beruntung

kenapa pakai kata beruntung? bukankah itu sebuah kata yang maknanya sangat relatif? apa yang saya rasakan dan lihat sekarang.. saya ada di dalam sebuah dunia yang memiliki kesamaan (atau dipaksa sama) dalam berpikir. bahkan kata beruntung yang sangat relatif pun menjadi sebuah kata yang absolut. ‘beruntung‘nya saya, kamu dan semua orang itu kan berbeda? kenapa untuk hal itu kamu sebut sebagai sebuah keberuntungan? itu masalah pilihan kan?

mereka (dan juga kamu.. bahkan akhirnya saya ikut-ikutan…) bilang… kamu beruntung.. dan saya kurang beruntung. what the….??!!! apa-apaan ini?

tapi…. mungkin jika saya ada dalam posisi kamu, saya juga akan mengatakan hal yang sama. hal yang kamu raih (lakukan) itu.. memang sebuah anugerah yang tidak semua orang bisa dapatkan. tapi, jika saya tidak seperti kamu, at least saat ini, bukan berarti saya tidak beruntung kan? bahkan kata belum beruntung pun tidak tepat. seperti kata saya tadi.. itu adalah pilihan. jika saya tidak (belum) mau seperti kamu.. bukannya saya tidak mau beruntung.. tapi memang saya harus melalui tahapan ini dulu.

jadi… simpan kata-kata beruntungmu itu. kalau pun ‘memang’ itu sebuah keberuntungan dan saya pada akhirnya ada dalam posisi tidak beruntung.. bukan karena saya tidak mencapai apa yang telah kamu raih. itu cuma karena.. saya memang tidak terpilih untuk menjadi seperti kamu. itu saja.