saya dulu yakin bahwa kota ini akan saya injak lagi. banyak cerita hidup yang bermula dari kota ini. kota yang penuh dengan keromatisan, hal-hal sentimentil gak jelas, serta kenangan yang menyelimutinya. ada magnet tersendiri yang membuat saya menyenangi kota ini, termasuk semua hal indah yang pernah menyertai perjalanan saya dahulu. ia masih memiliki pesona itu dan telah membuat saya mengukir sebuah pixel lain di dalam memori otak yang tidak terbatas ini.
a shout when i was in the denhaag central station
****
hidup bukanlah sebuah ruangan besar tanpa sekat. ia memiliki banyak ruang yang bisa dimasuki oleh siapapun. setiap orang memiliki hak untuk masuk ke dalam ruangan yang mereka mau, juga untuk keluar. itu adalah ruang dimana hati nurani, emosi, nafsu dan akal sehat seringkali bertempur. apapun yang menang, berarti sebuah jalan untuk bisa menikmati hidup. hidup sebagai pemenang yang menikmati hidup.
a shout when i watched the devil wears prada
****
i know, i’ll be burned someday..
a shout when i walked accross the utrecht centrum at night
****
kembali saya harus berada pada sebuah batas, antara mimpi dan realitas. saya lupa, sampah itu masih belum dibersihkan dan baunya masih sangat menyengat hingga kemari. perlu sebuah siraman yang hebat untuk menghilangkannya. tak bisakah sampah itu hilang dan biarkan kami berdiri tegak untuk menghadapi ‘dunia’? duh gusti.. kadang saya hanya ingin menyerah.. dan kalah.
a shout when i woke up in the morning and read the text in my cell phone
****
kalau itu sih udah serius.. sedangkan kita kan just for fun aja..
a shout when we were only have few things left in hand.. and hoping
****
kota ini ternyata bisa menjadi sepi juga..
a shout when i was inside the white-blue thing heading to my sanctuary
****
selamat yee.. kerja yang bener… jangan ceting ama update friendster mulu *look who’s talking..*
a shout when i talked with her about her new position
|
November 6, 2006 - 12:38 am
|
aaqq
seringkali sebuah keputusan harus dibuat tanpa perlu ada alasan. bukan karena tidak ada usaha untuk itu.. ataupun merasa kalah, namun akal sehat dan realita yang ada membuat kita memilihnya. suatu saat semua akan memihak kita selama kejujuran tetap menjadi dasar untuk bersikap dan bertindak.
a shout when i watched jomblo movie in odd’s room
****
ada warna baru dalam lebaran kali ini. warna untuk dikenang. warna untuk berpikir. warna untuk bersyukur. warna untuk merasa nyaman pada sebuah keputusan. warna pada persahabatan lama dan baru. warna untuk sebuah mimpi baru. warna untuk menjadi seseorang.
a shout when i sat in the bus from wageningen to ede
****
bukan ini yang seharusnya dilakukan. terlena dalam senang. butuh kerja lebih keras dan aturan waktu yang lebih baik lagi. mimpi itu masih ada dan belum beranjak.
a shout when i found my mojo back
****
saya rindu kamu
a shout when i sat in a cold-bus-stop, waiting for bus #11 heading to my cozy room
****
we are in the same air.. yet breath in a different way. never take a risk anymore.
a shout when i was in the bad guilty feeling
****
lihat ke bawah!!
lihat ke bawah!!
lihat ke bawah!!
lihat ke bawah!!
lihat ke bawah!!
lihat ke bawah!!
a shout when i chatted with someone who has similar life and dreams
|
October 25, 2006 - 6:18 pm
|
aaqq
setiap orang memiliki kesempatan untuk bisa membuktikan bahwa semua yang didapatkan adalah pantas, karena ia telah berusaha dan bermimpi untuk itu. bukan karena sesuatu yang jatuh dari langit semata. see what you have to see and hear what you have to listen..
a shout when i found out that i can not trust someone anymore
****
kupu-kupu itu datang lagi. memilih untuk membiarkannya datang atau membunuhnya secara perlahan?
a shout when i think i feel the butterfly in my stomach
****
jika pada akhirnya kehilangan, kenapa harus diperjuangkan?
jika pada akhirnya perpisahan, kenapa harus dipertemukan?
jika pada akhirnya kehancuran, kenapa harus dibangun?
walaupun.. katanya.. all were created on purpose.. including what you have got now..
a shout when i met a lot of good people in my current life
****
if you ask me something, as a friend.. i will answer it as a very close friend. so then.. don’t hide anything from me. otherwise.. i will assume that u are only a ‘gossip-journalist’. ok? toh.. ini bukan klarifikasi gosip kan? ini hanya soal.. memposisikan tempat kita berdiri… dalam bersikap.
a shout when my best friend insisted to keep the secret by herself
****
bagaimana rasanya menjadi orang indonesia pertama yang berada di sebuah tempat, posisi, pekerjaan atau komunitas? some of my friends can easily answer it. *iya gak broer? soes? been there done that kan?* buat saya? hmm.. menyenangkan.. tapi kok.. ada beban juga yah?
a shout when i chatted with my supervisor
|
October 9, 2006 - 11:50 am
|
aaqq
satu:
saya adalah batu untuk meloncat dan seringkali dipergunakan oleh orang-orang yang ingin memulai sebuah hal yang baru (baca: bentuk hidup yang belum pernah dicoba sebelumnya). dan saya adalah batu yang (dengan sukarela) membuka diri dengan segala macam hal baru.
hal baru itu menyenangkan, hal baru itu dinamis, hal baru itu membuat banyak kejutan dalam hidup.
pada saatnya, sebagaimana fungsi yang telah digariskan, maka merekapun meloncat. entah.. mencari batu lain.. kembali ke titik awal.. atau menjadikan itu sebagai bentuk hidup baru mereka. dan saya? saya marah.. saya diam.. dan pada akhirnya.. saya merasa kaya. kaya akan pengalaman atas hal baru tersebut. dan beberapa diantaranya.. menjadi hidup baru saya.
saat ini.. saya tetap (secara sukarela) kembali menjadi batu dan membuka hal baru itu. dan dalam beberapa hal.. ternyata saya juga mencari batu untuk meloncat.
****
dua:
setelah beberapa hari.. saya ternyata belum bisa rapi dalam pengaturan waktu. banyak hal terbuang percuma untuk hal-hal yang seharusnya bisa dihindari ataupun dilakukan pada saat yang tepat. alhasil? waktu tidur tidak pernah cukup.. dan pekerjaan? dilakukan dengan kondisi tubuh yang gak fit dan tidak maksimal. aarrgghhh..
****
tiga:
berani bilang tidak.. jika memang tidak tahu. berani bilang tidak.. jika memang tidak boleh. dan harus berani bilang tidak.. jika memang tidak mau.
lalu, kenapa saya tidak berani?
****
empat:
saya ingin bisa memilih.. namun ternyata hidup bukan pilihan ganda.. hidup adalah tentang benar atau salah..
****
lima:
kadang saya berpikir.. mengapa saya? mengapa tidak seperti dia?
mengapa saya menjalani ini.. sedangkan dia menjalani hal yang lain..
why.. why.. and why?
tapi.. memang semua ada di ’sini’.. di sebuh sudut yang bernama ‘nurani’..
yang menjadi dasar dan penjelasan.. mengapa saya menjalani ini..
dan saya menerimanya..
karena saya.. mencintai mereka..
****
enam:
saya.. kosong.. (body and mind)
heidelberglaan 2, di suatu siang yang dingin
|
September 29, 2006 - 11:14 am
|
aaqq