another version of umbrella (rihanna)
a bit corny at the beginning.. but overall.. nice
[aaqq01]TvC6VS4Np4U[/aaqq01]

another version of umbrella (rihanna)
a bit corny at the beginning.. but overall.. nice
[aaqq01]TvC6VS4Np4U[/aaqq01]

spoiler: panjang abis.. beneran deh… mending nonton, bikin pe er atau hang-out di cafe sonoh..
bekerja sebagai peneliti sebenarnya gak pernah kepikiran di dalam otak gue pada saat lulus sma. dengan kapasitas otak yang segitu-gitu aja, ditambah penampilan yang jauh dari sosok seorang peneliti *maksudnya???*, maka gue gak pernah mem-plotkan diri gue untuk menjadi peneliti. apapun, dan bukan peneliti. pemain film ataupun pegawai negeri malah pernah masuk ke dalam list mau-jadi-apa-nanti, ketika gue berpikir serius soal masa depan.
but, it was in 2000 ketika gue pertama kalinya menerima pekerjaan sebagai asisten peneliti di sebuah lembaga penelitian yang keren abis, baik dari segi kualitas maupun fasilitas (olahraga dan internet). *kayanya boss lo dulu udah desprate banget nyari asisten, hehehe*. sejak awal pun mungkin gak banyak yang percaya kalau gue kerja di tempat yang butuh banyak ngejalanin otak. *otak lo di setting otomatis aja susah q.. apalagi dipaksa manual*. sekarang, di mana gue kudu menyandang status sebagai seorang pelajar strata tiga, lebih banyak lagi yang gak percaya (dan makin gak rela.. hahaha). sebuah posisi yang dulu gak pernah berani gue impikan.
tapi hidup memang tidak pernah bisa ditebak. seperti yang selalu gue bilang, one dream leads to another, ternyata memang benar adanya. setelah jungkir-balik turun-naik kanan-kiri depan-belakang, ternyata gue malah sibuk di dunia ini. hingga akhirnya sekarang gue terbiasa untuk menjawab, gue peneliti, ketika seseorang bertanya mengenai pekerjaan gue. ya iya lah.. masa gue mo menjawab: gue model dari the janice dickinson modelling agency? gak banget deh..

tinggal lama di negara orang, sedikit banyak menambah pengetahuan soal kebudayaan dan juga kebiasaan hidup mereka *itu juga bagian dari kebudayaan kan?*. mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, banyak hal yang gak pernah gue pikirkan sebelumnya dan ternyata malah jadi kepikiran *dudul banget kan?*.
salah satunya adalah soal mengganti handuk. sebenarnya ini bukan pemikiran baru sih, apalagi bukan hal yang terlalu penting juga di era global warming seperti sekarang ini *heh?*. gue melihat fenomena ini berbulan-bulan yang lalu dimana housemates gue menjemur banyak handuk setiap waktu mencuci tiba, juga pada saat berkunjung ke beberapa rumah teman-teman gue di mana koleksi handuk mereka yang banyaknya ampun-ampunan. sedangkan gue? cuman punya 2 handuk besar dan 2 handuk kecil.
terakhir adalah pada saat gue menginap di salah satu teman lama di utara belanda sana. tumpukan handuk menjadi pemandangan di kamar mandi mereka, dan itu memaksakan gue untuk bertanya. kudu.. kudu dan kudu. setelah berdiskusi panjang lebar dan tertawa yang lebar panjang, ternyata sang partner adalah pengguna handuk harian. setiap hari dia pasti mengganti handuk, termasuk diantaranya handuk muka. setiap hari? iya.. satu handuk perhari. gak percaya. ya udah.


who said that winter in utrecht is grey.. boring and wet? they are wrong.. because utrecht in this winter season is fulfilled with colors, not only white from the snow, but also blue, red, black, green, yellow and many more. besides, winter is also a year-end sale time. it is the time when everyone is going crazy buying many stuffs for their relatives and friends. gosssh!
while for me.. taking these pictures for you is more than enough. enjoy guys!

setelah berhari-hari lamanya liburan (dan dipaksa libur) akhirnya gue sampe pada sebuah titik: banguuun!!!!
memulai sebuah rutinitas memang sangat sulit. gue mulai dengan bangun pagi, yang kurang ajarnya, ternyata sulit banget. alarm jam 7 udah gak mempan. gue selalu bangun di atas jam 9, 10 bahkan 11. belum lagi internet yang ternyata lebih menyenangkan dibandingkan mengerjakan hutang-hutang kerjaan yang udah gue siapin dari tahun kemarin.
internet juga berhasil membuat ayam panggang gue berubah warna seperti si hexy, temen gue dari ghana. itu gara-gara gue keasyikan berinternet dan meninggalkan panci rebusan ayam di dapur. gue pun.. dengan susah payah menghalau asep putih di dapur dengan membuka jendela. padahal suhu di luar udah mencapai 2 derajat celcius. bendungan.
mudah-mudahan bukan pertanda kesialan seperti tahun yang lalu. ataupun bukan pertanda gue yang semakin tua. walaupun sempat panik juga, pada saat mengangkat cucian dari mesin cuci. kenapa panik? karena gue mencuci sehari sebelumnya.. sodara-sodara!! gue ternyata lupa kalo gue pernah mencuci. :”>
ah.. mudah-mudahan ini cuma efek liburan kelamaan. gue kudu bangun.. dan mulai rutinitas seperti biasa lagi.


tinggal satu hari lagi menuju 2008 dan gue masih berkutat di depan komputer untuk bisa menuntaskan artikel tahunan ini. artikel tahunan ini emang janji gue pada diri sendiri untuk bisa secara konsisten menulis. sebuah refleksi buat diri sendiri di setiap pergantian tahun (dan syukur-syukur kalian semua masih mau pada baca..
).
apa makna 2007 buat gue? salah satunya adalah kebodohan, karena tahun 2007 kemarin, gue masih melakukan kesalahan seperti 10 tahun yang lalu. bodoh? iya banget. tahun 2007 juga berarti komunitas baru. gue mendapatkan banyak komunitas pertemanan yang baru, mulai dari kehidupan gue di belanda hingga di bogor, jakarta dan berau. selain itu, pada tahun 2007 gue melakukan banyak perjalanan yang cukup menyenangkan, mulai dari belanda-berlin-jakarta-bogor-kalimantan-bali. perjalanan yang ternyata menjadi bekal buat soul nutrition gue. dahsyaaat.