<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>aaqq&#124;dot&#124;net &#187; feature</title>
	<atom:link href="http://www.aaqq.net/tag/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aaqq.net</link>
	<description>a life in a blog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Mar 2012 16:49:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Negeri van Oranje.. siap meluncur!!!</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 13:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?

Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.

Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?

Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://www.negerivanoranje.nl/wp-content/uploads/2009/03/vanoranje-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" />Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?</p>
<p>Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.</p>
<p>Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.</p>
<p>Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?</p>
<p>Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: <em><strong>the courage to love!</strong></em></p>
<p><span id="more-356"></span>***</p>
<p>Novel ini ditulis oleh empat orang yang pernah merasakan susah senangnya hidup dan bersekolah di Belanda. Dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca, kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussels hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala <em>backpacker</em>.</p>
<p>Mereka adalah:</p>
<p>Adept Widiarsa<br />
Nisa Riyadi<br />
Rizki Pandu Permana<br />
Wahyuningrat</p>
<p><strong>Nantikan di toko buku terdekat di INDONESIA..<br />
di akhir bulan Maret 2009!</strong></p>
<p>diskon special untuk early bird sebelum tanggal 24 Maret 2009,<br />
pemesanan dapat menghubungi bentangpustaka [at] yahoo [dot] com</p>
<p>***</p>
<p>“Novel yang menyenangkan…” &#8211;Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi&#8211;</p>
<p>“Keakuratan dan detail cerita di dalamnya membuat saya jadi kangen sama Belanda” &#8211;Raditya Dika, penulis Kambing Jantan—</p>
<p>“Kisahnya sangat nyata, penuh kejutan, dan inspiratif. Patut dibaca pula bagi yang ingin jalan-jalan ala backpacker di Eropa.” &#8211;Trinity, pemilik blog dan penulis buku The Naked Traveler—</p>
<p>“…panduan wajib buat mereka yang bercita-cita tinggi agar mampu menghargai persahabatan dan cinta…” &#8211;Luigi Pralangga, blogger Indonesia di UN Peacekeeping Mission—</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/03/08/negeri-van-oranje-siap-meluncur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 7: an epilogue (plus special feature: extended scenes)</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 09:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.

tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4416.jpg" alt="" width="200" /><strong>previously on BERAU season 2 <a href="http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/">episode 6</a>:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>trip terakhir di berau selesai sudah. paling jauh, paling sulit aksesnya, dan paling indah pemandangannya. beragam pengalaman saya alami, mulai dari ketinggalan kotak makanan, disangka intel, berperahu melawan ganasnya jeram sungai segah, hingga mandi lumpur. </em><em>fiuh, what a trip!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 7</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">jika hidup terdiri dari misi-misi yang harus kita selesaikan, maka perjalanan saya ke berau adalah salah satunya. tak hanya menyelesaikan ‘misi’ penelitian untuk disertasi saya; namun jauh lebih besar dari itu, saya percaya bahwa perjalanan kali ini memiliki ‘misi’ yang harus diselesaikan, seperti halnya sam becket di quantum leap.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tiga bulan lebih saya di berau, dan saya banyak menemukan banyak gambaran sebuah realitas kehidupan orang-orang di lingkungan terdekat di sana. gatal rasanya melihat banyak hal yang tidak sesuai dengan kata hati dan pola pikir saya selama ini. dengan angkuh dan dangkalnya saya berusaha menjadi ‘superhero’ yang berusaha memperbaiki itu semua. sukses? tidak tahu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span id="more-353"></span><em>life goes o</em>n dan perubahan yang saya harapkan ternyata tidak semudah yang diharapkan. ini adalah masalah ekspektasi yang berlebihan dari hal kecil yang saya lakukan. saya pun belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang. tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif ‘orang kota’ yang <em>mengaku-ngaku</em> berpendidikan. dan tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perspektif orang (lugu) yang baru hidup 30an tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ingin rasanya saya berteriak melihat potensi mereka terhambat hanya karena hal-hal yang berada di luar jangkauan (saya dan mereka). saya hanya bisa menangis dalam hati. dengan berbesar hati, harus diakui bahwa saya tidak (selalu) bisa bertanggung jawab terhadap jalan hidup seseorang. pada akhirnya, kita (termasuk mereka) lah yang bertanggung jawab terhadap hidup kita sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">akhirnya, alih-alih menjadi sam yang loncat sana-sini setelah menyelesaikan misi, seorang teman dekat *<em>tsaah</em>* malah melihat bahwa justru orang-orang di berau lah yang secara bahu membahu membuat saya menyelesaikan misi ini. hmm.. <em>another perspective of seeing a statement</em>. saya setuju itu, terdengar lebih <em>humble</em> dan tidak membuat saya jumawa karena berasa menjadi sam becket.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">jadi dibandingkan dengan saya yang menyelesaikan dan mempermudah hidup beberapa orang di berau, justru menjadi lebih <em>significant </em>adalah apa yang mereka berikan pada hidup (dan perspektif terhadap hidup) saya. mereka lah yang membuat saya mengerti makna dari sebuah hal bernama <em>dealing with</em> <em>reality</em>. inilah misi saya yang sesungguhnya&#8230; <em>and i&#8217;feel blessed to have this experience</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>anyway</em>, ada banyak cerita yang tidak saya masukan dalam beberapa episode sebelumnya. keterbatasan pikiran dan <em>space</em> di blog, membuat saya banyak mengabaikan itu semua. tapi, sebenarnya banyak hal yang menarik. beberapanya memang lucu, namun beberapa juga kadang membuat saya bagaikan disayat-sayat oleh silet dan jeruk nipis oleh para gerwani, sakit dan perih.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di berau tidak ada tukang parkir loh. retribusi parkir yang disatukan dengan pajak tahunan kendaraan ternyata membuat pak ogah dan tukang parkir liar hilang. parkir jadi lebih semrawut? ah tidak juga. selain itu, malah tidak repot untuk selalu cari duit kecil pada saat parkir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tengah hari di setiap jumat adalah jam bebas helm bagi pengendara motor. dengan hanya menggunakan baju koko, peci dan sarung maka dapat dipastikan tidak akan ada polisi yang bakal menilang anda. jumatan ternyata menjadi pengecualian penggunaan helm di berau. *<em>helm kan buat keselamatan ya? kok pake pengecualian gitu?*</em> tapi jangan harap lolos dari polisi jika di luar jam-jam itu, helm adalah barang wajib dibawa!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masih ingat <a href="http://www.aaqq.net/2008/12/16/the-jumpers/" target="_blank"><em>the jumpers</em></a>? salah satunya mampu membuat saya terhenyak. suatu hari ia mendatangi saya dan bertanya bagaimana gimana caranya ikut termehek-mehek trans tv. saya hanya bisa tergelak, dan menceramahinya panjang lebar soal acara tipi yang (maaf) menurut saya tidak real. namun, kemudian ia mampu membuat tawa saya berhenti. ternyata ia hendak mencari ayahnya yang tidak pernah ia lihat sejak kecil. ibunya meninggal sejak ia lahir dan sang ayah meninggalkannya pada sang kakek, satu minggu setelah ia lahir. saya bagaikan terkena godam di kepala.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tiba-tiba saya menjadi mengerti kenapa ia menjadi sangat <em>rebel</em>, putus sekolah dan begitu mudahnya tersulut amarah. ia bahkan sudah tiga kali pindah sekolah karena kabur. beruntung ia masih memiliki banyak saudara yang bisa menampungnya. namun, kehidupannya selama 14 tahun ini lebih banyak dilewati secara berpindah-pindah dari sang kakek, sang tante, dan rumah-rumah lainnya. saat ini ia tinggal dan bekerja pada sang saudara sebagai kuli cuci dan pembantu umum. ya, di usianya yang memang sangat muda.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">cerita soal belanda dan dunia di luar berau, juga beberapa motivasi yang saya berikan,<span> </span>membuat kami dekat dan (mudah-mudahan) membuka matanya. ia tak bisa menutupi kesedihan wajahnya ketika saya pergi. ia hanya bisa berkata: <em>saya berjanji akan lanjut sekolah mas</em>. walaupun ia harus berhadapan dengan ketidakpercayaan orang-orang terdekatnya akan niat tulusnya untuk sekolah. hampir semua orang yang saya tanyakan mengenai keinginan sekolahnya memberikan respon yang sama: <em>susah, palingan ia akan kabur lagi mas!</em> dezigh.. saya kembali terpukul oleh godam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di hutan segah nun jauh, suatu siang yang panas, tiba-tiba saya mendengar suara riuh dari seseorang yang menjajakan es krim di kampung. es krim? di hutan? wooot? tapi itu yang terjadi. jauh dari kota, menikmati es krim puter terasa sangat nikmat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">rasa ingin tahu, membuat saya mengobrol dengannya. ternyata, di antara ratusan orang dayak, terseliplah beberapa orang jawa di kampung ini. ia adalah salah satu dari pendatang yang dengan nekadnya hidup di tengah hutan segah ini. hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu guru di sd kampung itu. eugh… es krim saya tiba-tiba terasa pahit.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal">hal yang tak pernah saya lewatkan jika pergi ke sebuah tempat adalah melakukan wisata kuliner. tiga<span> </span>bulan di berau membuat saya mengetahui tempat makanan yang cukup <em>recommended</em> untuk didatangi. beberapa di antaranya adalah:</p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>ikan patin pepes dan bakar di rumah      makan puji</strong>. terletak di luar kota      tanjung redep (daerah rinding), rumah makan ini menyediakan pepes ikan      patin yang rasanya juara. dengan bumbu yang manis pedas, membuat pepes      patin sangat nikmat dimakan pada saat siang hari. beberapa kali saya      kehabisan pepes patin itu karena banyaknya peminat. namun, jangan      khawatir, ikan patin bakarnya pun tak kalah enak. dengan harga yang tidak      relatif mahal, membuat saya merekomendasikan rumah makan ini jika anda      berkunjung ke berau.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>tim ikan kakap</strong> <strong>di warung tenda indah sari</strong>. saya      bukan penyuka ikan yang direbus ataupun dibuat sop, namun menu ini menjadi      pengecualian. baru pada kunjungan ketiga saya berani memesan menu tim ikan      kakap ini. hasilnya? saya ketagihan. tim ikan kakap kuah ini begitu terasa      nikmat, dengan paduan rasa gurih, pedas, asam dan sedikit manis. ikan      kakap yang dagingnya tebal dipadu dengan bumbu-bumbu bawang putih, bawang      merah, cabe, sereh, belimbing wuluh menjadikan rasa tim kuah ini juara.      tak hanya kakap, mereka juga menyediakan jenis makhluk laut lainnya, mulai      dari kerapu, putih, cumi dan udang.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>nasi goreng special di depot sari. </strong>terletak      di jalan mulawarman, rumah makan ini memiliki menu nasi goreng yang menurut      saya paling juara di berau ini. tidak seperti nasi goreng lain yang      menggunakan saus tomat botol hingga warnanya berubah menjadi merah, rumah      makan ini memberikan bentuk dan rasa nasi goreng yang cukup pas di lidah.      ditambah gorengan ati ampela plus sayur mayur yang dicampurkan, membuat      nasi goreng ini menjadi langganan saya sejak pertama kali tiba di berau.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>ikan goreng di rumah makan pantai losari      2</strong>. Memang, ikan goreng di berau cukup banyak dijual. Namun, rumah      makan yang cukup nyaman serta rasa sambel yang (lagi-lagi) juara, membuat      ikan goreng dan rumah makan ini cukup pantas didatangi.</li>
<li class="MsoNormal"><strong>kedai kopi singkuang. </strong>walaupun      jaraknya lumayan jauh dan rasa makanan yang masih dalam taraf biasa, namun      atmosfer kafe yang dibuat seperti layaknya kafe2 di bandung membuat saya kerap mendatangi      tempat ini. selain itu. inilah satau-satunya kafe yang menyedakan akses      wifi gratis. hehehe.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">orang-orang di berau terdiri dari banyak suku, mulai dari berau, banjar, bugis, dayak, jawa dan lain sebagainya. namun entah kenapa, orang-orang yang saya kenal selalu memiliki kekerabatan satu sama lain. di manapun, sering sekali saya mendapati kalimat: <em>oh.. si anu kan masih sepupu jauh dari adiknya mertua saya</em>! <em>oh.. si inu kan masih sepupu dua kali dengan saya! o..si ini kan masih paman dengan ayah saya, makanya pak bupati yang masih adik iparnya paman saya itu adalah saudara saya! caleg anu itu kan masih kakaknya sepupu jauh saya yang di samarinda!</em> sigh.. saya biasanya hanya<span> </span>mengangguk dan tidak bisa menjabarkan pohon keluarga mereka dengan jelas. yang pasti <em>torang samua basudara</em> toh? <em>good.. </em>jadi <em>beta sonder pusing lagi</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ah.. BERAU season 2 ini pun kudu berakhir. saat ini saya sudah di bogor dan sibuk menyelesaikan data-data akhir penelitian saya tahap ini. masih ada satu bulan sebelum saya berangkat kembali ke belanda. berau pun punya satu tempat di hati ini. itulah rumah ketiga saya setelah bogor dan belanda. panjang rasanya jika saya harus menuliskan orang-orang yang telah membuat perjalanan saya di berau menjadi lebih mudah dan berharga. si mantri dan si pitoy adalah salah dua di antaranya (<em>you&#8217;re the best, bros!!</em>). tak lupa, bapak dan ibu haji tempat saya tinggal di tanjung redep, the jumper, orang-orang hebat di kampung yang saya datangi, mas iswan dan mbak asih sang kakak terbaik saya di berau, serta sahabat-sahabat baru lainnya. terima kasih! <em>i will come back, for sure</em>!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/01/30/an-epilogue-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 6: jatuh itu takdir</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 08:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan  keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.

setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.


benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4247_resize.jpg" alt="" width="350" /><strong>previously on BERAU season 2 </strong><a href="http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/" target="_blank"><strong>episode 5</strong>:</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>meneliti aspek sosial dan ekonomi masyarakat memang banyak suka dukanya. semua hal itu tetaplah berkesan dan membuat saya bisa belajar memaknai hidup ini</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 6</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">inilah trip terakhir dari season 2: hulu sungai segah. dua pemukiman masyarakat dayak gaai dan dayak punan di tengah hutan menjadi target penelitian saya kali ini. tahun lalu, saya pernah mengunjungi lokasi ini. saat itu, saya begitu terpukau dengan keaslian dan <span> </span>keasrian alamnya. tak sabar rasanya mengunjungi tempat itu lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah pamitan kanan kiri atas bawah, bersama si mantri dan si pitoy, kami berangkat menuju segah dengan mobil strada keluaran mitsubishi sewaan. kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang sangat tidak bersahabat dan membuat hujan turun terus menerus memaksa kami menggunakan mobil 4WD ini. banjir dan jalan tanah yang becek pasti tidak mau berkompromi dengan kepergian kami.<span id="more-350"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4215_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">benar saja, selepas dari jalan aspal kami sudah langsung berhadapan dengan jalan becek yang membuat para mobil yang baru selesai dicuci pasti kapok melewatinya. tak jarang, roda mobil kami terendam lebih dari setengahnya di dalam lumpur cokelat itu. tapi, bukan saya jika tidak ada kesialan. baru dua jam berkendara, kami terjebak di antara antrian panjang kendaraan. sebuah truk nekat melewati lumpur dalam dan (tentu sajaaaa) terjebak dengan posisi melintang. tak ada kendaraan yang bisa lewat. setelah menanti lama, akhir saya memutuskan untuk kembali ke kota tanjung redep. rencana pun gagal total. arrrrrrrgh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4212_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">keesokan paginya, setelah kembali pamitan kanan kiri, kami langsung meluncur kembali ke segah. berharap tidak ada kendaraan yang nekat ataupun melintang di tengah jalan. disertai hujan serta kekhawatiran akan kondisi jalan, kami memantapkan hati. doa-doa tak putus keluar dari mulut ini. akhirnya, setelah lima jam menembus jalan tanah becek lumpur kami pun tiba di kampung.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">menggunakan perahu milik salah satu warga, kami menyeberang dengan membawa semua perlengkapan ‘perang’. rasa syukur berkali-kali saya ucapkan ketika kami tiba di rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami selama 10 hari ke depan ini. namun itu ternyata tak lama…</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“mas, kayanya ada yang kurang,” sahut si mantri ketika ia mengecek semua barang bawaan kami di dapur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“<em>o, GOD, please.. not again</em>,” sahut saya dalam hati.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya pun hanya bisa terduduk lemas ketika mengetahui bahwa satu kardus persediaan bahan makanan kami beserta 5 kg beras dan telur, tertinggal di tanjung redep.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah bertahan selama dua hari dengan mie instan mahal dan beras yang dibeli dari tetangga, akhirnya kotak makanan kami tiba dengan selamat. beruntung, di kampung ini terdapat sebuah mobil angkutan regular yang datang dengan tidak regular akibat banjir dan jalan yang longsor.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tak sulit sebenarnya mendapati warung di kampung long laai ini. namun, jarak yang jauh dari pasar membuat harga-harga melambung dengan sangat tinggi. penurunan harga bbm oleh pemerintahan sby bahkan tidak terlalu berpengaruh di sini. untuk 1 liter bensin tetap saja kita harus merogoh kocek sebesar 12 ribu rupiah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di satu sisi, ketergantungan mereka terhadap bbm cukup tinggi. perahu bermotor adalah satu-satunya alat transportasi mereka untuk bisa mendapatkan makan, berladang ataupun mencari emas. setidaknya 2 liter bensin campur dibutuhkan oleh satu buah perahu dalam seharinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sungai memang menjadi inti kehidupan mereka yang utama. tak hanya sebagai jalur transportasi namun juga menjadi sumber air untuk minum, mandi, buang air dan mencuci. kamar mandi dan jamban jarang dimiliki oleh masyarakat. air sungai masih cukup melimpah dan (kadang) bersih untuk keperluan itu. saya pun begitu menikmati ritual mandi di sungai setiap harinya dengan hanya bercelana dalam saja. puas rasanya membasuh badan dengan cara menceburkan diri selama berpuluh-puluh menit di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/bathingspace_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>tempat mandi terluas. tinggal jebur!!</em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ini ketiga kalinya saya mengunjungi kampung long laai. salah satu kampung dayak gaai di hulu sungai segah ini relatif lebih maju dibandingkan kampung-kampung lain di sekitarnya. empat buah mobil mitsubishi strada bahkan dimiliki oleh masyarakat sebagai alat tranportasi mereka ke kota. walaupun begitu kita masih akan banyak menemukan unsur-unsur tadisional di sana. rumah-rumah kayu dan panggung berumur ratusan tahun bahkan masih tersimpan baik di antara puluhan rumah kayu yang baru adalah salah satu di antaranya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/view08_resize.jpg" alt="" width="450" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakatnya pun masih memenuhi kebutuhan makanan pokoknya sendiri. ikan dan babi hutan menjadi makanan sehari-hari yang masih mudah mereka dapatkan di hutan dan sungai. namun untuk beras, beberapa tahun terakhir ini mereka lebih banyak memilih untuk mendulang emas di hulu dan meninggalkan tradisi berladang. beras lebih mudah dan murah dibeli dibandingkan harus membuat ladang sendiri, menurut mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kegiatan penelitian saya berjalan dengan baik di kampung ini. walaupun di hari-hari awal mereka ternyata menyimpan curiga pada kegiatan survey yang saya lakukan. pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendapatan bahkan membuat beberapa dari mereka berpikir bahwa saya adalah intel ataupun mata-mata pemerintah. yang lebih parah lagi, bahkan mereka berpikir bahwa ini adalah upaya amerika serikat untuk melihat potensi sumber daya alam daerah mereka melalui penelitian. duh.. saya tak bisa berkata apa-apa. kok jauh amat? kok amerika?? di satu sisi saya begitu kagum dengan kemungkinan-kemungkinan yang mereka ciptakan, namun juga khawatir jika penelitian ini akan terhambat oleh opini-opini yang tidak berdasar seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">untunglah, semua bisa teratasi. di beberapa rumah, memang masih ada kecurigaan. namun kami bisa (sepertinya) bisa meyakinkan mereka jika ini memang untuk tujuan penelitian dan menyelesaikan disertasi saya. fiuh. apalagi setelah kami ikut bergotong royong membersihkan kampung yang akan didatangi bupati beberapa hari ke depan. kami pun semakin dikenal.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">berbekal parang pinjaman, saya bergabung dengan masyarakat menebas rumput-rumput di sepanjang jalan dan lapangan. begitu bersemangatnya, mereka bahkan memperhatikan saya. bangga rasanya. salah seorang di antara mereka, tiba-tiba bertanya, “di jawa suka kerja bakti gini juga mas?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“wah, kalau di tempat saya sudah lama tidak ada,” jawab saya perlahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“pantas, dari cara motongnya kelihatan,” sahutnya dengan tanpa perasaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“……%$#%^*(_*^$#”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4251_resize.jpg" alt="" width="300" />kampung kedua yang saya sambangi adalah long ayap. kampung yang relatif lebih kecil dari kampung sebelumnya dan didominasi oleh masyarakat dayak punan. kehidupan sehari-harinya pun tak jauh berbeda dengan kampung long laai. hanya saja, akses yang lebih sulit membuat mereka masih jauh lebih tergantung pada alam. hampir semua rumah tangga di sini membuat ladang padi di tahun ini. sumber makanan pokok yang terlalu mahal jika mereka membelinya di kota.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakatnya jauh lebih ramah dan menerima kami dengan tangan terbuka. tanda tanya pasti ada, apalagi jenis-jenis pertanyaannya yang saya ajukan memang menyentuh batas <em>privacy</em> mereka. namun untunglah, tidak ada tuduhan intel pada saya di kampung ini. mereka begitu terbuka menjawab pertanyaan, setelah saya menjelaskan tujuan penelitian ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kami tinggal di rumah kepala kampung. sebuah rumah panggung dengan tangga yang cukup tinggi membuat saya khawatir akan jatuh suatu ketika. <em>track record</em> saya untuk jatuh, terutama di kampung dayak, membuat saya amat sangat berhati-hati. bahkan ketika saya hampir terjatuh sehabis mandi di sungai, masih bisa saya atasi, walaupun sebuah celana dalam akhirnya hanyut tak berbekas. *<em>semoga ia beristirahat dengan tenang ataupun ditemukan orang yang pantas</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4269_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kampung ini menjadi tempat yang berkesan bagi saya. keramahannya, kegotongroyongannya, keluguannya, serta keasrian tempatnya bersatu menjadi hal yang sangat indah dan langka. beberapa hari kami di sana, dan selama itu pula mereka bekerja gotong royong. sebuah waktu yang pas. entah untuk membersihkan kampung, membangun gereja, mencari bahan untuk rumah. ibu-ibunya pun dengan giatnya memasak secara bersama-sama untuk para bapak yang sedang bekerja. saya ternyata sudah lama sekali tidak pernah melihat hal seperti ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4316_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>bersama bapak dan ibu kepala adat</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4324_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>penghias kepala si ibu. terdiri dari koin bertuliskan tahun 1942 dan 1945. nederland indie.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4386_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>tawa riang seperti ini yang membuat perjalanan tidak pernah membosankan</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4368_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>anak-anak dayak punan yang sangat aktraktif dan energik.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4426_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>memasak bersama, menunggu bapak-bapak selesai kerja bakti.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4402_resize.jpg" alt="" width="400" /><br />
<em>kepala kampung dan keluarganya, tempat saya tinggal.</em>
</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>do you think that having a three hours boat trip along the segah river (with extreme rapids!) across the tropical jungle is a good way to celebrate your birthday? think again, folks!! *but i must say.. yes!!!*</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">hujan yang turun terus menerus membuat saya khawatir. tak hanya air sungai yang meluap namun juga tentu jalan tanah menuju kampung pasti akan menjadi lebih berlumpur dan sulit untuk dilewati. penantian saya di tanggal 15 kemarin ternyata sia-sia. mobil jemputan kami tak bisa datang. banjir bahkan sudah membuat mereka tertahan sebelum mereka memasuki areal hutan. kami terancam tidak bisa pulang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kondisi semakin tidak pasti, persediaan makanan sudah tipis (a.k.a habis), dan kami pun sudah mati gaya. akhirnya, saya putuskan untuk menggunakan perahu menuju kota kecamatan terdekat, tepian buah. dengan menggunakan perahu si lung, salah satu warga kampung, kami memantapkan hati untuk pulang dengan perahu. data hasil survey saya bungkus rapat-rapat dengan plastik untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. kamera dan alat-alat elektronik lain saya pegang erat-erat. baju pelampung terpasang di badan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">arus sungai yang cukup deras membuat hati saya kebat-kebit. bisa berenang dan menggunakan pelampung bukan jaminan selamat jika saya hanyut. ketika mandi kemarin, saya ternyata tak mampu melawan derasnya air sungai di pinggir. bagaimana jika di tengah? apalagi ketika perahu melewati jeram-jeram yang ganas dengan bebatuan di kanan-kirinya, doa-doa langsung meluncur dari mulut kami. wajah hitam saya mungkin sudah menjadi putih. <em>c’mon, this is my birthday and i don’t want to have a bad experience in this special day</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>but it was a worth trip</em>, <em>i can say</em>. benar-benar sebuah kado indah di hari ulang tahun. pemandangan indah terhampar di kanan kiri saya. hutan kalimantan yang hijau dan gagah begitu membuat saya terpana. di beberapa bagian bahkan kedua pohon di kanan kiri sungai bertemu, dengan akar-akar yang menjulur, serta kelembaban khas hutan tropis membuat saya mengucap syukur masih bisa melihat keindahan alam indonesia. <em>swear.. it’s gorgeous</em>. semoga tidak rusak oleh kerakusan orang-orang berwatak kapitalis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4437_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4446_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/view04.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dalam perjalanan saya juga bertemu keluarga yang pernah saya survey. sang bapak, menebarkan jala dibantu anak-anaknya yang masih kecil. anak terbesar mengendalikan perahu, sedangkan sang ibu di tengah perahu menjaga hasil ikan. bisa saya pastikan, itulah makanan mewah mereka di hari itu: ikan sungai. <em>damn.. i was touched</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">setelah tiga jam, kami pun tiba di tepian buah dengan sambutan air hujan dan banjir yang melanda kota kecil itu. saya sangat girang karena tidak ada kejadian aneh-aneh dalam trip saya kali ini. keluar dari perahu saya berteriak dalam hati: <em>akhirnya. saya memang bisa melewati trip ini tanpa perlu jatuh ataupun pingsan!!</em> keluar dari sungai dengan tas kamera di gendongan, saya pun mantap melangkah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">Tuhan rupanya memang tidak suka orang yang takabur, hanya beberapa saat setelah itu, kaki saya salah berpijak dan meluncur masuk ke dalam sungai. saya pun hanya bisa berendam pasrah hampir seperut. si mantri dan pitoy hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal sambil menyelamatkan tas kamera yang basah. <em>memang kau ini turunan jatuh</em>, kata si pitoy. arrrrgghh… <em>why???</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sudah selesai? tentu saja belum. <em>not that easy, folks!!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tidak ada mobil yang bisa membawa kami ke kota tanjung redep, membuat saya memutuskan untuk menginap semalam di tepian buah. setelah bernegosiasi dengan seorang calo, ia menjanjikan untuk menyewakan kami sebuah mobil mitsubishi strada. saya pun berharap bisa tidur dengan tenang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">janji-janji tinggal janji. esok harinya ternyata si calo kupret itu tidak mendapatkan mobil yang dijanjikan. alih-alih mencarikan mobil sejenis, ia malah menawarkan mobil kijangnya yang bobrok untuk mengantar kami pulang. ia meyakinkan kami, bahwa jalanan sudah bagus dan mobilnya dapat menembus jalanan lumpur itu. keinginan untuk pulang cepat dan capek berdebat membuat saya mengiyakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/CopyofIMG_4535_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kesialan memang belum berakhir. satu jam berlalu, dan kami pun berada di tengah-tengah hutan, di antara jalan berlumpur dan menahan gondok melihat mobil kijang dan calo kupret itu berjuang keluar dari lumpur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dan saya pun lagi-lagi hanya bisa berteriak.. aaaaaaaarrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhh… <em>what a trip</em>!!!!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4537_resize.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>thanks for the birthday wishes guys</em>. senang rasanya membaca semua itu di saat saya baru keluar dari kejenuhan di hutan dan mati gaya yang tak kunjung sembuh. <em>it means a lot to me</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2009/01/17/jatuh-itu-takdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>be creative and you&#8217;ll become more productive (2008)</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2008/12/28/be-creative/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2008/12/28/be-creative/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 07:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Annual article]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[setelah berada di sebuah toyota avanza keluaran 2008 selama 2 jam, dengan posisi badan yang sedikit membungkuk, dan barang bawaan yang menindih paha, saya pun tiba di dermaga penyeberangan tanjung batu. moyo, sang motoris speed boat menyambut saya dengan sebuah keheranan di wajahnya, seraya bertanya, “hanya sendiri saja, pak?”. saya hanya mengangguk dan tersenyum. tadinya saya hendak mengatakan, memang kenapa kalau sendiri?, tapi mengurungkannya dan langsung berjalan menuju speedboat biru putih yang menanti di air.

tanpa banyak basa-basi, kami meluncur perlahan menuju pulau derawan. terpaan angin yang berhembus, bau air laut biru yang khas, serta kacamata hitam yang menempel di wajah, membuat saya seperti james bond yang bertualang di perairan berau, minus senjata dan wanita-wanita cantik tentunya.

inilah kali kedua saya ke derawan di tahun 2008, dan kali kelima saya dalam hidup. tidak banyak yang berubah, karena derawan tetaplah indah seperti pertama kali saya menginjaknya di tahun 2006. kecuali sebuah fakta bahwa inilah pertama kali saya pergi sendirian. target perjalanan saya hanya satu, bisa menenangkan pikiran setelah lebih dari dua bulan berjalan kesana kemari melaksanakan penelitian. memang belum rampung semua, karena masih ada satu tempat lagi yang harus saya kunjungi.

traveling sendirian memang sering saya lakukan, namun lebih banyak untuk bekerja. liburan sendirian, sepertinya baru kali ini saya lakukan. ternyata itu menyenangkan. saya malah merencanakan untuk melakukannya lebih sering. sendirian bukan berarti kesepian, karena dua buah novel, sebuah ipod 8 gb, serta beberapa dvd bajakan ikut menemani saya.

puluhan orang pun saya temui dalam liburan singkat ini. entah berapa kali saya harus menjelaskan kepada mereka mengapa saya ada di berau, mengapa saya berlibur, dan apa status pernikahan saya (untungnya tidak pernah ditanya agama ataupun pilihan politik saya). sebagai balasan mereka mengoceh mengenai kehidupan mereka. tak hanya seorang manager media, kontraktor, pejabat bank negeri ini, pegawai negeri, pengelola penginapan, namun juga seorang petugas militer yang dengan cueknya menunjukkan bekas peluru di perutnya akibat pertempuran dengan perampok sarang burung walet. “peluru ini tembus loh mas, sampe ke punggung dan untungnya hanya menyerempet usus saya.” saya pun hanya bisa meringis membayangkan rasanya.

and… here i am, di antara birunya air laut, hamparan pasir putih, deburan ombak, di tengah heningnya malam, menuliskan sebuah artikel tahunan. momen yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, seraya me-recall kembali semua mozaik-mozaik kehidupan saya selama 2008 kemarin.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://farm3.static.flickr.com/2264/2118265005_85507a64d7_b.jpg" alt="" width="200" />setelah berada di sebuah toyota avanza keluaran 2008 selama 2 jam, dengan posisi badan yang sedikit membungkuk, dan barang bawaan yang menindih paha, saya pun tiba di dermaga penyeberangan tanjung batu. moyo, sang motoris speed boat menyambut saya dengan sebuah keheranan di wajahnya, seraya bertanya, “hanya sendiri saja, pak?”. saya hanya mengangguk dan tersenyum. tadinya saya hendak mengatakan, <em>memang kenapa kalau sendiri?</em>, tapi mengurungkannya dan langsung berjalan menuju speedboat biru putih yang menanti di air.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tanpa banyak basa-basi, kami meluncur perlahan menuju pulau derawan. terpaan angin yang berhembus, bau air laut biru yang khas, serta kacamata hitam yang menempel di wajah, membuat saya seperti james bond yang bertualang di perairan berau, minus senjata dan wanita-wanita cantik tentunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span id="more-347"></span>inilah kali kedua saya ke derawan di tahun 2008, dan kali kelima saya dalam hidup. tidak banyak yang berubah, karena derawan tetaplah indah seperti pertama kali saya menginjaknya di tahun 2006. kecuali sebuah fakta bahwa inilah pertama kali saya pergi sendirian.<span> </span>target perjalanan saya hanya satu, bisa menenangkan pikiran setelah lebih dari dua bulan berjalan kesana kemari melaksanakan penelitian. memang belum rampung semua, karena masih ada satu tempat lagi yang harus saya kunjungi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">traveling sendirian memang sering saya lakukan, namun lebih banyak untuk bekerja. liburan sendirian, sepertinya baru kali ini saya lakukan. ternyata itu menyenangkan. saya malah merencanakan untuk melakukannya lebih sering. sendirian bukan berarti kesepian, karena dua buah novel, sebuah ipod 8 gb, serta beberapa dvd bajakan ikut menemani saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">puluhan orang pun saya temui dalam liburan singkat ini. entah berapa kali saya harus menjelaskan kepada mereka mengapa saya ada di berau, mengapa saya berlibur, dan apa status pernikahan saya (untungnya tidak pernah ditanya agama ataupun pilihan politik saya). sebagai balasan mereka mengoceh mengenai kehidupan mereka. tak hanya seorang manager media, kontraktor, pejabat bank negeri ini, pegawai negeri, pengelola penginapan, namun juga seorang petugas militer yang dengan cueknya menunjukkan bekas peluru di perutnya akibat pertempuran dengan perampok sarang burung walet. “<em>peluru ini tembus loh mas, sampe ke punggung dan untungnya hanya menyerempet usus saya.</em>” saya pun hanya bisa meringis membayangkan rasanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>and… here i am</em>, di antara birunya air laut, hamparan pasir putih, deburan ombak, di tengah heningnya malam, menuliskan sebuah artikel tahunan. momen yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, seraya me-<em>recall</em> kembali semua mozaik-mozaik kehidupan saya selama 2008 kemarin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong><em>spoiler: ini bakalan panjang, so.. don’t waste your time to read this trash. </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dua ribu delapan bagi saya merupakan sebuah tahun produktifitas. saya tidak pernah menyangka bahwa saya bisa bagitu produktif menghasilkan beberapa buah karya yang sangat-sangat saya nikmati proses pembuatannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sebut saja dua buah chapter yang menjadi salah satu resolusi awal tahun 2008. walaupun tidak sepenuhnya final, namun sudah cukup memberikan gambaran seperti apa dua buah bab dari buku disertasi saya nantinya. belum sempurna, apalagi perjalanan saya ke berau di akhir tahun 2008 ini sepertinya akan membawa banyak perubahan pada isi dua chapter tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tapi saya sangat menikmati proses penulisan dua buah chapter itu. bagaikan pekerja kantoran 9 to 5, saya menyelesaikan pekerjaan itu di <em>cubicle</em> kampus. tidak sedikitpun saya membawanya ke rumah. saya bergeming untuk hanya menyelesaikan pekerjaan kampus di tempatnya. rumah menjadi tempat untuk bersantai dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/MEI2ndd.jpg" alt="" width="350" />salah satu pekerjaan sampingan yang membuat saya bangga adalah ketika saya ‘dipaksa’ menulis artikel untuk sebuah majalah oleh seorang sahabat *<em>hi mbok!!</em>*. berbekal pada perjalanan saya ke berau dan derawan, juga <em>bunch of photos that i made there</em>, saya pun membuat tulisan perdana itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">bangga rasanya melihat tulisan, foto, nama, dan potret diri terpampang di sebuah majalah. narsisme tingkat atas menjangkiti saya. tak heran, jika para selebriti seringkali menggunting artikel mereka di majalah atau tabloid dan menggantungnya di pigura. itulah hal yang saya ingin lakukan pada saat itu juga. janji untuk menulis artikel kedua dan selajutnya ternyata terhambat oleh kesibukan hal lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*<em>jangan khawatir mbok.. menulis ternyata menyenangkan.. and i will do that more.. and more!!</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">sebenarnya, <em>kesibukan hal lain</em> tidak hanya masalah konsentrasi akademis saja. pekerjaan sampingan lain yang menguras banyak tenaga, pikiran dan emosi adalah project besar bersama tim tolol. inilah resolusi kedua saya di awal tahun 2008. project yang dimulai dari akhir tahun 2007 itu ternyata berkembang semakin serius dan dinamis.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dimulai dengan sebuah optimisme dan semangat yang menggebu-gebu, dalam perjalanannya ternyata sangatlah fluktuatif. tak jarang emosipun harus turun naik menyikapi perbedaan pendapat dan kesibukan antara kami yang beberapa kali tidak bisa bertemu. keinginan saya bahkan sempat beberapa kali berhenti di tengah jalan. saya merasa tidak sanggup untuk bekerja dalam tim ini. tapi project ternyata dapat berjalan terus.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di akhir 2008, dengan semangat yang kembali menanjak, akhirnya project itu selesai. darah dan air mata, jika saya boleh menggunaka hiperbola itu, membuat semua ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami semua. yang pasti, persahabatan sangatlah berharga dibandingkan dengan materi, ketenaran, ataupun narsisme semata. saat ini, project memasuki tahap finalisasi dan kami semua berharap bisa memperlihatkannya di quarter 2 tahun 2009. amin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tak hanya menulis, fotografi juga menjadi <em>passion</em> saya terbesar di tahun 2008. semua berawal dari sebuah hal bernama penghargaan. rasa dihargai memang bisa hadir dari mana saja, walaupun hanya sebuah komentar “<em>bagus!</em>”di <a href="http://www.flickr.com/photos/rpermana/" target="_blank">web fotografi</a> saya. namun, itu membuat saya semangat untuk terus membuat banyak foto. hingga akhirnya di tahun ini, dua orang sahabat, cukup pede meminta saya membantu project fotografinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">yang satu, meminta saya memotret keluarga besarnya. berbagai penolakan yang saya lakukan tidak membuatnya mundur. akhirnya dengan rasa tidak percaya diri, saya mengambil foto-foto keluarganya. saya harus akui, saya tidak tahu apakah hasil foto itu memuaskan atau tidak. namun mereka membayar saya dengan nilai yang jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan. inilah pertama kalinya saya dibayar untuk sebuah hobi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*<em>terima kasih banyak, bu. mohon maaf jika hasilnya tidak memuaskan. tapi percayalah, it means a lot to me. it’s a history in my photography life. so someday, i will give you lots of good and free shots for you. i promise</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/agenda04.jpg" alt="" width="300" />yang kedua, lebih gila lagi. sahabat yang satu ini malah meminta saya memberikan puluhan foto saya *<em>hasil foto saya.. bukan foto diri saya.. but trust me.. i‘ve tried</em>* untuk diabadikan dalam sebuah agenda indonesia 2009. sebuah hal besar yang awalnya saya anggap main-main.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*<em>iya.. iya.. gue percaya sekarang kalo lo itu serius… dan juga gila</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">perasaan saya? tentu lebih dari biasa saja. walaupun, ketika saya mempublikasinya di blog ini, saya bahkan belum melihat sosok aslinya. saya hanya bisa melihatnya di foto dan dengan semangat saya menyebarkannya. ketika satu bulan setelah penampilan perdananya, saya menerima agenda itu melalui pos. <em>i was speechless</em>. emosi saya tersentuh melihat <em>masterpiece</em> itu *<em>tsaaah</em>*. <em>i can’t believe.. i did this. gossh</em>.<span> </span>masih belum terlihat professional, tapi inilah awal yang membuat saya menjadi yakin untuk mau (dan bisa) menekuni dunia fotografi ini. doakan dan bantu saya ya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*<em> thank you guys for believing… and also for purchasing. :p.</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">o yah.. jika kalian beruntung mendapatkan kalender mungil dari netherland education support office, ada satu hasil foto saya (dan cuma satu-satunya foto) juga yang digunakan oleh mereka. bangga? ya iya laaaah… *<em>hahaha.. narsis-nya ternyata masih akut</em>*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ngomong-ngomong soal beruntung, saya percaya jika itu memang ada beberapa persennya adalah sebuah keberuntungan. namun, sisa yang lebih banyak adalah sebuah keinginan dan kerja keras untuk mewujudkan berbagai mimpi. kepuasannya pun terasa berbeda, ketika kita menerima hasil yang persentasi kerja kerasnya jauh lebih besar dari keberuntungannya.  nah.. kecuali ketika saya mendapatkan <em>ipod touch </em>8gb di sebuah penarikan hadiah. <em>that&#8217;s what i call.. </em>100% beruntung! dan rasanya.. sama puasnya!! hehehe.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">persahabatan bagai kepompong…</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ada benarnya juga, walaupun pada saat mendengarkan lagunya sindetosca itu saya sempat protes. karena buat saya kepompong hanyalah sebuah benda yang mem-fasilitasi (dan tidak merubah) ulat menjadi kupu-kupu. proses di dalam ulat yang merubahnya menjadi kupu-kupu. ah tapi sudahlah.. ambil makna terdalamnya saja. saya percaya persahabatan dan pertemanan akan membawa kita pada jenjang yang lebih tinggi dalam hidup.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">itu yang membuat saya bersyukur karena mengenal banyak teman baru dari manapun juga di tahun 2008 ini. mulai dari yang berusia lanjut *<em>bukan elu.. suwer.!!.</em>*, kelompok u-30 *<em>hi guys, kapan nongkrong lagi di toque-toque??!!</em>*, dan bahkan yang satu shio dengan saya namun tahun lahir yang jauh berbeda *<em>12 tahun, bow!</em>*. mulai dari belanda, jakarta, bogor, bandung, hingga berau. mereka, dengan karakter dan latar belakang berbeda membuat saya menyadari betapa masih banyak hal yang saya tidak ketahui dalam hidup ini. semua orang mampu memperkaya saya dengan berbagai cara. <em>amazing!</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di luar itu juga, keluarga semakin solid dan saya semakin mencintai mereka semua. keponakan saya yang lucu bahkan membuat saya ingin menjadi ayah. saya ikut khawatir ketika ia masuk ke rumah sakit karena kena demam berdarah, yang ternyata malah dilanjutkan oleh ibunya beberapa minggu kemudian. untunglah mereka semua telah sembuh sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">mereka semua menambah manisnya tahun 2008 buat seorang saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living &#8211; Miriam Beard</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3053/2848102500_7b0317ea76_b.jpg" alt="" width="350" />perjalanan membuat saya bersyukur pada apa yang saya telah peroleh. membaca banyak buku-buku perjalanan orang-orang luar biasa juga membuat saya semakin percaya bahwa perjalanan bisa merubah kita.<span> </span>tanyakan saja pada franz wisner (<em>honeymoon with my brother</em>) akan hasil perjalanannya keliling dunia selama 2 tahun… <em>and you will find the similar answer</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tahun ini perjalanan saya memang tidak begitu banyak dilakukan. rutenya masih bogor-belanda-berau dan ditambah bangkok *<em>eh kok b semua?</em>*. perjalanan ke belanda tentu untuk melanjutkan pekerjaan dan kuliah saya. tidak banyak yang berubah dalam rutinitas itu, kecuali dua kali pindah rumah dalam satu tahun. yang tentu bukan kerepotan yang sedikit. saya sudah merasa belanda sebagai rumah kedua.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">perjalanan ke bangkok, sesaat sebelum saya mendarat ke jakarta sangatlah berkesan. kunjungan pada kolega dan sahabat-sahabat lama yang sekarang berdiam di bangkok, mengembalikan pada memori lama yang menyenangkan. bersama dengan seorang sahabat yang mengaku <em>ansos</em>, saya mengexplore bangkok *<em>that was fun, al!! thank you!</em>*, kota yang hidup karena turisme (dan juga sex) serta berbagai makanan yang membuat air liur tak juga kunjung berhenti, terutama durian!!. <em>i promise, there will be another bangkok trip in the future</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">perjalanan kedua kalinya ke berau masih sama dengan tahun yang lalu. saya masih tetap rajin meng-update jurnal perjalanan saya selama di berau. tahun ini, tanggung jawabnya memang jauh lebih berat, tak hanya wawancara dengan ratusan responden, namun juga melengkapi data-data yang tahun lalu tak sempat saya kumpulkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">alhamdulillah, walaupun ada beberapa kesulitan, namun saya masih merasa dimudahkan hingga saat ini. mulai dari asisten yang sangat membantu, para pegawai di pemerintahan daerah yang sangat terbuka, juga rekan-rekan ngo yang masih bersemangat membuka tangannya. tak lupa, para penduduk desa yang dengan sukarela direpoti dengan pertanyaan-pertanyaan panjang saya. inilah rumah saya yang ketiga.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">semuanya.. membuat saya menjadi lebih kaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">namun, tidak semua hal di tahun ini manis. resolusi tahun 2008 sebenarnya adalah mengikuti lomba-lomba dan (kalau bisa) memenangkannya. sebuah upaya untuk bisa melengkapi dan menambah <em>prentilan</em> alat fotografi saya. sayang, dari dua lomba yang saya ikuti, berakhir dengan (jujur..) kekecewaaan. kesalahan tema menjadi kambing hitam saya dalam hal ini, walaupun saya cukup bangga untuk lomba yang terakhir saya bisa menjadi finalis dari ratusan peserta *<em>aaaaah.. menghibuuuur dirii</em>*. yang pasti, saya memang masih perlu banyak belajar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ditambah lagi ketika seorang <strong>patricia hartono, pemilik restoran surabaya di pasar malam tong-tong denhaag</strong> dengan teganya tidak membayar hasil kerja keras kami semua selama berhari-hari. <em>gimme my 350 euro back!!!</em> kepercayaan dan sebuah hubungan pertemanan ternyata hancur karenanya. walaupun itu tidak mempengaruhi penilaian saya terhadap manisnya tahun 2008 ini, namun bagi teman saya yang lain, mungkin itulah satu-satunya harapan mereka untuk mendapatkan sumber pendapatan. kurang ajar memang. semoga namanya ter-google dan hatinya terketuk. hehehe.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_2754.jpg" alt="" width="350" />untuk tahun 2009, saya melihat sebuah optimisme di sana. saya optimis juga karena ada target dan capaian-capaian yang ingin saya dapatkan dalam perjalanannya. kesalahan di masa lalu tentu ada. <em>we&#8217;re just human</em>. namun belajar untuk tidak mengulangi kesalahan, tentu jauh lebih baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">karena itu, resolusi di tahun 2009 tentunya harus ada. beberapa hal yang ingin saya lakukan, dan mungkin terlalu banyak, namun saya percaya bisa melakukannya.</p>
<ol>
<li>menyelesaikan 90% tulisan disertasi (<em>5 chapters should be done</em>), sehingga saya bisa submit di quarter pertama tahun 2010.</li>
<li>membuat 2 buah artikel ilmiah.</li>
<li><span style="text-decoration: line-through;">mengikuti <em>at least</em> satu konferensi international berkaitan dengan topik penelitian saya.</span></li>
<li><span style="text-decoration: line-through;">menulis dua artikel untuk majalah</span>/koran.</li>
<li><span style="text-decoration: line-through;">menyelesaikan sebuah “project rahasia” lain.</span></li>
<li><span style="text-decoration: line-through;">(masih keukeuh) mengikuti lomba foto *<em>dan</em> <em>syukur-syukur bisa menghasilkan satu-dua buah lensa, hahaha</em>*.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>baydewei</em>, mengapa tidak membuat resolusi tentang calon pendamping hidup? tidak. karena buat saya itu bukan resolusi. itu adalah sebuah pilihan dalam sebuah jalan hidup yang harus kita usahakan/buat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dan tahun 2009… saya berusaha memasukannya ke dalam jalan itu. doakan saya ya. :p</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU 2009. ISI HATI DAN KEPALA DENGAN KREATIVITAS UNTUK MENCAPAI KESUKSESAN VERSI KITA.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>for previous annual articles you may find <a href="http://www.aaqq.net/annual-article/" target="_blank">here</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2008/12/28/be-creative/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERAU &#124; season 2 episode 5 : belajar dari mana saja</title>
		<link>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/</link>
		<comments>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 12:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aaqq™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aaqq.net/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[siang hari yang terik.

“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.

pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.

“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.

“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.

“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float: left; margin: 5px;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_3072a.jpg" alt="" width="350" /><strong>previously on BERAU season 2 <a href="http://www.aaqq.net/2008/12/09/berau-season-2-episode-4-mission-failed-banjir-banjirr-banjirrr/" target="_blank">episode 4</a>:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><em>banjir yang melanda kampung tumbit dayak dan tumbit melayu membuat saya tidak bisa melanjutkan penelitian. akhirnya saya pulang kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir mereda. sebelum pulang, saya masih sempat melakukan hal yang saya hanya bisa lihat di televisi: bermain dengan banjir. menyenangkan ternyata.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>BERAU season 2 episode 5</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">siang hari yang terik.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“halo pak oji!! samlekuum!!” teriak saya dengan nada yang super akrab.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">pak oji, salah satu responden yang belum selesai saya wawancarai minggu lalu tampak duduk santai di teras rumahnya. kesibukannya di minggu lalu membuat pertanyaan sisa di lembar pertanyaan dialihkan kepada istrinya. namun, keterbatasan bahasa berau saya justru membuat wawancara dengan istrinya pun tak bisa saya lanjutkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“eh mas, mau kemana?” tanya pak oji tak kalah ramah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“ke rumah pak udin pak, nanti setelah selesai, saya lanjutkan wawancara kemarin ya pak?” jawab saya dengan yakinnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“waduh maaaaas… saya tidak mau lagi. pusing saya jawab pertanyaan sampeyan. sampeyan jawab sendiri aja lah,” jawabnya dengan spontan. wajah ramahnya tiba-tiba berubah menjadi lemas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><span id="more-343"></span>“wah pak, masa saya jawab sendiri?”. tiba-tiba saya membelokkan kaki arah jalan saya menuju rumahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“waduh mas.. sudah lah.. ke pak udin saja. yang saya ndak usah ditanya-tanya lagi.” ia langsung menolak kedatangan saya ke rumahnya. tapi dari wajahnya saya melihat senyuman. saya justru malah tertantang untuk bisa mengobrol dengannya. tanpa diminta, saya masuk ke teras rumahnya dan duduk di samping kursi kayu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“gak ke ladang pak?” tanya saya basa basi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“ndak.. lagi istrahat dulu hari ini” ia menjawab seadanya dan langsung disambut oleh hening.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">tak lama,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“emang sampeyan nanya-nanya untuk apaan sih?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“wah bapak.. kan saya udah jelaskan kemarin. kalau ini buat saya bikin tugas akhir. semacam skripsi gitu pak.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“terus.. kenapa saya? kan masih ada yang lain?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“yaa.. yang lain juga saya tanya pak. gak cuman bapak aja. jadi gimana pak? boleh yah saya lanjutkan pertanyaan kemarin?”tanya saya penuh harap.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“berapa halaman lagi?” tanyanya. sebuah isyarat kalau dia menjawab ya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“tiga pak.. boleh?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">ia pun menganggukkan kepalanya. saya pun mengurungkan niat ke rumah pak udin dan buru-buru mengeluarkan kertas. pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan lancar. tak jarang saya tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasannya. ia rupanya memang suka mengobrol.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya kembali ke kampung ini setelah satu minggu saya tinggalkan akibat banjir. tidak etis rasanya bertanya-tanya dan keluar masuk rumah orang di saat-saat banjir seperti kemarin. karena itu saya memutuskan kembali ke tanjung redep dan menunggu hingga banjir usai. bersama viktor saya pun menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tersisa kemarin. masih kurang 25 orang lagi yang harus kami wawancarai.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">kampung ini dahulunya dihuni oleh masyarakat asli berau dan juga dayak. program transmigrasi di tahun 1995 membuat kampung ini menjadi semakin ramai oleh para pendatang. bahkan, jumlah pendatangnya sekarang jauh lebih banyak dari penduduk aslinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">masyarakat yang beragam suku bangsa dan karakter ternyata memberikan banyak kesan juga dalam proses wawancara kami kemarin. pak oji hanyalah satu di antara beberapa orang yang saya wawancara. banyak suka dukanya yang pasti. mulai dari yang menjawab dengan ramah hingga malas-malasan. mulai dari yang menerima saya di teras depan rumahnya hingga dibawa masuk ke dalam rumahnya. mulai dari yang tidak menyuguhkan apa-apa, hingga menyediakan penganan dan minuman. mulai dari yang menjawab dengan biasa-biasa saja, hingga yang meledak-ledak membicarakan sukarno suharto dan sby. ckckckc. mental memang harus siap untuk menghadapi berbagai karakter orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">beberapa orang bahkan menaruh curiga di awal-awal diskusi. tak jarang informasi dari mereka pun hanya sedikit yang keluar. namun, beberapa saat kemudian biasanya mereka justru malah seperti aliran banjir di kampung ini. tak bisa berhenti. beberapa pertanyaan malah dijawab melebar ke mana-mana hingga saya harus bersusah payah mengingatkan pertanyaan aslinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">namun, yang ramah pun tak kalah bermasalahnya. di salah satu pemukiman warga yang berasal dari timur indonesia, mereka begitu akrabnya satu sama lain. ketika saya datang ke sebuah rumah, tak lama rumah itu penuh dengan para tetangga. ramai memang jadinya. beberapa kali suara tawa bahkan menggema di rumah itu. namun ternyata mereka justru jauh lebih ramai dan aktif dari si responden saya. alhasil, beberapa pertanyaan saya secara spontan dilahap habis oleh mereka. dan saya pun mati-matian membujuk si bapak untuk menjawab sesuai dengan hal yang dia tahu dan bukan berdasarkan jawaban para tetangganya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya pun seringkali disangka ’sinterklas’. setelah sekian lama kita berdiskusi dan mengisi jawaban, sering sekali mereka bertanya dengan penuh harap di akhir wawancara, “jadi bantuannya kapan datang pak? saya kebetulan butuh pupuk dan racun rumput. sudah tiga bulan tanaman cokelat saya tidak dipupuk loh pak.”gubrak. saya pun kembali menjelaskan tujuan penelitian saya dengan penuh kehati-hatian agar tidak memberikan harapan palsu pada sang penanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">beberapa orang juga malah curhat mengenai masalah keluarganya. seorang ibu yang berasal dari cianjur malah menangis di depan saya ketika saya bertanya mengenai sumber perekonomian keluarganya. suaminya yang sudah tua ternyata masih harus bekerja membuka ladang dan kebun. demi menghidupi anak perempuan dan tiga cucunya yang sekarang pindah ke rumah mereka, karena suaminya pergi dengan wanita lain. seorang bapak juga dengan wajah memerah menahan tangis bercerita mengenai mata pencahariannya yang sudah semakin berkurang karena penyakit tbc yang dideritanya. saya tidak bisa berkata apa apa, selain tersenyum dan berkata.. <em>sing </em>sabar ya pak.. bu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">di luar kerepotan yang timbul dan disertai capek (fisik dan emosi), melakukan pekerjaan ini membuat saya sering bersyukur. saya banyak mendapat pencerahan hati dari kisah hidup dan perilaku orang-orang yang saya temui dalam perjalanan. pembelajaran memang tak semata-mata berasal dari pendidikan formal. di dunia nyata lah, dengan membuka mata dan pikiran kita lebar-lebar, kita bisa mendapat ilmu yang berharga untuk hidup kita kelak. tak cuma dari orang yang pandai, tua ataupun kaya. semua orang tanpa terkecuali memberikan banyak ilmu berharga untuk saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">malam kemarin, ketika saya duduk di pinggir sungai kelay, seorang anak berumur 14 tahun mendatangi dan mengajak saya mengobrol.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“om, setelah ini om mau jadi apa?” tanyanya setelah saya menjelaskan tujuan saya ke berau ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“saya pengen jadi orang kaya dan hidup bahagia. itu aja.” jawab saya sok berfilosofi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kenapa pengen jadi kaya om?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">&#8220;iya supaya saya bisa berjalan-jalan kemana-kemana, bisa membeli apa-apa, dan gak kekurangan lagi.”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kalau emang mau jadi kaya kenapa gak jadi camat aja om?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“…….”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">saya terdiam.. tak tahu harus tertawa atau apapun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“emang, kamu kalo udah besar mau jadi apa?” tanya balik saya kepadanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“saya pengen jadi orang bisa aja om. gak usah kaya tapi gak miskin juga. sederhana aja”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“kok gitu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“iya.. kalau orang kaya kan banyak utang. saya gak mau pusing mikirin utang. lebih baik nanti saya hidup biasa aja, yang penting bisa makan”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“hmm.. emang mau kerja di mana?”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“apa aja lah om.. asal bisa dapet uang yang tetap. tapi saya gak mau kerja gali parit. saya gak tahan mencium bau sampah. tapi kalo kerja tukang masih mau kok”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">“…….”</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">dan saya pun kembali tertohok yang kesekian kalinya..</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">mendapat pencerahan memang bisa dari mana saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">*</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><strong>selamat liburan semua!!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="vertical-align: top;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4134a.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4149a.jpg" alt="" width="400" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm;"><img style="vertical-align: top;" src="http://i70.photobucket.com/albums/i105/aaqqnet/IMG_4162a.jpg" alt="" width="400" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aaqq.net/2008/12/23/berau-season-2-episode-5-belajar-dari-mana-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

