kotak, otak dan isinya

kotak kotak hijau dan biru itu berputar-putar di kota hujan ini. seakan merekalah penguasa kota. tiada yang pernah bisa menebak kapan sang kotak akan berhenti, menyalip, tiba2 ke kiri, ke kanan atau berpacu kencang menuruti hawa nafsu sang otak yang berada di bagian kanan sang kepala si kotak. isi kotak hanya bisa mengurut dada seraya berdoa untuk secepatnya tiba di tujuan. gerutuan, omelan dan makian isi kotak tidak mempengaruhi sang otak.

sang otak sepertinya sudah bebal, terlalu banyak dikotori oleh debu jalanan kota hujan ini ataupun oleh kerasnya kehidupan. sang otak harus tetap maju dipersaingan hidup yang semakin ganas. otak-otak lainnya akan siap mengumpulkan isi kotak yang bertebaran di seluruh sudut kota ini. lambat berarti cuma membuat si kotak seperti setrikaan yang maju mundur dan berputar. wajarlah jika sang otak seperti tidak punya otak. yang ada di otak mereka cuma uang.. uang dan uang.. pernahkan mereka menyadari bahwa isi kotak juga perlu dihargai? membawa si kotak lebih manusiawi toh tidak akan mengurangi jumlah setoran. rezeki ada di tangan Tuhan katanya. mereka tau itu, tapi kenapa harus membuat si kotak menjadi tidak terkendali seperti tidak berotak? jika isi kotak dapat memilih kotak dengan otak yang lebih beradab tentu menyenangkan. sang otak dengan kotak yang sembrono tentu tak bakal laku. tapi itu memang hanya mimpi. kadang isi kotak pun tidak pernah mau tau. yang penting saya tiba sampai tujuan. kalau tibanya di kuburan gimana?

bagaimana dengan isi kotak? punya otakkah mereka? sepertinya tidak. karena, jika isi kotak punya otak, maka sang otak dan kotaknya tentu akan sedikit lebih manusiawi. toh sang otak dan si kotak membutuhkan si isi kotak. kadang isi kotak pun suka keluar sembarangan ataupun masuk sembarangan. jika isi kotak bisa sedikit lebih teratur untuk keluar masuknya mereka dari dan ke dalam kotak, tentu sang otak akan mengikuti. toh pelanggan adalah raja. iya kan? kecuali pedagang yang tidak mengerti. dan sang otak sekarang sebagian besar bukan pedagang, sehingga seringkali mereka memperlakukan isi kotak sebagai onggokan barang yang tidak berharga. padahal, sebenarnya sang otak juga sangat membutuhkan isi kotak. idealnya, semua memang saling membutuhkan dengan kadar yang sama. tapi sekarang, kadar kebutuhan sang otak sedikit lebih rendah dan itu membuat mereka jumawa. aih..

dan saya adalah salah satu dari isi kotak itu.. andai saya bisa memilih kotak yang berotak manusiawi.. tentu saya akan masuk ke kotak itu. tapi.. saat ini, saya lebih seperti mengikuti undian sabun mandi. saya tidak pernah tahu, kotak dan otak seperti apa yang bakal saya dapati. it’s a surprise!