Ia sedang menguji kita…

gempa satu hal yang menjadi pemikiran saya pada saat bencana terjadi adalah saya tidak memiliki pengetahuan untuk menyelamatkan diri dengan baik. bahkan, pada saat gempa tanggal 27 mei lalu datang, saya masih belum sadar kalau itu gempa. saya masih berada di antara alam sadar dan alam tidur. jika teman saya tidak berteriak gempaaa.. saya mungkin masih akan terus tidur di kamar penginapan itu. pada saat di luar ruangan pun saya masih terbingung-bingung dengan apa yang harus dilakukan.

memang, magelang berada cukup jauh dari pusat gempa sehingga kerusakan tidak seperti di bantul ataupun jogja sendiri. namun, kebodohan itu membuat saya berpikir bahwa maut memang tidak mengenal waktu dan tempat. sehari sebelumnya saya masih di jogja dan berencana untuk bermalam di sana. namun desakan teman2 untuk mencoba bermalam di magelang membuat saya bisa menghindari bencana tersebut.

selain itu, saya juga menjadi berpikir bahwa kita, bangsa indonesia, ternyata memang sangat mudah sekali termakan isyu. apalagi dalam situasi yang tidak mengenakan seperti bencana gempa itu. berada di kota magelang pada pukul 8 pagi, saya dihadapkan pada pemandangan yang sangat membuat hati ciut. semua orang berlarian, mobil dan motor berbalik arah dengan lampu menyala, bus-bus wisata memutar arah berlawanan dengan jogja. semua berteriak ‘air’ dan ‘tsunami’. padahal secara geografis, magelang terletak jauh dari laut, namun semua orang tidak bisa berpikir secara logis lagi.

seorang kawan yang tinggal di pinggir kota jogja juga mengatakan, ia dan keluarganya mengungsi ke kaliurang setelah melihat banyaknya orang yang berlarian dan mengungsi, dengan alasan jogja sudah tenggelam akibat tsunami. sungguh.. saya tidak bisa mengatakan apa-apa. saya mungkin akan berada dalam barisan mereka jika saya ada di lokasi itu.

turut berduka cita untuk semua orang yang mendapatkan musibah gempa di jogja dan jateng. Ia memang sedang menguji kita..

image source: http://www.bbc.co.uk