biru

kembali hitam putih itu berhiaskan biru. tetap banyak seperti beberapa waktu silam, menyelinap ke dalam sisi putih di antara hitam. lingkaran, garis, ataupun hanya titik semata. diiringi melodi merdu yang telah menembus titik terdalam sebuah organ abstrak bernama nurani. semua bercampur dalam sebuah harmonisasi yang menjadi penanda sebuah pengalaman.

berbeda dengan waktu silam, kali ini semua dilihat dalam sudut [hati, mata dan pikiran] yang berbeda. bukan lagi sebuah kekecewaan akan sebuah kebodohan. bukan lagi sebuah guncangan atas harga diri. bukan pula penanda sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan. tapi telah menjadi sebuah rasa syukur untuk mendapatkan semua ini dalam hidup. keputusan memang telah dibuat dan tidak bisa ditarik begitu saja. hidup adalah perjuangan melawan semua ketidaktahuan dan keterbatasan. semua bisa diatur dan dihadapi dengan sebuah hal bernama tekad. tekad untuk menjadi yang terbaik [at least lebih baik dari hari kemarin].

mengurangi biru dan menjadikannya sempurna. itu target capaian di masa mendatang. walaupun.. tidak ada yang sempurna di sini.

stupidity makes perfect..