new year.. new age.. new site..
will develop more later..
Archive for the ‘Reflection’ Category

surat untuk anakku
nak…
besok pagi.. antar ibumu ke pasar untuk membelikan kamu semua perlengkapan sekolah yang sudah usang.. tas eiger hitam seperti punya si bambang, temanmu yang kaya itu.. sepatu carvil yang kamu idam-idamkan sejak dulu.. seragam sekolahmu yang baru dan berwarna putih (bukan coklat seperti yang kamu punya sekarang).. dan sepeda poligon biru yang sampai tadi siang bapak lihat masih ada di toko babah liong dekat pos kamling depan.
nak..
besok pagi.. antar ibumu ke pasar untuk membeli beras.. ayam (jangan takut terkena flu burung..asal ibu memasaknya dengan matang pasti tidak apa apa).. daging sapi.. dan bahan-bahan sembako lainnya. pastikan.. kalian akan cukup makan … esok dan hari-hari selanjutnya..
nak..
besok pagi.. bayarkan semua tunggakan uang kontrak rumah kita beserta hutan-hutang bapak ke warung mbak rina.. kemarin siang, bapak mengambil dua bungkus djie sam soe premium darinya… rasanya ternyata berbeda dengan rokok murahan yang biasa bapak hisap. nikmat sekali.
nak..
besok pagi.. antar ibumu ke sekolah untuk membayarkan tunggakan uang sekolahmu yang sudah 6 bulan belum dibayar. ajak juga ia untuk menyimpan uang sisanya di bank bri terdekat. pakailah namamu sebagai pemilik rekeningnya.. pergunakan semuanya untuk kebutuhan sekolahmu hingga tamat smu nanti.
nak..
besok pagi.. jangan biarkan ibumu menonton televisi di rumah bu ratna seperti biasa.. ataupun membaca koran di warung.. sibukkan dia dengan semua uang yang ia terima ini.. ini uang jerih payah bapak.. percayalah.. seratus juta jumlah yang cukup untuk kalian berdua.. tidak mudah mendapatkan uang sebanyak ini.. hanya ‘malaikat’ yang mau memberikannya pada kita
nak..
tolong jaga ibumu.. kamu adalah harta satu-satunya. jangan kecewakan ia hingga akhir hayatnya kelak.. karena ia tidak akan bisa memaafkan bapak.. hingga kapanpun untuk apa yang akan bapak lakukan.. semoga kau dan orang-orang pun akan memaafkan bapak..
..dan malam itu.. saat semua penghuni rumah tertidur pulas.. sebuah ledakan kembali terjadi di kota.. bom bunuh diri katanya.. dan bapak tidak pernah kembali

quantum leap
hidup saya seperti sebuah perpindahan di antara tempat dan juga waktu. keberadaan saya di suatu tempat ataupun waktu dikarenakan saya memiliki sebuah ‘misi’. Misi yang harus diselesaikan sebelum saya berpindah ke tempat atau waktu berikutnya. menyelesaikan misi ini secepat mungkin akan membuat saya bisa berpindah sesegera yang saya inginkan.
saat ini.. saya ingin ‘misi’ ini cepat selesai.. sehingga saya bisa berpindah ke tempat yang lain..

Katarina Koni Kii. Membuat sarjana kehutanan menjadi tidak ada apa apanya
Pernah mendengar Katarina Koni Kii? Coba buka beberapa media di awal Juni 2005, dan cari informasi mengenai Anugerah Kalpataru 2005, dan anda akan menemukan namanya disana. Sosok ibu tua ini memang terlihat sama dengan ibu-ibu lainnya, terlihat kurus dengan garis-garis di wajahnya, belum lagi rambut putihnya yang membuat sosoknya semakin terlihat tua. Penampilannya memang sederhana, juga sirih pinang yang tidak pernah lepas dari mulutnya, sebuah ciri khas masyarakat Sumba.
Namun, apa yang dilakukannya selama ini membuat saya seorang lulusan kehutanan menjadi minder. Bagaimana tidak, ibu tua dengan umur sekitar 60an ini dengan gigihnya menanami 4 hektar lahan peninggalan suaminya dengan berbagai jenis pohon-pohon. Suaminya memang sudah meninggal sejak tahun 1987 dan meninggalkan lahan tersebut beserta 5 orang anak yang masih kecil-kecil. Obrolan ringan dengan tetangganyalah yang membuat dia tergerak untuk menanam pohon-pohon tersebut. Harga kayu akan semakin mahal.. begitu menurut sang tetangga dan itu membuatnya tergerak untuk menanam pohon-pohon tersebut. Tujuan awalnya hanya satu… untuk masa depan anak cucunya nanti. Supaya mereka bisa mengambil hasilnya dan tidak mengalami kehidupan seperti yang dia jalani saat ini.
Sungguh.. sebuah pernyataan membuat saya cuma bisa diam ketika membacanya. Saat ini di lahannya yang kering, seperti halnya lahan-lahan di Pulau Sumba ini, terdapat lebih dari 400 pohon yang sebagian besar adalah jenis Cendana yang sudah mulai langka di Sumba ini, juga tanaman-tanaman lain seperti Mahoni, Kemiri dan tanaman lokal lainnya. Untuk kehidupannya sehari-hari, ia hanya mengandalkan hasil ubi-ubian dan jagung yang ia tanam di sekitar pohon-pohon tersebut.
Kalpataru memang bukan yang ia cari, tapi melalui penghargaan itu Katarina menghentak saya dan juga mungkin ribuan sarjana kehutanan di negeri ini. Bukan omong besar yang dibutuhkan untuk membuat lingkungan hidup ini lestari, tapi cukup dengan kerja keras dan sebuah mimpi untuk sebuah kehidupan yang lebih layak bagi orang-orang yang kita cintai.

kembali ke kotak
kembali ke kotak.. namun kotak ini tidak berubah. masih seperti dulu. posisi barang-barang di dalamnya bahkan tidak berubah sedikitpun. hanya warna kotak yang semakin kusam karena tidak pernah di cat dan beberapa barang yang bergeser ke tempat yang seharusnya.
kembali ke kotak.. berarti kembali pada permasalahan klasik. culture shock katanya. panas? low speed internet? ketidakdisiplinan pengendara kendaraan? jalanan macet dan becek? sikap buruk pegawai birokrat? uang sogokan dimana2? gaji rendah? harga melambung tinggi? kemakmuran yang tidak merata? ah sangat klasik.
kembali ke kotak.. kadangkala memang harus dihadapi. tidak ada pilihan untuk tetap di kotak yang telah sangat nyaman kita tempati selama beberapa tahun kemarin. kembali ke kotak yang lama? atau kita memilih mencari kotak yang baru? hidup toh adalah pilihan… 200 juta penghuni kotak ini juga bisa hidup dengan senyum di wajah, walau kadangkala wajah itu berubah menjadi kemarahan yang tidak terkendali hanya karena uang sepuluh ribu rupiah.. ketakutan (kadangkala kesombongan) pada hal-hal mistis dan setan.. meringis pada saat melihat bencana di mana-mana… kembali tersenyum oleh jualan mimpi-mimpi sinetron di televisi.. melongo melihat gosip artis yang tidak pernah ada habisnya.. ataupun senyum harapan untuk bisa masuk dalam reality shows yang bertebaran dengan hadiah puluhan juta rupiah.
kembali ke kotak.. berusaha membangun mimpi yang baru. memulai segalanya dari awal dengan tingkat pengharapan yang jauh lebih tinggi. wajarkah? atau gengsi yang akan bicara? atau sebuah dorongan yang bernama.. saya butuh hidup. harapan tidak hanya dari diri sendiri.. juga dari orang lain. harapan memang senantiasa lebih tinggi daripada kenyataan. tapi manusia hidup dari harapan kan? sang ayah.. menjadi lebih bersemangat karena melihat sebuah harapan untuk membuat keluarga menjadi lebih baik. senyum di wajah pun terasa sangat tulus.. pencerminan sebuah semangat meraih asa yang ada.
kembali ke kotak.. mengingat kembali tujuan awal pada saat mencari kotak yang baru. membangun indonesia kan? menjadikan indonesia lebih baik dari sebelumnya. aih.. mulia sekali. tapi itu benar kan? baca semua motivation statement kita pada saat kita melamar segepok uang beasiswa.. pastilah.. akan ditemukan kata-kata.. kembali ke indonesia dan membangunnya sejajar dengan negara-negara maju sana. mudah2an bukan bullshit belaka. tapi.. membangun indonesia.. haruskah dari indonesia? ah.. sebuah pencarian alasan untuk hidup di kotak yang jauh lebih baik.
kembali ke kotak.. merasakan berkurangnya daya juang yang sebelumnya terpupuk dengan sangat baik. mungkin akibat terlalu lama dibuai kemudahan. tapi.. siapa bilang disini lebih sulit? beberapa hal sangat mudah kok.. bahkan dibuat menjadi mudah. bahkan di tengah malam buta pun.. kita masih bisa mendapatkan sesosok pedagang nasi goreng untuk mengobati rasa lapar yang mendera. bahkan kalau kita punya uang sedikit lebih banyak dari yang lain.. hidup kita akan lebih mudah.. dan bahkan tidak perlu antri. see? siapa bilang kotak ini menyulitkan? *hiks*
kembali ke kotak.. dan menemukan sebuah hal yang bernama cinta. ah.. ternyata seperti ini rasanya. indah.. dan menyesal.. kenapa baru kutemukan sekarang.
so guys.. hayo pulang.. dan bangun indonesia..

pulang
tiga satu maret dua ribu lima.. perjalanan satu setengah tahun akhirnya selesai dan kehidupan baru harus dimulai. schiphol-pun menjadi saksi. saksi atas sebuah hal yang bernama persahabatan.. sebuah persaudaraan. dilepas para sahabat terbaik untuk kembali ke tanah (yang katanya) tercinta disertai keharuan yang menyeruak diantara kami *ah… bukankah satu sisi bandara memang senantiasa berisi tangisan perpisahan??* menjadikan kepergian (kepulangan??) itu terasa sangat berat. ego terasa hilang.. hanya kejujuran pun menyembul. pelukan kalian terasa hangat dan membekas hinga saat ini.
schiphol pun memberikan rasa sakit, kepulangan yang hampir tertunda dan denda atas sebuah pelanggaran yang sepertinya biasa dilakukan oleh semua orang.. excess baggage.. ha ha ha. tangis pun semakin bias.. entah apa yang menjadi penyebab air keluar dari bola mata yang hitam ini. sedih.. kesal.. takut.. kecewa.. haru.. dan bahagia (??). keluar dan menimbulkan kelelahan.
memang perjalanan 15 jam yang melelahkan. dua orang saudara pun hanya bisa terdiam. kelelahan akibat hal-hal tersebut malah semakin membuat persaudaraan ini terikat erat. semoga bisa menjadi selamanya. terima kasih..bro.. sis..

getting closer..
pulang..
sebuah kata yang maknanya semakin tidak jelas di hari-hari belakangan ini. pulang kemana? ke rumah? rumah yang mana? bukankan kotak ini sudah menjadi rumah selama 1.5 tahun terakhir ini? sebuah istana dengan seorang raja di dalamnya. sebuah istana dengan segala macam isinya. sebuah istana dimana seorang qq mengatur semua hidupnya. itu rumah kan? dan sekarang.. semua harus ditinggalkan. kembali menumpang di kotak yang lama.. dan bersiap mencari kotak yang baru.
pulang..
kembali ke kehidupan yang lama. akankah masuk ke dalam pola yang lama? atau membuat pola tersendiri? membangun kotak tersendiri? atau malah terperosok ke dalam pusaran hidup yang lama dan tidak pernah bisa keluar lagi selamanya?
pulang..
meninggalkan sebuah zona kenyamanan yang terbangun selama 1.5 tahun. meninggalkan semua sahabat dan kenangan manis juga pahit. tapi life goes on kan? ini contoh nyata sebuah episode kehidupan. beberapa orang akan datang dan pergi dari kehidupan kita, walaupun beberapa dari mereka akan tetap hadir dalam hati kita. seperti seorang sahabat katakan..”kita adalah orang-orang yang sedang ada di persimpangan jalan, dan bertemu satu sama lain di persimpangan jalan …”(sena 2005 diambil dari blognya ime 2005). persimpangan jalan? yup.. cuma beberapa yang akhirnya akan ada di jalan yang sama di masa mendatang.. dan kita gak akan pernah tau, siapa yang akan kita temui di persimpangan berikutnya.
pulang..
menjadi sebuah pembuktian? atas apa yang kita lakukan selama 1.5 tahun ini? pembuktian akan apa? pembuktian bahwa seorang lulusan belanda dan bergelar master akan mendapat hidup jauh lebih baik di sebuah negara berkembang? pembuktian bahwa seorang bergelar master itu lebih baik dari seseorang yang bergelar insiyur ataupun tidak bergelar apa-apa? saya cuma bisa bilang TIDAK. pengalaman yang saya dapatkan akan jauh lebih berharga untuk membuat saya bisa survive dalam episode kehidupan lanjutan. bukan gelar ataupun title lulusan belanda. orang lain boleh berkata apapun.. memang sebuah pernyataan yang bisa di debat.
pulang..
untuk sebuah misi khusus.. memasuki episode baru hidup. episode yang setiap orang ‘biasanya’ lakukan. bekerja.. menerima gaji bulanan.. berkarir.. diselingi *heeh? selingan??* menikah.. memiliki keluarga.. beranakpinak.. menikmati hari tua.. menikahkan anak.. memiliki cucu.. dan mati. that’s it? what a life!
pulang..
ternyata sebuah kata yang bermakna sangat dalam. saya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan berpikir sejauh ini untuk sebuah aktivitas yang bernama pulang. yang pasti.. episode pulang saya kali ini.. terasa sangat berat. tapi saya tahu.. saya harus pulang. pulang ke sebuah kotak yang dahulu saya selalu sebuat sebagai.. RUMAH.. dan juga KELUARGA.

resmi
dan secara resmi.. anda menjadi alumni dan keluarga besar wageningen university.
akhirnya.. tiga huruf di belakang namapun teraih.. namun.. what’s next? ini awal dari sebuah episode baru kehidupan kan?
