ujian dan kerja sama kelompok

hari ini, masih kurang dari dua minggu untuk menuju musim ujian tapi aromanya sudah merasuk kedalam semua tulang-tulang kami yang semakin lama semakin dingin oleh hembusan angin di akhir musim gugur ini. kesibukan mulai terasa di mana-mana dan di semua orang. ada yang sibuk menghapal, membaca readers, berlatih hitung2an, berdiskusi atau malah menafikan itu semua dan masih berkutat dengan tugas-tugas akhir yang memang menjadi penentu dalam besarnya nilai akhir kelak.

buat saya, dua minggu lagi saya harus menghadapi dua buah mata ujian yang memang bernafaskan ‘introduction’..kebijakan dan bisnis management… tapi buat saya, itu bukan sebuah kuliah perkenalan. dan hari ini juga, saya masih harus berkutat dengan tugas-tugas akhir, tugas kelompok memang, yang saya sendiri gak pernah tahu apakah saya sudah mengerti apa yang saya tulis dalam tugas-tugas ini. semua tugas ini membuat pikiran saya semakin buntu. buntu bukan karena saya tidak bisa mengerjakan tugas tersebut tapi lebih dikarenakan saya tidak bisa mudah mencapai kata sepakat dan harmonisasi pada hasil akhirnya.

aneh juga, semakin ke sini saya semakin menyadari sulitnya bekerja sama dalam sebuah kelompok. pergeseran dalam diri saya atau sebuah faktor external? saya gak tahu. saya dahulu *at least menurut penilaian saya pribadi* adalah orang yang paling senang dan bisa bekerja dalam sebuah kelompok. saya merasa bahwa kerja kelompok memang sebuah ciri khas dalam aktivitas orang-orang indonesia. dan saya sudah sangat terbiasa dengan itu. namun, apakah hal itu juga yang menyebabkan banyak orang indonesia tidak mandiri dalam melakukan sesuatu? yah..saya gak bisa men-judge itu, terlalu personal.

kembali ke diri saya, saat ini saya semakin kesulitan untuk bisa berkompromi dalam sebuah kelompok yang besar. bukan hanya pada saat kuliah ini tapi juga sebelum saya datang ke belanda ini. banyak perbedaan pendapat *untuk tidak mengatakan itu sebagai sebuah konflik* yang timbul dalam kerja sama kelompok itu. saya gak tau apakah karena faktor luar yang menyebabkan kelompok saya tidak produktif atau karena kepala saya yang semakin ‘keras’ dan sulit untuk berkompromi dengan siapapun? karenanya saya tidak mau menjudge siapapun, termasuk diri saya sendiri, siapa yang salah dan siapa yang benar. saya hanya prihatin dengan diri saya sendiri, yang semakin menikmati kesendirian dalam bekerja dan mulai kehilangan kenikmatan pada saat harus bekerja dalam sebuah kelompok besar. saya masih orang indonesia, yang masih ingin punya tenggang rasa, menghargai pendapat orang lain dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat. mungkinkah?