sinar matahari

saya tidak pernah membayangkan akan bisa menyenangi matahari sedemikan rupa. hampir tujuh bulan berada di sini ternyata membuat saya merindukan hangatnya sinar matahari. entah mengapa, tapi saya tidak begitu menyukai musim gugur dan musim dingin kali ini. selain cuaca yang semakin tidak jelas, kadang angin, kadang hujan, selalu mendung, dan anti matahari, juga suhu udara yang begitu menusuk tulang ternyata seringkali membuat saya depresi ringan (??). mungkin karena faktor pekerjaan bertumpuk juga *alesaaaan*.

sebut saya berlebihan. namun saat ini, saya mengerti mengapa para bule-bule itu begitu menyenangi matahari. sedikit matahari bersinar saja, mereka sudah langsung keluar dan menyambutnya. entah untuk mengopi, mengobrol atau hanya duduk-duduk saja. awalnya, saya terkekeh-kekeh melihat kelakuan mereka. namun sekarang, tidak lagi. saya menjadi bagian dari mereka. malu juga sih.. seseorang berkulit sawo-manis-hampir-matang ini ikut-ikutan menyambut sinar matahari *kurang tan apa lagi om?*. tapi, bodo amat lah.. saya butuh kehangatan *dalam arti yang sebenarnya*.

dua hari ini cuaca begitu mengejutkannya. matahari bersinar dengan teriknya. saya pun tidak tahan untuk meninggalkan meja dan ruangan hanya untuk bergabung dengan bule-bule itu di halaman. berbekalkan sebungkus rokok, secangkir capuccino dan setangkup roti tuna, saya tempatkan pantat ini di teras depan perpustakaan. ditemani seorang kawan botak dan gila, saya habiskan satu jam setengah waktu istirahat di sana. hmm.. hangatnya sinar matahari mengenai seluruh tubuh ini, mengembalikan semua energi yang tertahan selama beberapa bulan terakhir ini dan membuat saya mencintai sinar matahari.

kadang kita memang baru bisa menghargai sesuatu pada saat kita sulit mendapatkannya. siigh.. lagi.

photo by Alex Bramwell (stockxpert.com)