sebelas tahun.. komando

komando

sebelas tahun.. bukan waktu yang sebentar. sudah beribu cerita yang dibuat oleh sekelompok laki-laki yang menamakan diri mereka KOMANDO.

dimulai oleh sekelompok mahasiswa kehutanan IPB tingkat pertama, bocah-bocah lucu dikala itu, yang ingin hidup dalam satu atap yang sama. jalan babakan tengah, di darmaga bogor menjadi pilihan. sebuah rumah besar, dengan atap terbuka dan halaman berumput di tengahnya. dua belas kamar besar, satu ruang tv (tempat rapat dan ibadah sekaligus), satu buah dapur dan 4 buah kamar mandi.

dalam perjalanannya, tidak semuanya merupakan mahasiswa kehutanan. beberapa diantara mereka juga berasal dari fakultas yang berbeda. walaupun dibutuhkan sedikit ‘nyali’ untuk hidup bersama mahasiswa kehutanan yang ‘katanya’ sangar. tapi memang pada akhirnya mereka mengakui.. kalau mahasiswa kehutanan ternyata manusia juga. yang baik hati, lucu dan memiliki banyak sisi kemanusiaannya. (halah)

dimulai dari 12 orang saja.. jumlah mereka berkembang hingga 28 orang. entah sebagai penghuni tetap, penumpang tetap ataupun yang hanya menjadikannya sebagai persinggahan tetap.

kegembiraan dan kesedihan melihat hasil ujian, keributan dengan senior dan fakultas lain, politik di senat dan lembaga fakultas lainnya, berkucing-kucingan dengan pemberi ceramah/pengajian, siraman di saat ulang tahun, hujan-hujanan sambil bertelanjang ria, naik gunung gede dan pangrango, perjalanan ke beberapa kota, minggu tenang menjelang ujian, wisuda sarjana, melepas beberapa dari mereka ke tempat kerja yang baru, pindah rumah, pernikahan dan masih banyak lagi. semua menjadi pelengkap cerita dalam sebelas tahun ini.

peristiwa kehilangan orang yang dicintai pun sudah mereka alami. kehilangan tiga orang dari mereka membuat mereka menyadari dan menghargai arti hidup. ricky, meninggalkan mereka karena kecelakaan di jalan tol cikampek. sebuah kehilangan yang membuat mereka menjadi lebih dekat dengan keluarganya di bandung. ditambah atim dan hardian, yang pergi dan ‘gugur’ di tanah rencong dalam sebuah tugas penelitian. peristiwa politik di aceh ternyata berimbas pada keberadaan mereka di sana. sungguh.. bukan sebuah akhir yang manis.

8 april 2006..
kurang lebih sebelas tahun setelah mereka pertama kali bertemu dan lima tahun setelah menjalani hidup setelah lulus sarjana, akhirnya 21 dari mereka bertemu kembali. sebuah pertemuan yang sudah lama ditunggu. banyak perubahan yang terjadi. berat badan dan lingkar perut menjadi salah satu yang paling significant. hanya 6 yang masih menjalani kehidupan singlenya. sebagian sudah menghasilkan keturunan yang lucu-lucu (beberapa diantaranya bahkan menyimpan gambar mereka dalam telepon genggam masing-masing). bekerja di banyak sektor mulai dari pegawai negeri, penggiat LSM, dosen, karyawan swasta, wiraswasta, dan lain-lain.

banyak cerita muncul dari pertemuan satu malam itu. yang pasti.. semua jokes dan cerita masa lalu kembali diungkap. tawa keras atas kebodohan masa lalu seperti menghapus semua permasalahan yang dialami oleh pribadi masing-masing. hanya hawa nostalgia yang muncul.

sesi cerita pribadi menjadi momen yang membuat mereka semua mengerti permasalahan yang pernah dan sedang dialami oleh masing-masing selama kurun waktu lima tahun terakhir ini. bagaimana rasa sakit ditinggalkan oleh anak kesayangan, sakit berkepanjangan, anak semata wayang yang tuna rungu, perkawinan ala siti nurbaya, bekerja di tengah hutan yang jauh dari peradaban, bekerja dengan godaan korupsi yang tinggi, tingkah laku polisi-polisi yang brengsek, bekerja di luar bidang keahlian, dan masih banyak lagi. kenyataan yang harus diterima atas berita kematian kedua kawan menjadi penutup yang mengharukan.

yang pasti kebiasaan lama untuk bergaple hingga larut pagi.. menjadi sebuah hal yang tidak ditinggalkan. ejekan.. tawa.. dan teriakan-teriakan selama permainan berlangsung menjadi pengiring malam yang beranjak menjelang pagi.

sebelas tahun.. mereka membangun sebuah kekerabatan.. persahabatan.. dan bahkan persaudaraan. saat ini, dengan segala kesibukan dan kehidupan pribadi yang dimiliki, komitmen untuk terus berhubungan menjadi sebuah ikatan yang tak mungkin terputus sampai kapanpun.

sampai bertemu dua atau tiga tahun lagi. dengan cerita dan kehidupan yang baru.

banyak hikmah yang didapat. sebuah ucapan mengenai perubahan yang mereka alami setelah memiliki anak, menjadi satu masukan yang ‘menohok’ bagi saya. diskusi mengenai hidup juga menjadi tambahan nutrisi jiwa. perbedaan kondisi masing-masing ternyata membuat saya harus bersyukur dengan apa yang sudah dan akan saya dapatkan ke depannya.