terima kasih..

“terima kasih..”
“buat apa?”
“semuanya… ”
“gak perlu… “
“kenapa kamu selalu melarang aku mengatakan itu..”
“loh.. emang kenyataannya gak perlu bilang seperti itu.. buat apa juga kamu bilang itu..”
“jadi, aku gak perlu bilang itu….walaupun kamu pantas mendapatkannya?”
“gak usah.. itu bisa dirasakan.. tak perlu diucapkan”
“…..”

****
aku pandangi luar jendela kamar ini. gelap dan hanya sederetan lampu neon yang berpendar menjadi penghias hitam. hembusan asap sampoerna mild ditemani sekaleng grolsch-bier menjadi kombinasi lengkap saat ini. kamarku sendiri gelap dan hanya sebatang lilin aroma yang kunyalakan. “pakai lilin buat menghilangkan bau rokok kamu…”, begitu menurutnya suatu waktu. aku coba dan berhasil. bau rokok di kamarku secara berangsur menghilang dan tergantikan dengan wangi vanila yang cukup menenangkan. entah sudah berapa ratus lilin yang aku nyalakan hingga malam ini. namun lilin ternyata tidak bisa menghilangkan harum tubuhnya di ruangan ini.

pertama kali mengenalnya di tahun 2004, di sebuah jamuan makan yang sama sekali tidak menimbulkan rasa simpati. wajahnya yang angkuh dengan pandangan mata tajam malah membuatku tidak menyimpannya di memori. kapasitas memori otakku memang tidak terbatas namun bisa memilih mana yang harus aku simpan dan mana yang harus aku abaikan. saat itu, ia adalah salah satu yang termasuk kategori terakhir.

entah bagaimana caranya, tapi ia berhasil mengirimkan pesan pendek di telepon genggamku seminggu kemudian. penasaran dengan nomor yang tertera di sana aku coba untuk meneleponnya. ternyata ia dan suaranya yang sangat khas itu. pastinya, itu bukan pembicaraan kami yang terakhir dan kota sunyi ini pun terasa lebih ramai.

semua terjadi begitu saja. kami bicara mengenai konsep hidup dan masa depan, persenjataan angkatan darat di negara ini, canggihnya koleksi komputer apple yang baru, novelnya seno, coelho dan ellis, musiknya morrison, sting, slank hingga dangdutnya rhoma irama, resep masakan di internet, keluarganya yang seperti kapal pecah, keluargaku yang seperti kapal pesiar, tukang nasi goreng di komplekku hingga orang gila di depan sekolahnya dahulu. tidak ada batas, baik waktu maupun materi, yang ada hanya rasa.

aku memang teramat muda baginya. jarak 11 tahun di antara kami membuatku lebih seperti keponakannya-nya. tapi ternyata rasa mengalahkan semua rasionalitas. aku mampu membuat kenangan masa kecilnya bangkit dan ia mampu membuat aku menjadi lebih mengerti makna hidup. entah hidup yang mana. entah bagian cerita mana yang mampu membuatku mengambil kesimpulan seperti itu. yang pasti, sejak itu tiada hari kami lewati dengan kesendirian.

kami adalah ibarat pelengkap bagi yang lain. ia adalah koki yang handal dan aku adalah penikmat makanan yang baik. ia memiliki penyakit narsis akut dan aku adalah orang yang gila dengan fotografi. ia adalah penggila teknologi komputer dan aku adalah penulis lepas majalah teknologi. ia adalah penyuka permainan dengan otak dan aku adalah otak dari semua permainan. ia sangat suka dandan dan aku adalah orang yang perlu didandani. ia adalah seorang good kisser dan aku menyenangi orang yang bisa mencium dengan baik. yang berbeda… aku suka mengatakan terima kasih… dan ia merasa bahwa itu tidak perlu.

hingga hari itu…

“terima kasih..”
“buat apa?”
“semuanya… “
“kamu selalu mengatakan itu tidak perlu.. kenapa sekarang malah kamu katakan itu?”
“pengen aja…”
“kenapa?…”
“….gak tau..”

“jadi?”
“apa?”
“terima ucapan terima kasih ku..?”
“sama-sama.. ”
“it was great.. terima kasih”
“tuh kan.. kamu bilang itu lagi”
“hehehehe…”

****
itu menjadi ucapan terima kasih pertamanya.. dan juga terakhir. ia tidak pernah kembali lagi padaku karena Tuhan lebih sayang padanya. meninggalkanku dengan sebuah ucapan terima kasih yang tak pernah hilang. ucapan yang aku tahu, berasal dari hati, untuk semua yang telah kami jalani hingga saat ini. aku tidak pernah menjadi siapapun baginya. aku hanya berada di lapisan ketiga dan keempat dalam hidupnya. namun ia tidak akan pernah tahu bahwa ucapan terima kasihnya telah membuatku merasa berada di baris paling depan dalam menjalani hidupku.


non.. thank you.
i think you know that it’s not a matter of a thank for you..
itu adalah sebuah semangat untuk menjalani hidup..
penghargaan untuk sebuah bentuk relasi..
dan sebuah ketulusan untuk berani mengungkapkan rasa.

so.. say it!! and you’ll see the difference in someone’s life because of that..

inspired by: them and brownies the movie.