[aaqq01]T7Xb69oyKk0[/aaqq01]
Archive for the ‘Reflection’ Category

atmosfer
pengen tau atmosfer-nya. itu kata-kata andalan yang selalu dibilang ketika gue mau melakukan sesuatu yang belum pernah gue lakukan ataupun penasaran dengan sebuah hal baru tapi gak yakin ataupun emang gak sengaja terjerumus di dalam sebuah hal yang ternyata-gak -enak tapi malu-buat-ngakuin-nya ataupun emang narsis belaka *alasan yang mengada-ngada*. tapi gue rasa, itu juga bisa karena faktor adventurous *ada kan istilah itu?* atau emang penasaran untuk mencoba hal-hal yang baru. walaupun untuk beberapa orang, itu juga lebih kepada keberuntungan semata ataupun emang pengen keren aja *halah*.
mencoba masakan hasil uji coba seseorang yang baru tau cara motong bawang, memasuki ladang ranjau di vietnam, nyemplung di kolam taman monas, melakukan hormat ala nazi di jerman dan sejenisnya mungkin bisa menjadi contoh. ah, tapi gue gak se-extrim itu lah, beberapa hal sebenarnya buat orang lain mungkin gak terlalu baru atau bahkan biasa-biasa aja. tapi teuteup buat gue kalau ada orang nanya kenapa gue melakukan itu, ya…. gue kan pengen tau atmosfer-nya aja. halah..

parfum
parfum, deodoran dan sejenisnya memang dibuat untuk membuat seseorang tercium jauh lebih wangi ataupun menghindari bau badan yang berlebihan. seringkali wangi parfum juga menunjukkan karakter dan tingkat sosial seseorang. buat beberapa orang, parfum adalah sebuah keharusan. mereka seringkali merasa kurang percaya diri jika keluar rumah tanpa semprotan parfum di sekujur tubuhnya. namun, untuk banyak orang, parfum juga dilihat sebagai benda secondary atau bahkan tersier yang dipakai sesekali atau bahkan tidak memakainya sama sekali.
walaupun parfum adalah sebuah benda yang personal, yang bau enak dan tidaknya tergantung dari orang yang menggunakannya, tapi kita adalah orang yang mau tidak mau mencium bau parfum yang dipake oleh orang lain. betul kan? sebalnya, beberapa orang seringkali memakai bau wewangian yang aneh-aneh dan kadang bikin gue pusing delapan puluh tiga keliling. gak peduli mahal ataupun dibeli di ujung paris sana, jika parfum tidak enak, buat gue adalah tetap tidak enak. parfum murah sekalipun, jika wanginya memang enak, pastilah enak. beberapa kali gue mengalami peristiwa dodol dan kadang menyebalkan gara-gara parfum yang menurut gue bikin mabok.

week 24|2008 (earth wind and fire – september)
ba de ya – say do you remember
ba de ya – dancing in September
da de ya – never was a cloudy day
..damn.. what a song!!..
[aaqq01]iknEJf9cPeY&feature=related[/aaqq01]

agamaku dan agamamu
indonesia adalah salah satu inisiator untuk asia-europe meeting interfaith dialogue 4 tahun yang lalu. ketika bertemu dengan para delegasinya di denhaag, sesaat setelah mereka bertemu para delegasi negara lain di amsterdam, membuat saya bertanya-tanya dalam hati: seberapa efektifnya kah forum ini?
walaupun, pada kesempatan itu mereka bisa menjelaskan peranan indonesia di dunia internasional, bagaimana pandangan negara lain terhadap keberagaman agama di indonesia, dan pujian-pujian selangit lainnya. tapi, saya merasa ada “ketidakrukunan” yang cukup fundamental antar delegasi agama. juga saya merasa ragu bahwa forum ini bisa merukunkan antar agama yang ada di indonesia. apalagi melihat di dalam agamanya masing-masing saja masih belum bisa satu suara *alias tidak rukun*?
ah.. tapi mungkin itu berawal dari ketakutan saya bahwa forum-forum seperti ini hanya sebuah make-up belaka. atau seperti screen saver windows yang ketika digoyang langsung keluar aslinya.
pembahasan agama memang tidak pernah ada habis-habisnya. karena agama yang seharusnya menjadi hal personal antara manusia dan TUHANnya, menjadi sebuah hal publik yang harus diatur kanan-kiri sehingga seringkali mengaburkan inti dari agama yaitu berbuat kebaikan di muka bumi ini. sisi ethical seperti itu yang kadang dilupakan oleh pemeluk agama, dan lebih mengedepankan hal-hal egois yang mengatakan bahwa agamanya adalah yang terbaik. saya percaya, apa yang pemerintah lakukan untuk mengatur agama memang untuk kebaikan bersama, namun kesadaran antar pemeluknya untuk bisa menghargai satu sama lain, tentu akan membuat hal tersebut jauh lebih efektif.
kita butuh kedamaian untuk bisa bertahan hidup bukan? amin.
images: http://www.post-gazette.com/
