berbagi serpihan

perlahan.. ia kumpulkan serpihan-serpihan yang ada di depannya.. sesekali tetesan air mata membasahi serpihan yang sudah ia kumpulkan di telapak tangan kanannya. serpihan itu bahkan telah mengoyak ujung jemarinya hingga berdarah.. namun ia tak peduli. untuknya.. rasa hanyalah sebuah imajinasi. imajinasi yang bisa ia kontrol.. untuk sebuah rasa sakit atau rasa apapun.

pikirannya menerawang.. mengingat semua jalan yang ia lalui untuk mendapatkan hal tersebut. sebuah pertemuan.. perjalanan.. komitmen.. dan semua mimpi-mimpi yang dirajut bersama.

untuk pertama dalam hidupnya.. akhirnya ia mendapatkan semua itu. sesuatu yang ia tahu.. tidak semua orang memilikinya. kejujuran seiring waktu membuat hal tersebut menjadi besar dan berbentuk. dengan bentuknya yang indah.. ia berikan itu semua pada seseorang. ya… semua dan hanya pada satu orang. orang yang menurutnya paling pantas untuk menerima hal tersebut.

hingga.. suatu saat… hal tersebut terhempas.. (dihempas?). terhempaskan oleh sebuah kejujuran. ia sendiri pun tak sanggup menahannya.. semua meluncur hingga akhirnya jatuh dan berkeping. semua serpihan yang dahulu ia rekatkan.. kembali menjadi serpihan. hanya kehampaan yang hadir. nanar..

tiba-tiba tubuhnya melayang.. memasuki sebuah ruang tak bertepi. memasuki sebuah dimensi yang ia merasa pernah berada di sana sebelumnya. wajah-wajah itu kembali hadir. tatapan-tatapan iba membuatnya tersentak. ketulusan hati membuatnya tertampar. suara-suara merdu.. membuatnya kembali ke tanah. ia tersadarkan..

ia ulurkan serpihan-serpihan di lengan kanannya pada mereka.. orang-orang yang terlupakan. orang-orang yang seharusnya mendapatkannya beberapa waktu yang lampau. orang-orang yang telah memberinya serpihan. semakin banyak ia bagikan serpihan itu.. ternyata tidak membuatnya menjadi berkurang. semua malah membuatnya semakin hidup..

hatinya kembali tersenyum..
ia temukan kembali semangat untuk melanjutkan hidupnya..
ah… cinta memang untuk dibagi..


epilog:

lengan kirinya berpendar..
ia membuka perlahan.. ternyata masih ada sesuatu di sana. tidak semua hancur berkeping. masih ada sebongkah besar yang menyala. yang ia tahu.. ini akan ia berikan pada seseorang.. seseorang yang paling pantas untuk menerimanya. tidak sebesar dahulu memang. namun… entah kapan… entah siapa..