BERAU | season 2 episode 7: an epilogue (plus special feature: extended scenes)

jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.

tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.

BERAU | season 2 episode 6: jatuh itu takdir

inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.

setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.

benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.

be creative and you’ll become more productive (2008)

setelah berada di sebuah toyota avanza keluaran 2008 selama 2 jam, dengan posisi badan yang sedikit membungkuk, dan barang bawaan yang menindih paha, saya pun tiba di dermaga penyeberangan tanjung batu. moyo, sang motoris speed boat menyambut saya dengan sebuah keheranan di wajahnya, seraya bertanya, “hanya sendiri saja, pak?”. saya hanya mengangguk dan tersenyum. tadinya saya hendak mengatakan, memang kenapa kalau sendiri?, tapi mengurungkannya dan langsung berjalan menuju speedboat biru putih yang menanti di air.

tanpa banyak basa-basi, kami meluncur perlahan menuju pulau derawan. terpaan angin yang berhembus, bau air laut biru yang khas, serta kacamata hitam yang menempel di wajah, membuat saya seperti james bond yang bertualang di perairan berau, minus senjata dan wanita-wanita cantik tentunya.

inilah kali kedua saya ke derawan di tahun 2008, dan kali kelima saya dalam hidup. tidak banyak yang berubah, karena derawan tetaplah indah seperti pertama kali saya menginjaknya di tahun 2006. kecuali sebuah fakta bahwa inilah pertama kali saya pergi sendirian. target perjalanan saya hanya satu, bisa menenangkan pikiran setelah lebih dari dua bulan berjalan kesana kemari melaksanakan penelitian. memang belum rampung semua, karena masih ada satu tempat lagi yang harus saya kunjungi.

traveling sendirian memang sering saya lakukan, namun lebih banyak untuk bekerja. liburan sendirian, sepertinya baru kali ini saya lakukan. ternyata itu menyenangkan. saya malah merencanakan untuk melakukannya lebih sering. sendirian bukan berarti kesepian, karena dua buah novel, sebuah ipod 8 gb, serta beberapa dvd bajakan ikut menemani saya.

puluhan orang pun saya temui dalam liburan singkat ini. entah berapa kali saya harus menjelaskan kepada mereka mengapa saya ada di berau, mengapa saya berlibur, dan apa status pernikahan saya (untungnya tidak pernah ditanya agama ataupun pilihan politik saya). sebagai balasan mereka mengoceh mengenai kehidupan mereka. tak hanya seorang manager media, kontraktor, pejabat bank negeri ini, pegawai negeri, pengelola penginapan, namun juga seorang petugas militer yang dengan cueknya menunjukkan bekas peluru di perutnya akibat pertempuran dengan perampok sarang burung walet. “peluru ini tembus loh mas, sampe ke punggung dan untungnya hanya menyerempet usus saya.” saya pun hanya bisa meringis membayangkan rasanya.

and… here i am, di antara birunya air laut, hamparan pasir putih, deburan ombak, di tengah heningnya malam, menuliskan sebuah artikel tahunan. momen yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, seraya me-recall kembali semua mozaik-mozaik kehidupan saya selama 2008 kemarin.

BERAU | season 2 episode 5 : belajar dari mana saja

siang hari yang terik.

“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.

pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.

“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.

“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.

“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.

the jumpers

selama tinggal di kota tanjung redep, saya tinggal di sebuah rumah milik bapak dan ibu haji, begitu saya mereka biasa dipanggil. mereka memiliki usaha restoran dan catering yang cukup terkenal di sini. tak jarang, sayapun merasakan masakan hasil karya pak haji yang begitu terampilnya meracik semua bumbu masakan. kemarin contohnya, saya merasakan kedahsyatan sambel setan yang digabung dengan gorengan udang lobster dan kakap merah. rasanya? jangan ditanya lagi.

rumah yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu ini berada di sisi sungai kelay. sore hari menjadikan tempat ini cukup nyaman untuk digunakan sebagai tempat bersantai, sembari menikmati kopi dan gorengan ataupun hanya melihat aktivitas lalu lintas perahu dan anak-anak yang berenang kian kemari.

tinggal di pinggir sungai, walaupun di kota, membuat anak-anak di tanjung redep akrab dengan air sungai. karena itu jangan tanya kehebatan mereka dalam hal berenang. mereka menjadi perenang-perenang unggul, sederas apapun air sungai kelay dan segah yang membelah kota ini. namun, tak hanya berenang, mereka pun sangat ahli dalam hal loncat-meloncat indah.

omeng dan teman-temannya adalah salah satu dari mereka yang memiliki keahlian itu. merekapun tak canggung ketika saya meminta mereka memperlihatkan kemampuan mereka. mereka begitu excited-nya, bahkan berpose tanpa harus saya arahkan. mereka juga tak lelah turun naik ke perahu serta kembali meloncat ke dalam air.

BERAU | season 2 episode 4: mission failed (banjir.. banjirr.. banjirrr)

suara takbir yang bersahut-sahutan membangunkan si mantri (bukan saya.. :p) di subuh yang gelap itu. ia membangunkan saya sambil mengucapkan ‘magic words’ yang sejak tadi malam membuat saya tidak bisa tidur, “mas.. air udah naik.. sebentar lagi sampai lantai”. saya pun bergegas bangun dan melihat ke luar jendela. air yang tadi malam hanya 50 cm, kini sudah hampir 75 cm. untunglah, rumah seorang sahabat ini cukup tinggi dengan kaki-kaki yang lebih dari 1 meter.

listrik sudah mati sejak tadi malam, sehingga hanya lilin yang menemani kami beraktivitas di pagi itu. kami semua di rumah itu bergantian mandi sambil harap-harap cemas dan berpikir bagaimana caranya bisa mencapai mesjid dengan kondisi air yang seperti itu. untuk menuju mesjid kami harus melewati sebuah jembatan yang air sungainya meluap. jika di rumah ini saja air sudah tinggi, tentu di jembatan air lebih tinggi lagi. tapi tak ada jalan lain, kami harus menerobos jembatan itu.

pukul setengah tujuh pagi, sambil mengangkat perlengkapan sholat dan semua peralatan, kami berjalan menembus jembatan. air sudah lebih dari pinggang, sehingga kami harus berjalan perlahan agar barang bawaan (dan kamera tentunya!) tidak jatuh. di warung dekat mesjid, semua pakaian basah pun berganti rupa. kami pun siap sholat ied di tengah genangan air di mana-mana.