salah satu tanda-tanda gue stress dengan kerjaan thesis adalah ngutak-ngatik blog. tidak ada hal baru, kecuali ada fitur quotes *kaya di bawah ini* dan shouts untuk postingan2 pendek *bersiaplah untuk postingan gak mutu kaya gini*. yah, namanya juga mencoba untuk konsisten dengan dunia nge-blog.

semangat (lagi2) baru

apakah kita menghargai diri sendiri?
salah satu hal ‘tidak-baik-untuk-diikuti’ yang sering dilakukan selama saya tinggal di belanda adalah ‘tidak bangun pagi’. jam 8-9 adalah bangun pagi saya. ditambah lagi dengan ritual pagi saya yang amat sangat susah untuk dihilangkan, mulai dari membuka internet, buang air, mandi, ngopi (plus sarapan roti) dan sesekali merokok. dengan segala hal itu, tak heran jika jam kerja saya baru dimulai setidaknya jam 10 pagi. jika saya bangun lebih siang, dan saya tidak menghilangkan ritual pagi itu, maka jam datang saya ke kampus menjadi lebih siang.
saya memang mengompensasikannya dengan pulang telat, namun itu tidak membuat semua pekerjaan menjadi lebih sempurna. baru saja datang, dalam dua jam tiba-tiba sudah ada rekan kerja di pintu yang mengajak makan siang. pada akhirnya datang siang malah membuat saya tidak bisa efektif bekerja. saya memang tidak punya kewajiban untuk datang 9-5 seperti halnya pekerja kantoran. target menulis disertasi membuat saya bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. namun, saya sendiri membatasi untuk mengerjakan disertasi hanya di kampus dan bukan di rumah. menyenangkan? untuk beberapa hal, iya.

manusia tiga empat tahun

tambah lagi umur saya! alhamdulilaaah! masih bisa menikmati hidup dari BELIAU yang amat sangat terlalu baik pada saya selama 34 tahun hidup. tiga empat??? ya ampun.. tua amat?
tiga empat itu kaya nama sekolahan di jakarta selatan. kaya nomor bus jurusan tangerang. kaya nomor punggungnya hakeem olajuwon. kaya judul lagunya dave matthews band. dan kalau di UUD 1945, pasal 34 itu berisi: fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (plus ayat-ayat lanjutan lainnya).
waktu kecil, saya merasa bahwa orang berumur 34 itu.. tua. maka ketika saat ini saya mencapai angka itu, saya malah bertanya-tanya, apakah diri ini seperti bayangan masa kecil saya dulu? ternyata tidak sepenuhnya benar. karena itu, buat kalian-kalian yang masih kecil, abg, ataupun masih berpikiran bahwa orang 34 itu tua, silahkan diubah paradigma yang salah itu. kecuali, fakta bahwa orang umur 34 sudah tidak mampu lagi menulis sms gaya alay dengan cepat. yang pasti, umur 34 banyak yang sudah jadi ‘orang’, mulai dari ketua rt, dekan, politisi, doktor, hingga profesor. dan biasanya.. mereka selalu diembel-embeli dengan kata muda. jadi umur 34 itu memang masih muda, bukan?

pembuat (dan bagian dari) sejarah

saya bukan penyuka museum. selama saya tinggal di indonesia kunjungan ke museum bisa dihitung dengan jari. saat itu, untuk saya museum bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi. saya tidak bisa menyalahkan pengelolaan museum yang mungkin tidak membuat orang awam seperti saya tidak tertarik untuk mengunjunginya. saya (dan banyak teman-teman) memang tidak menyukai kunjungan ke museum (1).
pandangan itu agak berubah ketika saya di belanda. walau masih jarang, tapi saya mulai memasuki beberapa museum yang ternyata memang sangat menarik untuk dijelajahi. mulai dari rijk museum, van gogh museum, hingga ke museum maluku pernah saya masuki. akhir tahun kemarin, bersama si jerman dan teman-temannya kami mengunjungi hermitage amsterdam yang terhitung masih ‘baru’. cukup kaget juga ketika menyadari bahwa kami menghabiskan 4 jam di dalam sana.

sebuah rintisan untuk jalan yang lebih besar (2009)
akhirnya salju mulai mencair setelah selama beberapa hari belanda dan sebagian besar eropa menjadi putih. dari jendela kamar saya melihat pemandangan di luar yang berubah menjadi cokelat, hitam dan berair. jelek dan tidak menyisakan sama sekali keindahan yang hadir beberapa hari lalu. sekilas sebuah pertanyaan melintas, “apa yang sedang saya lakukan di sini?”.
ya.. apa yang membawa saya kembali ke kota ini? ruangan ini tiba-tiba menjadi dingin. saya merindukan sebuah kehangatan.
secara perlahan, saya membawa pikiran pada sebuah pemandangan pantai putih di pulau derawan sana. satu tahun yang lalu, saya berada di pulau derawan, sendiri, dan berusaha mencari sebuah ketenangan di antara sibuknya kegiatan penelitian saya di berau. saya berharap banyak pada berbagai rencana yang akan saya jalankan di tahun 2009. tidak banyak resolusi yang dibuat pada saat itu, namun beberapa hal besar yang terjadi di tahun 2009, sepertinya akan menjadi rintisan untuk hal-hal lain yang (jauuuh) lebih besar di tahun-tahun mendatang. saya percaya itu.

winter wonderland
winter kali ini begitu mengesankan. sudah dua tahun saya tidak benar-benar merasakan winter yang sesungguhnya. di bulan desember ini, salju pun turun dengan cantiknya. hari pertama, semua orang berteriak kegirangan ketika salju turun. di bus, di jalan, di kampus, di kantor dan di mana pun semua berbincang gembira mengenai turunnya salju pertama. semua berharap ini akan berlangsung hingga natal kelak. white christmas ceritanya.
namun tidak semuanya menyenangkan. akhir pekan, salju turun dengan lebatnya. suhu pun drop hingga ke -10 C. alhasil, tidak hanya belanda namun juga seluruh eropa, mengalami situasi yang kacau. hampir semua transportasi publik terhenti. kemacetan di mana-mana. orang-orang terlantar di setiap terminal dan bandara. di beberapa tempat, bahkan menyebabkan kematian. it’s a bit too much. saya pun merindukan indonesia yang hangat.
namun, winter memang selalu punya dua sisi. selebihnya adalah sebuah keindahan. winter wonderland saya menyebutnya. tidak percaya? lihat saja.
Read More »



