boys do cry

dahulu..
saya menangis pada saat ibu saya meninggalkan saya di sekolah. taman kanak-kanak saat itu menjadi sebuah neraka buat saya. di satu sisi saya merasa takut ditinggal ibu. di sisi lain saya merasa ingin bersekolah. hingga akhirnya ibu saya menunggui saya dan menjadikan saya bahan olok-olokan. menangis hanya untuk yang lemah. menangis hanya untuk perempuan.

dahulu..
saya menangis pada saat ayah memarahi karena membuat adik saya menangis. pukulan ayah tidaklah sakit, tapi perasaan saya lebih sakit dan itu membuat saya menangis. dan pernyataan itu kembali bergema. menangis hanya untuk yang lemah. menangis hanya untuk perempuan.

dahulu..
saya menangis ketika berkelahi dengan sepupu saya. tangisan digunakan untuk mencari pembelaan dari seorang nenek. tetapi saya salah. kembali tangisan menjadi sebuah perlambang manusia lemah. dua buah pisau dapur yang diberikan pada kami menghentikan tangisan tersebut. jangan menangis katanya, jadilah jantan untuk menyelesaikan semua persoalan.(nenek gue eduun yah he he he)

akhirnya..
saya menahan untuk tidak pernah menangis. hanya perempuan yang menangis. hanya yang lemah yang menangis. sebuah mitos yang mengacaukan arti tangisan buat saya.

tetapi..
saya menangis pada saat saya ditinggalkan sahabat-sahabat terbaik. pada saat mereka meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. sebuah tangisan kesedihan. tangisan karena kehilangan orang-orang terdekat. dan saya akhirnya tidak merasa malu untuk menangis.

dan..
saya pun menangis ketika melihat film armageddon. menangis melihat pengorbanan seorang ayah untuk manusia lain, termasuk anaknya. menangis melihat sang anak dengan jelas melihat kematian sang ayah secara perlahan. dan saya ternyata masih bisa menangis…

sekarang..
saya menangis melihat seorang petani di sebuah rumah di pedalaman lampung barat. dengan gubuk reyotnya, merambah hutan milik negara, demi melanjutkan hidupnya juga keluarga tercinta. tangisan yang membuat saya lebih bersyukur dengan apa yang sudah saya dapat selama ini.

sekarang..
saya menangis melihat tayangan manusia manusia tidak berdosa yang bergelimpangan penuh darah dan berjuang menahan rasa sakit juga kematian. manusia-manusia di bali, di marriot, dan sekarang di rasuna said. saya sudah tidak peduli. saya hanya bisa menangis. tangisan yang bukan menunjukkan kelemahan. juga bukan tangis kepalsuan demi sebuah popularitas. tapi tangisan kepedihan atas sesuatu yang tidak pernah berakhir di negara tercinta ini. sebuah tangisan kepedulian.

sekarang..
saya menangis ketika meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabat terbaik saya untuk sebuah perjalanan yang jauh. tangisan yang tidak menunjukkan sebuah kelemahan. tangisan yang membuat saya tahu bahwa mereka sangat berharga untuk saya.

sekarang..
saya tidak peduli. pada saat saya ingin menangis, saya menangis. bukan karena lemah tapi karena saya hanya ingin menangis. dan akhirnya sebuah tangisan ternyata memiliki makna yang lebih kompleks dari sebuah kelemahan dan sekedar identitas gender.

menangislah bila harus menangis.. karena kita manusia..

untuk seorang teman.. silahkan kamu menangis.. apapun alasannya