BERAU | season 01 episode 04: di tengah birunya laut berau

perjalanan saya kali ini menuju sisi sebelah timur kabupaten berau. ke arah laut tepatnya. ada dua desa yang menjadi tujuan utama saya, yaitu tanjung batu di pesisir dan derawan di tengah gugusan pulau-pulau cantik itu.

empat jam
niat baik memang tak selamanya akan berjalan dengan baik pula. dengan semangat enam sembilan dan keinginan untuk bisa buru-buru melakukan penelitian di desa, saya bangun pagi-pagi sekali dan membawa barang ke sebuah pengkolan di tepian sungai segah. beberapa mobil kijang angkutan ke desa tanjung batu sudah berjejer di sana. jam 9 pagi saya pun bersiap di mobil. belum ada siapa-siapa. ah.. menunggu muatan mungkin. sejam..dua jam.. saya mulai curiga. si supir juga mulai terlihat gelisah. beberapa kali mengatakan ke saya untuk menunggu sebentar lagi. alhasil.. setelah tiga jam menunggu, kesabaran saya memuncak dan siap meluapkan kemarahan. namun, si supir dengan santainya mengatakan, “nanti jam 1 kita berangkat ya mas”. whaaaaaaaaaaat??

akhirnya.. dengan nafas yang tersisa saya sabarkan hati ini, menunggu beberapa penumpang yang ternyata sudah ada sejak tadi pagi. mereka dengan santainya sedang berbelanja di pasar, mengambil gaji bulanan mereka sebagai guru, dan beberapa bahkan sedang makan di warung terdekat. yang lain, bahkan di jemput di rumahnya. sialaaaaaan!!!

More...desa tanjung batu
dua setengah jam perjalanan membuat saya lelah. belum lagi menunggu selama 4 jam. dunia memang sempit, orang dan rumah yang saya tuju ternyata adalah adik dari si supir. saya gak bisa berkata apa-apa lagi. jika saya tadi memaki-maki sang supir, mungkin saya sudah merasa tidak enak tidur di rumah sang adik. teh manis hangat dan rombongan guru smk kelautan berau yang baru, menyambut saya. mereka ternyata juga tinggal di tempat yang sama karena belum mendapat rumah tinggal yang layak untuk ditempati. para guru-guru yang relatif muda dan baru saja lulus dari kuliah, begitu bersemangatnya bekerja di tempat baru namun terpencil ini. saya melihat semangat yang begitu menggebunya untuk mendidik para murid-murid mereka. salut saya pada semangat yang ada.
desa tanjung batu ternyata relatif maju. sinyal telkomsel saya bahkan begitu kencangnya di hape. para nelayan begitu beragamnya memiliki alat komunikasi tersebut. hape telah membuat usaha mereka menjadi maju, mulai dari pemesanan ikan, penyewaan perahu dan mobil, serta urusan-urusan lainnya. tanjung batu mulai menggeliat.

bersama manto, teman baru saya, kami pun mencoba untuk memancing di ujung dermaga laut sana. berbekal umpan yang cukup banyak, di tengah dinginnya angin malam, kami lemparkan tali pancing. langit yang cerah, gelapnya malam, dan kesunyian laut membuat saya termenung. jutaan bintang menemani saya malam itu. saya merasa kecil dan bukan siapa-siapa. malam itu, saya ternyata hanya memberi makan ikan-ikan di laut. tak satupun kerapu atau kakap merah bisa saya dapat. mereka lebih pintar rupanya.

pulau derawan
setelah berkelana di tanjung baru selama lima hari, perjalanan saya lanjutkan ke pulau derawan. menggunakan speed boat carteran, saya meluncur ke pulau melewati ratusan bagan yang berdiri di tengah-tengah laut. bagan yang dari kejauhan berbentuk seperti panggung dengan rumah kecil di atasnya, digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan teri di malam hari. jaring yang ada di bawah panggung, di turunkan selama beberapa saat sebelum memanen para teri-teri yang terperangkap di dalamnya.
saya pun melewati ratusan burung camar yang terbang rendah ke arah permukaan laut. mereka berlomba-lomba memangsa ikan yang berada di situ. keberadaan burung camar pun digunakan sebagai penanda bagi para nelayan untuk menentukan tempat pengambilan ikan. berbagai aktivitas mencari ikan oleh para nelayan menjadi pengiring keberangkatan saya ke pulau derawan.

derawan menyambut saya dengan ramah. cuaca yang sangat cerah, langit yang biru, panas yang tidak begitu menyengat, pasir yang putih, laut yang sangat biru, serta terumbu karang dan ribuan ikan-ikan yang jelas terlihat dari atas perahu yang saya gunakan, seperti bersatu membuat harmoni indah di semua panca indera ini.

esok harinya, beberapa saat setelah menyelesaikan interview, saya selalu langsung melesat ke laut untuk snorkeling. hamparan terumbu karang berbagai warna dan ratusan, bahkan ribuan jenis ikan beraneka warna berada di hadapan saya. bahkan, beberapa ekor penyu hijau pun tak ragu untuk melintas di hadapan saya. namun saya kalah lihai dibanding mereka. sulit sekali untuk bisa mengejar mereka, walalupun hanya untuk menyentuh punggungnya.

malam hari pun menjadi waktu eksplorasi bagi para penyuka penyu. kita bisa melihat proses mereka bertelur di beberapa bagian pulau. tak hanya derawan, beberapa pulau di sekitarnya seperti pulau sangalaki dan pulau maratua menjadi tempat favorit para penyu bertelur. jika air pasang, maka dengan mudah kita bisa menemukan puluhan atau bahkan ratusan penyu mengeluarkan bakal calon tukik di lubang yang mereka buat sendiri.

walaupun usaha perdagangan telur penyu masih marak, segelintir usaha penangkaran sudah dilakukan oleh beberapa pihak yang berwenang. setidaknya, masih banyak para calon penerus penyu hijau ini di masa mendatang kelak. namun, entah berapa banyak yang bisa bertahan. karena hanya sedikit persentase tukik penyu yang bisa hidup setelah mereka berada di laut lepas. predator seperti hiu dan lainya siap menjadikan mereka sebagai mangsa yang lezat.

pulau derawan memang menyimpan pesona yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. saya pun terbuai oleh remahan surga yang terjatuh di kabupaten berau ini. amazing.

bertemu kembaran
oya, di suatu sore, ketika saya berada di ujung dermaga selepas melakukan snorkeling, tiba tiba saya dikejutkan oleh suara kapal besar yang merapat di dermaga. ternyata rumor yang saya dengar beberapa hari yang lalu benar adanya. kembaran saya, nicolas saputra, memang sedang melakukan pengambilan gambar di kepulauan derawan ini. bersama riri riza dan kru-kru lainnya, mereka tampak menurunkan beberapa peralatan di dermaga. dengan wajah sok cuek namun penasaran, saya membereskan perlengkapan lenong menyelam, sembari sesekali mencari sosok sang seleb. ah, ternyata memang hanya sedikit saja perbedaannya. dia keriting dan saya tidak. lainnya, bisa dibandingkan sendiri.
malam itu, saya hanya bisa tergelak melihat beberapa orang begitu ramainya berada di penginapan. mereka berama-ramai mengeluarkan hape berkamera keluaran terbaru dan berpose bersama sang idola. melihat semua itu, saya hanya bersyukur, ternyata menjadi orang biasa itu lebih menyenangkan *huakakakakak.. menghibur diri mode on*.

maaf.. untuk perjalanan kali ini.. saya benar-benar speechless. tak banyak yang bisa saya katakan. just let the pictures describe their own stories. you may see the pictures here