Shouts!! (part 4)

saya dulu yakin bahwa kota ini akan saya injak lagi. banyak cerita hidup yang bermula dari kota ini. kota yang penuh dengan keromatisan, hal-hal sentimentil gak jelas, serta kenangan yang menyelimutinya. ada magnet tersendiri yang membuat saya menyenangi kota ini, termasuk semua hal indah yang pernah menyertai perjalanan saya dahulu. ia masih memiliki pesona itu dan telah membuat saya mengukir sebuah pixel lain di dalam memori otak yang tidak terbatas ini.
a shout when i was in the denhaag central station

****
hidup bukanlah sebuah ruangan besar tanpa sekat. ia memiliki banyak ruang yang bisa dimasuki oleh siapapun. setiap orang memiliki hak untuk masuk ke dalam ruangan yang mereka mau, juga untuk keluar. itu adalah ruang dimana hati nurani, emosi, nafsu dan akal sehat seringkali bertempur. apapun yang menang, berarti sebuah jalan untuk bisa menikmati hidup. hidup sebagai pemenang yang menikmati hidup.
a shout when i watched the devil wears prada

****
i know, i’ll be burned someday..
a shout when i walked accross the utrecht centrum at night

****
kembali saya harus berada pada sebuah batas, antara mimpi dan realitas. saya lupa, sampah itu masih belum dibersihkan dan baunya masih sangat menyengat hingga kemari. perlu sebuah siraman yang hebat untuk menghilangkannya. tak bisakah sampah itu hilang dan biarkan kami berdiri tegak untuk menghadapi ‘dunia’? duh gusti.. kadang saya hanya ingin menyerah.. dan kalah.
a shout when i woke up in the morning and read the text in my cell phone

****
kalau itu sih udah serius.. sedangkan kita kan just for fun aja..
a shout when we were only have few things left in hand.. and hoping

****
kota ini ternyata bisa menjadi sepi juga..
a shout when i was inside the white-blue thing heading to my sanctuary

****
selamat yee.. kerja yang bener… jangan ceting ama update friendster mulu *look who’s talking..*
a shout when i talked with her about her new position