Zahra The Fairy

Kekuatan cinta dapat membuat seorang ibu membangun sebuah kerajaan bagi sang anak. Sama halnya dengan Rusnita Saleh a.k.a Upay yang menjadikan sang anak tercinta, Zahra, sebagai inspirasi utama pembuatan buku ini. Aliran cerita di buku ini memang terlihat sebagai sebuah aliran cintanya pada sang anak. Sebuah cerita yang sebenarnya terjadi sehari-hari pada semua ibu dengan anak yang baru saja memasuki dunia sekolah. Namun Upay mampu membuat cerita sederhana itu menjadi sebuah karya bi-lingual yang amazing. Sederhana namun menyentuh.

Bahasa yang digunakan bukan bahasa yang cukup berat. Penggunaan kata-kata yang tidak formal bahkan menjadikan buku ini lebih mudah dicerna, terutama oleh orang-orang perkotaan (a.k.a Jakarta dan sekitarnya) yang sepertinya menjadi target pembeli buku, seperti penggunaan kata: banget, keren, dan lain-lain. Penterjemahan yang dilakukan pun cukup cerdas (bukan penterjemahan yang menjadikan cerita tidak mengalir ataupun aneh secara tata bahasa Inggris atau Indonesia) dan membuat segmentasi pasar meluas pada semua orang, baik berbahasa Indonesia ataupun Inggris.

Namun buku ini tentu tidak hanya diperuntukan bagi anak-anak. Bagi orang tua, buku ini bisa menjadi bahan bagi mereka membacakan cerita pengantar tidur pada anak-anak mereka. Pesan moral yang disampaikan pun cukup jelas bagi para orang tua yang membacanya. Sedangkan bagi anak-anak, buku ini dapat menjadi buku membaca pertama mereka, bahkan untuk belajar bahasa Inggris. Bukan tidak mungkin, buku ini pun akan menjadikan inspirasi bagi beberapa anak menjadi tokoh seperti yang Zahra impikan sekaligus menjadi bahan refleksi para orang tua untuk berinteraksi dengan sang anak.

Ilustrasi gambar menjadi catatan tersendiri. Gambar yang sangat hidup dengan komposisi warna yang sangat menarik perhatian orang untuk membacanya. Bahkan saya sangat ingin menempatkannya di pigura dan memajangnya di ruang keluarga. Walaupun di beberapa gambar sempat membuat saya bertanya-tanya. Halaman 22, begitu memperlihatkan Zahra begitu suka makan dengan mata yang sangat berbinar-binar, bahkan ayam bakar besar itu tiba-tiba hilang dari meja makan di halaman berikutnya. Sebegitu laparkah Zahra sehingga memakan itu semua? Juga penggambaran roti, donat dan beberapa makanan lain yang tidak begitu nyambung untuk sebuah makan siang, termasuk steak yang dimakan sang bunda. Ah, tapi itu memang tidak perlu dipikirkan secara mendetil karena semua bisa terjadi dalam sebuah ilustrasi. Toh, secara keseluruhan saya harus mengangkat semua jempol pada sang ilustrator yang begitu indahnya menggambarkan semua ekspresi Zahra sehingga tulisan Upay menjadi lebih berbicara.

Di tengah berkurangnya sebuah buku cerita anak-anak yang baik, buku ini menjadi salah satu alternatif untuk dikoleksi. Ilustrasinya pun dapat menarik minat baca anak-anak dan membuat mereka menjadi lebih mencintai buku. Seperti yang saya tulis di awal, cinta telah membuat Upay membuat buku ini dan mempersembahkannya bagi semua anak-anak di manapun di dunia ini.

statistik:
text: rusnita saleh:
ilustrator: hanacaraka studio
editor: hugh rodwell
penerbit : alifa enterprise

Great job, Pay!.. sudah bisa dicari di toko buku kah?