“Kalau di sini, nangkap ikan gak cuma pake jaring dan pancing, tapi juga bom dan potas.” Pak Thamrin memulai diskusi sore itu dengan sebuah kalimat yang tidak saya harapkan akan muncul di awal diskusi. Ternyata ia tidak sesulit yang saya bayangkan. Padahal, ketika pertama kali saya tiba di depan rumahnya yang asri, wajahnya memandang saya dengan tidak bersahabat dan membuat ragu untuk beramah tamah dengannya. Namun, lelaki paruh baya dengan kumis baplang berwarna hitam dan perut gendutnya yang ia biarkan terbuka itu ternyata mempersilahkan saya masuk.
Diselingi dengan hembusan rokok lintingan, yang dibuat dalam waktu beberapa detik saja, ia ternyata orang yang sangat suka bercerita. Tak lama, semua cerita mengenai kehidupan nelayan di pulau itu pun meluncur dari mulutnya. Mulai dari nenek moyang orang-orang di kampung ini yang berasal dari negara tetangga, perompak yang menghancurleburkan kampung ini di tahun 50an, hingga asal muasal dirinya yang kabur dari kampung halamannya di Timur sana.






