteng anda mentok di 5 misalnya, maka dengan kacamata itu anda bisa bersaing dengan kaum-kaum ganteng di level 7. menakjubkan bukan?</p>
<p>si hitam ternyata membuat saya berpikir ulang mengenai rasa kehilangan kesempatan masa depan itu. rasa kehilangan dan kekalahan memang menyakitkan, tapi saya menyadari bahwa jika sesuatu memang bukan untuk saya, tidak ada gunanya juga untuk mempertahankan. jika tidak ingin kehilangan, seharusnya saya berusaha jauh lebih baik. saya tidak boleh teledor menjaga si hitam. saya harus meningkatkan usaha untuk mendapatkan si masa depan, dan masih banyak lagi.</p>
<p>saya percaya, ada jalan lain yang memang perlu dilirik dan ada hidup lain yang, semoga, jauh lebih baik. memulai sesuatu dari awal memang menyebalkan, tapi ini hidup dan memang seharusnya sulit bukan? dan yang terpenting.. saya memang harus memiliki kacamata yang bisa menambah kegantengan sebanyak 3 poin. +2 sepertinya sudah tidak menolong banyak. <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2011/07/17/melepas-rasa-kehilangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>the process: what is home?</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2011/01/31/the-process-what-is-home/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2011/01/31/the-process-what-is-home/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 13:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Scholar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=1250</guid>
		<description><![CDATA[yes&#8230; what is home? hehe. source: phdcomics.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>yes&#8230; what is home? hehe.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.phdcomics.com/comics/archive/phd062308s.gif" alt="" width="500" /></p>
<p><em>source: phdcomics.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2011/01/31/the-process-what-is-home/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>apakah kita menghargai diri sendiri?</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2010/01/26/menghargai-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2010/01/26/menghargai-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 21:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=959</guid>
		<description><![CDATA[salah satu hal &#8216;tidak-baik-untuk-diikuti&#8217; yang sering dilakukan selama saya tinggal di belanda adalah &#8216;tidak bangun pagi&#8217;. jam 8-9 adalah bangun pagi saya. ditambah lagi dengan ritual pagi saya yang amat sangat susah untuk dihilangkan, mulai dari membuka internet, buang air, mandi, ngopi (plus sarapan roti) dan sesekali merokok. dengan segala hal itu, tak heran jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2002/2118210229_afaf87d066_m.jpg" alt="" hspace="5" width="130" />salah satu hal &#8216;tidak-baik-untuk-diikuti&#8217; yang sering dilakukan selama saya tinggal di belanda adalah &#8216;tidak bangun pagi&#8217;. jam 8-9 adalah bangun pagi saya. ditambah lagi dengan ritual pagi saya yang amat sangat susah untuk dihilangkan, mulai dari membuka internet, buang air, mandi, ngopi (plus sarapan roti) dan sesekali merokok. dengan segala hal itu, tak heran jika jam kerja saya baru dimulai setidaknya jam 10 pagi. jika saya bangun lebih siang, dan saya tidak menghilangkan ritual pagi itu, maka jam datang saya ke kampus menjadi lebih siang.</p>
<p>saya memang mengompensasikannya dengan pulang telat, namun itu tidak membuat semua pekerjaan menjadi lebih sempurna. baru saja datang,  dalam dua jam tiba-tiba sudah ada rekan kerja di pintu yang mengajak makan siang. pada akhirnya datang siang malah membuat saya tidak bisa efektif bekerja. saya memang tidak punya kewajiban untuk datang 9-5 seperti halnya pekerja kantoran. target menulis disertasi membuat saya bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. namun, saya sendiri membatasi untuk mengerjakan disertasi hanya di kampus dan bukan di rumah. menyenangkan? untuk beberapa hal, iya.</p>
<p><span id="more-959"></span>tapi jangan salah duga, dalam beberapa tahun hidup di belanda, saya (untungnya) jarang terlambat jika ada janji pertemuan/rapat/seminar dengan supervisor, rekan kerja, ataupun kolega lain. saya bisa lebih bangun pagi ataupun tidak melakukan ritual pagi saya agar tidak terlambat. apalagi tinggal di belanda ini, ketika jam-tidak-karet begitu banyak, saya pun harus berupaya untuk tepat waktu. janji dengan supervisor ataupun rekan-rekan kerja lainnya sejauh ini masih lebih banyak tepatnya dibanding <em>ngaret</em>nya. semua bermuara pada satu hal, karena tidak ingin mengecewakan orang lain.</p>
<p>walaupun, beberapa kali juga saya terlambat ketika berjanji dengan beberapa teman, namun saya selalu berusaha untuk tidak melakukannya lagi *<em>maafkan.. maafkan saya</em>*. juga ketika pulang ke indonesia, saya beberapa kali terlambat datang dengan berbagai alasan, seperti macet, hujan, dan masih banyak lagi. beruntung jika orang yang saya &#8216;telati&#8217; ternyata terlambat juga, namun jika tidak maka saya yang akhirnya merasa malu melakukan itu. belum lagi jika mereka marah ataupun merasa membuat saya tidak menghargainya. maka, hargai-orang-lain-jika-ingin-dihargai, adalah pernyataan yang tidak perlu dikomentari panjang lebar lagi. harus itu.</p>
<p>hari ini, ketika saya berpikir tentang bagaimana cara kita menghargai orang lain, kebiasaan bangun siang ini membuat saya terhenyak. saya dengan IRONIS-nya ternyata <strong>TIDAK MENGHARGAI DIRI SENDIRI</strong>. saya punya (dan membuat) banyak target untuk diri saya sendiri, untuk bisa menyelesaikan disertasi, untuk tetap ke kampus walaupun saya bisa mengerjakannya di rumah, untuk bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin, untuk bisa tetap dekat dengan Beliau, dan masih banyak lagi. tapi apa yang saya lakukan? saya tidak menghargai semua janji yang saya buat pada diri saya sendiri. saya dengan semena-menanya bangun siang dan mengacaukan semua janji yang sudah saya buat. saya tidak menghargai diri saya sendiri. bagaimana mungkin saya bisa menghargai orang lain tapi tidak pada diri sendiri? paradoks? atau kebodohan?</p>
<p>sebagian besar kita memang sangat bisa menghargai orang lain. namun seringkali juga kita lupa untuk bisa menghargai diri kita sendiri. kita seringkali hanya berusaha membuat orang lain tidak kecewa. kita bersusah payah untuk bisa menjaga kredibilitas kita di depan orang lain. kita menjaga perasaan orang lain agar <em>image</em> kita tidak menjadi negatif dan posisi kita tidak hilang. tapi apakah kita menghargai diri kita sendiri dengan menepati janji yang sudah kita buat pada diri sendiri?</p>
<p>semua pemikiran ini malah membuat saya malu. saya ternyata tidak sepenuhnya bisa dikatakan menghargai orang lain. bagaimana mungkin semua hal itu karena saya menghargai orang lain, sedangkan saya masih semena-mena pada diri sendiri. jangan-jangan itu karena saya hanya tidak ingin mengecewakan orang lain, atau lebih parahnya menjaga <em>image</em> baik di hadapan orang. masih jauh rupanya bagi saya untuk mengatakan bahwa saya bisa menghargai orang lain, karena saya masih perlu belajar tentang sebuah keseimbangan. tidak hanya pada orang lain, namun juga pada diri sendiri.</p>
<p>nah, bagaimana dengan anda? apakah anda sudah menghargai diri sendiri? apakah anda sudah menepati janji yang anda buat untuk diri sendiri? untuk makan teratur, untuk tidur teratur, untuk hidup lebih sehat, dan janji-janji lainnya. kalau belum, mungkin anda perlu memikirkan cara menghargai diri sendiri tanpa melupakan penghargaan pada orang lain. kalau saya akan memulainya dengan bangun lebih pagi. doakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2010/01/26/menghargai-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>manusia tiga empat tahun</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2010/01/15/manusia-tiga-empat-tahun/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2010/01/15/manusia-tiga-empat-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 23:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[tambah lagi umur saya! alhamdulilaaah! masih bisa menikmati hidup dari BELIAU yang amat sangat terlalu baik pada saya selama 34 tahun hidup. tiga empat??? ya ampun.. tua amat? tiga empat itu kaya nama sekolahan di jakarta selatan. kaya nomor bus jurusan tangerang. kaya nomor punggungnya hakeem olajuwon. kaya judul lagunya dave matthews band. dan kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin: 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2223/4310486475_62e0cf7b68_m.jpg" alt="" width="200" height="200" /></p>
<p>tambah lagi umur saya! alhamdulilaaah! masih bisa menikmati hidup dari BELIAU yang amat sangat terlalu baik pada saya selama 34 tahun hidup. tiga empat??? ya ampun.. tua amat?</p>
<p>tiga empat itu kaya nama sekolahan di jakarta selatan. kaya nomor bus jurusan tangerang. kaya nomor punggungnya hakeem olajuwon. kaya judul lagunya dave matthews band. dan kalau di UUD 1945, pasal 34 itu berisi: fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (plus ayat-ayat lanjutan lainnya).</p>
<p>waktu kecil, saya merasa bahwa orang berumur 34 itu.. tua. maka ketika saat ini saya mencapai angka itu, saya malah bertanya-tanya, apakah diri ini seperti bayangan masa kecil saya dulu? ternyata tidak sepenuhnya benar. karena itu, buat kalian-kalian yang masih kecil, abg, ataupun masih berpikiran bahwa orang 34 itu tua, silahkan diubah paradigma yang salah itu. kecuali, fakta bahwa orang umur 34 sudah tidak mampu lagi menulis sms gaya alay dengan cepat. yang pasti, umur 34 banyak yang sudah jadi &#8216;orang&#8217;, mulai dari ketua rt, dekan, politisi, doktor, hingga profesor. dan biasanya..  mereka selalu diembel-embeli dengan kata muda. jadi umur 34 itu memang masih muda, bukan?</p>
<p><span id="more-933"></span>tapi pernah gak sih kita berpikir apa aja yang pernah kita lakukan selama hidup ini? apalagi kalau kita hidup 34 tahun dan masih bingung bedain antara julia perez dan dewi persik. malam ini, saya iseng-iseng mengingat-ingat jalur hidup selama ini. beberapa mungkin sengaja saya lupakan atau disamarkan demi keamanan negara.</p>
<p>umur 1 tahun: bisa jalan<br />
2: bisa lari<br />
3: jatoh ke got, gegar otak dan dijahit di kepala.<br />
4: lupa, mungkin gara-gara gegar otak itu.<br />
5: nangis selama setahun di TK. nyokap wajib ada di ruangan.<br />
6: udah bisa baca. gambarnya masuk tipi di pak tino sidin.<br />
7: ranking satu dong di kelas. pelajarannya masih cemen lah. baca ama nulis.<br />
8: puasa satu bulan penuh. dapat 5000 perak dari bokap.<br />
9: masuk tipi, acara kuis gitu.<br />
10: disunat. lega rasanya.<br />
11: pertama kali berantem. udah itu, kayanya gak pernah lagi.<br />
12: lulus sd dong, nemnya 43. *<em>masih ada nem gak sekarang yah?</em>*<br />
13: angka sial. *<em>yee.. nenek-nenek begadang juga tau</em>*. rambut jadi belah tengah.<br />
14: ranking 50an di sekolah. mampus deh.<br />
15: ketagihan enny arrow dan nonton bokep. anak baek baru puber umur segini.<br />
16: masuk sekolah favorit di bogor. bedol desa. satu kelas isinya temen smp semua.<br />
17: ketemu sahabat-sahabat yang masih kontak sampe sekarang.<br />
18: lulus sma dan dapet pmdk ke ipb. yah, cinta bogor banget emang.<br />
19: jadi mahasiswa dan naek gunung untuk pertama kali (gede pangrango)<br />
20: menjadi anak kost dan tidak tinggal di rumah. i was free.<br />
21: pertama kali ke jawa tengah dan jawa timur. kayanya dulu tuh, jauuh banget.<br />
22: kelayapan keluar masuk hutan, sampe ke aceh.<br />
23: jadi sarjana kehutanan. kerja di riau. jadi orang kayu.<br />
24: kerja di icraf bogor. jalan-jalan keliling sumatera. naek pesawat untuk pertama kali.<br />
25: pertama kali dalam hidup mengunjungi bali *<em>akhirnya kaya turis-turis bule itu</em>*<br />
26: artikel ilmiah pertama terbit. bukan penulis utama tapi membuat bangga.<br />
27: dapet sekolah di belanda. keluar negeri pertama kali. huhuy!<br />
28: keliling eropa. sakit cacar. jadi uwak untuk keponakan tercinta.<br />
29: kerja di birdlife. jalan-jalan ke indonesia timur.<br />
30: balik belanda lagi. phd coi.<br />
31: punya kamera dslr pertama dan ketagihan.<br />
32: nulis artikel traveling pertama di majalah. dan.. ketemu si mbil. <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
33: bikin novel negeri van oranje bareng 3 orang hebat.<br />
34: masih banyak yang harus saya lakukan&#8230; antara lain beresin disertasi dan&#8230; rahasia ah.</p>
<p>ternyata hidup gak sesederhana yang saya bayangkan, walaupun gak rumit juga. <em>however, i&#8217;m just an average guy</em>. terbukti kan kalau 34 itu masih belum cukup tua, karena masih banyak hal  yang belum saya lakukan. besok, saya akan bangun dan memulai hari dengan semangat karena jalan saya masih panjang.</p>
<p>michael buble bilang: <em>you are nobody till somebody loves you</em>. lagu ini membuat saya bersyukur, bahwa saya adalah seseorang. bukan karena diri sendiri, namun karena orang -orang hebat yang ada di sekeliling saya, termasuk kamu. iya kamu. <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>jadi.. semangat!! jangan pernah bilang terlambat untuk mengambil mimpi-mimpi kalian.</p>
<p>***</p>
<p>o iya.. ini ada bonus film pendek yang menarik tentang pencarian seorang pahlawan. a must see film. enjoy <img src='http://www.aaqq.net/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  <a href="http://en.tackfilm.se/?id=1263505855900RA81" target="_blank"><strong> LINK TO THE MOVIE</strong></a></p>
<p>image source: http://www.flickr.com/photos/cverdier/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2010/01/15/manusia-tiga-empat-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pembuat (dan bagian dari) sejarah</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2010/01/11/pembuat-dan-bagian-dari-sejarah/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2010/01/11/pembuat-dan-bagian-dari-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 23:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holland]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=902</guid>
		<description><![CDATA[saya bukan penyuka museum. selama saya tinggal di indonesia kunjungan ke museum bisa dihitung dengan jari. saat itu, untuk saya museum bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi. saya tidak bisa menyalahkan pengelolaan museum yang mungkin tidak membuat orang awam seperti saya tidak tertarik untuk mengunjunginya.  saya (dan banyak teman-teman) memang tidak menyukai kunjungan ke museum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" style="margin: 5px;" src="http://www.onlyinholland.com/images/hermitage_amsterdam_panorama.jpg" alt="" width="500" /></p>
<p>saya bukan penyuka museum. selama saya tinggal di indonesia kunjungan ke museum bisa dihitung dengan jari. saat itu, untuk saya museum bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi. saya tidak bisa menyalahkan pengelolaan museum yang mungkin tidak membuat orang awam seperti saya tidak tertarik untuk mengunjunginya.  saya (dan banyak teman-teman) memang tidak menyukai kunjungan ke museum (1).</p>
<p>pandangan itu agak berubah ketika saya di belanda. walau masih jarang, tapi saya mulai memasuki beberapa museum yang ternyata memang sangat menarik untuk dijelajahi. mulai dari rijk museum, van gogh museum, hingga ke museum maluku pernah saya masuki. akhir tahun kemarin, bersama si jerman dan teman-temannya kami mengunjungi <a href="http://www.hermitage.nl/en/" target="_blank">hermitage amsterdam</a> yang terhitung masih &#8216;baru&#8217;. cukup kaget juga ketika menyadari bahwa kami menghabiskan 4 jam di dalam sana.</p>
<p><span id="more-902"></span>hermitage sebenarnya bukan museum yang baru. <a href="http://www.hermitage.nl/en/" target="_blank">hermitage amsterdam</a> ini merupakan museum satelit dari <a href="http://www.hermitagemuseum.org/html_En/index.html" target="_blank">museum hermitage</a> yang asli di saint petersburg (rusia) sana. hermitage menjadi salah satu museum terbesar dan tertua di dunia dengan koleksi lukisan yang terbanyak, yaitu sekitar 3 juta buah. sebagian koleksinya yang dipajang di amsterdam saja mampu membuat kami bertahan selama 4 jam, apalagi jika kita benar-benar mengunjungi st petersburg? saya malah penasaran untuk melihat kota itu lebih dekat.</p>
<p>kunjungan empat jam itu membuat saya sedikit mengetahui sejarah rusia, hubungan-hubungannya dengan bangsa lain di eropa, bagaimana mereka beranak pinak dan membuat sejarah di daratan eropa. belum lagi decak kagum melihat koleksi-koleksi yang dikumpulkan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Catherine_the_Great" target="_blank">catherine the great</a> dan keturunannya. <em>not to mention</em>, koleksi baju-baju dan gaun kerajaan yang membuat saya geleng-geleng membayangkan kekayaan dan kekuasaan mereka.</p>
<p>saat itu beberapa pikiran berkelebat di dalam kepala saya: &#8220;apakah mereka pernah berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu menorehkan sebuah sejarah di dunia ini? apakah mereka tahu bahwa keputusan yang mereka lakukan (yang mungkin sambil iseng? ah tapi tidak mungkin ya) ternyata berdampak pada kondisi politik dunia? apakah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Peter_The_Great" target="_blank">peter the great</a>, ketika memutuskan kebijakan modernisasi rusia, pernah membayangkan bahwa rusia akan menjadi super power eropa saat itu? bagaimana juga dengan pemimpin-pemimpin dunia lainnya?&#8221;</p>
<p>lebih lanjut saya malah berpikir, &#8220;apa rasanya menjadi bagian dari sejarah? apa rasanya menjadi penentu sejarah dunia? bagaimana rasanya menjadi orang yang mengubah sejarah dunia?&#8221;. sudah banyak orang-orang seperti itu. mulai dari hitler, wright brothers, adam smith, alan turing, momofuku ando, sukarno dan jutaan orang lainnya. mereka muncul dengan berbagai pikiran, ide, kebijakan hingga keputusan &#8216;sepihak&#8217; yang mampu mengubah sejarah dunia. mereka mampu menuliskan nama mereka di berbagai media mengenai sepak terjang dan hasilnya pada dunia. sebagian besar malah dibuatkan museum yang kita kunjungi hingga saat ini.</p>
<p>sebagian dari kita juga menjadi bagian sejarah indonesia. di tahun 1998, walaupun tidak semuanya berada di tempat kejadian, kita menjadi saksi sejarah perubahan besar yang ada di negara kita. riuh rendah, haru biru dan riang gembira kita menyambut momen itu. sama halnya ketika kakek nenek kita melihat sukarno dan hatta membacakan proklamasi di tahun 1945. sejarah telah ditorehkan dan sejarah memang bisa dibuat, entah dengan cara baik ataupun buruk.</p>
<p>pertanyaannya, apakah kita akan menjadi orang-orang yang membuat sejarah atau hanya orang-orang yang kebetulan hidup dan menyaksikan sejarah itu dibuat? atau lebih sialnya hanya menjadi orang yang menikmati sejarah orang lain tanpa pernah sedikitpun menjadi bagian dari sebuah sejarah?</p>
<p>kita memang tidak pernah tahu apakah yang kita lakukan sekarang ternyata mengubah wajah dunia di masa mendatang. bisa saja, 5 atau 10 tahun lagi facebook menjadi penentu perubahan kebijakan politik dunia dan kita pemilik akunnya menjadi pembuat sejarah itu. atau mungkin, pilihan kita saat ini untuk masuk ke fakultas biologi malah membawa kita menjadi penemu pil pembuat badan menjadi lebih langsing hanya dalam 5 menit saja. atau lebih extrim lagi, rengekan anak anda masuk klub sepakbola saat ini, bisa membawa indonesia menjadi juara dunia sepakbola di masa mendatang. <em>we&#8217;ll never know</em>.</p>
<p>jadi, bersiaplah untuk membuat sejarah, atau setidaknya menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. berani?</p>
<p>notes:</p>
<p>(1) <em>namun saat ini, seperti halnya si adep dan teman-teman di sahabat museum, saya percaya bahwa makin banyak generasi muda indonesia yang mulai menggemari kunjungan ke museum</em></p>
<p><em>image source: http://www.onlyinholland.com/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2010/01/11/pembuat-dan-bagian-dari-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

